TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Lanjut Tapi Bukan Pesta


__ADS_3

"Darimana kamu tahu semua ini?" Lonjak kaget Julian.


Lelaki itu menatap tajam ke arah gadis yang berdiri anggun di depannya itu.


Julian benar-benar dibikin pusing dengan gadis alumni pesantren yang ia anggap polos ternyata tak sepolos dugaannya.


Zafira menatap balik Julian, namun bibirnya masih tertutup rapat. Tak ada niatan sedikitpun untuknya bersuara.


"Fira, katakan! Darimana kamu tahu jenis-jenis alkohol?" Julian masih menatap Zafira mencari banyak hal di dalam diri gadis itu.


Zafira mengalihkan pandangannya, menutup sejenak matanya menikmati asupan oksigen yang ia raup sebanyak-banyaknya.


"Sebaiknya kita balik sekarang, karena Zafira rasa pesta ini sudah gak wajar." Ajak Zafira tanpa menjawab pertanyaan Julian.


Zafira meletakkan dua gelas kosong ke meja. Dengan sekali tarik, gadis itu membawa Julian keluar ballroom.


"Aku mau kamu bawa kemana?" Tanya Julian setelah menjauh beberapa meter dari pintu masuk ballroom.


Zafira menghentikan langkahnya.


"Zafira laper. Bisa gak kita makan dulu?" Bisik Zafira pelan sambil memegang perutnya.


Julian tertawa kecil melihat tingkah Zafira yang kembali menjadi gadis menggemaskannya.


"Kita makan di resto hotel ini saja." Julian mendekati lift dan menekan tombolnya.


Ting.


Begitu lift terbuka, Julian dan Zafira masuk bergantian. Di dalam lift lelaki itu sesekali mencuri pandang ke arah Zafira.


Sedangkan yang dilirik hanya menunduk. Membuat Julian gemas ingin menggodanya, seperti masa kecil mereka.


Sampai pintu lift terbuka.


Keduanya keluar bergantian.


Dalam hati Zafira ngedumel, "Capek harus jalan beriringan kayak gini."


"Kita ke sana!" Ajak Julian menunjuk ke sebuah tempat.


Zafira langsung terkagum menyaksikan bentangan alam Surabaya yang terlihat dari atap gedung.


"Indahnya." Kagumnya sambil berdecak, ia tak mempedulikan Julian yang sibuk mencari tempat duduk untuk mereka.


"Fira, duduk!" Titah Julian.


"Bentar Uncle. Fira ingin mengagumi pemandangan Surabaya dari atap gedung ini. Cantik sekali." Pandangan Zafira terus menatap keluar.


Julian akhirnya menarik Zafira duduk di ruang out door.


"Unclee.. di sini lebih cantik. Anginnya benar-benar alami. Serasa di pantai."


Julian hanya mendengus kesal mendengar kekaguman Zafira yang tak henti-henti. Lelaki ini khawatir misi awalnya terlewatkan.


Mencari tahu darimana gadis polos ini mengenal minuman beralkohol.


"Firaa.. mau pesan apa?" Tanya Julian menyodorkan buku menu kepada Zafira.


Zafira menerima namun tak segera membaca, ia bahkan menutup matanya, merentangkan kedua tangannya lalu menarik napas dalam-dalam menikmati setiap oksigen yang mngalir di darahnya.

__ADS_1


"Udah lama rasanya ndak menikmati udara kayak gini." Gumam lirih Zafira.


"Jadi makan enggak niih?" Tegas Julian yang duduk dengan bersedekap satu kaki ia tumpangkan ke kaki sebelahnya.


Zafira membuka matanya, menatap Julian yang sudah pasang muka jutek.


"Sampai lupa ada lelaki ganteng yang bodoh di depanku." Ledek Zafira.


"Fira.." Pekik Julian.


"Apa?"


"Cepet tulis pesanan kamu!"


Dengan senyum meringis Zafira memilih menu yang disajikan resto hotel tersebut.


"Sekarang cerita ke uncle! Darimana kamu tahu detail tentang alkohol!" Tatapan penuh selidik Julian sedikit mengoyak kekuatan hatinya.


Zafira segera menunduk.


"Astaghfirulloh, kenapa tatapannya Uncle Iyan bikin aku gemeter kayak gini sih?" Runtuknya dalam hati.


"Fira, kamu mau dipaksa atau bagaimana?" Julian sudah tidak sabar.


Zafira mendongak dengan kesal.


"Iya.. iya.. sabar kenapa sih?" Balas Zafira.


Julian tersenyum mendapati Zafira kesal.


"Senyumnya uncle kenapa tiba-tiba bikin aku merinding. Jadi takut." Gumam Zafira dalam hati.


Zafira mencoba mengabaikan hatinya, ia mencoba membalas senyum Julian meski bibirnya terasa kaku.


"Janji." Julian menautkan kelingkingnya ke kelingking Zafira.


Kebiasaan keduanya sejak kecil yang tak bisa hilang begitu saja.


"Zafira belajar dari Alif." Jawab singkat Zafira.


"Alif siapa?" Dahi Julian mengerut seolah mengingat nama teman-teman Zafira dan ia tidak menemukan nama Alif dimanapun.


"Dia sekelas sama Darren dan Wanda." Jelas Zafira seakan tahu rasa penasaran Julian.


"Bagaimana bisa belajar dengan Alif. Memang ada hubungan apa kalian? Jangan-jangan ia kasih pengaruh jelek sama kamu!"


"Unclee stop deh ngomong yang enggak-enggak. Alif baik kok, dia gak pernah ngajakin kita aneh-aneh. Gini yaa..." Zafira mulai menatap serius ke arah Julian.


Mendapati tatapan serius Zafira, Julian bergidik sebentar. Ada rasa aneh menyerangnya. Sebentar, segera ia menguasai kembali hatinya.


"Alif itu bartender di Win Club. Uncle tahu itu dimana?" Tanya Zafira.


Julian menggeleng.


"Auk ah, uncle gak perlu tahu dimana lokasinya. Tapi Zafira cerita bagaimana Zafira tahu alkohol. Ndak hanya Fira tapi Zafir dan Zafran juga hafal."


Kali ini Julian mendelik dengan sempurna.


"Gak usah kaget. Mukanya dikondisikan. Biasa aja kalee..." Ledek Zafira.

__ADS_1


"Terusin ceritanya, kapan dan dimana kalian bisa belajar?"


Zafira tersenyum melihat Julian yang semakin kepo.


"Uncle masih ingat? Waktu kita bertiga izin pulang sampai malam sama Umma dan Buya?" Ingat Zafira.


Julian mulai berpikir.


"Oh iya sekitar tiga bulan yang lalu."


Zafira mengangguk.


"Waktu itu Aku, Zafir dan Zafran dijanjikan ke club tempat Alif bekerja." Zafira mulai bercerita.


"Kalian ikut ke rumahku atau bagaimana?" Tanya Alif bingung mau dibawa kemana keenam temannya itu.


"Kita ke rumah Darren dulu ganti baju dan siap-siap. Setelah itu baru ke rumah kamu."


"Kamu juga butuh ganti baju. kan?"


"Okay." Alif menyetujui usul Zafir dan Zafran.


Setalah satu jam berkutat di rumah Darren dan Alif. Ketujuh remaja tersebut berangkat ke rumah lokasi kerja Alif.


Sebelumnya Alif sudah minta izin kepada Omnya kalo ia dan teman-temannya akan mampir sebentar.


Zafir, Zafran, Zafira dan Alif turun dari kendaraan Darren menuju ke dalan club. Sedangkan Darren, Wanda dan Malik mereka masuk mall yang tak jauh dari lokasi.


Di dalam club Zafir, Zafran dan Zafira dibikin miris dengan lokasi tersebut.


Suasana remang-remang dengan pencahayaan yang kurang menyambut keempatnya.


Bau asap rokok bertebaran dimana-mana, meskipun tak ada pengunjung. Tapi tentu saja sisa-sisa aroma nikotin tidak bisa hilang begitu saja.


Ruangannya sih luas, beberapa sofa ada di sudut ruangan.


Di tengah terdapat ruang lebih luas lagi yang mereka tengarai sebagai dance floor.


Alif mengajak ketiga kembar itu duduk di kursi bar. Sedangkan dirinya masuk ke ruangan sempit di balik meja.


Botol-botol aneka bentuk berjajar rapi di belakang Alif. Beberapa peralatan mahal terletak di sebelah kanan dan kiri tempat Alif berdiri.


Setelah mengenakan apron warna hitam bertuliskan namanya, Alif mengeluarkan beberapa botol minuman.


Alif menjajar tiap botol di depan triple.


Remaja itu perlahan menjelaskan nama-nama alkohol yang ada di situ. Sampai warna, aroma dan kadar alkohol Alif jelaskan detail.


Bahkan beberapa jenis minuman racikannya ia tunjukkan kepad ketiga teman barunya itu.


Alif menunjukkan atraksinya saat meracik dan menyajikan beberapa jenis alkohol.


(Ups.. gak ditulis ya gaess.. ntar dikira aku ngajarin lagi 🤭)


Sesuai janjinya cukup tiga puluh menit ketiganya di dalam. Panas. Mereka tidak betah.


"Begitu Uncle ceritanya.." Zafira menutup kisah tiga puluh menitnya di dalam night club.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


Reaksi Julian gimana coba???


Next yaa..


__ADS_2