
"Assalamualaikum!" salam suara dari luar.
"Waalaikimsalam," jawab Zafir dan Umma yang masih duduk di ruang tamu.
"Zafir mana, Umma?" Kedua orang yang ada di ruang tamu spontan menoleh ke arah penanya.
"Zafir di sini, Buya!" Zafir menyalami Buyanya.
"Ah, untunglah. Buya sudah cemas sejak tadi. Apalagi membaca berita tragedi di GBT barusan. Malik mana? Lhoo terus itu siapa, Umma?" pandangan Buya beralih pada seorang gadis yang tertidur cantik di sofanya.
"Temannya Zafir. Anak Buya ini menyelamatkan gadis itu dari tragedi yang tadi Buya cemaskan," jawab Aqeela.
Buya hanya mengangguk-angguk.
"Eits, kamu tadi berangkatnya juga sama dia?" kepo Buya.
"Enggak. Fely berangkat sendiri. Bahkan Zafir tidak tahu kalo teman kampus Zafir ini suka nonton persebaya," bantah Zafir.
"Terus Malik?"
"Dia tadi sembunyi di kantor GBT," jawab Zafir.
Buya masuk ke kamar dengan senyum lebar menertawakan Zafir dan Malik yang dirasa konyol.
"Umma siapin makan malam dulu, ya. Bentar lagi Zafran dan Zafira mau datang," ujar Umma.
Zafir mengiyakan ucapan Ummanya.
"Eits, Zafran dan Zafira mau datang terus ada Fely di sini!" Zafir menggerutu dalam hati sambil tepuk jidat.
"Bisa-bisa aku kena bully gara-gara dia?" Zafir mulai cemas dan panik.
"Fely gak bangun-bangun juga!" Zafir menatap teman kampusnya itu dengan berbagai perasaan. Namun yang utama adalah perasaan cemas kena bully.
"Assalamualaikum," suara salam riang dari luar.
"Wa'alaikumsalam," jawab Zafir.
Pemuda itu menarik napas dalam-dalam menguatkan mentalnya.
"Siapa dia, Fir?" tanya Zafira begitu masuk dan mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah tujuannya tentu saja mencari Umma dan Buyanya tercinta.
"Teman aku," jawab Zafir pendek.
"Teman apaan?" tanya Zafira yang belum pernah melihat Zafir dekat dengan perempuan manapun.
"Assalamualaikum." Belum juga Zafir menjawab pertanyaan Zafira, Zafran dan Renata datang.
"Waalaikumsalam," jawab seluruh penghuni ruang tamu kecuali Fely yang masih terlelap bak putri tidur. Gadis itu tidur seakan tidak terganggu dengan suara apapun.
Renata dan Zafira saling berpelukan melepas rindunya, tetapi ia hanya mengangguk kepala sopan kepada Julian.
Julian membalas sapaan gadis itu dengan senyum.
"Uncle, apa kabar?" tanya Zafran menyalami Julian
"Baik," jawab Julian singkat.
"Sayang, aku cari Umma dan Buya dulu ya! Selesain bully-an kalian!" pamit Julian kepada istrinya. Zafira hanya mengangguk kecil.
"Fir...!" Sapa Zafran menyalami saudaranya.
__ADS_1
"Bawa siapa kamu?" tanya Zafran keheranan.
"Teman," jawab Zafir.
"Teman yang mana?" Zafran, Renata dan Zafira duduk di sofa kosong yang ada di sekitar Zafir.
"Teman kampus, gak sengaja ketemu di GBT. Kalian sudah pada tahu, kan? Tragedi di sana tadi sore?" Zafir menatap saudaranya bergantian.
"Sumpah aku gak tau ada tragedi apaan?" jawab Zafran.
"Oh, yang ada ledakan itu ya? Tenang aja bukan bom hanya petasan yang sengaja dirakit besar hingga mengeluarkan bunyi yang sangat keras. Petasannya juga lebih dari satu. Tadi ditemukan sekitar lima. Empat sudah dinyalakan, satu ditemukan utuh." Zafira menjeda kalimatnya untuk bernapas.
Zafran hanya bisa menatap kagum saudari kembarnya itu.
Sedangkan Zafir yang baru tahu kronologinya hanya manggut-manggut.
Beda dengan Renata yang tidak paham apapun tentang bola, ia hanya terdiam. Namun sebetulnya ia kesal.
"Pasti kalian tadi panik? Terus Malik sekarang mana?" selidik Zafira.
"Nah, looo? Dia tanya teman baiknya!" ledek Zafran.
"Amor, aku bantuin Umma dulu ya? pamit Renata ke Zafran.
Zafran menatap istrinya dengan kalut. Sudah dipastikan perempuan itu ngambek karena bahasan mereka tentang persepakbolaan yang tidak ia tahu.
"Bentar yaa!" ucap Zafran pada Zafira dan Zafira. Pemuda itu menggandeng Renata mengantarkan sang menantu ke Umma tercintanya.
Zafir dan Zafira hanya terkekeh melihat ulah Zafran yang panik sama sikap Renata.
"Malik mana?" tanya ulang Zafira begitu Zafir dan Renata di ruang makan.
"Malik sembunyi di kantor GBT!" jawab Zafir.
"Aku kira dia calon saudara ipar kita?" goda Zafran yang tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka.
"Kenapa sih, di otak kalian cuma ada kata-kata itu doang? Menikah? Saudara ipar?" jengah Zafir.
"Kan hanya tinggal kamu doang yang belum menikah?" usil Zafira.
"Terus apa hubungannya?" sahut Zafir.
"Yaa, cepet-cepet nikahlah!" sahut Zafran.
"Bodoh! Kalian berdua aja yang terlalu cepat menikahnya!" kesal Zafir.
Medengar ada suara ribut-ribut mata Fely perlahan mulai membuka.
"Udah bangun?" tanya Zafran yang masih di posisi strategis sehingga bisa menatap gadis itu begitu membuka mata.
"Lhoo, Zafir?" Fely bangkit dari tidurnya dengan gerak cepat.
"Kok?" Gadis itu mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan asing baginya itu.
"Elo di rumah gue! ketiduran juga!"
"Fir, jutek amat sih kamu!" omel Zafira.
Fely menatap ke arah Zafira yang tersenyum padanya.
"Oh yaa gue Zafira, saudaranya Zafir," Zafira mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Fely," jawab Fely menyambut uluran tangan Zafira.
Mendapati senyuman dari zafira, Fely sedikot lega. Karena masih ada orang yang ramah padanya.
Fely kesal aja dengan sikap Zafira yang tiba-tiba jutek. Padahal tadi si tribun baik banget.
"Gak usah kaget, bawa baju ganti gak?" tanya Zafira.
Fely menggeleng pelan.
"Fir, temen elo aku suruh ganti baju dulu. Kalian tunggu di ruang makan!"
Zafir hanya mengiyakan tanpa menatap Fely.
Zafira mengajak Fely masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
"Maaf ya! Aku gak punya baju pendek!" Zafira menunjukkan sebuah tunik kepada Fely.
"Gak pa-pa kok," ucap Fely sambil menerima tunik milik Zafira.
Setelah Fely terlihat rapi dan cantik. Mereka ke ruang makan. Di sana sudah menunggu keluarga besarnya.
"Ummaa.. Buya...!" Sapa Zafira yang memang belum bertemu keduanya karena membantu Fely.
"Anak cantik Umma, makin cantik aja!" puji Umma.
"Huu.. udah gede juga masih dipuji!" ledek Zafir.
"Zafiir!" pekik Zafira.
"Fir, suara kamu tuuh. Bisa gak sih dikecilin volumenya. Istri Uncle tuh!" Zafir menunjuk ke arah Julian.
"Salah sendiri, pake ngusilin dia!" Bukannya dapat pembelaan malah dapat makian. Zafir malang nian nasibmu.
"Oh ya Umma, Buya ini Fely. Teman kampus Zafir!" Zafir mperkenalkan Fely kepada Umma dan Buyanya.
"Ehemm.. Ehemmm... Kak siap-siap dapat menantu baru!" Goda Julian.
Fely menatap aneh ke anggota keluarga Zafir yang baru dikenalnya. Ada dua orang laki-laki dan perempuan berusia empat puluhan yang bisa ia pastikan adalah orang tua Zafir.
Ada dua laki-laki dan perempuan bule yang terlihat mesra. Ia ingat dia saudara Zafira pasti dengan istrinya.
Ada lelaki berusia menjelang tiga puluhan yang dipanggil Uncle oleh Zafir tapi Zafira duduk di samping lelaki itu.
"Udah Fel, gak usah dipikirin omongan mereka!" Zafir menenangkan Fely dan memintanya duduk.
"Ini Zafir sekarang kok jadi baik, ya? Sebenarnya dia bagaimana?" batin Fely sambil duduk di kursi kosong dekat Zafir.
"Udah, ayo makan dulu Fel!" Ajak Umma dengan ramah. Seketika hatinya merasa damai mendengar ucapan Ibu Zafir itu.
💗💗💗💗💗
bingung.com tuh, si Fely.
Kira-kira apa sih yang terjadi berikutnya. Terus si Thifa kemana ya?
Aku kasih bocoran dikit deh soal Thifa.
Si Thifa sekarang udah kelas sepuluh. Lagi ranum-ranumnya tuh.
Sabar dan tenang.. kalian tetap aja anteng di sini.
__ADS_1
Triple gak akan kemana-mana kok. Hanya kisah detailnya aja di pisah.