
"Uncle..." Panggil Zafira saat kedua duduk berhadapan di sebuah foodcourt mall daerah Merr.
"Apaa?" Julian yang tadinya sibuk dengan gawainya meletakkan benda pipih itu di meja begitu Zafira memanggilnya.
"Mbak Pia, kasiyan juga ya. Harusnya di usianya yang sekarang dia sudah bahagia dan menikah." Ucap Zafira membayangkan sosok Pia yang tadi dihakimi lelaki di depannya itu.
"Masih punya hati juga kamu, dek." Komen Julian.
"Kalo aku gak punya hati, Uncle mau transpalantasi hatinya buat aku?" Ledek Zafira.
"Jangankan hati, jantungpun Uncle siap memberikannya untuk dedekku ini." Balas Julian.
"Gak usah ngomong yang aneh-aneh Zafira takut, kalee.."
"Iya ya..." Balas Julian sambil menahan senyumnya.
"Jangan dihukum terlalu keras. Kalo sudah yakin dia berubah beri posisi yang lebih layak. Meski bukan sekretaris lagi." Saran Zafira.
"Kamu tuh terlalu baik. Persis kayak Umma kamu. Makanya Buya kamu jarang ngajak Umma ke kantor. Yang ada dia bikin rusuh." Puji Julian.
Zafira hanya tersenyum,
"Insya Allah untuk Pia, nanti bisa dirundingkan lagi sama Om Edo. Tapi Uncle pusing. Belum ada pengganti Pia."
"Makan dulu deh. Baru kita lanjut perjalanan kita." Ajak Julian.
"Kita charge tubuh kita dulu."
"Memang Fira mau diajak kemana lagi?" Tanya Zafira bingung karena setahu dia, Julian hanya mengajaknya makan siang tidak ada keperluan lain lagi.
"Udah makan dulu!" Titah Julian tanpa ingin menjawab Zafira.
Zafirapun akhirnya makan menuruti kemauan Julian. Karena baginya percuma juga ngeyel gak akan dibalas sampai kiamat.
Jadi mending dituruti saja maunya. Nanti selesai makan ditanya lagi.
"Ikut Uncle yuuk!" Ajak Julian setelah makanan di priring keduanya habis.
"Sebentarlah Uncle, Fira masih mager nee." Jawab Zafira manja.
"Okay.. lima menit lagi ya!" Julian memberi kelonggaran waktu untuk Zafira.
"Ckckckck... kalo gak maksa gitu gak bisa apa?" Gerutu Zafira.
"Emang kamu bakal nurut kalo Uncle ngomongnya baik-baik saja?" Tanya Julian sambil menatap ke arah Zafira.
"Yaa tergantung sih. Kalo bikin hepi ya nurut tapi kalo bikin susah sih ogah."
Julian hanya tertawa lebar mendengar jawaban Zafira.
"Tau gak sih, kalo liat tampang kamu. Semua orang bakal tertipu dengan wajah polos kamu. Padahal otaknya sudah terkontaminasi dengan toxic." Ledek Julian.
"Lhaa kan emang Zafira pakai baju polos, kerudung polos gak bunga-bunga atau motif."
"Serah deh, udah lima menit nee. Ayo kita jalan. Takut kesorean ntar."
"Kemana siih uncle?" Tanya Zafira dengan berat hati.
"Udah ayo, kita ikut saja."
Dengan enggan Zafira bangkit dari kursinya.
Zafira mengekor langkah Julian.
Langkah Zafira berhenti tatkala Julian masuk ke sebuah toko perhiasan.
"Fira..." Panggil Julian mendapati Zafira terpaku di depan toko.
__ADS_1
Julian terpaksa menarik paksa lengan Zafira karena gadis itu tak mengindahkan panggilannya.
"Fira.. sayang...!" Panggil Julian setengah berbisik menyadarkan lamunan gadis itu.
Zafira menoleh kanan kiri. Ia baru menyadari jika diri masih terbengong dibawa ke toko perhiasan oleh Julian.
Berbagai pikiran berkeliaran di otaknya.
"Pilihlah yang kamu suka!" Tunjuk Julian kepada perhiasan emas yang ada di toko tersebut.
"Ini maksudnya?"
"Udah pilih saja.!" Julian sudah tidak sabar.
Zafira kembali menurut permintaan Julian. Netranya mengamati setiap bentuk perhiasaan yang dipajang di toko tersebut.
"Mbak di sini bisa pemesanan khusus gak?" Tanya Zafira tiba-tiba, entah dapat ide darimana ia bisa nanya seperti itu.
Julian sempat terbengong sebentar. Namun ia sadar gadis polosnya itu memang tidak sepolos perkiraannya.
Ada banyak kejutan kepribadian dalam dirinya.
"Bisa, Kak."
"Kalo saya pesan cincin seperti ini tapi gak usah terlalu besar, dengan satu diamond yang ukuran paling kecil saja satu sebagi centrenya. Terus disampingnya kasih safir dan rubi secara bergantian. bisa?"
"Saya tanyakan bosnya dulu ya, Kak." Pegawai tadi masuk sebentar.
Tak lama kemudian ia datang bersama seorang wanita bertubuh langsing dan modis.
"Saya Neina. Ada yang bisa saya bantu." Ucap wanita itu ramah.
Zafira kemudian mengutrakan kembali keinginannya. Bukan hanya cincin bahkan kalung dan gelang semua ia pesan secara khusus.
Wanita bernama Neina itu terlihat begitu keheranan menatap remaja di depannya itu.
"Turuti saja Kak maunya dia." Ucap Julian karena menatap Zafira tidak percaya.
Tapi begitu menatap Julian, ia sedikit percaya.
Neina memindai penampilan Julian. Ia juga seakan sedang berpikir.
"Kalian mau bayar cash atau pake DP?" Tanya Neina.
"Kami bayar cash. Tapi dua hari selese, bagaimana?" Tantang Julian seakan mengerti keraguan Neina mengingat penampilannya dan Zafira.
Neina tampak terkejut dengan ucapan Julian.
"Baiklah kalian bisa DP dulu, karena pemesanan baru bisa ready minimal satu minggu. Mengingat tingkat kesulitan yang dipesan." Ucap Neina menyadari kesalahannya meremehkan dua remaja dihadapannya ini.
Neina kemudian memberikan catatan nominal yang harus mereka bayar.
Sesuai kesepakatan Julian menyerahkan sejumlah uang sebagai uang muka pemesanan perhiasan Zafira.
Setelah urusan perhiasan rampung, Julian kembali membawa Zafira masuk ke butik mall tersebut.
Zafira sempat membaca papan nama di depan. Dari papan namanumya saja ia tahu bahwa pemiliknya pasti desainer terkenal.
"Apa Zafira di suruh pilih sendiri juga nee?" Tantang Zafira kali ini.
"Enggak. Yang di sini Uncle udah pesan couple. Tapi kalo tidak suka Fira bole pilih yang lain." Jawab Julian.
Zafira hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Julian.
Seorang lelaki keluar dari sebuah pintu menyambut Julian dan Zafira.
"Sebentar, bro.. masih diambilkan pesanan kamu."
__ADS_1
"Okay."
"Jadi ini calonnya. Cantik. Lebih cantik dari ekpektasi saya." Puji Lelaki tersebut.
Seorang pegawai menyerahkan dua hanger kepada Julian.
"Gimana cucok?" Tanya si pemilik butik.
"Gimana Fir?" Julian menyerahkan sepasang baju yang ia pesan khusus kepada Om Rifat sang pemilik butik.
Zafira menerima dan membolak balik pakaian yang dipesan Julian.
"Bole dibuka?" Izin Zafira.
"Silahkan!"
"Om saya fitting bole?"
Om Rifat mengangguk.
"Om.. " Panggil Zafira begitu keluar dari ruang fitting.
Om Rifat menoleh.
"Om...Fira.bole gak minta ini di kecilin. Terus lenganya di tambahin...." Zafira terus nyerocos menyampaikan keinginananya.
"Kenapa lo?" Tanya Om Rifat mendapati Julian menepuk jidatnya.
"Cerewet kalee Om tuh anak."
"Terus kalo tahu dia cerewet, mau kamu lepas?"
"Enggak sih. Biarin saja. Turutin saja maunya. Aku suka."
Om Rifat hanya terkekeh mendengar jawaban Julian.
"Pak Ustadz bisa bucin juga, ya?" Ledek Rifat dengan berbisik tentunya.
"Om bisa diem gak, aku bisa bawa dia itu karena hasil maksa." Ucap Julian dengan jengkel.
Rifat tidak sanggup menahan tawanya, akhirnya meledak juga suara kerasnya.
Rifat memanggil salah satu anak buahnya, untuk mencatat dan mempermak gaun Zafira.
"Uncle gak fitting sekalian?" Tanya Zafira menatap Julian yang masih asyik bercanda dengan Rifat.
"Harus ya?" Tanya Julian.
"Iya."
Akhirnya kali ini, Julian menuruti permintaan Zafira.
Begitu keluar fitting, pakaian Julian tak luput dari permak.
Zafira minta beberapa bagian dari kemeja Julian diperbaiki karena tidak sesuai dengan hatinya.
"Zafira selera fashion kamu luar biasa! Kenapa gak ambil sekolah fashion aja?" Tanya Rifat yang terkagum dengan bakat alami gadis itu.
"Cukup buat sebagai komentator aja, Om. " Jawab Zafira.
💗💗💗💗💗💗💗
Tunggu partnyw Uncle Iyan yaa 🙊
Like
Komen
__ADS_1
Vote ya...
Terima semua untuj supportnya selama ini