
Zafir menatap Fely dari kursi belakang, tempatnya duduk di kelas.
Gadis itu sudah tiga hari menutup kepalanya dengan khimar.
Banyak dari teman-teman sekelas mereka terlihat syok dengan penampilan baru gadis tomboy itu.
Tak sedikit ledekan dan cibiran ditemui gadis itu. Namun, Fely bisa mengatasinya dengan tenang.
Zafir hanya bisa tersenyum menatapnya. Putra Desta dan Aqeela itu terlihat bangga dengan keputusan Fely dan caranya menyelesaikan setiap cibiran yang mengarah padanya.
Sungguh diluar nalar pemuda jagoan itu.
Ada rasa damai saat tidak sengaja tatapan mereka bertemu.
Interaksi keduanya masih terjaga dengan baik. Walaupun Fely semakin menjaga pandangannya.
"Fir, hari ini aku mau ke pulang," ucap Fely saat keduanya sedang menyantap makan siang bersama Malik dan Devan.
"Kok mendadak?" Zafir terlihat kaget.
Malik dan Devan saling memandang karena tidak paham dengan ucapan kedua makhluk dihadapannya itu.
"Mama, ngabari katanya kalo ingin tahu dimana Papa aku disuruh pulang." Fely seolah meyakinkan Zafir bahwa kepulangan kali ini bisa membawa hasil.
"Aku antar!" ucap Zafir.
"Dengan satu syarat!" pinta Fely sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"Katakan!"
"Biarkan aku masuk sendiri! Dan kamu pulanglah!" lirih Fely.
"Tapi Fel..."
"iya atau tidak sama sekali!" ancam Fely.
"Okay." Akhirnya Zafir menyerah pada keputusan Fely.
Malik dan Devan kembali saling menatap.
"Fel, akhirnya ada juga cewek yang bikin dia bertekuk lutut, gitu!" komen Malik.
"Bukan bertekuk lutut, hanya mengalah." bantah Zafir.
"Apapun itu yang pasti bikin kamu say okay sama permintaan Fely," balas Devan.
Fely hanya tersenyum mendengarnya.
"Udah ah kalian gak usah ngeledekin Zafir segitunya. Kalo dia ngambek ntar aku juga yang repot," seloroh Fely.
"Ciyee... udah ada yang ngebelain nih!" ledek Malik.
"Lik, elo mau pilih tangan, kaki atau perut!" ucap Zafir dengan mengepalkan tangannya.
"Ampun... ampun deh kakak ipar. Susahnya punya kakak ipar jutek gini!" Malik memilih mundur beberapa langkah daru kursinya.
__ADS_1
"Wis angel... angel," Devan meledek Zafir dan Malik yang saling membalas canda.
Tanpa mempedulikan kedua sahabatnya Zafir mengajak Fely meninggalkan kantin.
🌷🌷🌷
"Kita jalan sekarang!" ajak Zafir sembari membuka pintu mobilnya untuk Fely.
Setelah Fely duduk dengan nyaman, Zafir menempati jok kemudi.
Sedetik kemudian, mobil Zafir melaju meninggalkan area kampus.
Cowok alim yang super bengal itu mengemudikan mobilnya dengan pelan.
Kebetulan hari ini ia bawa kendaraan Umma bukan mobil sport milik Buya.
Jadi, ia masih bisa mengendalikan sepelan mungkin. Sengaja biar bisa lebih lama dengan Fely.
"Fir..., bukannya itu Satria ya?" Fely menunjuk ke seorang cowok mirip Satria tapi tanpa seragam sedang membonceng seorang wanita berpakaian minim padahal ini masih jam sekolah.
Kebetulan ketika Fely menunjuk mereka sedang di perempatan menunggu lampu yang menyala merah berubah menjadi hijau.
Kebetulan berikutnya motor tersebut berhenti di dekat mobil Zafir.
Pria muda yang sengaja memburamkan kaca jendela mobilnya itu menatap motor di sebelahnya dengan aman tanpa khawatir terpergok dari luar.
Pemuda bersongkok putih itu menoleh dan mengamati wajah pria yang katanya mirip Satriya itu.
Menguntungkan, pemuda tadi tidak memakai helm teropong, jadi Zafir bisa melihat lebih jelas .
Yang lebih mencengangkan wanita cantik bertubuh bahenol yang dibonceng satria itu memeluk pinggang cowok itu dengan erat.
"Fir, mereka kok aneh sih?" komen Fely.
"Entahlah. Semoga dia bukan Satria," ujar Zafir seraya menulis pesan kepada seseorang.
🌷🌷🌷
Zafir sudah menghentikan mobilnya sejak sepuluh menit yang lalu, namun ada keraguan melepas Fely masuk ke dalam rumahnya.
Bahkan Fely sudah meyakinkannya ribuan kali, namun seakan ucapan gadis itu tidak ada artinya bagi Zafir.
"Aku ragu, Fel!" lirih Zafir.
"Fir, percayalah aku gak akan apa-apa," ucap Fely.
"Tapi perasaanku, Fel. Hatiku seakan memintamu tetap di sini tidak masuk." Zafir meletakkan kepala ke setir mobilnya dengan putus asa.
Zafir yang sejak awal tidak menyetujui kepulangan Fely, masih berusaha mencegah dan meyakinkan gadis itu untuk kembali.
Namun tekad Fely menemukan sang ayah sanvat kuat.
"Fir, kita punya Allah. Kemana coba Zafir yang selalu nyuruh aku pasrah dan istiqomah?" kesal Fely.
"Bukan itu Fel. Ini beda. Aku takut hari ini hari terakhir kita," Zafir memukul kemudinya menumpahkan kekesalannya yang tidak beralasan.
__ADS_1
"Fir, kamu percaya sama Allah, kan? sejauh apapun jika kita berjodoh pasti bertemu. Begitupun sebaliknya. Sedekat apapun jika kita tidak jodoh gak akan bersatu," ucap Fely.
Gadis itu juga mencoba menegarkan diri. Kalau boleh jujur, ia juga takut menghadapai sang Mama. Apalagi dengan penampilannya yang sekarang.
Bukan tidak mungkin Mama akan lebih tidak berperikemanusiaan padanya. Belum lagi Felix. Itu yang ada di benak Fely.
Bahkan tangannya juga berkeringat dingin tidak karuan.
Zafir masih tak bergeming. Pemuda itu menghiraukan semua ucapan Fely.
"Fir... Zafir...!"
"Panggil aku seperti permintaanku yang kemarin!" titah pemuda itu.
"Mas Zafir, biarkan aku menemui orang tuaku. Kembalilah ke sini untuk bersiap menjemputku," urai Fely dengan mengulas senyum termanisnya.
Zafir merasa berat melepas gadis di sebelahnya itu. Walaupun kehadirannya tidak selama anak Om Doni nyatanya gadis ini sanggup membuatnya mengalah dan mengatakan okay tanpa paksaan.
Dengan semua pergolakan dan penolakan batinnya, Zafir dengan berat hati melepas Fely.
Membuka kunci otomatis mobilnya.
"Segera kabari aku jika ada yang tidak beres!" titah Zafir sesaat sebelum Fely membuka pintunya.
Gadis itu hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Jangan sedih dan patah hati ya!" balas Fely dengan maksud menggoda.
"Gak usah ngomong yang aneh-aneh deh!" ucap Zafir dengan perasaan tak menentu.
"Aku tunggu segera kabarnya. Ceritakan padaku semua yang terjadi pada kamu!" ingat Zafir yang diangguki Fely tanpa menoleh karena gadis itu sudah membuka pintunya.
Fely keluar perlahan dan menutup kembali pintu mobil Zafir. Pemuda itu membuka jendelanya. Memberi akses pada Fely untuk menoleh padanya.
Kesempatan itu dimanfaatkan Fely melambai dengan tenang sebelum masuk ke rumahnya.
Zafir menatap gadis yang masih memenuhi seluruh hatinya itu dengan cemas. Menunggu Fely masuk dengan selamat.
Tiga puluh menit Zafir menunggu Fely, memastikan bahwa tidak terjadi sesuatu dengan gadis yang baru memulai hijrahnya itu.
Setelah di rasa aman. Zafir memutar kemudi kembali ke rumahnya. Meskipun hatinya mengatakan ia masih ingin di sana lebih lama.
Namun, apa daya ia masih teringat janjinya pada Fely. Menunggu untuk menjemputnya. Mempercayakan semua pads Allah.
Saking galaunya karena seluruh hati, otak dan perasaannya gelut saling menginginkan kuasa atas dirinya yang masih fokus pada Fely, Zafir mengemudikan kendaraannya sangat pelan. Sehingga membuat pengemudi di belakangnya sebal sampai membunyikan klakson.
Tapi pemuda itu kembali ke mode masa bodoh, mau dulu yaa duluan aja.
Zafir tidak ingin kekalutannya berimbas pada cara mengemudinya yang ugal-ugalan dan membahayakan pengendara lain.
Apalagi sekarang jam makan siang. Lalu lintas sedang padat-padatnya.
Zafir membiarkan pengemudi tersebut. Ia terus maju sesuai keinginan hatinya.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Maaf yaa tertahan....