
Tak dinyana salah satu dari mereka berusaha menjegal Aqeela.
Aqeela yang menyadari aksi jegal kepadanya langsung menendang kaki cowok yang tidak ia ketahui namanya itu.
"Ris, kayaknya dia liar juga nee..." Seru cowok tadi.
Aqeela tetap saja berjalan tanpa mempedulikan pemuda yang dianggapnya fakeboy-nya kampus.
Sedangkan Dinda masih terus berkicau takut.
"Udah diem ada Aqeela di sini."
Dinda tidak peduli dengan bujukan Aqeela. Yang ia ingat, Aqeela itu sosok yang kalem dan lembut.
"Siapa yang mengizinkan kalian meninggalkan lokasi ini." Teriak Haris datar.
"Bodo amat, minggir kalian." Pekik Aqeela dengan datar pula.
"Ckckck... aku suka sama cewek kayak gini, penuh tantangan."
"Minggir gak ? " Teriak Aqeela.
"Enak saja, main perintah. Emang sapa kamu?" Haris tiba-tiba mencengkeram lengan Aqeela.
Aqeela mengaduh sebentar karena kaget. Tapi hanya sebentar.
Segera ia singkirkan tangan Haris.
"Sialan. Ternyata kamu benar-benar sensasional." Haris sedikit meringis karena hentakan tangan Aqeela tadi cukup kuat.
"Minggir gak kalian?" Teriak Aqeela begitu ketiganya kembali mengepungnya.
Aqeela sudah gatal pengen melayangkan bogem sedari tadi, masih ia tahan. Tapi menyaksikan keonaran yang mereka perbuat membuatnya semakin jengkel.
Ketiganya malah tertawa ngakak.
"Kalian masih ingin hidup atau pulang tinggal nama? " Aqeela mulai mengancam.
Aqeela ingat bahwa ketiga pemuda biang inar ini sudah sering mebuat gaduh kampus.
Ia juga sudah jengah menyaksikan ketiganya menggoda mahasiswi di kampus tapi tidak ada yang berani melawan.
Entah angin apa yang membawa ketiganya sampai berani menggoda Aqeela hari ini.
"Wuuih.. sombong dia. Dia kira siapa kita." Ledek seorang teman Haris.
"Kita paksa aja, Fan... Gimana?"
"Waah, ide bagus tuuh Dil..."
"Ris, bersiap geeh..." Teriak pemuda yang dipanggil Fan tadi.
Entah kode apa yang mereka bicarakan, yang jelas menurut Aqeela itu tidak baik.
Aqeela hanya berdo'a dalam hati. Memohon dikuatkan dan disabarkan.
"Goo..." Teriak Yang dipanggil Dil.
Fan menyingkirkan Dinda dari sisi Aqeela. Sehingga Dinda terjatuh ke paving.
"Auwwh.." Teriak Dinda ia hampir saja menangis.
__ADS_1
Tapi seseorang membekap mulutnya. Aqeela melihat itu Fan.
Aqeela berniat menolonga Dinda namun Haris dan Dil sudah siaga menyeretnya.
Tanpa pikir panjang Aqeela menendang pantat Dil sampai terjungkal.
Setelah satu tangannya bebas, ia langsung melayangkan bogem ke arah Haris.
Bug
Bug
Dua kali bug dari Dil dan Haris.
"Lepasin teman aku, atau kalian babak belur." Ancam Aqeela.
"Wah, ngancem..." Teriak Dil, sesaat setelah ia dan Haris bangun.
"Serang Dil.." Pekik Haris.
Aqeela menghindar pukulan Dil, dan menyambar tangan Haris untuk dipingpong ke arah Dil.
"Aaaawwhh.." Teriak Dil.
"Sakit, Ris.."
Keduanya menatap tajam ke arah Aqeela. Harga diri mereka kali ini jatuh di hadapan seorang perempuan berjubah pink. Yang tidak ia ketahui namanya.
Rupanya mereka hari ini salah mangsa. Dan berakhir dengan duel.
Misi mereka menaklukkan gadis bejubah pink itu. Demi harga diri seorang biang onar. Fakeboy.
Haris melancarkan tinju ke perut Aqeela beruntung Aqeela menangkis tangan Haris dengan cepat.
"Ternyata kalian hanya berani main keroyok sama perempuan." Ucap Aqeela datar.
Buggh. bughh..
Haris berhasil melayangkan bogem ke wajah Aqeela, ia memanfaatkan lengah Aqeela.
"Fan, lepasin tuuh cewek. Yang di sini lebih seram." Titah Haris.
Fan, segera melepas bungkamannya dari Dinda bersiap mengikuti jejak Haris dan Dil.
Dinda langung terduduk jongkok dengan lemas. Kakinya gemetar tidak karuan.
Matanya menatap Aqeela tak percaya. Sahabatnya itu dengan berani menghajar si biang onar kampus.
"Kalian tidak tahu malu, ciih.." Umpat Aqeela.
"Suka-suka kitalah..." Teriak Haris sambil tertawa sombong.
"Hajar Fan.." Pekik Haris.
Fan dan Haris bergerak dengan lincah memainkan tangan dan kakinya.
Sebetulnya Aqeela juga kewalahan menghadapi berandalan saat memakai jubah. Tapi, siapa yang menyangka bakal dapat surpraise dari si biang Onar. Haris Cs.
Aqeela masih berusaha setenang mungkin, menghadapi keduanya. Karena ia yakin Dil sudah tidak bisa melanjutkan serangannya.
Pe-er nya hanya tinggal Haris dan Fan.
__ADS_1
Ternyata tenaga Fan lebih kuat dibanding Dil dan Haris.
Aqeela sedikit kuwalahan menghadapi mereka berdua. Beberapa tendangan tidak sempat ia hindari.
Efeknya badannya kesakitan. Nafasnya sedikit ngos-ngosan dan memburu.
Tapi pertempuran sudah tidak bisa dihentikan.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang selesai melakukan aktifitas di bank banyak yang berhenti dan menonton aksi Aqeela melawan Haris Cs.
Pertempuran yang cukup unik 3 lawan 1. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menghujat Haris Cs.
Tapi apa daya tidak ada yang berani membantu Aqeela. Dil sudah lebih dulu mengancam mereka, meskipun dengan kondisi yang terseok-seok.
Klataak...
Satu tendangan tepat mengenai dada Fan. Membuat cowok itu sempoyongan dan jatuh ke tanah.
"Gimana? Kamu masih mau lanjut?" Teriak Aqeela dengab napas tersengal-sengal.
Haris menatap Aqeela dan Fan bergantian, ia seperti bingung memutuskan melepas Aqeela dan menolong sahabatnya itu atau menyelesaiakan urusan harga dirinya dan mengabaikan sahabatnya.
"Urusan kita belum selesai." Teriak Haris.
"Hei, anak muda jika belum selesai ayo kita selesaikan sekarang. Jika kalian menundanya aku tidak yakin kalian akan pulang dengan selamat." Hardik Aqeela garang.
"Bagaimana kalo kamu menolong temanmu akuilah kamu kalah. Tapi kalo mau lanjut dan takluk dikakiku akui juga kamu kalah." Bentak Aqeela dengan mata tajam menatap Haris.
Haris kembali dibuat bimbang. Pilihan yang sulit. Apalagi melihat kemampuan wanita cantik di depannya ini.
Pakaian boleh tertutup, wajahnya boleh cantik menawan dan luwes. Ternyata garang. Pukukan dan tendangannya menyamai pria.
"Okay.. aku mengalah... demi Alfan." Ucap Haris.
"Ooh.. jadi namanya Alfan. Semoga dia sehat-sehat saja. Aku pulang." Pamit Aqeela.
Ia membantu Dinda berdiri, dan menghapus air mata sahabatnya itu.
"Qeee..." Teriak Dinda begitu ia sudah berdiri dan melihat kondisi Aqeela.
"Sudah tenang Din, aku gak pa_pa. Yuk aku antar ke tempat Kak Vian." Ajak Aqeela.
Aqeela menuntun Dinda perlahan. Sebetulnya Aqeela juga kesakitan, tapi ia masih bisa menahan.
Setelah sekian tahun tidak pemanasan sekali gelut langsung menghajar tiga berandal. Jadi, yaa maklum.
💗
Sampai di Cafe Vian.
Vian keheranan melihat Aqeela datang dengan luka dan lebam di wajah.
"Qee, kamu kenapa?" Tanya Vian cemas. Apalagi melihat Dinda juga datang dengan mata sembab.
"Aqeela kenapa, Dek?" Tanya Vian ke Dinda.
Tapi Dinda tidak bisa menjawab ia terus saja terisak.
"Kak Vian, kamu tenangin Dinda ya. Qee mau jemput triple." Ucap Aqeela sambil berlalu.
💗
__ADS_1
Reaksi Buya Desta bagaimana yaa? Melihat Aqeela yang terluka?
Next yaa..