TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Teka Teki


__ADS_3

Di rumah.


Aqeela masih sibuk ngudang Ara dan Aira dibantu Bu Erna.


Sedangkan Bu Darmi sedang menyiapkan menu kudapan untuk si twins.


"Ara.. ci luk..."


"Wa..." Jawab Ara dengan suara lucunya yang tidak jelas.


Aira yang di dekat Bu Erna merangkak ke arah Aqeela dan memukul Ummanya dengan tangan.


"Eh, ada Aira. Main sama Ara dulu yaa.." Kata Aqeela karena mendengar suara pintu di ketok.


"Bu Erna, jaga mereka dulu sebentar." Pinta Aqeela.


"Siap, Mbak." Aqeela hanya tersenyum.melihat ulah Bu Erna yang meniru anak-anaknya itu.


"Lhoo, Rid? Ngapain pake ketok pintu?" Aqeela keheranan ternyata yang datang Farid.


Karena cowok itu biasanya juga asal nyelonong saja masuk ke rumahnya.


"Anu.. Qee.." Farid tampak tergagap.


"Ada apa? Ayo masuk dulu!" Ajak Aqeela.


Ia mengajak Farid ke ruang tengah dimana kedua anaknya dan Bu Erna berkumpul.


"Duduk!" Titahnya lagi.


"Mas Farid, kenapa? Kok kayak bingung gitu?" Tanya Bu Erna yang menatap Farid keheranan sama kayak Aqeela.


Farid masih terdiam mendengar pertanyaan Bu Erna.


"Ada apa?" Tanya Aqeela ulang.


"Hm...itu ..." Farid kembali gugup.


"Mas Farid ini kok gugup gitu. Kayak anak minta kawin saja." Ledek Bu Erna.


"Nah.. nah itu benar.." Ucap Farid dengan wajah tegang.


Aqeela masih belum ngeh dengan ucapan Farid, ia menoleh ke arah Bu Erna.


Bu Erna yang paham segera mengambil alih kendali.


"Mas Farid mau minta dikawinin sama siapa?" Bu Erna langsung ke intinya.


"Sama Izza, Bu. Dia setuju aku ajak merried." Farid masih gelagapan.


"Owalahh... Ternyata minta kawin to? Aku kok jadi lola gini ya? Gak mudeng sama omonganmu tadi, Rid." Aqeela tergelak dengan kekurangannya sendiri.


Farid cuma tersenyum masam dengan reaksi Aqeela.


"Kapan kamu mau mengkhitbah Izzah?" Tanya Aqeela kemudian.


"Rencananya dua hari lagi. Ayah sama Ibu hari ini mau datang ke Surabaya. Tapi.. "


"Tapi apa Rid?"


"Mereka aku bawa ke pondok ya? Biar mereka menginap semalam di sana?" Pinta Farid dengan sedikit khawatir jika Aqeela tidak mengizinkan.


"Masya Allah, ibu sama bapak kamu suruh bermalam di rumahku. Di pondok gak ada kamar kosong. Kamar kamu juga tidak seberapa besar. Sudah nanti kalo mereka datang ajak langsung ke sini." Titah Aqeela yang melegakan Farid.


"Bu Erna, nanti kamar tamu disiapkan ya? Untuk orang tuanya Farid." Pinta Aqeela pada Bu Erna.


"Iya, mbak."

__ADS_1


"Terus seserahannya gimana?" Aqeela bertanya persiapan Farid.


"Udah aku siapin beberapa. Sisanya Ibu dan Bapak bawa dari kampung. Qee, kalo bisa aku pinjam kendaraannya?" Ucap Farid pelan.


Aqeela tersenyum mendengarnya.


"Kamu butuh berapa? Pakai saja! Mau yang mana? Bawa saja! Tapi aku diajak gak nee?" Goda Aqeela.


"Pasti diajak. Ntar Izza ngiranya dia bawahan gak tau diri. Lamaran atasannya gak diundang padahal calonnya teman pimpinanny."


"Bawahan durhaka."


"Nah itu. Izza bakalan mencak-mencak gak jadi lamaran aku yang susah."


"Ha ha ha..." Aqeela dan Bu Erna hanya tertawa lebar melihat Farid bisa berkata lancar saat digoda Aqeela.


"Kalo gitu, sekarang aku jemput orang tuaku dulu ya?" Pamit Farid.


"Naik apa?"


"Taksi online."


"Pakai ini saja." Aqeela menyerahkan kunci satu kendaraannya yang masih terparkir di garasi.


"Tinggal mobilio. Gak usah protes." Ucap Aqeela melihat Farid menatap kunci otomatos yang diserahkan Aqeela.


"Bukan protes tapi aku terhura melihat temanku ini baik hati banget." Kata Farid sebelum berdiri dan meninggalkan Aqeela yang masih tertawa lebar.


💗💗💗💗💗💗


"Yan..." Panggil Edo.


"Iya, Om." Jawab Julian.


"Kamu sadis banget tadi? Yakin bakal bikin Wisnu anak buah kamu?" Edo merasa bimbang dengan permintaan Julian.


"Mas Wisnu..." Ucap Julian.


Wisnu menoleh menatap Julian yang masih berwajah tegang.


"Maaf Mas Wisnu akan saya terima. Tapi tentunya tidak semudah itu menyerahkan seluruh aset orang tua Mas."


"Apalagi Mas Surya sudah ingin turun jabatan. Beliau ingin kembali mengabdi pada negara. Saya sangat salut dengan Mas Surya."


"Karena itu, sebaiknya kita adakan rapat pemegang saham ulang untuk mengembalikan posisi Mas Wisnu. Tapi aset akan saya kembalikan bertahap dengan catatan Mas Wisnu benar-benar bertaubat."


"Jika dalam perjalanan meleset, aset akan saya ambil alih kembali. Saya tidak akan mau tahu ke depannya keluarga Mas Wisnu seperti apa?"


"Dan selama proses transisi tersebut, gold corporation di awah naungan perusahaan saya." Ucap Julian mantap.


Seluruh ruangan menatap remaja itu dengan kaget.


"Yan kamu berani sekali." Bisik Desta yang hanya di senyumi Julian.


"Demi Kak Aqeela." Ucap Julian.


"Baiklah, aku dukung semua misi kamu." Kata Desta masih dengan berbisik.


"Bagaimana Mas Wisnu, Mas Surya? Apa kalian sepakat dengan perjanjian ini?" Tanya Julian.


Wisnu dan Surya saling pandang.


"Saya menyerahkan semua keputusan pada Wisnu. Bagaimanapun selanjutnya dia pimpinannya." Kata Surya merendah.


"Bagaimana Mas Wisnu? Mas Surya sudah menyerahkan semua keputusan pada Mas Wisnu."


Wisnu tampak termenung memikirkan dampak yang mungkin akan terjadi.

__ADS_1


"Baiklah, saya sepakat." Ucap Wisnu tanpa semangat.


"Baiklah kalo sudah sepakat, besok Om Edo akan mengurus semuanya. Rapat pemegang saham dua minggu lagi. Sebaiknya kalian persiapkan itu dengan matang." Tandas Julian.


Edo masih terdiam merenungi ucapan Julian bersama Wisnu dan Surya.


"Om itu kan hanya sementara. Saya hanya ingin tahu kesungguhan hati Wisnu." Ujar Julian.


Drrt.. Drtt..


Baru saja Julian menyelesaikan kalimatnya terdengar dering suara ponsel Desta.


Desta menjauh dan segera mengangkat ponselnya.


Saat kembali wajahnya tampak begitu sumringah.


"Kenapa, Ta?" Tanya Doni keheranan.


"Gak ada apa-apa." Jawab Desta dengan senyum misteri dan penuh teka teki.


"Bersiaplah. Kayaknya ada yang mau melepas masa jomblonya." Desta masih saja berteka teki.


"Siapa?" Doni dan Julian bertanya bareng.


"Kasih tau enggak ya?" Ucap Desta dengan nada genit.


"Bodo."


"Serah Kakak, deh."


Edo hanya tertawa melihat Desta menjahili Doni dan Julian.


"Ya udah. Gak usah aku kasih tau. Biar penasaran seumur hidup." Balas Desta.


"Rasa penasaranku nanti gak akan ditanyakan malaikat Munkar Nakir, kok Kak. Mereka itu cuma nanya من ربك، من نبيك، ماكتبك، اين قبلتك."


(Man robbuka?, Man Nabiyyuka?, Ma Kitabuka?, Aina qiblatuka? * Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Apa kitabmu? Dimana kiblatmu?)


Julian membalas dengan entengnya.


"Enggak ada pertanyaan, Ma penasaranuka? Dan aku gak akan dihisab hanya karena perkara penasaran."


Auto Doni terpingkal-pingkal.


"Bahasa apaan tu Yan?"


"Bahasa alay." Jawab Julian.


Edo hanya melongo karena memang tidak paham semua ucapan Julian. Munkar Nakir itu Siapa? Hisab itu apa?


"Adik durhaka." Omel Desta


"Kakak kejam dan sadis." Balas Julian.


"Yan, mau pake tangan, kaki atau mulut." Ancam Desta.


"Kak, kakak mau di tidur sama Julian lagi atau sama Kakak Aqeela?"


"Pak Edo, lebih baik kita keluar saja dari ruangan ini. Daripada disuruh Sigit ganti rugi." Ajak Doni melihat Desta dan Julian mulai adu argumen.


💗💗💗💗💗


Ngudang dalam bahasa Indonesia artinya aktifitas spontan mengajak bayi bercanda. Bisa berupa permainan, pujian atau sekedar menyanyikan lagu. Sehingga membuat si bayi nyaman dan biasanya sampai tertawa terpingkal-pingkal.


Kiss dari jauh from triple


😘

__ADS_1


__ADS_2