
Mendengar nama Fely disebut, Zafir menyambar jaket, dompet dan ponselnya. Pemuda itu dengan tergesa turun ke lantai 1 menemui Ummanya untuk pamit.
"Umma Zafir ke rumah sakit. Tadi yang yang telpon dari rumah sakit katanya Fely sakit," ucap Zafir sembari mencium pipi Ummanya.
"Beneran Fir?" Aqeela menahan lengan anaknya mencaei kebenaran atas pe dengarannya seeolah tidak percaya.
"Beneran Umma dia di karmen," Zafir berusaha melepas pegangan Aqeela perlahan.
"Kok nurut Umma ada yang ganjil, ya?" Aqeela tidak melepas begitu saja pegangan sebelum anaknya itu mendengar ceramah paginya sampai tuntas.
"Ganjil gimana?" Zafir mau tak mau memaksakan diri mengalah dengan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Kenapa harus kamu yang dihubungi? Bukan orang tuanya?" tanya Aqeela.
Zafir terdiam seketika, tidak tahu harus menjawab apa.
"Berangkatlah segera! Mungkin dengan kamu ke sana akan tahu jawabannya!" usir Aqeela.
Dengan ikhkas hati ia melepas tangannya yang sejak tadi menahan putranya.
Putra yang sekarang tingginya diatas dirinya. Putra yang tubuhnya lebih tegap dari sang Buya. Putra yang ia lahirkan untuk pertama kalinya.
Walaupun pemuda itu bukan yang pernah ia banggakan tapi ia bahagia memiliki lelaki muda seganteng Zafir.
"Sampaikan Buya ya Umma, motornya Zafir pake. biar cepet!" seru putranya itu dengan lantang.
Dengan cepat putranya itu berlari meraih kunci di gantungan dan menuju carport.
Tak lama kemudian terdengar suara motor meninggalkan halaman.
"Kemana dia, Umma? Pagi-pagi udah heboh sendiri?" Buya turun dengan celana pendek selutut dan kaos oblong menuju dapur.
Di raihnya gelas lalu menuju dispenser mengisi gelasnya dengan air.
Desta mencari kursi dan minum dengan tenang sembari menunggu istrinya menjawab pertanyaannya.
"Zafir ke karmen. Katanya Fely ada di sana?" jawab Aqeela menemani suaminya duduk.
"Oh.. apa orang tua Fely yang mengabari?" kepo Desta.
Aqeela menggeleng pelan.
"Bukan, tapi pihak rumah sakit. Umma jadi curiga," mode detektif on tuh.
Cup.
Satu kecupan mendarat di pipi Aqeela.
"Main sosor aja! Untung sepi," protes Aqeela lirih.
"Makanya sepi Buya cari kesempatan," bisik suaminya dengan manja.
"Buya dari dulu gak berubah ya!" Aqeela mencubit hidung suaminya gemas.
"Udah masih pagi. Aku masih on nih." Goda Desta.
Aqeela sampai melotot mendengarnya. Desta hanya tertawa lirih melihat ekspresi istrinya itu.
__ADS_1
Padahal bagi pasangan yang lama menikah bahasan on pagi-pagi bukan hal yang aneh lagi.
"Hmm... Umma jangan terlalu dipikirin si Felynya. Mudah-mudahan dia gak pa-pa," lanjut Buya sebelum kembali ke kamar dan menghadiahkan kecupan di bibir istrinya.
"Masih pagi, aku juga masih on lhoo!" goda balik Aqeela.
"Astaghfirlah. Ternyata istriku bisa lebih mesum dari aku," bisik Desta.
Aqeela tersenyum meledek suaminya karena merasa bisa mengalahkan kegombalan lelaki yang sudah menemaninya lebih dari dua puluh tahun itu.
Dengan gesit Desta berlari ke atas sebelum keisengan istrinya berlanjut dan ia bisa dipastikan kalah telak.
🌷🌷🌷🌷
Kita tinggalin Umma dan Buya dengan semua keabsurdannya.
Kita pantau perjalanan Zafir yang sudah gas poll ke arah karmen atau Karang menjangan. Rumah Sakit pemerintah yang kini dikenal RSUD dr. Soetomo.
Selama perjalanan jantung Zafir terus berdebar tanpa henti. Perasaan benar-benar kalut. Ia tidak membayangkan Fely sakit.
Lalu kemana mami dan Papinya itu. Kenapa harus pihak rumah sakit yang menghubunginya.
Sampai di jalan Dharmawangsa, Zafir memutar balik motornya ke parkiran UGD.
Pemuda itu dengan tergesa memarkir motornya, perasaannya benar-benar tidak enak. Berbagai prasangka berkeliaran di otaknya.
Zafirpun melangkah ke lobby UGD menanyakan pasien atas nama Fely atau Ruth Alexa Firly . Ia juga menyebutkan identitasnya yang tadi di telpon pihak rumah sakit.
"Sebentar, Mas," seorang customer service memanggil seseorang via telpon.
Tak lama kemudian muncul pemuda berpakaian khas rumah sakit, namun Zafir yakin bukan dokter.
Zafir mengikuti langkah pemuda itu sampai ke satu sudut UGD.
"Kok ke sini, mas? Dimana Fely di rawat?" tanya pemuda itu cemas.
"Itu mbak Fely, Mas Zafir!" petugas kesehatan bername tag Fahri itu menunjuk ke sebuah brankar yang tertutup kain putih.
"Itu Mbak Fely!" ulang Fahri.
Zafir dengan perlahan menuju brankar yang diketakkan di pojokan itu.
Dengan gemetar Zafir membuka kain putih yang menutup brankar.
Kedua netra Zafir seketika, memanas. Di bawah kain putih itu Fely memejamkan mata seperti sedang tidur.
"Mas, dia hanya tidur kan?" tanya Zafir dengan gemetar.
"Mbak Fely sudah meninggal tepat pukul tiga dini hari tadi," jawab Fahri dengan tegar.
Zafir menatap Fely yang terbaring dengan tenang. Tangan Zafir membuka kain penutup tubuh Fely yang katanya sudah menjadi mayat itu.
Dadanya bergemuruh tidak karuan, tangannya masih gemetar bahkan netranya tidak bisa di tahan agar tidak keluar tangis.
Dicarinya denyut nadi gadis cantik itu, tidak ada. Dirabanya dada Fely mengharap ada gerakan naik turun tanda kehidupan. Tetap tidak ia temukan.
Dengan lunglai Zafir memeluk tubuh kecil itu.
__ADS_1
"Fely... akhirnya aku datang menjemputmu. Tapi kenapa dengan cara begini. Aku ingin menjemputmu agar kita bisa bersama," teriak Zafir.
Pemuda itu tak peduli orang-orang yang iba menatapnya. Ia terus memanggil nama gadis itu. Berharap ia membuka mata. Berharap semua hanya mimpi.
Namun, semua nyata. Fely sudah pulang bersama malaikat izroil.
Ada penyesalan dari Zafir karena terlalu mengiyakan perrmintaan gadis itu.
Zafir menatap jenazah Fely dengan seksama. Gadis itu hanya mengenakan sebuah kaos dan celana pendek.
Di lengannya ada memar. Di sudut bibirnya ada bekas luka yang sudah mengering. Di pelipis matanya ada bekas memar berwarna hitam.
Zafir membuka kain putih penutup tubuh Fely. Jenazah itu kini sudah terbuka tanpa penutup, pemuda itu menemukan beberapa bekas luka di betis Fely.
Yang lebih menyakitkan dan membuat Zafir semakin pilu telapak kaki gadis itu berlumuran darah.
"Mas kenapa dia bisa begini?" tanya Zafir lirih karena suaranya hampir kalah dengan isakannya.
"Penganiayaan, Mas," ucap Fahri dengan jelas.
"Sebentar hasil visumnya sudah keluar," sambung Fahri. Petugas itu meraih kain putih yang dipegang Zafir, ditutupinya kembali jenazah gadis cantik itu.
Fahri meninggalkan Zafir bersama jenazah Fely. Tak lama kemudian ia kembali.
"Mas, ini hasil visumnya. Dan ini benda yang dibawa Mbak Fely ketika diantar ke sini!" ucap Fahri.
Zafir menerima amplop dan beberapa barang milik Fely.
Sebuah buku tebal mirip diary, kerudung sefi empat yang ia kenali milik Fely yang ia belikan dan mukenah kain parasut warna putih.
"Siapa yang membawa Fely ke sini?" tanya Zafir seraya membuka buku yang ternyata benar diary Fely.
"Sopir angkot, Mas." jawab Fahri lirih khawatir tidak dipercaya.
"Mamanya?" Fahri menggeleng sebagi tanda tidak tahu.
"Papinya?" Fahri kembali menggeleng.
Zafir menarik napas panjang menatap jenazah Fely yang penuh luka lebam yang belum ia tahu darimana.
Zafir membuka diary berwarna pink itu, di halaman pertama tertera namanya dan nomer telponnya.
"Kami tahu nomer Mas Zafir dari diary itu!" ucap Fahri menjelaskan tanpa ditanya.
Zafir mengangguk. Tanpa melepas pandangannyan dari diary itu. Diujung halaman pertama ia mendapati sederet angka dan nama papa tertulis di situ.
"Mas jenazahnya bagaimana?" tanya Fahri melirik Zafir tidak sabar.
"Sebentar, kalian tidak boleh menyentuhnya sebelum orang ini datang!" ucap Zafir tegas karena ia menghubungi nomer yang ada di ujung halaman tersebut.
"Haloo..."
"Om... Reksa?"
🌷🌷🌷🌷
Aish... maap yaaa... jika harus begini
__ADS_1
Apapun itu ini yang terbaik.
like, komen dan vote yaa apapun yang terjadi.