
Kita tengok Uncle Ian di Pesantrean , yuk!
Menjadi seorang santri, diawal-awal bagi Julian terasa berat.
Bangun pagi-pagi sebelum subuh. Jauh dari Aqeela dan Desta untuk pertama kalinya setelah lebih dari enam tahun ia diasuh pasangan muda tersebut.
Saat mata masih berat saking pulasnya tidur, ia dan santri lainnya harus bangun untuk sholat malam. Dilanjutkan sholat subuh berjama'ah.
Tanpa sarapan ia harus ke sekolah. Meskipun jarak antara pondok dan sekolah formalnya dekat tapi tetap saja berangkat dalam keadaan perut kosong sangat tidak mengenakkan.
Mengingatkannya pada Aqeela yang selalu menyiapkan sarapan untuknya, suami dan anak-anaknya.
Belum lagi antri untuk mandi. Antri untuk mencuci pakaian.
Meskipun disediakan laundry, Ian ingin belajar mencuci pakaiannya sendiri.
Saat jam belajarpun harus belajar sendiri. Pada saat-saat begini ia teringat si triple yang kadang meminta bantuannya atau hanya sekedar iseng mengganggunya.
Belum lagi sifat manjanya Zafira, yang terkadang membuat Zafir dan Zafran iri. Karena Ian lebih perhatian kepada Zafira daripada mereka berdua.
Dari setiap proses tersebut, Julian benar-benar belajar memenejemen waktu dengan baik.
Ia harus mampu membagi waktu belajar dan kegiatan pesantren.
Karena kedisiplinannya itu, nama Julian di kenal diantara para santri.
Bukan hanya karena ketampanannya saja tapi juga karena kemampuan akedemik, diniyah dan kedisiplinannya.
Karena kebanyakan anak pondok sering terlambat datang ke sekolah dengan alasan belum bel.
(Wkwkwkk... pengalaman kayaknya nee aunty ya..)
Para santri akan datang ke sekolah ketika bel berbunyi. Sedangkan Julian ia sudah terbiasa sepuluh menit sebelum bel sudah di kelas.
Tak sedikit santri putri yang mendekati. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan suka.
Tapi Julian hanya menanggapi dengan santai dan menjawab.
"Kita berteman saja."
(Stop disitu saja jawabnya, Jangan dilanjutkan ya Yan. Ntar kayak lagunya Ratu TTM, kan berabe.)
"Tujuanku ke sini mencari ilmu, bukan untuk mencari yang lain. Jadi kita teman saja ya.." Begitu selalu penolakan Uncle Ia jika ada yang macam-macam.
( Lega, Ian.. aunty ikut lega mendengar kelanjutan kalimatnya)
Perfect Boy, begitu julukan dari teman-temannya untuk Julian. Baik kakak kelas sampai adik kelas menjadi admire secretnya.
Beberapa santriwati yang nekat ingin dekat dengannya sampai bela-belain kirim surat bahkan ada yang kirim hadiah. Entah itu sekedar makanan ringan atau barang-barang yang dibutuhkan Julian.
Julian sampai keheranan, darimana para santriwati tahu barang yang ia butuhkan.
"Yan.., ada paket buat kamu!" Bisik Taufik pelan sambil menyerahkan sebuah kresek takut ketahuan.
"Dari siapa?" Tanya Julian heran.
Ini sudah kiriman yang ke dua puluh yang ia terima dalam bulan ini.
Julian mengintip isi kreseknya, kertas pembungkusnya ternyata sama seperti sembilan belas paket sebelumnya.
"Ini pasti orang yang sama." Gumam Julian pelan.
__ADS_1
"Entahlah, aku tidak kenal. Tapi anaknya cantik. Senyumnya manis." Jawab Taufik.
"Kamu suka sama dia?" Tanya Julian.
Taufik terdiam tidak berani mengatakan isi hatinya. Walaupun sebenarnya ia menyukai gadis yang memberi paket itu.
"Kalo kamu suka, ini buat kamu saja." Julian menyerahkan kresek yang ada di tangannya kepada Taufik tanpa ia membukanya.
Taufik terbengong melihat Julian yang seakan tanpa beban menyerahkan kresek berisi paket dari admire secretnya itu.
"Udah, ambil saja. Di kamar masih ada sembilan belas. Kalau mau ambil sekalian." Julian tanpa meminta persetujuan Taufik, ia langsung menyeret Temannya itu ke kamarnya.
"Nee.. bawa semua!" Ian membuka lemarinya dan mempersilahkan Taufik memindahkan semua paketnya. Paket dengan kertas pembungkus sama dan masih terbungkus rapi itu. Belum koyak sedikitpun.
"Kamu gak kepo gitu sama cewek ini?" Selidik Taufik.
Julian menggeleng.
"Enggak." Suaranya terdengar acuh.
"Kamu masih waras kan Yan?" Taufik menyentuh kening Julian.
"Aku masih sehat wal 'afiat, jasmani dan rohani." Bantah Julian sambil menyingkirkan tangan Taufik.
"Haa haa ha..." Taufik terkekeh mendengar ucapan Julian.
"Aku bawa deh paketannya." Taufik segera mentransfer paketan Ian ke kresek besar.
"Yan, makasi yaa... sering-sering kayak gini." Taufik tersenyum lebar, kegirangan mendapat surprise dari Julian.
"Hmm.. ambil semua. Sekalian pengirimnya bawa aja." Oceh Julian dengan wajah masa bodoh.
💗💗💗💗
Jam istirahat pertama.
Julian dan beberapa santri putra kembali ke pondok untuk menikmati sarapan.
Jam sarapan di pesantren memang siang jam sembilan bertepatan dengan jam istirahat pertama.
Dan aktifitas itu dimanfaatkan para santri untuk kembali ke pondok sejenak menikmati sarapan.
"Yan..." Seseorang memanggilnya.
Julian menoleh dan mendapati seorang gadis cantik dengan senyum ramah menatap ke arahnya.
Gadis berseragam putih abu-abu dengan anggunnya berjalan ke arah Julian.
Julian mengenali gadis itu sebagai Hani. Putri Gus Burhan. Masih ingatkan dengan gadis cilik yang dulu manja sama Aqeela.
Gadis cilik itu sekarang sudah bertransformasi jadi ABG. Berusia 17 tahun.
Julian menghentikan langkahnya, menunggu senior sekaligus cucu pemilik pesantren tersebut.
untuk keperluan apa, Ning Hani mencarinya? Itu yang patut ia pertanyakan.
Meski keheranan dengan kehadiran Hani. Julian tetap menyambutnya dengan membalas senyuman gadis itu.
"Kalian masuklah dulu, Aku mau menemui Ning Hani dulu." Seru Julian kepada teman-temannya yang juga bertujuan ke pondok untuk mengambil jatah sarapannya.
Sepeninggal teman-temannya.
__ADS_1
"Kamu Julian kan?" Hani seakan meyakinkan dirinya jika yang ada dihadapannya benar-benar Julian yang ia cari.
"Iya Ning, saya Julian. Ada apa ya?" Jawab Julian masih dengan keheranan.
"Julian yang dari Surabaya. Adiknya Mbak Aqeela dan Mas Desta?" Hani masih belum yakin.
"Iya." Jawab Julian singkat.
Beberapa pasang mata santri dan santriwati menatap keduanya dengan berbagai ekspresi.
Ada yang tersenyum polos.
Ada yang menatap curiga.
Ada yang tidak suka.
Ada yang iri dan cemburu. Mereka ini para fans fanatik keduanya.
Mana ada cowok yang tidak ngefans dengan Hani. Gadis supel itu memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum Adam di lingkungan tersebut.
Sebelas - dua belas dengan Julian.
Bedanya Julian adalah status.
Status Julian di Pesantren adalah seorang santri.
Sedangkan Hani adalah cucu pemilik Pesantren.
Julian ganteng, baik, cerdas. Perfect boy banget.
Hani cantik, supel, pintar. Perfect girl deh.
Jelaslah melihat Julian dan Hani dekat pada cemburu fans-nya.
Meskipun usia Hani lebih tua dari Julian. Tapi Hani terlihat lebih imut dari usianya.
Ada yang biasa-biasa saja.
Ada yang bersikap masa bodoh. Cuek. Emang siapa Elo.
Bukan urusan gue juga.
"Di cari sama Abah." Kata Hani singkat.
"Gus Burhan, maksudnya?" Julian menegaskan.
Hani mengangguk pelan.
"Gus Burhan, dimana?" Tanya Julian.
"Ikutlah bersamaku!" Ajak Hani sambil berjalan mendahului Julian.
Julian mau tak mau mengikuti langkah Hani. Sebagai bentuk tawaddu' nya kepada gurunya.
💗💗💗💗💗
Hani membawa Uncle Ian kemana ya?
Gus Burhan mau ngomongin apa ya sama Uncle Ian?
Vote ya teman-teman.
__ADS_1
Makasii buanget ya..
Maap hari ini lagi banyak deadline, jadi agak malam up nya