TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Promise


__ADS_3

Desta dan Aqeela kembali ke lapangan indoor dengan sedikit tergesa. Karena setelah jam makan siang suaminya ada jadwal meeting dengan kliennya.


Aqeela dan Desta mengajak keempat pasangan tersebut duduk melingkar.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Desta


"Capek."


"Amit-amit Kak, anaknya"


"Pusing."


"Benarkah? Seperti itu mengasuh anak?"


"kalo kamu gimana, Beb?" Desta beralih ke Aqeela.


"Susah gak sih mengasuh anak kembar tiga kita?" Sambung Desta masih menatap istri cantiknya itu.


Bahkan kedelapan ABG tadi terhipnotis Desta, ikut menatap ke arah Aqeela.


"Enggak tuh, aku malah seneng bisa memiliki mereka. Kalau kamu, Bae?" Balas Aqeela.


"Kamu dan mereka adalah anugerah terindah dari Tuhan buat aku." Tatapan meneduhkan dari Aqeela membuat Desta kelimpungan sejenak.


Kedelapan ABG di depannya hanya terbengong melihat kedua pasangan muda ini.


"Kalian masih ingat konsekuensinya?" Desta kembali beralih kepada para ABG sanderanya tadi.


"Inget kok, Kak." Jawan Ghani.


"Bagus. Tapi sebelumnya, saya ingin tahu. Menurut kalian, mengapa saya dan istri saya meminta kalian mengasuh anak saya?" Kata Desta sambil memperhatikan adik kelasnya itu.


"Menghukum kami." Jawab Seta.


"Kakak sengajakan menyiksa kami." Balas Martin.


"Pembuktian kalo kakak hebat." Sungut Teo.


Keempat pemuda tersebut terlihat begitu emosional.


"Kalo kalian para cewek, bagaimana?" Tanya Desta.


"Entahlah kami tak tahu maksud Kakak." Jawab Jihan.


"Kakak pasti sudah capek mengasuh mereka, makanya nyuruh kami." Sahut Winda.


Sedangkan Sheila dan Ika masih terdiam. Tak ada reaksi apapun dari kedua gadis itu.


"Kamu bagaimana Sheila dan Ika?" Aqeela menatap kedua siswi tersebut.


"Mengasuh anak itu tidak mudah, Kak. Butuh kesiapan. Kami memang capek dan kewalahan. Bahkan belum satu jam kami sudah menyerah. Itu menandakan kami belum siap." Ucap Sheila dengan menunduk.


"Saya setuju dengan setuju dengab Sheila." Jawab Ika singkat.


Aqeela dan Desta yang menyimak hanya manggut-manngut.


"Jawaban kalian semua saya terima. Tapi saya perlu meluruskan bahwa tujuan kami meminta kalian mengasuh anak kami adalah sekedar mengingatkan. Jika suatu saat hubungan kalian benar-benar menghasilkan Martin dan Jihan Junior, Teo da Winda Junior, Seta dan Ika Junior atau Ghani dan Sheila junior padahal kalian masih sekolah, bagaimana?" Urai Desta.


"Kami tidak melarang kalian dekat. Kami juga pernah seusia kalian dan paham bagaimana gejolak muda diusia seperti ini, Tapi kami selalu menahan diri.


Walaupun kami bukan penganut paham pacaran. Bukan berarti kami tutup mata. Berteman dekatlah yang baik. Saling mensupport dalam kebaikan.


Hindari berdua di tempat sepi.


Jika perlu perkenalkan pasangan kalian kepada orang tua masing-masing." Sambung pria beranak tiga itu dengan tegas.


Kedelapan siswa siswi tersebut terdiam. Entah apa yang mereka pikirkan.


" Saya ada kisah untuk Kalian. saya dan istri bahkan pacaran setelah kami menikah. Bahhkan saat itu usia istri saya masih 17 tahun dan saya 19 tahun."


Kedelapan ABG itu saling berpandangan.

__ADS_1


"Kalo kalian mengira kami MBA (Marrried be Accident), kalian salah. Bahkan mungkin di otak saya terlintas menikah, apalagi sama cowok biang onar kayak gini. Tapi dihadapan Ayah saya dia langsung melamar saya. Bahkan tanpa mengatakan cinta atau apapun kepada saya."Sambung Aqeela


"Dan mertua saya menerima bahkan tanpa syarat apapun." Sahut Desta.


"Beneran kalian menikah dan sekolah barengan?" Seta seolah tidak percaya.


"Berapa usia kamu?" Tanya Desta


"Sembilan belas tahun." Sahut Seta.


"Yupzz, saya menikah seusia kamu." Jawab Desta.


"Berarti Kakak ini udah gak perawan dong pas sekolah?" Teo langsung menyahut begitu saja.


Desta dan Aqeela saling pandang menahan tawa.


"Dia masih perawan. Karena kami hanya menikah. Menghalalkan hubungan kami. Setelah itu kami pacaran seperti layaknya pasangan lainnya. Bahkan sewaktu kami serumah atau sekamar, saya masih punya otak waras untuk menjaga istri saya."


"Terus malam pertamanya kapan dong, Om?" Celetuk Jihan.


"Setelah istri saya lulus."


"Kok, kakak bisa menahan segitu lamanya?" Ghani tiba-tiba kepo.


"Karena saya mencintai istri saya. Dan saya punya kewajiban menjaganya."


"Gak pengen tuh, Kak? Secarakan tiap hari ketemu?


"Ya kepengenlah. Tapi kami sudah berkomitmen."


"Okay cukup, kalo dilanjutkan tidak akan habis. Kami ingin tahu langkah kalian selanjutnya?" Potong Aqeela.


Perempuan itu menunjukkan arloji, tanda waktu mereka juga terbatas.


"Kami belum siap menikah, Kak." jawab Ghani diamini yang lain.


"Berarti Kalian sanggup menerima apapun konsekuensi dari kami, bukan?" Tanya Aqeela.


"Jangan ulangi lagi berbuat kayak tadi. Ini sekolah bukan kamar hotel. Kami tidak akan bertanya tentang malam pertama kalian. Tapi stop melakukannya di sekolah. Jika kami masih melihat kalian melakukannya di sekolah, kami akan memanggil orang tua kalian."


"Ingat, orang tua kalian sudah memberi kepercayaan penuh. Jika kalian mengingkari mereka pasti akan sedih. Pikirkan semua ucapan kami. Saran kami, sebaiknya kalian menikah."


"Ini henpon dan dompet kalian. Ambillah."


Aqeela mengangsur tas berisi ponsel dan dompet mereka.


"Kembalilah ke kelas kalian, jadilah pasangan baru. Toh, tidak lama lagi kalian akan lulus. Benarkan? Kalian kelas dua belas semua, kan?"


"Iya Kak."


@@@@


"Gimana mereka?" Tanya Desta setelah pasangan mesum tadi kembali ke kelasnya.


"Masih setengah sadar."


"Kita bawa ke BK."


Wawan dan Ronald menggiring siswa yang setengah sadar ke ruang BK.


Aqeela mendahului teman-temannya. ia akan mengamankan ketiga anaknya terlebih dahulu.


"Zafir, Zafran, Zafira.." Panggil Aqeela.


"Kak, sudah selesai?" Nicholas yanga ada di situ ikut menoleh.


"Sudah, lhoo kamu ndak masuk kelas?" Tanya Aqeela heran karena tadi ia hanya titip ketiga kembarnya pas jam istirahat ke Nicholas.


"Umma, Kakak Nich lagi buatin kita pesawat dari kertas." Kata Zafir sambil menggandeng Ummanya.


"Hmm.. iyakah? Coba mana pesawatnya?"

__ADS_1


"Ini Umma."


"Wah, bagus ya buatan Kak Nich. Udah bilang terima kasih?"


"Sudah."


"Bagus.."


"Nich, bantuin Kakak lagi ya."


"Apa, Kak?"


"Ajak anak Kakak ke kantin sebentar. Kakak sama Buya dan temna-temannya mau ngurusin teman-teman kamu yang teler."


Nicholas menutup mulutnya.


"Itu pasti Ricky dan kawan-kawannya. Okay, Kak Nich bawa mereka ke kantin."


"Kamu gak kerepotan kan?"


"Enggka kok, Kak."


"Nee, bekal buat mereka."Aqeela menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan kepada Nich.


"Kalo kamu juga lapar, pake uang ini aja."


"Iya, Kak."


"Ayoo Zafir, Zafran, Zafira ikut Kakak..!" Ajak Nicholas.


Ketiga langsung mengikuti langkah Nicholas sambil bernyanyi-nyanyi.


@@@@@


"Kalian sudah sadar ini dimana?" Ronald menanyakan kondisi kelima orang siswa yang tadi dibawanya.


Kelima siswa itu mengedarkan pandangannya.


"Ruang BK." Jawab salah satu dari mereka.


"Bagus sudah sadar."


Wawan dan Ronald berdiri bersandar di tembok sambil bersidekap, sedangkan Aqeela duduk di kursi yang biasa dipakai Pak Jamal. Dan Desta berdiri tak jauh dari Aqeela.


"Kalian tahu kesalahan kalian?"


"Mabuk di sekolah." Jawab salah satu lagi.


"Bagus.."


"Apa hukuman yang berlaku?"


"Dikeluarkan."


"kapan kalian mau dikeluarkan?"


"Kapan saja."


"Sebutkan nama dan kelas kalian, kami akan menghubungi orang tua kalian. Akn kami proses kalian sekarang juga." Hardik Wawan.


"Mulai dari kamu!" Wawan menyenggol bahu seorang siswa.


@@@@@


Mereka pakai jurus apa lagi yaa?


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2