TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Izin


__ADS_3

Zafir diajak Umma masuk ke ruang kerjanya. Lebih tepatnya sih ruangan Buya. Tapi kan Buya lagi di kantor.


Jadi milik Umma deh sekarang sambil nunggu pemiliknya datang. Hanya berdua saja.


Ara dan Ayra sedang ditidurkan Bu Erna dan Bu Darmi.


"Kamu tadi mau izin apa ke Umma?" tanya Umma menatap Zafir anak sulungnya.


Ya sebetulnya, bayi yang pertama ia lahirkan. Zafir menyusul Zafran dan terakhir Zafira.


Hanya saja karena Aqeela merasa tidak perlu menyebutkan siapa yang lebih dulu lahir, ia selalu menganggap ketiganya sama-sama anak sulungnya.


Mungkin karena itulah sifat Zafir terlihat lebih dewasa dibandingkan kedua saudara kembarnya.


"itu Umma..." Zafir terlihat grogi mengucapkan keinginannya.


"Kamu kenapa, Nak?" suara Umma terlihat sangat lembut.


Zafir merasakan hangatnya suara Umma. Sambil merenung.


Ia memang tidak sepandai Zafran yang lihai mengambil hati setiap orang, apalagi Zafira saudara perempuan yang selalu blak-blakan itu.


Zafir masih terdiam. Merenungi setiap kata yang ingin ia katakan kepada Umma.


"Bagaimana, Nak?" ulang Umma.


"Umma, apa bole Zafir menikah?" tanya Zafir dengan jantung tak menentu.


Umma tersenyum mendengar ucapan Zafir. Niat hati ingin menertawakan anaknya ini tapi ia sadar siapa Zafir.


"Boleh. Kenapa tidak? Kamu ingin menikahi siapa, Nak?" tanya Umma dengan lembut.


Zafir bukanlah Zafran yang bisa membuat orang tuanya kelabakan dengan keputusan anehnya.


Apalagi Zafira, yang paling bisa bikin jantung serasa copot dengan keputusannya yang terkesan ekstrim.


Zafir adalah sosok kalem yang teratur, ia akan memikirkan semua yang akan ia lakukan dengan banyak pertimbangan.


Entah kali ini atas dasar apa ia mengatakan keinginannya.


"Fely, Umma." Ada sedikit ragu saat mengatakannya.


Umma mengerutkan dahinya. Bukan karena kaget atau tidak suka.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Umma.


"Insya Allah Iya, Umma," yakin Zafir.


"Nak, bukannya Umma tidak setuju. Coba kamu lihat latar belakang Fely. Apa kamu sanggup menghadapai Mamanya?" ujar Umma lembut.


"Zafir akan mencobanya, Umma. Kita tidak akan pernah tahu jika belum mencobanya."


"Baiklah. Umma hanya bisa mendoakan yang terbaik. Menghadaplah ke kami jika Fely dan Mamanya sudah setuju. Dan satu lagi. Minta Fely mencari papa kandungnya sebagai wali saat kalian menikah kelak,"


"Insya Allah, Zafir akan melaksankan semua yang Umma sampaikan."


"Terima kasih, Fir."


🌹🌹🌹


Zafir kembali ke kamarnya. Ia kembali mencerna setiap kata yang diucapkan Umma.


Apalagi yang menyebutkan latar belakang.


Berkali-kali lelaki itu menghirup oksigen dalam-dalam untuk menenangkan gejolak hatinya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang Umma khawatirkan?" gumam Zafir dalam hati.


"Apakah Umma khawatir kelak Fely seperti Mamanya? Bukannya sekarang saja Fely semakin lancar mengajinya?" Relung hatinya semakin membatin.


"Aku masih belum mengerti."


Lamunan Zafir terhenti karena notif pesan masuk ke gawainya.


Pemuda itu segera membuka pesan tersebut. Dari Thifa.


~Kak, besok Satria mau ketemu. Di tempat yang dulu. Pulang sekolah~


Zafir tersenyum mendapat pesan dari Thifa tersebut. Padahal dirinya saja sudah lupa ternyata sudah dua bulan berlalu.


Ia menatap profil cantik Thifa yang seakan tersenyum menatapnya.


"Sayangnya, bentar lagi dia bukan milikku." batin Zafir yang diiringi istighfar berkali-kali.


"Ngomong apa aku ini! Aku juga bahagia kalo Thifa bahagia." gumamnya.


~Iya, awas gak bole boncengan sama si Sat!~


Ancam Zafir saat membalas pesan Thifa.


Thifa membalas dengan senyum cemberut 😒😒😣😣


Zafir hanya terkekeh tanpa membalasnya.


🌹🌹🌹


Sampai malam Zafir tidak melakukan kontak apapun dengan Fely.


Ia masih menjaga diri dan hati. Agar tidak melampaui batas.


Dirinya tidak bisa seromantis Zafran menghadapi Renata. Bahkan sebelum menikah saja, saudaranya itu sudah menjanjikan banyak hal kepada istri yang dulu masih calon.


Hati Fely dan Satria. Dengan maksud yang berbeda. Dengan banyak rencana. Yang hanya bisa dijelaskan oleh Zafir sendiri.


Beruntung ia bisa memejamkan matanya dengan mudah. Tanpa memusingkan hati kedua orang yang ia maksud.


🌹🌹🌹


Fely dengan cemas menunggu kedatangan Zafir di kelasnya.


Gadis itu berkali-kali menatap bangku yang biasa digunakan Zafir.


Karena selama menjadi teman Zafir, Fely belum pernah mendapati Zafir pindah duduk. Kecuali ada dosen yang memintanya pindah.


Namun besok ia akan kembali ke sana. Enatah apa sih nyamannya duduk di meja paling depan.


Fely sendiri duduk di meja paling pojok.


Setiap ada yang membuka pintu, Fely berharap itu Zafir. Tapi selalu bukan.


"Kamu panik banget, kenapa sih Fel?" tanya Rani teman yang duduk di meja depannya.


Fely bukannya membalas tapi malah menatap kembali ke meja Zafir.


"Oh.. nungguin Prince Zafir datang," ledek Rani begitu paham makna pandangan Fely.


Gadis itu beneran ingin menertawakan keadaan Fely yang ia anggap bucin tingkat langit kepada Zafir.


Namun ditahan, karena merasa iba dengan kepanikan Fely.


"Fel, elo bisa cerita deh aku. Ada apa?" ucap Rani lagi, tapi hanya diberi gelengan kepala oleh Fely.

__ADS_1


Begitu Zafir masuk. Tanpa sengaja Fely memekikkan nama pemuda itu dengan lantang. Seketika membuat warga kelas menatap keduanya bergantian.


Zafir yang masih belum ngeh dengan yang terjadi barusan, masih terdiam di tempatnya.


"Kenapa, Fel?" Zafir menghampiri Fely yang masih terlihat panik dan lega.


"Kita bisa bicara sebentar?" lirih Fely.


"Bisa! ayooo!"


"Dosennya?"


"Biarian!" Zafir mendahului Fely keluar kelas.


"Kalian mau bolos lagi?" bisik Rani sembari menahan tangan Fely.


"Entahlah?" jawab Fely tak ingin berbicara terlalu lama dengan temannya itu.


Urusannya lebih penting daripada menjawab pertanyaan Rani.


Beberapa minggu yang lalu, saat Fely diajak bolos Zafir karena matanya yang bengkak membuat hampir seisi kelas heboh.


Pasalnya ada yang sempat melihat keduanya naik mobil bersama di jalanan.


Untungnya bukan di hotel. Bisa-bisa jatuhnya fitnah.


Bahkan paparazinya memberikan bukti berupa foto. Yang membuat keduanya tidak bisa berkutik.


Endingnya hanya mengaku iya. Tanpa klarifikasi hubungan mereka. Karena sampai saat ini status keduanya masih teman. Belum naik level.


Sampai di tempat yang dirasa aman, Zafir berhenti.


Pemuda itu menoleh ke belakang. Dilihatnya Fely berada jauh di belakangnya.


Zafir sampai mengernyitkan dahinya.


"Kayaknya dia tadi tepat di belakangku deh? Sekarang kok jauh banget?" gumam Zafir lirih.


"Fir, kalo jalan pelan-pelan napa?" Napas Feky sampai tersengal-sengal.


"Aduh maaf ya, Fel. Harusnya tempatmu di sisiku bukan di belakangku,"


"Apaan sih, gombalannya."


"Beneran serius. Harusnya aku menggandenga kamu supaya langkah kita bisa sejajar dan jalan bersama menuju masa depan,"


"Gombalan gak mutu," Tak urung Fely tersipu juga menatao senyum Zafir.


Ternyata bukan gombalannya yang bikin Fely jumpalitan tapi senyum tenang milik Zafirlah yang membuatnya tak tenang.


"Fir, ini seriusan. Aku bingung," Fely menetralkan suasana canggungnya.


"Iyaa. kenapa?" Mereka duduk di sebuah kursi taman yang ada di parkiran.


Tujuannya kalo urgent bisa langsung kabur.


"Aku datang bulan. Terus sholatku gimana dong? Lagi deres...."


"Masuk!"


🌹🌹🌹


Hari ini aku tungguin yang terakhir yaa... untuk give awaynya...


love buat kalian...

__ADS_1


Aku butuh like, komen vote dan share kalian.


__ADS_2