TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Agenda Pagi Zafir


__ADS_3

"Assalamualaikum!" suara salam dari luar menhentikan aktifitas Desta menggoda Zafir.


Renata sudah pamit beberapa menit yang lalu untuk ke masjid mengisi pengajian ibu-ibu. Sedangkan Zafira masuk ke pesantren putri mengisi kajian remaja.


"Waalaikumsalam!" jawab penghuni rumah.


"Bunda..." sapa Zafir.


"Hai Fir!" jawab Oca sambil mengulurkan tangannya.


"Mantu baru, Nyai?" tanya Oca menatap Fely keheranan.


"Fir...! Oh, jadi karena ini kemarin sampai ngelupain aku!"


Plak...


Pukulan telak di punggung membuat Zafir menendang Malik dengan sempurna.


"Kalo ngomong mulut direm dulu!" oceh Zafir, Malik hanya nyengir.


Fely yang mendengar obrolan mereka hanya tertunduk.


Gadis itu tidak mengenal tamu Zafir, tapi ia mengingat lelaki yang ditendang Zafir itu sahabat teman kampusnya itu.


"Duduklah Maemunah!" titah Aqeela.


"Wkwkk... aku punya julukan baru," ledek Oca.


"Siapa dia Nyai?" bisik Oca.


"Temannya Zafir,"


"Kok di sini?"


"Semalam kos-annya udah di kunci. Jadi gak bisa masuk,' jawab Aqeela.


Kedua ibu tersebut, akhirnya asik dengan berbincang berdua.


"Ma, aku antar Fely dulu!" Pamit Zafir, sengaja membawa gadis itu pulang lebih cepat. Karena kehadiran Malik dan Bundanya.


"Ikut!" pinta Malik.


"Eh.... kunci mobil mana?" Oca menengadahkan tangannya.


"Nanti Bunda nunggu kamu kelamaan!" omel Oca yanh sudah paham bagaimana tingkah dua remaja itu.


"Terus Malik pulangnya gimana?" tanya Malik


"Urusan kamu!" jawab Oca.


"Bunda tega banget!"


"Apa?" Oca menjewer telinga Malik.


"Sakiit, Bun..." pekik Malik.


Zafir dan Aqeela terkekeh melihat ibu dan anak itu.


Sedangkan Fely hanya menahan senyum, menyaksikan adegan konyol tak berkelas itu.


"Ya udah deh, aku gak jadi ikut!" Malik akhirnya menunggu Oca di rumah Aqeela sambil berbincang dengan Desta dan Julian. Karena Zafran mencabuti rumput di halaman depan.

__ADS_1


💗💗💗💗


"Fel, sory ya... aku antar pagi-pagi," Zafir membelah lalu lintas Surabaya yang masih lengang.


Pemuda itu memilih beberapa jalut alternatif karena ada kegiatan CFD (Car Free Day) di beberapa titik.


"Aku gak pa_pa, kok." jawab Fely dengan senyumnya.


"Makasi ya, Fir." sambung Fely mengusir keheningan diantara mereka.


"Makasi buat?" tanya Zafir.


"Buat semua, kemarin aku belum sempet bilang makasih." Fely melirik Zafir sekilas percuma juga menatap cowok di sampingnya ini.


Karena ia yakin Zafir gak akan menatap dirinya. Cowok itu terlalu angkuh untuk menatap cewek manapun. Satu-satunya cewek yang berani ia tatap dengan kejam hanya Zafira. Saudara kembarnya.


"Iya..." jawab Zafir fokus mengemudi.


Perkiraan Fely memang tidak salah. Zafir tak pernah menatap sedikitpun ke arah Fely.


Bukan takut atau cuek. Zafir khawatir tidak kuat menahan diri. Apalagi di sampingnya adalah perempuan cantik.


Apalagi Fely hadir di saat dirinya dalam keadaan galau, karena memergoki Thifa.


"Fir, makasih ya. Sampaikan salamku untuk orang tua kamu!" ucap Fely sebelum turun dari mobil Zafir.


Zafir mengangkat telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran sambil tersenyum.


Setelah Fely masuk, Zafir mengemudikan kendaraannya menjemput Ara dan Ayra di rumah Oma dan Opa.


💗💗💗


Di kampus.


Seluruh penghuni sontak menatap Fely dan Zafir bergantian dengan sorot mata penasaran.


Bagaimana tidak, sosok yang tidak banyak cakap itu tiba-tiba menyebut nama Fely dengan santainya.


"Kenapa?" Fely menatap Zafir tanpa curiga.


Apalagi saat Fely menjawab dengan santai seolah mereka berdua teman dekat.


"Nih! dari Bu Darmi," Zafir menyerahkan paper bag ke arah Fely.


Fely menerima dan mengintip isinya.


"Makasi ya Fir, sampaikan makasi aku ke Bu Darmi dan Bu Erna." Fely tersenyum membayangkan keramahan kedua asisten rumah tangga Zafir.


"Makasi doang, nih?" goda Zafir sambil tersenyum jahil.


Posisinya kini duduk di depan meja Fely yang kebetulan kosong.


Mulut Fely menganga lebar mendengar ucapan Zafir. Gadis itu tidak percaya seorang Zafir mendadak jadi cerewet.


"Ntar siang gue traktir makan di kantin!" ucap Fely masih dengan hati terpesona dengan kecerewetan mendadak Zafir.


"Okay, abis duhur kamu tunggu di kantin." Zafir kembali ke bangkunya.


"Fir, jangan bawa Malik!" teriak Fely bingung karena uang bulanannya sudah menipis, sedangkan orang tuanya belum mengirim lagi. Dan tidak mungkin mengirim, karena Fely selama ini kuliah dengan biaya sendiri.


Fely kerja freeline di sebuah cafe dan produk kecantikan. Gajinya lumayan walau hanya seminggu 3-4 kali.

__ADS_1


Yang penting bisa untuk biaya hidup dan kuliah. Fely juga menerima murid les tambahan pelajaran walau hanya ada 3 anak usia sekolah dasar.


Gajinya juga lumayanlah bisa untuk tambahan jajan atau beli tiket nonton bola kayak kemarin.


Dari bangkunya, Feli bisa melihat jempol dan telunjuk Zafir membentuk lingkaran yang dinaikkan sedikit tanpa menoleh ke arah Fely yang duduk di belakang.


Ada kelegaan di dadanya. Meski hanya dengan jawaban kode.


"Fel, sejak kapan kalian dekat?"


"Fel, Zafir kesambet apaan tuh bisa banyak omong gitu?"


"Fel, emang elo apanya Zafir?"


"Fel, ada apa dengan kalian?"


Berbagai pertanyaan dilontarkan teman-teman sekelasnya.


Fely hanya menatap teman-temannya itu tanpa ada niatan menjawab.


Beruntung dosen mereka segera masuk, sehingga Fely tidak perlu mencari alasan untuk tidak menjawab.


💗💗💗


Zafir mengedarkan pandangannya mencari sosok Fely.


Begitu menemukan gadis yang tengah sibuk menyeruput jus alpukatnya itu, Zafir langsung duduk di kursi kosong yang ada di depan Fely.


"Astaga... Sejak kapan elo di situ?" pekik Faley terkejut mendapati Zafir sudah di depannya.


"Sejak elo nyeruput jus alpukat dengan segarnya," ucap Zafir santai sambil menatap makanan yang ada di kantin.


Fely yang mulai paham sifat Zafir mendiamkannya.


"Mau gue pesenin apa?" tanya Fely jengah karena sejak tadi Zafir hanya membaca dan menatap menu makanan yang dipajang.


"Bentar, aku lagi konsultasi ama perutku. Kira-kira hari ini dia pengennya apa?" jawab Zafir tanpa ekspresi.


Auto Fely terkikik mendengar perkataan Zafir. Tidak ada kata yang mengandung unsur humor, bahkan terkesan datar dan biasa saja.


Namun karena mimik datar Zafir inilah yang menghadirkan kejenakaan bagi Fely.


Tiba-tiba gadis itu teringat ucapan Zafira mengenai Zafir.


Apa mimik datar begini bisa berubah jadi wajah resek?


Fely tanpa sengaja menatap kagum ke arah Zafir


"Ternyata, Zafir ganteng juga." batinnya.


"Elo selama ini kemana aja?.Sampai membiarkan cowok seganteng Zafir di kelas kagak ada yang nyadar?"


"Atau barangkali... gue aja yang gak nyadar kalo memang dia ganteng?" gerutu Fely dalam hati.


"Kalo liatin aku gak udah sampai segitunya, ntar kalo kamu bucin, aku gak mau tanggung jawab gimana coba?" suara Zafir menyadarkan Fely yang menatap kagum teman sekelasnya itu.


"Fel, mie ayam dan es sinom plus dawet ya..." seru Zafir yang disambut bibir melebar oleh Fely, saking kagetnya dengan porsi yang diminta Zafir.


💗💗💗💗


Awas Fel, dikerjain Zafir.

__ADS_1


Jangan terlalu polos...


__ADS_2