TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Menjemput Triple


__ADS_3

Sabtu pagi, Julian sudah sampai di Kediri. Pemuda itu langsung menuju pondok putra.


Julian sengaja mendulukan Zafir dan Zafran agar keduanya merasa tidak terabaikan karena dirinya lebih sering bersama Zafira.


Setelah Zafir dan Zafran keluar, mereka bertiga baru berkunjung ke pondok putri.


Setelah triple berkumpul lengkap, Julian dan ketiganya menuju kelas triple menemui sang wali kelas untuk menerima hasil belajar ketiganya.


Pesona Julian memang tak pernah luntur dimakan waktu. Beberapa yang masih mengenal Julian menyapa pemuda itu.


Beberapa kali Julian sampai menghentikan langkahnya hanya sekedar berbasa basi dengan teman-temannya yang masih melanjutkan sekolah dan mondok di situ.


"Oh.. jadi merek ini keponakan kamu?" Komen salah satu teman cewek Julian.


Zafira hanya manyun mendengar komentar teman-teman cewek Julian yang menatap ketiganya dengan senyum misterius.


Sedangkan Zafir dan Zafran memilih tidak menanggapi tapi tetap tersenyum melihat sikap Zafira.


"Fir, kenapa sih kok jadi diem gitu?" Tanya Zafran yang melihat perubahan mimik Zafira yang tadinya cerah menjadi jutek.


Apalagi saat Julian di sapa cewek-cewek yang nota bene kakak kelasya juga. Baik di sekolah formal maupun di pondok.


Zafira masih terdiam meskipun telinga masih mendengarnya dengan jelas. Gadis itu masih malas menanggapi ucapan Zafran.


"Aku gak suka ya, uncle senyum-senyum kayak tadi sama cewek-cewek. Aku ngerasa setelah ini mereka pasti bakal ngedeketin aku supaya jadi MC mereka?" Oceh Zafira begitu mereka jauh dari kerumunan cewek-cewek tadi.


"MC apaan, Fir?" Tanya Julian.


"Katanya cowok gaul tapi gak tau MC. Mak Comblang tau!" Gerutu Zafira.


"Ooh.. jadi sejak tadi kamu manyun itu gara-gara entu. Mbak-mbak cewek yang tadi?" Akhirnya Zafran menyimpulkan jawaban dari pertanyaannnya sendiri yang tidak dijawab Zafira.


Zafira diam, tapi auranya mengatakan Zafran benar.


Julian menghentikan langkahnya sejenak.


"Udahlah gak usah dipikirin. Ntar Uncle bilang ke mereka kalo Uncle udah punya calon istri." Jawab Julian setengah menggoda ke arah Zafira.


"Emang beneran uncle udah punya calon istri?" Tanya Zafira keheranan.


"Hmm.. iyalah punya calon istri. Masa calon suami? Hukumnya jelas haram." Ledek Julian.


Buugh.


Satu tinju dari Zafira mengenai perut Julian.


"Awwwhh.." Rintih kaget Julian.


Zafir dan Zafran hanya terkekeh melihat muka sebal Zafira.


"Makanya kalo urusan soal fansnya uncle gak gak usah dipake guyonan kalo sama Zafira. Tuh kan akibatnya." Bisik Zafir sambil menjajari langkah Julian.


Julian hanya nyengir mendengar penuturan Zafir..


(Uncle Iyan gak peka banget sih, Othor kan sebel)

__ADS_1


Sedangkan Zafran merangkul bahu Zafira, menenangkan saudarinya itu.


Setelah menerima rapot ketiganya, Julian memamitkan ketiganya pad pengurus dan Kyai sepuh juga Gus Burhan.


Begitu memasuki wilayah Surabaya, Julian mengarahkan mobilnya ke kediaman Mommy dan Daddy.


"Uncle ini kan jalan ke rumah Oma?" Tanya Zafira.


Manyunnya sudah mereda setelah Julian menggodanya dengan gombalan maut level dewa beberapa saat yang lalu.


"Oma dan Opa kalian kangen. Kemarin waktu uncle kabari mereka ingin bertemu kalian. Makanya uncle ajak kalian ke sana terlebih dahulu." Jawab Julian tetap fokus mengemudi.


"Memangnya kalian gak kangen apa dengan mereka? Bunni sama Ayahkung aja selalu tanya kabar kalian?" Sambung Julian.


Ketiganya terdiam sambil mengingat kenangan bersama kakek neneknya itu.


"Kangen pake banget Uncle. Kenapa sih mereka gak ke pondok aja?" Gerutu Zafran.


"Mereka sekarang mudah lelah, Zafran. Makanya yang wira wiri Buya kalian." Jawab Julian.


"Kita bisa gak ya nyusul Buya sama Umma ke Jerman?" Sahut Zafir tiba-tiba.


"Tiket lagi mahal-mahalnya ini. Di sana lagi musim dingin dan penduduk Jerman lagi sibuk natalan." Ucap Julian.


"Kan seru uncle." Bantah Zafira.


"Ya nanti tanya aja ke Umma kalian. Bole gak nyusul dan liburan ke sana? Lagian liburan dua minggu aja bingung." Ledek Julian.


"Daripada di rumah cuma bisa liat wajah uncle doang. Kalo kita jalan-jalan ke Jerman kan lumayan tuh bisa liat pemandangan cowok bule yang ganteng-ganteng." Ceriwis Zafira.


"Zina mata. Jaga tuh pandangan. Tundukkan." Ceramah Julian.


"Tatap Uncle aja. Gantengnya juga sebelas dua belas sama bule Jerman." Goda Julian.


"Iya sebelas dua belas kalo di liat dari atasnya menara masjid al-akbar." Balas Zafira.


Auto Zafir dan Zafran yang mendengar perdebatan keduanya hanya ngakak.


"Gak usah ngakak. Aku bener kan? Sebelas dua belas dari mananya coba?" Ketus Zafira.


"Dari bulu rambut dan tingginya Uncle kayaknya." Sahut Zafran.


"Soak kalian." Zafira terdiam.


"Putri cantik keluar dari pondok semakin pintar ngumpat ya?" Goda Julian yang masih ditertawakan kedua saudaranya.


Sedangkan Zafira hanya terdiam, ia merasa kalah karena 3 lawan 1. Tiga cowok dan 1 cewek dirinya. Tak ada yang membelanya.


Kalau sudah begini, ingin rasanya ia suruh si twins cepat gede biar bisa membelanya dihadapan Zafir, Zafran dan Julian.


Tapi ia lupa kalau si twins sekarang ada di Jerman. Zafira menatap keluar jendela menikmati keramaian Surabaya yang sudah ia tinggalkan selama enam bulan.


Julian membunyikan klakson mobilnya begitu sampai di depan gerbang rumah Mommy.


Pak Yanto, satpam kediaman Mommy segera membuka gerbang setelah tahu yang datang Julian bersama cucu-cucu pemilik rumah tersebut.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Pak Yanto..." Sapa Keempatnya kompak.


"Wa'alaikum salam." Sahut Pak Yanto dengan senyum mengembang.


Bagi seorang seperti Pak Yanto, disapa seperti itu saja sudah merasa sangat dihargai. Karena itu ia betah kerja dengan tuan Wijaya sampai usia jelita (jelang lima puluh tahun).


Setelah mobil Julian masuk, Pak Yanto kembali menutup gerbangnya dan masuk ke pos.


"Omaaa....Opaaa...." Teriak si triple begitu sampai di depan pintu.


Teriakan kencang ketiganya membuat Pak Yanto geleng-geleng kepala.


"Meskipun sudah besar ternyata mereka bertiga tidak berubah. Semoga mereka tetap jadi anak baik meskipun isengnya bikin orang sebel." Gumam Pak Yanto dalam hati.


Ia begitu menikmati setiap teriakan ketiga kembar cucu majikannya sampai ada yang membukakan pintu.


Selebihnya Pak Yanto kembali fokus pada pekerjaannya. Menjaga rumah Tuan Wijaya.


Selain Pak Yanto ada dua satpam lagi. Tapi ketiganya bekerja secara shift. Yang mengatur juga mereka sendiri.


💗💗💗💗💗


"Wa'alaikum salam... Cucu Oma udah tinggi banget." Sambut Oma sambil memeluk dan mencium ketiganya bergantian.


Triple hanya tersenyum mendengar ucapan wanita cantik yang kini semakin terlihat beberapa kerutan di sudut matanya.


Oma langsung menggiring ketiganya masuk ke ruang makan.


"Kalian makan dulu! Yan, makanlah dulu. Kamu juga lama ndak ke sini. Mommy sama Daddy sampai kangen." Ucap Mommy menatap sendu wajah pemuda itu.


"Maafkan Iyan Mi, Iyan juga sibuk akhir-akhir ini." Jawab Julian lirih.


"Terima kasih ya, Yan.Udah mau jaga cucu-cucu Oma." Ujar Mommy masih dengan menatap Julian.


"Mereka juga keponakan saya, Mi. Bahkan sudah seperti adik buat saya. Maklum Iyan kan tidak punya adik." Jawab Julian.


Mommy mengelus kepala Julian dengan lembut.


"Duduklah! Makan dulu. Mommy masak makanan kesukaan kalian." Mommy mengekus kepala keempatnya bergantian.


"Daddy kemana, Mi?" Tanya Julian hati-hati.


Mommy seperti bingung mau menjawab apa. Wajahnya menegang.


💗💗💗💗💗


🎵🎶


Libur tlah tiba


Libur tlah tiba


hore hore hore


hatiku gembira...

__ADS_1


Having fun yaa..


happy reading genk...


__ADS_2