TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Masih bersama Julian


__ADS_3

Julian sudah berhadapan dengan Edo. Pengacara almarhum Papanya.


"Yan..." Panggil Edo melihat Julian sibuk membuka lembaran-lembaran detail informasi perusahaan Papanya.


"Iya, Om." Julian menghentikan aktifitasnya lalu memandang Edo.


"Yan, kamu paham dengan yang tertulis di situ?" Tanya Edo penasaran, karena sedari tadi Julian fokus dan tidak menanyakan apapun padanya.


"Paham sih Om, tapi belum paham sekali. Kak Desta menunjukkan laporan perusahaan miliknya sama aku." Jawab Julian.


Edo tersenyum mendengar jawaban Julian, tak pernah ia sangka pengaruh pasangan muda itu begitu kuat pads Julian.


Keluarga Wijaya, siapa sih yang tidak mengenal pengusaha alat berat tersebut. Besannya Syarief, pengusaha advertising terbesar di Surabaya.


Gabungan Dua Perusahaan besar beda jalur dengan presdir yang sama.


"Terus sekolah kamu?"


"Sekolah lancar kok Om."


" Kak Desta dulu pernah mengatakan, agar aku kelak bisa membantunya memegang salah satu perusahaan. Dia dan Om Doni kadang kewalahan menghadapi klien." Sambung Julian.


Lagi-lagi Edo menghembuskan napas panjangnya.


"Om, Iyan bole minta sesuatu gak?" Tanya Julian.


"Apa?"


"Rumah papa, aku belum ada keinginan menempatinya. Biarkan saja seperti sekarang. Sesekali akan aku kunjungi tapi belum untuk di tempati." Kata Julian.


"Itu terserah kamu. Asal gaji para asisten rumah tangga tetap kamu bayarkan."


"Siyap Om."


"Masih ada lagi?"


"Om Edo di perusahaan harus tetap di posisi sekarang meskipun ada Julian."


Edo sedikit terhenyak mendengar permintaan Julian.


Selama sepuluh tahun ke belakang, Edo sengaja menggantikan posisi Pak Atmaja sebagai kimisaris Utama Dari ATW corp yang bergerak di bidang industri pangan.


Sedangkan Presdir dikendalikan oleh Yanuar saat belum terendus kejahatananya. Tapi setelah ia dinyatakan sebagai tersangka, maka seluruh hak atas Pak Atamaja sementara dibawah kendali Edo.


Dan saat taqdir mempertemukannya dengan Julian, ia berharap tidak akan berkecimpung di dunia bisnis lagi. Ternyata harapannya pupus seketika.


"Tapi, Yan.. kan masih banyak anggota keluarga kamu lainnya?"


"Siapa Om?" Tanya Julian kepo.


"Desta?"


"Saya sudah membicarakan ini dengan Kak Desta. Bahkan permintaan saya ini adalah saran dari Kak Desta, Kak Aqeela, Daddy dan Ayah." Ucap Desta.


"Om Edo itu pengganti papa di perusahaan. Jadi Om Edo harus tetap ada. Gak ada penolakan." Sambung Julian.


Edo hanya bisa menarik napas panjang. Mendengar titah anak kliennya itu. Pemaksa mirip Papanya. Kalau sudah keputusannya sulit untuk dibengkokkan.


💗💗💗💗


"Kak, nanti aku pulang telat." Pamit Julian pada kedua kakaknya.


"Aku ada kegiatan OSIS." Lanjutnya.


"Iya. Terus perusahaan kamu gimana?"


"Aku belum terjun langung sih Kak, rencananya bulan depan baru start nunggu. Nunggu info dari Om Edo. Presdir yang lama masih berusaha aku pertahankan. Karena gak mungkin aku masuk langsung menggantikan beliau."


"Good boy. Kakak makin sayang sama kamu." Sahut Desta.

__ADS_1


"Duluan ya Kak.. Kalian bertiga sudah siap belum?" Komando Julian pada triple.


"Siap uncle." Kompak ketiganya.


"Assalamu'alaikuummm." Pamit mereka sebelum keluar rumah.


"Uncle.. " Panggil Zafira.


"Iya.."


"Uncle beneran punya perusahaan kayak Buya?"


"Iya."


"Itu yang bikin uncle sendiri?"


"Bukan. Tapi orang tua uncle."


"Loo kan orang tua uncle bunni dan ayahkung. Berarti mereka yang bikin dong?"


Zafira yang belum puas dengan semua yang ia tahu, berusaha mencari kebenaran.


"Hm.. nanti suatu saat kalian bertiga akan tahu. Untuk saat ini biar uncle , Umma dan Buya saja yang tahu."


"Ya.. Uncle gak asyik." Omel Zafir dari belakang.


"Asyik dong bisa untuk teka teki." Balas Julian.


"Uncle kami bukan anak kecil. Kami juga berhak tahu." Zafran sedikit mengomel.


Julian yang mendengar ocehan ketiga kembar itu hanya tersenyum cukup pahit.


"Nanti kita obrolin di rumah, ya. Tapi janji kalian harus tetap sayang uncle." Ucap Julian memberikan syarat kepada ketiganya.


"Pasti. Kita bertiga selalu sayang sama uncle." Ucap Zafir.


"Fira, itu seperti mobil Malik deh. Kok berhenti di tengah jalan gitu. Kita datangi yuk!" Ajak Julian saat mengenali sebuah innova berhenti di tepi jalan, dan seorang wanita cantik berdiri dengan wajah panik.


"Tante Oca!" Sapa Julian sambil menghentikan teriosnya.


"Julian." Jawab Oca begitu tahu yang menyapanya Julian, adik dari sahabatnya.


"Kenapa Tan?" Tanya Julian begitu turun dari mobil dan mendekati Oca.


"Mogok. Tante lupa service." Jawab Oca sambil nyengir.


"Ya Alloh Tante service body gak pernah lupa. giliran service mobil dilupakan. ckckck.." Omel Julian.


"Kamu tuh sebelas dua belas sama kakak kamu." Maki Oca.


Julian hanya tertawa lebar mendengar komentar Oca.


"Malik, bareng uncle yuuk! Sama Zafira,Zafir dan Zafran." Ajak Julian sambil melongok ke dalam mobil yang dihuni Malik yang juga cemas, takut terlambat.


Malik menatap mamanya. Seakan minta izin.


"Iya sayang,kamu bareng Uncle Iyan saja. Mama nunggu montir. bengkelnya belum buka." Ucap Oca sambil membukakan pintu mobilnya.


"Tante sudah menghubungi Bengkel?" Tanya Julian.


"Belum."


" Aku panggilkan temanku ya, Tan. Kasiyan tante kalo nunggu bengkel buka. masih lama." Tawar Julian.


"Bole.. bole."


"Bentar aku telponin temanku. Malik ayo masuk dulu." Julian mengajak Malik ke jok tengah mobilnya.


"Malik..!" Sapa triple begitu Malik masuk.

__ADS_1


Sementara Julian masih mengobrol di line telpon.


"Sebentar lagi anakalnya meluncur, Tan!"


"Makasi ya, Yan. Nitip Malik."


"Siap Tante. Aku tinggal ya." Pamit Julian.


Oca mengangguk.


Oca melambaikan tangannyan begitu terios Julian bergerak maju.


💗💗💗💗


"Iyan..."


"Ai?" Julian kembali terkejut dengan Ai yang sudah ada di belakangnya.


"Ngapain kamu di situ?"


"Nyapa kamu. Kebetulan aku juga baru sampai." Jawab Ai.


Julian menoleh kanan kiri seakan mencari sesuatu tapi tak ada.


"Masuklah dulu ke kelas." Titah Julian.


"Memangnya kamu mau kemana Yan?" Tanya Ai heran.


"Ruang OSIS."


"Ooh..." Nada suara Ai terlihat kecewa.


Ai akhirnya berlalu dari hadapan Julian.


Julian menuju ruang OSIS.


"Ngapain loe ke sini?" Tanya Uci yang keheranan melihat Julian ngeluyur masuk ruang OSIS dan duduk begitu saja di kursi.


"Hmm.." Julian hanya berdehem tanpa ada keinginan menjawab.


"Loe tahu Ci. nee cowok lagi ngehindari cewek. Mana tuh cewek cantik lagi. Emang kok nee anak niat banget nolak rizki."Sela Tio yang juga barusan masuk setelah Julian.


"Sok teu loo." Solot Uci.


"Lha emang bener. Aku denger tadi, Julian nyuruh Ai masuk kelas duluan. Padahal Loe taun kan dia kagak ada kerjaan di ruang OSIS." Oceh Tio.


"Kalian bisa diem kagak sih?" Ucap Julian yang sedari tadi diem.


"Loe PMS, Yan? Sensi banget?" Kepo Tio.


Julian mengehembuskan napas panjangnya.


" Kalo kalian belum ada niat kembali ke kelas diem. Ntar kalo udah ada yang siap balik ke kelas kabari gue." Julian malah masuk ke ruang tengah yang ada sofa panjang. Lalu merebahkan tubuhnya di sana.


"Kenapa tuh anak?"


"Patah hati, kalee."


"Mana ada cowok nolak cewek terus patah hati."


"Dieemm!" Teriak Julian dari tengah.


💗💗💗💗


Uncle, what do you think?


Yuk kepoin di episode berikutnya


Terus Vote yaa..

__ADS_1


__ADS_2