TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Menjemput Triple


__ADS_3

Setahun kemudian Aqeela dan Desta kembali ke Indonesia.


Kepulangan mereka sudah banyak dinantikan banyak orang.


Sehingga tak heran kepulangannya disambut meriah oleh keluarga dan teman-temannya.


Julian sudah lulus SMA dan memasuki jenjang mahasiswa.


Pemuda itu memilih kampus swasta, karena pagi ia akan fokus dengan perusahaan.


Sedangkan Hani masih di pesantren Aqeela. Dengan bantuan Mitha yang sama-sama berprofesi dokter, Hani mendapatkan banyak nilai sempurna di mata kuliahnya.


Mithapun sudah bersedia membuka klinik sendiri. Tentunya dengan bantuan Desta dan Aqeela.


Kasus Yanuar dan Wisnu selesai dengan baik. Tanpa perlu perang dingin level lanjut.


Triple masih menyelesaiakan sekolahnya di kelas 9. Mereka bertiga menginginkan lulus dengan baik dan tidak mengecewakan orang tuanya.


Apalagi pendahulunya, Uncle Juliannya memegang prediket santri terbaik. Mereka tak ingin kalah dengan unclenya.


Julian sesekali masih rajin menyambangi Zafira tanpa sepengetahuan Aqeela dan Desta.


Memberikan banyak dukungan moriil kepada keponakannya itu. Terkadang ia sempatkan menengok Zafir dan Zafran agar mereka tidak merasa diabaikan karena perhatiannya yang lebih kepada Zafira.


Untuk naik level, mereka masih belum memikirkannya. Keduanya masih menikmati hubungan sebatas uncle dan keponakan.


💗💗💗💗💗


"Yan.., kemarin Zafira bilang acaranya jam berapa?" Tanya Aqeela sambil mengemas beberapa bingkisan untuk Pak Kyai dan guru-guru triple di Pesantren.


Hari ini, Aqeela disibukkan persiapan acara haflah di pesantren. Triple merayakan kelulusannya dari Pesantren.


Tentu saja, ketiganya akan boyong. Bersamaan acara haflah yang akan diadakan besok.


Julian yang asyik bermain dengan Ara dan Aira menghentikan sejenak aktifitasnya dan menoleh ke arah Kakaknya.


"Pesannya sih jam delapan, Kak." Jawab Julian.


Aqeela menghembuskan napas pelan. Sembari menghitung parcelnya.


"Kakak butuh bantuan apa?" Jiwa penolongnya beraksi.


"Jaga si twins aja." Ucap Aqeela tanpa menatap wajah Julian.


"Assalamu'alaikum..." Terdengar suara salam dari luar.


"Wa'alaikum salam..." Sahut Julian dan Aqeela bersamaan.


Julian bergegas menuju pintu. Membuka pintu untuk tamu, bersama Ara dan Aira yang ia ga denga di kanan dan kiri.


"Ummaaa..." Teriak tamu yang dibukakan pintu Julian.


Mendengar namanya diteriakkan ramai-ramai, Aqeela reflek menoleh.


"Malik, Darren, Wanda.. Malam-malam ke sini sama siapa?" Tanya Aqeela kaget.


"Tuuh...!" Tunjuk mereka bertiga.


"Hai Nyai..." Sapa tiga orang wanita bersamaan.


"Astaghfirulloh, kalian... bener-bener bikin kaget aja." Seru Aqeela.

__ADS_1


"Udah selese, packingnya?" Tanya Oca menatap beberapa parcel yang berserakan di meja dan kursi ruang tengah Aqeela.


Wanita itu hanya menggeleng.


"Kita bantuin!" Ucap Yuna dengan gaya tegasnya.


Tanpa penolakan dari sang tuan rumah keempat wanita itu sudah bekerja sama menata bingkisan untuk orang-orang di Pesantren triple.


"Umma, besok sampai Surabaya jam berapa?" Tanya Malik setelah agenda packing selesai.


"Biasanaya sih sore. Kenapa?" Tanya balik Aqeela.


"Kita mau minta izin, bikin acara penyambutaan." Jawab Darren.


"Begitu yaa.." Aqeela tampak ragu.


"Ayoolah Umma..." Rengek Wanda.


"Bolee, tapi gak bole bikin kacau rumah Umma ya. Kasiyan Bu Erna dan Bu Darmi yang harus beresin semua." Syarat dari Aqeela.


Mengingat kekacauan yang ditimbulkan keenam bocah ABG yang menyambut kedatangannya itu.


Waktu itu dapurnya seperti kapal pecah. Bahan makanan berserakan dimana-mana. Kamar Zafir yang dijadikan markas sudah seperti TPA alias tempat pembuangan akhir.


Kertas dan aneka bahan hiasan dinding bertaburan memenuhi ruangan.


Finalnya, Bu Darmi dan Bu Erna yang harusnya istirahat harus membersihkan semua hasil karya anak-anak itu.


Aqeela dan Desta hanya bisa mengelus dada tanpa bisa memarahi. Karena mereka yakin anak-anak hanya dalam masa ingin mencoba.


Karena itu sekarang ia memberikan syarat kepada ketiga sahabat anaknya itu.


"Siap, Ummaa... Kita gak akan ngerusak dapur Umma lagi kok. Makanan semuanya dari Mama Via." Jawab Malik sambil menatap manis ke arah Via.


Semakin bertambah usianya, karakter cerewet Aqeela semakin bertambah. Entah karena faktor usia atau faktor pengalaman yang membuatnya semakin cerewet.


💗💗💗💗💗


Pukul delapan kurang lima belas menit, Aqeela, Desta, Julian dan ketiga anaknya si Al, Ara dan Aira sudah berada di aula Pesantren dan Madrasah.


Seperti yang disampaikan Zafira hari ini haflah seluruh santri dan siswa Pesantren dimana triple belajar.


Rombongan Aqeela disambut hanget beberapa santri sebelum masuk ke aula.


Suasana khidmat dan religi begitu kentara baik dalam dekorasi maupun acara.


Aqeela menikmati sambil sesekali menghapus air mata yang keluar begitu saja dari sudut netranya.


Kristal bening yang tak tahu adab itu dengan enjoynya turun begitu saja tanpa permisi selama acara.


Apalagi saat ketiga kembarnya menyenandungkan alfiyah. Mengingatkan kembali pada dirinya di masa lalu.


Dalam setiap do'anya ia selalu berharap, anak-anaknya kelak tak ada yang sepertinya atau Buyanya. Aqeela menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang baik.


Desta yang menyadari kegamangan hati istrinya, hanya mampu mengeratkan genggaman tangannya.


"Buya, aku pernah berada di sana sebelum bertemu kamu." Bisik Aqeela auto Desta menoleh menatap wajah sendu istrinya.


"Sebelum aku memutuskan melepas semua atribut muslimah yang aku pakai." Ada sedikit tawa kecil mengingat masa lalunya yang kacau.


"Tapi kalo Umma jadi anak baik-baik takkan ketemu Buya." Bisik nakal Desta.

__ADS_1


Suara tawa kecil kembali menghangat ditelinga Desta.


"Iya.. Tapi kita kan juga tidak pernah tahu rizki, jodoh dan mati kita. Kalopun kita berjodoh Alloh pasti akan mempertemukan dengan cara yang lain." Ucap Aqeela.


"Umma masih ingat kapan pertama jatuh cinta dengan Buya." Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja dari Desta.


"Hmm.. " Aqeela nampak seperti berpikir.


"Saat Buya mengkhitbah Umma. Tapi itupun belum seratus persen. Karena Umma belum yakin." Jawab Aqeela dengan senyum.


"Coba Buya perhatikan Zafira." Tunjuk Aqeela. Auto Desta memperhatika putrinya dengan seksama.


"Saat seusia Zafira, Umma keluar pesantren dan masuk bangku SMA. Siapa sangka beberapa bulan kemudia ada cowok nyebelin yang notabene musuhnya tiba-tiba melamar. Siapa yang menyangka. Dan setahun kemudian aku sudah bergelar nyonya Desta." Ucapan Aqeela kembali mengingatkan masa lalu keduanya.


Desta hanya tersenyum mendengarnya.


"Umma masih belum ingin berpisah dengan salah satu anak kita, Buya." Bisik Aqeela dengan nada khawatir.


"Gak akan ada yang memisahkan kalian." Balas Desta.


"Aku khawatir salah satu dari mereka berjodoh lebih cepat dari perkiraan kita." Sambung Aqeela mengingat bagaimana dulu ia menikah sangat muda dengan Desta.


Desta terkekeh.


"Umma sudah berangan-angan punya mantu rupanya."


"Uhh.. Tuhkan diledekin." Kesal Aqeela.


"Bukan meledek tapi menggoda." Bisik Desta.


Aqeela berubah cemberut.


"Hai senyum. Si triple pasti menatap aneh ke arah kita." Suara hangat Desta akhirmya mampu mengembalikan senyumnya.


"Umma, tadi katanya rizki, jodoh, mati itu rahasia Alloh. Kenapa Umma takut kalau anak-anak kita berjodoh dengan pasangannya? Toh, bagaimanapun mereka masih tetap anak kita. Gak akan merubah taqdir." Desta menenangkan Aqeela.


"Saat menikah Zafira jadi milik suaminya." Bisik Aqeela sedih.


"Tapi Zafira akan tetap jadi anak kita, Umma. Buya pastikan meskipun Zafira kelak jadi milik suaminya dia tetap putri kita. Dia tidak akan melupakan orang tuanya begitu saja. Umma harus yakin itu."


Desta mengusap lembut air mata Aqeela yang kembali menggenang.


Sahutan amin ia lantunkan dalam hati, dengan banyak harapan untuk ketiga kembarnya.


💗💗💗💗💗💗


Sambung lagi yaa.. nanti


Like


Komen


Vote


Salam cinta dan damai dari triple


Sambung Ukhuwah


titipan dari Mimin


https://chat.whatsapp.com/CAE996Eu8Oq318wNxYEi5V

__ADS_1


Ato bisa gabung ke GC


__ADS_2