
Setelah dapat teguran dari orang tua masing-masing, triple dan genknya sedikit menunjukkan adanya itikad baik untuk berubah.
Sebelum menegur anak masing-masing tentunya, Yuna, Oca dan Via sudah di briefing oleh Aqeela.
Kok gitu?
Lha.. mereka kan satu komplotan. Satu genk.
Kalo orang tua mereka tidak satu visi dan misi, salah satu dari enam itu bakal jadi provokator yang lain.
Karena itu Aqeela dan genk rempong selalu memberikan edukasi yang sama kepada keenamnya.
Meskipun jahil tapi mereka masih ada prestasi yang bisa dibanggakan.
Sejak peristiwa pemanggilan keempatnya karena tragedi basah-basahan. Grup rempong dibuat slow oleh anak-anak.
Harapannya sih, semoga mereka sudah taubat dan menghentikan aksi jahilnya lagi.
Hukuman dari sekolah yang memintanya membantu petugas perpus menyampuli buku sudah selesai.
Bahkan saat di hukum harus mengaji tiap pagi satu juz untuk berenam, mereka sudah hatam satu kali dalan tempo 2 minggu.
Pak Sandi sampai geleng-geleng kepala.
"Sebetulnya mereka, anak-anak baik. Terus isengnya mereka itu darimana ya?"
(Pak Sandi mikir tuh, gaess..)
Musimpun berlalu dengan cepat.
Setelah musim durian, ganti musim mangga lalu musim diare terus musim rambutan habis itu musim kawin.
wkwkkkk...
Ah, Indonesia gitu loo musimnya tak terhitung .
💗💗💗💗
Jam istirahat.
Zafira dan Wanda sedang mengantri makanan di kantin.
Zafran dan Malik sedang asyik berdiskusi tugas tematik yang akan mereka kerjakan berkelompok di salah satu meja kantin.
Sedangkan Darren dan Zafir, keduanya sedang berkeliling di sekitar gedung sekolah mencari lokasi yang aman untuk menyelesaikan kerkel ( kerja kelompok ).
Saat sedang asyik berjalan, keduanya mendengar suara-suara seperti orang berteriak dan kesakitan.
Zafir dan Darren berjalan mengendap-endap ke taman belakang.
Taman yang memiliki tanaman tidak terawat.
Keduanya sangat terkejut melihat seorang temannya yang masih di kelas tiga, dikeroyok kakak-kakak kelasnya. Entah kelas berapa. Yang pasti mereka lebih besar dan tingginya.
Zafir berbisik kepada Darren.
Setelah sahabatnya itu mengangguk, Zafir keluar dari persembunyiannya.
Sedangkan Darren ke lokasi lain.
"Wah, Kakak beraninya sama anak kecil saja." Ucap Zafir dengan suara kencang.
Merasa ada orang lain di tempat itu membuat ketiga orang berbadan besar itu balik kanan.
"Siapa kamu? Berani sekali berteriak di depanku?" Kata anak yang bertubuh paling jangkung.
"Harusnya aku doang yang tanya, Kakak ngapain di sini?" Tantang Zafir.
__ADS_1
Tiga orang bertubuh besar itu menatap tajam ke arah Zafir.
"Hei anak kecil, itu bukan urusanmu. Sudah belajar saja yang rajin. Tidak perlu tahu urusan kami." Seru anak yang bertubuh paling gembul.
"Tapi itu yang kakak bully temanku loo.." Jawab Zafir dengan tenang.
"Apa? Kamu mau berteman dengan anak jelek, miskin dan tidak tahu diri ini?" Bentak si jangkung lagi.
Tangannya mencengkeram krah baju siswa kelas tiga yang diketahui Zafir bernama Galang.
Galang terlihat kesakitan. Bahkan mukanya sudah lebam disana sini.
"Kalo sudah tau jelek, miskin dan tak tahu diri kenapa kakak bully? Emangnya kakak dapat apa dari anak miskin? Berarti kakak lebih miskin dong dari Galang." Ejek Zafir.
(Byuh persis omongan Emaknya)
Si Jangkung, si Gembul dan Si Cungkring terlihat geram.
Tanpa Jangkung sadari ia melepas cengekeraman tangannya dari krah Galang.
Perlahan ketiganya mendekati Zafir.
Zafir yang sudah siap dengan segala kemungkinan hanya diam di tempatnya.
"Stop.. di situ Kak!" Perintah Zafir, melihat enam langkah lagi ketiga siap menyerang.
"Apa Kakak tidak takut sama aku?" Zafir berusaha mengukur waktu sampai Darren datang.
"Takut? Apa yang perlu kami takutkan?"
"Kamu hanya anak kecil. Lihat tinggi kami saja lebih tinggi. Apa yang harus kami takutkan?"
"Kamu juga bukan siapa-siapa."
Zafir berusaha tersenyum kecil. Anak kecil itu berusaha setenang mungkin dan tidak gegabah.
Zafir melirik kanan kiri, seolah meyakinkan dirinya bahwa Darren ada di situ.
"Yakin, Kakak tidak takut dan tidak akan menyesal?" Ulang Zafir seolah ia memegang kendali penuh atas permainan tersebut.
"Anak ingusan, sudah aku katakan. Tak ada yang perlu kami takutkan."
"Okaylah.. terserah Kakak.. Jika nanti terjadi apa-apa dengan kakak, aku tidak akan bertanggung jawab." Tantang Zafir.
Si Gembul yang mendengar ancaman Zafir sedikit gentar. Namun ia tak mungkin lari karena rasa kesetiakwanannya.
"Sudahlah anak kecil tidak perlu banyak omong. Ayo hadapi kami jika kamu sanggup." Tantang si Cungkring.
"Okay.. baiklah. Kakak majulah!" Zafir menyiapkan diri.
"Serbu...!" Komando si Jangkung.
"Oh.. rupanya kakak jangkung ini pimpinannya." Batin Zafir sambil mengamati gerakan ketiga seniornya itu.
Ketiganya mengeroyok Zafir bersamaan. Galang yang menyaksikan adegan live Zafir dikeroyok tiga seniornya menjadi gemetar tidak jelas.
Zafir sih tenang-tenang saja, sejauh ini ia hanya berusaha menangkis serangan seniornya.
"Aaahhh..."
"Adduuuuuh..."
Teriakan si Gembul dan Si Jangkung bersamaan.
Ternyata, Zafran dan Zafira datang membantu Zafir.
Keduanya menarik bagian belakang kemeja Gembul dan Jangkung.
__ADS_1
Membawa sedikit menjauh dari Zafir. Walaupun Zafir tidak kewalahan keduanya tak mau saudaranya berjuang sendirian.
Setelah mendapat bisikan dari Zafir, Darren segera mengabarkan keadaan Zafir kepada Zafran dan Zafira, sehingga keduanya langsung berlari menuju halaman belakang.
Sedangkan Galang yang masih gemetar diseret paksa oleh Darren dan Malik sedikit menjauh dari area live berbahaya keenam bocah yang asyik bermain adu kekuatan.
"Lang, awas kalo kamu ngaduin Zafir, Zafran dan Zafira." Ancam Darren.
"Engg.. engggaak.. enggaaakk.." Jawab Galang putus-putus.
"Kalo mau ngaduin itu Kakak kelas kejam itu. Diapain kamu tadi." Tanya Malik gak kalah juteknya.
"Dimintain duit sama bekal." Jawab Galang lebih tenang, melihat Malik yang sedikit bersahabat meskipun jutek.
Di area live.
Terlihat ketiga senior mereka kewalahan menghadapi Zafir dan saudaranya. Secara mereka bertiga sudah terlatih sejak bayi.
Beberapa pukukan mengenai dada dan kaki si cungkring hadiah dari Zafir.
Sedangkan Zafira sudah puas bisa menghadiahi Si Jangkung bogem di wajah dan perutnya.
Zafran asyik bermain di area perut si gembul yang sedikit buncit.
"Stop.. stop.." Teriak di Jangkung.
Mendengar teriakan Si Jangkung, Si Gembul dan Si Cungkring berhenti mendadak.
Zafir, Zafran dan Zafira juga kooperatif dengan lawan yang sudah tidak berdaya.
Ketiganya tidak akan melanjutkan pertarungan jika lawannya sudah menyerah.
Gak asyik, kata Zafran.
Tapi pesan Umma juga begitu, kita tidak diizinkan menganiaya. Karena ketika bertarung dan lawan sudah tidak berdaya tapi kita melanjutkan itu sama dengan menganiaya
Kita harus sportif dimanapun berada.
Pesan Umma yang selalu mereka ingat.
"Aku sudah tidak kuat menghadapi cewek ini." Lanjut Si Jangkung.
Zafira membantu Si Jangkung duduk dan memberikan sebotol air mineral yang dibawa Wanda dari kantin.
Jangan lupakan Wanda. Meskipun tidak terlihat di area pertempuran, ia selalu datang dengan membawakan makanan dan minuman. (Si Seksi konsumsi, hik hik hik)
Zafir dan Zafran juga melakukan hal yang sama kepada Gembul dan Cungkring.
"Aku Hadi.." Si Jangkung mengulurkan tangannya kepada Zafira.
Namun Zafir dan Zafran yang menyambutnya.
"Dia Zafira, Aku Zafran dan ini Zafir." Sahut Zafran.
"Jangan sentuh Zafira...!" Ancam Zafran dihadapan Hadi.
"Bolehkah aku berteman dengan dia?"
Semua mata memandang ke sumber suara.
💗💗💗💗💗💗💗💗
Nah loo...
Next ya..
Vote yaa. man teman
__ADS_1