TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Zafir menatap Malik dengan napas panjang berulang sebelum akhirnya buka suara.


"Kemarin Om Doni sama Tante Mita menemui aku...."


"Mau ngapain?" potong Malik cepat, ia memang belum tahu tentang perasaan Zafir kepada Thifa dan kekecewaan yang diterima sahabatnya ini.


"Kalo mau nyela, mending aku gak usah cerita," ancam Zafir.


"Hadeeh... sensi banget sih. Kayak cewek lagi PMS," komen Malik.


"Memang bahasannya sensi," Zafir menarik napas berat.


"Jangan bilang kalau..."


"Jangan berprasangka!" potong Zafir.


"Iya... segera cerita deh!" pinta Malik.


Zafir memutar memorinya. Mengingat malam itu..Malam terakhir pengajian Buni.


Nenek Intan dan Umma masih sibuk menyapu lantai setelah pengajian.


Sedangkan tante Mita dan Zafira dibantu beberapa santri mengemasi sisa makanan untuk dihangatkan. Agar bisa dinikmati santri lain yang masih di pesantren.


Zafir, Zafran dan Julian menata meja kursi yang tujuh hari ini di pindahkan menepi ke sudut ruangan.


Sedangkan Ayah, Daddy dan Mommy masih berbincang dengan tamu rekan bisnis ayah.


Setelah semua beres, Zafir duduk selonjor di ruang tengah.


Sedangkan yang lain memilih berkumpul di ruang tamu.


Zafir menatap foto Buni dan Ayah Kung yang mengapit gadis cilik yang sekarang menjadi Ummanya.


Senyum kecilnya mengembang sedikit, melihat wajah muda Buni yang begitu cantik dengan balutan kerudung warna merah.


"Fir...!" sebuah suara memanggilnya. Menguapkan kenangan yang ingin ia susun saat bersama Buni.


"Om... tante," Zafir bergeser memberi akses duduk untuk pasangan yang menyapanya.


"Iya Om Don, kenapa?" tanya Zafir setelah Doni dan Mita duduk di hadapannya.


Keduanya saling pandang seolah saling memberi kode.


"Fir..., maafin Om Doni kalo harus ngomong sekarang bahkan waktunya sangat tidak tepat." buka Doni.


"Ada apa Om, Tan?" Zafir masih kepo dan belum paham maksud dua orang dewasa ini.


"Fir.., Om dan Tante ingin membicarakan soal Thifa sama kamu," poin Doni.


"Thifa kenapa lagi, Om?" Zafir mengernyitkan dahi mendengar ucapa Doni.


"Apa terjadi sesuatu dengan dia?" panik Zafir.


"Dia baik-baik saja," jawab Mitha.


Zafir mengehembuskan napas lega mendengarnya.

__ADS_1


"Fir, Om dan Tante ingin sekali Zafir menjadikan Thifa istri kamu," Doni terlihat gentar mengatakannya.


"Kami merasa Thifa bisa lebih baik saat bersama kamu. Toh, kalian juga dekat," sambung Mitha.


"Tapi Om...bukannya Thifa sudah punya pilihan sendiri?" kaget Zafir.


Bukannya ia tak punya perasaan dengan Thifa. Gadis itu sejak kecil sudah banyak mewarnai harinya.


Namun ia masih belum bisa melupakan bagaimana Thifa yang begitu dekat dengan seorang lelaki.


"Om dan Tante menentang hubungan mereka." jawab Doni.


"Om dan Tante banyak berharap kepadamu, Nak!" ucap Mitha dengan lembut.


Bahkan netra wanita sahabat Ummanya itu mulai berkaca-kaca.


"Apa tidak ada cara lain, Tan?" tawar Zafir.


Otaknya saja masih sepenuhnya milik Buni, sekarang Om Doni dan Tante Mitha membuatnya harus membuat otaknya terbagi.


"Ini yang terbaik untuk Thifa," jawab Doni.


"Om, apa Thifa sudah tahu?" tanya Zafir.


"Belum, tapi Om.yakin dia tidak akan menolak." keukeuh Doni.


"Biarkan Thifa yang memutuskan, Om. Zafir tidak ingin Thifa mengiyakan karena paksaan," lirih Zafir.


Perasaannya masih terluka dan kecewa. Andai saja ia tidak pernah memergoki Thifa yang begitu dekat dengan cowok lain, pasti Zafir akan bersorak tidak menolak.


Namun kenyataan tak selalu harus sesuai keinginan kita.


Pantang bagi Zafir menyakiti hati suami istri yang sudah ia anggap seperti orang tuanya juga.


"Lupakan kejadian malam itu," ucap Doni seakan lelaki itu tahu sakit hati Zafir pada putrinya.


"Anggap saja Thifa khilaf malam itu, Fir!" sambung Mitha putus asa.


Kedua orang ini memang tahu jika malam saat Zafir mengiriminya pesan tentang Thifa.


Keduanya bahkan sempat memergoki gadis itu sedang bersama seorang teman lelakinya.


Bahkan teman lelaki Thifa seolah sedang berusaha mendapatkan bibir ranum Thifa yang merah alami.


Sontak membuat Doni dan Mitha murka. Bahkan setelah kejadian itu Thifa tidak diizinkan keluar rumah tanpa di dampingi mama dan papanya.


"Fir, Om dan Tante banyak berharap kepadamu," ulang Doni.


"Om... beri Zafir dan Thifa waktu. Dan apapun keputusan kami nanti saya harap Om dan Tante bisa menerima," jawab Zafir yang semakin menjadi pusing.


Doni dan Mitha tampak tidak puas dengan jawaban Zafir.


"Fir, apa tidak bisa kamu menjadikannya kenyataan apapun yang terjadi. Bila perlu paksa Thifa. Om tidak akan keberatan," suara Doni begitu memelas.


"Maaf Om, Tante... Zafir belum berani mengiyakan," jawab Zafi ragu.


Keduanya kembali pasrah.

__ADS_1


Zafir terpaksa jujur atas keragu-raguannya. Bukan tanpa alasan. Banyak alasan untuk itu.


Bahkan selama semingguan ini , ia tidak pernah melihat kehadiran Thifa walau hanya sekedar mengucapkan bela sungkawa.


Zafir seakan sudah hilang kendali atas Thifa yang dulu.


Seingatnya Zafir, Thifa dulu gadis yang baik dan manis. Entah apa yang membuat Thifa berubah.


Pemuda itu juga memiliki rasa penasaran atas perubahan drastis gadis itu.


Walaupun sebenarnya saat ini ia masih belum sanggup menerima kehadiran Thifa. Tapi untuk menolak juga tidak mungkin.


Jadi, ia hanya beralasan menunggu Thifa. Tanpa bisa berharap atau mempertahankan rasanya yang dulu.


"Sampai sekarang aku masih belum tahu harus berbuat apa kepada Thifa," pungkas Zafir mengakhiri ceritanya.


"Bicarakan baik-baik dengan Thifa. Siapa tahu gadis itu juga sama tersiksanya dengan kamu!" saran Malik.


"Entahlah, otakku belum bisa berpikir fokus kepada Thifa." Zafir menghembuskan napasnya halus.


"Ya udah tenangin aja otak kamu! Lakukan step by step dengan tenang." Malik dan Zafir saling membalas senyum.


"Tengs ya... Udah mau jadi teman curhatku!" ucap Zafir.


"Sahabatn tiga belas tahun baru makasi sekarang!" ledek Malik.


"Bodo amat," Zafir menyeruput es jeruknya.


"Eh, Lik. Darren sama Wanda kapan nikah ya?" Zafir mengalihkan pusat ingatannya dari Buni dan Thifa membahas Darren.


"Tau deh, Mereka belum woro-woro tuh!" jawab Malik.


"Kalo kamu, kapan?" goda Zafir.


"Aku nungguin Ara aja deh!"


"Keburu jadi perjaka tua loo...Ntar!"


"Gak lama, enam tahun lagi Ara pasti diizinin jadi istri aku sama Umma," ledek Malik.


"Niat banget sih, pengen jadi ipar aku!" olok Zafir.


"Bukan karena kamu, tapi karena Umma. Biar bisa jadi anaknya Umma aja! Masa Uncle Iyan aja bole, auto aku juga bole dong?" suara Malik percaya diri.


"Hadeeeh... nasib jadi anak kandung Umma gini amat ya..." gerutu Zafir.


"Ummaku jadi umma sejuta anak itu ceritanya. Dulu aku sempat iri sama Zafran yang sering jadiin Umma miliknya sendiri. Eh, nyatanya sekarang semua ingin jadi anak Umma. Terus anak kandungnya dikemanain?"


"Emang gue pikirin?"


"Pikir sendiri!"


Guraun mereka tanpa sengaja tertangkap pandangan seorang gadis yang akhirnya membuatnya menarik kedua garis bibirnya simetris ke atas.


🌹🌹🌹🌹


Kelar tengah malam semoga nanti bisa nambah lagi yaa..

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2