TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Kembali ke Almamater


__ADS_3

X-pander Desta sudah memasuki area perumahan mereka. Dengan


kecepatan sedang lelaki itu mengemudikan kendaraannya menuju rumah mertuanya.


Sejak pulang dari mall tadi, Aqeela terus menatap dan


mengenggam tangannya.


"Terima kasih ya, Bae. I love you darling." Kata


Aqeela.


"I love you too." Balas Desta.


"Jangan capek dan bosan yaa melihat aku."


"Enggak akan. You my best wife. Takkan pernah ada yang


menggantikan posisimu. Kamu tetap Srikandiku."


"thanks so much my hubby."


"Gombalannya nanti lagi yaa.. Tuh si kembar kayaknya


udah bosan nungguin kita." Desta menunjuk ke arah teras rumah Ibu.


"Hii hii..." Aqeela hanya nyengir melihat ketiga


kembarnya manyun di teras rumah Ibu sambil menatap keluar.


"Ummaaaaa...."


"Buuuyyaaaaa..."


Teriak ketiganya dengan gembira dan mata berbinar. Begitu


mobil Desta berhenti di halaman.


Ketiganya langsung menghambur ke arah Aqeela dan Desta


begitu orang tuanya itu keluar dari mobil.


"Ummaa sama Buya kok lama , sih?" Protes Zafir.


"Kita sampai bosan nunggunya." Sambung Zafira.


"Iya... ndak seru gak bisa main sama Umma." Zafran


menambahi


"Uncle Ian kemana?" Tanya Aqeela.


"Uncle Ian, bantuin Bunni sama AyahKung terus."


Protes Zafira.


"Maafin Umma sama Buya, ya.Urusannya tadi memang


banyak." Kata Aqeela.


"Kalian gak bantuin Bunni sama Ayahkung?" Berarti


hanya Uncle Ian dong yang sayang sama Bunni dan AyahKung."


"Tadi kita sudah bantuin." Cerocos Zafira.


"Lha gak sayang gimana sih Umma. Uncle Ian kan anaknya


Bunni dan AyahKung." Kata Zafir.


Deg...


Tiba-tiba saja ada yang sakit di dada Aqeela, mendengar


kalimat Zafir.


Secara negara Julian memang anak Ibu dan Ayah. Tapi


kenyataannya sejak kecil Aqeela dan Desta yang merawatnya.


Ada rasa sakit menyadari kenyataan bahwa Ian bukan anak


kandungnya. Karena bagi Aqeela dan Desta Julian bukan sekedar adik. Ia sudah


seperti anak pertama mereka.


Desta yang merasakan ada perubahan ekspresi istrinya,


mengelus punggung wanitanya itu. Menyalurkan energi positif agar Aqeela sanggup


menghadapi kenyataan bahwa Juliana memang bukan anak kandung mereka.


"Kalau kalian, sayang gak sama Buya dan Umma?"


Akhirnya Aqeela mengalihkan rasa sesaknya.

__ADS_1


"Sayang dong.." Teriak Zafran.


"Kalo gak sayang, kita gak nungguin Umma dan Buya


datang."Β  Sambung Zafran


"Kalo sayang sekarang bantu Umma ambil belanjaan di


bagasi kasi ke Bunni. Yuuk.."


Aqeela membimbing ketiga kembarnya ke bagasi. Memberikan


masing-masing satunm paper bag. Sambi memberi kode pada masing-masing.


"Ini kasih Bunni ya, Zafran."


"Yang ini kasi ke AyahKung."


"Terus yang dibawa Zafir, kasi ke Bunni lagi."


"Kok buat Bunni banyak?"


"Iya karena yang dibawa Zafir isinya


makanan."Β  Jelas Aqeela.


"Supaya bisa di pindah ke piring dan kita makan


rame-rame."


"Waah. Pasti enak .. Hmm...harumnya.." Komen Zafir


sambil mengenduskan hidung ke kresek yang ia pegang.


Kedua saudaraanya hanya terkekeh melihat ulah Zafir yang


lebay.


"Kalian masuklah, Umma dan Buya biar cuci tangan dan


kaki dulu." Ucap Desta.


"Siap Umma.."


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Aqeela dan Desta duduk di ruang tamuΒ  setelah mencuci tangan dan kakinya.


Disebelah Aqeela ada Ibu. Ayah dan suaminya duduk tak jauh darinya.


ini." Ucap Desta.


"Kalian ini, kalo memang repot biarkan anak-anak di


sini. Toh, mereka tidak mengganggu."


"Di sini ada Ayah dan yang penting ada Bu Erna. Julian


juga udah gede, ia tanggap dan ringan tangan." Jelas Ibu.


"Kalian luar biasa. Lagian yang repot itu sebenarnya Bu


Erna. Kembar kalian itu hobi banget ngisengin Bu Erna. Tapi Ibu salut juga sama


Bu Erna. Dia bisa mengendalikan ketiga anak kalian. Masa anak-anak di suruh


mijitin Bu Erna, sebagai syarat kalo mau bermain."


Ibu dan Ayah tertawa lebar mengingat kejadian tadi siang. (


Episode iseng feat jahil ).


Aqeela dan Desta hanya saling berpandangan mendengarnya.


Berarti yang mereka disampaikan kepada Bu Erna benar-benar


dilaksanakan wanita itu.


"Terima kasih sudah bawain Ibu dan Ayah oleh-oleh.


Terus hasilnya setelah ketemu Pak Han, bagaimana?"


"Sama-sama Bu, tadi Aqeela diminta bantu lagi di


sana." Jawab Aqeela.


"Terus kamu mau?" Ibu penasaran.


"Belum tahu, Bu. lagian bulan ini masih ada UAS. Aqeela


sih tadi hanya ngomong nunggu jadwal terbaru."


"Ibu sih terserah kalian. Pesan ibu, jangan terlalu


capek. Kegiatan kamu sudah banyak. Bekum lagi ngurusin kembar tiga itu."

__ADS_1


"Insya Allah tidak, Bu."


"Zafir, Zafran, Zafira, Ian...sini ayoo kita makan


oleh-oleh dari Umma dan Buya." Panggil Ibu.


"Oh ya, kita do'akan Umma biar sehat, banyak rizky dan


panjang umur."


Aqeela terharu mendengar Ibu mengingat hari lahirnya.


"Hepi Milad Umma."


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Beberapa minggu kemudian, Kerepotan Aqeela bertambah.


Dengan izin suaminya Aqeela menerima tawaran Pak Han untuk


kembali ke sekolah.


Tentu saja ia menerima hanya seminggu dua kali. Saat si


kembar libur sekolah.


Awal memasuki SMAnya itu, ia menemukan banyak kejutan.


Banyak siswa melakukan pelanggaran.


Tata krama dan sopan santun sedikit memudar.


Padahal peraturan begitu ketat.


Aqeela bahkan pernah memergoki mereka sengaja melanggar agar


di hukum.


Alasan mereka karena bosan di kelas.


Sampai saat ini, Aqeela memang sengaja tidak memilih kelas.


Fokusnya hanya di BK. Membantu Pak Jamal.


Hari ini di ruangan Pak Jamal. Aqeela duduk menemani Guru BK tersebut mengecek daftar nama peserta didik SMA Nusantara.


Bukan daftar nama biasa, lebih tepatnya file data pribadi masing-masing siswa.


Aqeela memegang kelas sepuluh dan Pak Jamal kelas sebelas. Sedangkan yang kelas dua belas rencananya akan dikerjakan bersama.


"Gimana Qee?" Tanya Pak jamal.


"Pak, kayaknya anak sekarang tidak banyak minat ikut kegiatan ekstra kurikuler. Coba kita lihat data siswa berprestasi. Akhir-akhir ini menurun." Aqeela hanya membaca sekilas.


"Kamu benar, Qee. Banyak organisasi yang cooling down." Balas Pak Jamal.


Aqeela menghempaskan tubuhnya ke sofa perlahan.


"Pak, tugas kita berat."


"Makanya aku tidak bisa sendiri."


"kita juga tidak bisa melakukan berdua, Pak. Harus ada kerjasama dengan semua guru."


"Kita sampaikan ke Pak Han." usul Pak Jamal.


Tanggapan Pak Han ternyata sangat antusias, seminggu kemudian semua guru sudah dihadirkan untuk rapat rutin, walaupun jatahnya masih dua minggu lagi. Tapi demi kelancaran program perbaikan sekolah Pak Han memajukan jadwalnya.


Pak jamal menjabarkan beberapa poin dalam rangka meminta kerjasama dengan semua dewan guru.


Awalnya banyak juga yang keberatan dengan ide Pak Jamal dan Aqeela. Alasan mereka akan mempengaruhi nilai akademik.


Setelah Pak Jamal dan Aqeela dibantu Pak Han serta dukungan dari Ustadz Zainal, Ustadzah Dewi juga Bu Siti yang pernah diselamatkan muridnya itu, berusaha meyakinkan.


Akhirnya perdebatan alot itu berakhir damai. Semua dewan guru menerima keputusan Pak Han, agar setiap siswa wajib memilih satu ekskul ke depannya.


Beberapa pelatih ekskul bahkan diminta bersiap dengan program terbaru mereka.


Pak jamal dan Aqeela meminta paling lambat seminggu lagi mereka berkumpul.


Sambil menunggu waktu satu minggu ke depan. Aqeela dan pak Jamal, juga menyusun agenda lain.


kedua sepakat mengawasi secara bergantian kehadiran siswa mulai awal sampai akhir pelajaran.


( Mode detektif nee kayaknya )


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Bakal ngapain tuh mereka?


kayak Pengawas ujian aja..


kiss bye dari dedek Triple..


like, koment, vote dan rate

__ADS_1


__ADS_2