TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Jiwa Absurd Julian


__ADS_3

"Yan, balik ke base camp segera!"


Satu chat masuk ke ponselnya.


Tanpa menjawab, Julian mendial nomer tersebut.


"Cepet balik lo Yan?" Satu wajah muncul dari monitor ponsel Julian.


Julian sengaja melakukan panggilan video kepada pengirim chatnya.


"Emang ngapain cari gue?"


"Elo dicariin seantero SMA nee.."


Julian nyengir mendengar ucapan temannya itu.


"Udah loe ngomong saja di sana, gue ndengerin dari sini!" Titah Julian seenaknya.


"Yan, resek loo.. ngajak meeting online. Kayak horang venting aja dirimu?" Maki si empunya wajah di monitor.


"Udah loe mulai aja. Gak usah pake banyak bacot. Ato gue matiin nee Video." Ancam Julian.


"Den.. ini es jeruknya." Belum sempat wajah seberang balas, suara ARTnya membuyarkana konsentrasinya.


"Yan dimana Loe?" Tanya yang di monitor kepo karena mendengar suara perempuan.


"Di rumah."


"Apa elo bolos di rumah?"


"Hee eemm.." Jawab Julian tanpa dosa.


Ditangannya sudah ada segelas es jeruk.


Sengaja ia minum es jeruk itu senikmat mungkin, untuk menggoda teman-teman OSISnya.


"Yaan.. gak kira-kira Loe ya. Kita di sini cuma elo suguhin anggur. Dirimu enak-enakan di rumah." Solot suara lain.


Julian masih menikmati esnya dengan ekspresi yang sengaja dibuat seheboh mungkin.


Setelah habis setengah gelas, Julian mencomot cookies di toples yang dibawakan Mbak Mira ke kamarnya.


Lagi-lagi sengaja Julian menikmati cookies di depan monitor seenaknya. Dengan tampang watados.


Moodnya yang tadinya lagi ngedown, melihat teman-temannya yang sewot akibat kejahilan onlinenya sedikit membuatnya segar


"Gas, tengkyu yaa.. Kalian luar biasa." Puji Julian kemudian.


"Yan, elo gak pa_pa kan?" Wajah yang dipanggil Bagas itupun keheranan.


"Udah.. elo mulai aja meetingnya. Aku janji besok kita makan-makan." Janji Julian.


"Yeeh... " Seru suara di belakang Bagas.


"Ci. elo tuh denger aja.. Udah sono urusin Bagas." Sahut Julian.


Sementara Uci hanya cengar cengir mendengarnya. Dari kamera Julian bisa melihat Uci yang sedari tadi sudah menyiapkan berkas untuk agenda rapat hari ini.


"Yan... enak benget sih hidup Loe?" Komentar Bagas kembali.


"Hidup itu mung sawang sinawang, Gas. Elo gak usah iri ama gue. Karena elo gak pernah tahu perjalanan waktu gue. Udah elo mulai rapatnya. Gue ikut dari sini!" Ucap Julian seenaknya


Julian akhirnya mengikuti meeting online seenaknya untuk prepare kegiatan tengah semester ganjil.


Di OSISI posisi Julian memang layak diperhitungkan. Ia saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua.


Ketuanya si Bagas tadi. Siswa kelas XI. Sedangkan Julian masih kelas X. Dan Uci adalah sekretaris Utama OSIS.

__ADS_1


Dari kalangan siswa sendiri, sosok Kl Julian adalah sosok misterius. Saking sulitnya cewek mendekatinya.


Fansnya bertebaran dimana-mana. Tidak sedikit cewek mendekatinya dengan berbagai alasan seperti Ai contohnya.


Tapi bagi anak OSIS Julian is easy going. Selama berkerjasama dengab Julian, semua kerjaan beres dengan cepat.


Dimata para guru Julian termasuk siswa baik dan ndak neko-neko. Meski belum ada prestasi yang ia banggakan.


💗💗💗💗💗


Pukul empat sore Juian tiba di rumah Aqeela.


"Kak.." Sapanya.


"Gimana? Rumahnya ilang gak?" Goda Aqeela yang memang tahu adiknya hari ini bolos.


Julian hanya nyengir mendengar keisengan kakaknya itu.


"Kalo saja, ada jin ifritnya Nabi Sulaiman akan ku suruh mindahin rumahku ke sebelah rumah kakak."


"Ngehalu aja kamu."


"Eh, beneran lo Kak. Jadi biar gak Ratu Bilqis aja yang terpesona sama Raja Sulaiman. Tapi Kakak juga terpesona sama Pangeran Julian."


"Gak jelas banget sih kamu Yan."


Julian ngakak mendengar ocehan Kakaknya barusan.


"Absurd banget." Lanjut Aqeela.


"Absurd-absurd gini ngangenin kan?" Julian masih saja ngejahilin Aqeela.


"Pe-de banget siih kamu, Yan!" Omel Aqeela.


"Modal Kak.. "


"Hadeeh.. udah deh sekarang kamu mandi dulu sana?" Titah Aqeela tegas.


"Yan, elo minta disunat lagi?" Ancam Aqeela.


"Waduuh janganlah Kak. Asetku masih perjaka tong-tong. Belum pernah ngerasain surga dunia." Julian memelas gak karuan mendengar ancamana kakaknya.


Julian udah ngebayangin, jetnya disunat lagi dengan wajah bergidik.


"Cukup sekali." Gidiknya.


Walaupun ia tahu kakaknya itu hanya bercanda.


"Gak ada urusan. Mandi gak?" Bentak halus Aqeela sambil melotot ke arah Julian.


"Sadis." Komen Julian sambil ngeluyur ke kamarnya.


💗💗💗💗


"Kak..." Panggil Julian setelah ganti pakaian dan mandi.


"Duduk, Yan. Ada apa? Mumpung adik-adik kamu belum datang."


Di ruang makan juga ada Desta yang menunggu Aqeela menyiapkan menu makan malam bareng Bu Erna dan Bu Darmi.


Mereka sadar kalo keempat anak iseng itu selesai mengaji tidak akan langsung pulang, melainkan nunggu sampai selesai sholat maghrib.


"Bu Erna, Bu Darmi tolong dilanjutkan ya oseng-oseng dan goreng ikannya." Pinta Aqeela sambil menyodorkan ikan gurame yang sudah di potong dan di bumbui.


"Iya, Mbak." Kata Bu Erna menerima ikan dari Aqeela. Bu Darmi masih sibuk memasukkan kangkung ke dalam wajan besar.


(Gak usah penasaran mereka mah, lagi masak oseng-oseng kangkung)

__ADS_1


"Kak, terima kasih ya.. sudah bikin aku kayak gini." Ucap Julian setelah Aqeela duduk.


"Bikim kayak gini gimana?" Sahut Aqeela.


"Jadi orang baiklah. Aku gak tahu apa jadinya Julian tanpa Kalian berdua."


"Yan, itu kewajiban sesama muslim. Udah gak usah dipikirin."


"Kak, anak-anak Kakak udah tau belum siapa aku? Tadi pagi mereka pada nanya ke aku."


"Belum. Tapi suatu saat mereka harus tahu. Kita tunggu saat yang tepat saja."


"Gimana udah lega sekarang?"


Julian kembali tersenyum masam.


"Sedikit, Kak."


"Kok sedikit."


"Yang banyak masih gantung, Kak."


"Perusahaan Papa kamu?"


Julian hanya mengangguk.


"Yan, semua itu butuh proses. Dan dalam berproses itu kita harus ikhlas. Istiqomah. Lakukan yang menurut kamu terbaik. Kalo kesulitan ada Om Edo, Kak Desta, Ayaha bahkan Daddy siap membantu." Lanjut Aqeela.


Sedangkan Desta hanya diam mendnegarkan dialog istri dan adik angkatnya itu.


Tak bisa dipungkiri, Julian memang lebih dekat dengan Aqeela daripada dirinya. Karena memang sejak awal yang ia temui adalah Aqeela.


Sedangkan Desta datang kemudian setelah kedekatan mereka terjalin.


"Yan saat ini dan ke depannya kamu harus siap menghadapi resiko." Desta menimpali.


"Kakak tahu dunia kamu saat ini adalah dunia bebas. Kita berdua pernah seusia kamu. Bahkan bisa dikatakan dunia Kakak paling gelap waktu di SMA."


Julian menyunggingkan senyum absurd, mengingat dan membayangkan kedua kakaknya tawuran.


"Ngeri.." Selalu itu yang dibenak Julian.


Membayangkan anak-anak berseragam putih abu-abu bawa sajam. Lalu saling baku hantam.


Dan kedua kakaknya ini adalah mantan petarung di medan adu gengsi itu.


"Yang harus kamu siapkan itu mental kamu, Yan."


"Dunia kantor bukan dunia SMA kamu. Keduanya tidak sama."


"Kamu juga harus waspada."


"Terkadang musuh kita itu dalam selimut. Belum lagi menghadapi si muka dua, si Mulut busuk, tukang carmuk dan masih banyak lagi karakter yang akan kamu temukan di kantor."


💗💗💗💗


Wejangan dari Desta. Menutup obrolan menjelang maghrib. Karena bagitu bedug ditabuh seluruh penghuni rumah itu bubar tanpa dikomando.


Kemana lagi tujuannya kalo bukan ke masjid.


**Bersambung âž¡


Gaess.. aku minta dukungannya yaa..


Vote pake koin kalian.


Like dan komen

__ADS_1


tengkyu..


salam cinta dari si triple**


__ADS_2