TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Hadapi


__ADS_3

Alif kembali masuk ke parkiran, dengan wajah panik.


"Kenapa lagi Lo?" Tanya Darren bersiap masuk kendaraannya.


Teman-temannya yang lain ikut menoleh. Menatap ke arah Alif.


"Pasti ada Gery di depan!" Ucap Zafir.


Alif hanya nyengir mendengarnya.


"Lif, hadapin. Kita jaga dari belakang. Kamu gak udah khawatir." Ucap Zafran sambil menepuk punggung Alif.


"Aku.. aku.."


"Jangan jadi pengecut!" Potong Zafira.


Alif menatap gadis itu lekat-lekat.


"Ato perlu aku temenin?" Lirik Zafira.


"Enggak boleee!" Suara Devan membantah ucapan Zafira.


"Kenapa Lo, Kak? Pake gak ngizinin gue?" Protes Zafira.


"Gak.. gue gak mau elo kenapa-kenapa?" Kata Devan.


Auto semua yang ada di situ tertawa ngakak mendengar ucapan Devan, kecuali Alif dan Devan sendiri.


Mereka menatap triple dan sahabat-sahabatnya bergantian.


"Udah, gak usahk khawatirin dia. Elo cepet datengin tuh Gery. Ntar kita kintilin dari belakang!" Malik mendorong Alif ke arah gerbang.


"Cepet!" Omel Zafir


"Kita gak mau ada urusan lagi sama dia!" Zafran ikut mengomentari.


Alif yang masih enggan berhubungan dengab Gery mau tak mau melangkah ke halte.


"Aliif..!" Seru Gery begitu melihat Alif mendekat.


Gery berdiri lalu menarik krah seragam Alif.


"Mau kamu apa?" Pekik Alif dengan kesakitan.


Gery terdengar tertawa kencang mendengar pertanyaan Alif.


"Mau apa? Sungguh pertanyaan bodoh. Sudah jelas aku menginginkanmu!" Hardik Gery.


Dengan sekali tarik, Gery membawa Alif ke suatu tempat.


Di tempat Triple sahabat-sahabatnya dan Devan.


"Nda.. bawa Renata jauh dari sini!" Zafran melempar kunci mobilnya pada Wanda.


"Kenapa, Fran?" Renata menatap Zafran bingung.


"Situasinya berbahaya buat kalian. Nda segera, ya!" Titah Zafran.


"Yang lain ikuti Alif sembunyi-sembunyi!" Zafir memberi komando.


"Gue gimana?" Devan kebingungan.


"Terserah? Kalo mau pulang bole, kalo mau lanjut dengan kita juga gak pa_pa," Opsi Zafran dengan santainya menggandenga tangan Zafira.


"Kita ikut!" Ajak Devan ke kawanannya.


Perlahan mereka membuntuti Alif dan Gery.

__ADS_1


💗💗💗💗


Alif dan Gery sudah sampai di sebuah lokasi kosong.


Disan sudah menunggu Roy dan anak buahnya.


Napas Alif tersenggal-senggal menatap jumlah anak buah Roy.


Roy menyeringai tajam ke arahnya, seakan hari ini adalah hari pembalasannya untuk Alif dan ia berharap tak menemukan Alif di The Win Club.


Alif merasakan tubuh gemetar dan berkeringat dingin. Berbagai do'a ia rapalkan. Agar bisa selamat dari Roy.


Ia merasa sangat menyesal mengikuti saran Zafira. Berbagai prasangka buruk memenuhi otaknya.


Ia sudah begitu pasrah, jika Roy melukainya atau bahkan membunuhnya dengan keji.


Namun ia berharap jika kelak ia mati di tangan Roy bisa menjadi hantu untuk menakuti para pembunuhnya.


"Bagaimana Alif, sekarang siapa yang akan membantumu? Ini bukan bar!" Pekik Roy dengan tertawa sarkas.


Alif tersenyum masam menatap mereka dengan wajah pucat. Otaknya sudah buntu untuk bisa mencari jalan melarikan diri dari kepungan Roy.


Roy dan anak buahnya tersenyum puas menatap Alif yang sudah pucat.


Dalam ketidakberdayaan, Roy memberi aba-aba untuk menyerang Alif.


Hanya selang satu detik, Zafir dan kawan-kawannya keluar dari persembunyiannya menyerang anak buah Alif.


Namun di tempat persembunyian masih menyisakan Zafira dan Devan.


Mereka berdua sengaja pasang badan terakhir untuk menjaga stamina jika rekan-rekannnya mulai kendor.


Zafira dan Devan menatap perkelahian kawan-kawannya dengan seksama.


Menjelang anak buah Roy berhasil dilumpuhkan Roy dan Gery terlihat mundur perlahan dari area pertempuran.


Devan menatap Zafira tak percaya.


"Kakak mau disini? Ya udah Fira keluar sendiri!" Zafira berlari menghadang Roy dan Gery.


"Mau kemana kalian?" Hardik Zafira kesal.


"Siapa kamu? Berani-beraninya menghadang jalanku!" Balas Roy dengan suara tak kalah lantang.


"Aku bukan siapa-siapa, hanya pejalan kaki yang lewat lalu melihat kalian bertarung dan aku tertarik." Ucap Zafira dengan tenang.


Devan yang di sebelahnya sampai bengong tidak percaya dengan cara Zafira berbicara tanpa takut.


"Wah, bos. Cantik tuuh!" Ucap Gery dengan mengerlingkan satu mata ke Zafira.


Devan yang melihat sampai geram tak terkira mendengar ucapan Gery.


"Wah, bener banget Lo, broo!" Seringai Roy.


"Kita ajak dia main-main sampai puas!" Sambung Roy dengan suara tawa yang menjijikkan.


"Ooh jadi kalian mau main-main?" Ledek Zafira.


"Bisa banget, aku sangat bisa..." Zafira balas menyeringai.


"Kalian mau duluan? Atau saya yang memulai?" Tantang Zafira.


"Waah.. dia nantang Bos. Bikin aku mupeng aja." Gelak Gery.


"Lebih seru kalo kita mulai dulu nona cantik. Kamu bersiaplah!" Seru Roy lantang.


Devan sudah bersiap menghalangi Roy dan Gery di depan Zafira. Namun gadis itu menyingkirkan tubuh Devan.

__ADS_1


Pemuda itu sampai berjingkat melihat kekuatan Zafira. Mengingatkan Devan ketika Zafira memelintir tangannya.


Akhirnya Devan mengalah berusaha mengimbangi gadis itu, menjadi partnernya kali ini.


Roy menangkap tubuh Zafira dengan penuh nafsu. Zafira menghindar dengan sigap.


"Wah, lincah juga neee bos!" Komen Gery.


"Banget Ger..," Balas Roy.


Tanpa mereka sadari, Zafira sudah di belakang keduanya. Memegang kepala kedua lalu saling dibenturkan.


"Awwhhh..." Pekik keduanya.


Devan terkikik di dekat Zafira, merasa konyol saja dengan aksi gadis itu.


"Boss.. dia di belakang kita!" Bisik Gery.


"Kayaknya harus sedikit mengeluarkan tenaga, Ger!" Balas Roy.


"Betul, Bos," Ucap Gery.


"Kita mulai!" Roy bergerak mendahului Gery menyerang Zafira.


Zafira yang sudah pasang kuda-kuda berhasil menangkis serangan Roy.


Gery yang tak sabar mengikuti jejak sang Bos mengarahkan bogem ke arah Zafira dengan sembarang sasaran.


Devan yang menyadari aksi Gery menarik tubuh Gery, "Hadapi gue sebelum nyentuh dia!"


Gery menyeringai tajam ke arah Devan. Dengan aksi brutal dan membabi buta Gery menyerang Devan.


Zafira membiarkan Devan menghadapi Gery. Karena di tangannya ada Roy yang siap menyerangnya.


Zafira beberapa kali menghindar dan menangkis serangan Roy.


Sengaja, untuk mempelajari tehnik dan trik Roy.


Setelah dirasa mengenali gerakan Roy, Zafira mulai menggerakkan tubuhnya.


Menyerang beberapa bagian tubuh Roy yang dianggap bisa membuat cowok itu melemah.


Benar saja, hanya dengan beberapa kali bogem dan tendang, Roy terkapar di tanah tak berdaya.


"Nona, aku menyerah!" Ucapnya.


Zafira bersiul dengan kencang, sembari menyeret tubuh Roy yang sudah tak berdaya.


Devan dan Gery menghentikan baku hantamnya.


Begitupun Di area lapangan, seketika berhenti menatap ke arah gadis itu.


Zafira meletakkan tubuh Roy di tengah medan pertempuran.


"Kalian masih mau lanjut, silahkan! Tapi jangan salahkan saya jika Roy lumpuh seketika!" Ancamnya.


Anak buah Roy membisu. Mereka bergeming di tempatnya menatap prihatin Roy yang takluk di tangan seorang wanita.


"Gimana Roy?" Tanya Zafira kali ini ia menyeringai licik ke arah Roy.


"Gue nyerah!"


💗💗💗💗


Laanjuut ...


Like, komen dan vote ya temans...

__ADS_1


__ADS_2