
Zafir dan Zafran dengan sedikit enggan berjalan menuju kantin. Kalau saja bukan karena Zafira yang memintanya datang. Bisa dipastikan dua cowok itu memilih berdiam di kelas mengerjakan pe-er atau tugas yang belum selesai.
He he he, ketahuan deh. Zafir dan Zafran suka mengerjakan pe-er di kelas. PR yang harus dikumpulkan hari ini, maka satu jam sebelumnya baru mereka kerjakan.
Hayyoo siapa yang dulu waktu sekolah juga kayak mereka? Ngaku deeh.
(Untungnya Aunty kagak kayak kalian, Dek. Aunty dulu pelajar yang baik)
Aunty songong.
Kata Zafran.
(Aunty tepuk jidat dah kalo kalian udah komen begitu)
Begitu bel istirahat berbunyi, Udin teman sekelas Zafira menyampaikan pesan bahwa mereka ditunggu dikantin.
Dan kini mereka masih perjalanan ke lokasi. Dengan banyak mata menatap kagum kepada keduanya.
Sepanjang koridor menuju kantin, mereka bak peragawan yang ditunggu banyak penggemar. Tidak peduli teman seangkatan atau kakak kelas. Semua menatap langkah keduanya.
Tapi yang patut disyukuri para gadis itubl tidak ada yang terlihat heboh seperti yang di tayangan drama atau sinetron televisi.
Mereka memilih kagum dalam diam, menikmati keindahan ciptaan Tuhan dengan caranya sendiri.
Zafir dan Zafran percaya mereka juga zina mata, begitu kata Ustadz. Sehingga mereka memilih kagum dalam diam.
Pandangan Zafran dan Zafir fokus pada sekelompok anak seusianya dengan warna seragam yang sama. Bedanya tampilan mereka lebih elegan dan yang cewek hanya mengenakan pashmina yang diselempang tidak diKait seperti saudarinya.
Seseorang berseragam putih abu-abu yang asyik bercengkerama dengan saudarinya juga tampak memunggunginya.
"Malik.. Darren.., Wanda.." Panggil Zafir dan Zafran kompak.
Ketiga nama yang disebut langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Zafran.
Begitupun dengan cowok berseragam putih abu-abu tadi.
"Uncle..." Sambung Zafir dan Zafran begitu tahu cowok itu adalah Julian.
Tanpa izin Zafir dan Zafran duduk begitu saja di samping Malik dan Darren.
"Kapan nyampe sini?" Tanya Zafir
"Tiga puluh menit yang lalu." Jawab Malik.
"Curang kenapa langsung nemuin Zafira?" Protes Zafir.
"Gak sengaja kaleee... Pas kita jalan Zafira lewat. Ya udah kita langsung nancep ma Zafira." Jelas Wanda.
Zafir dan Zafran menatap tamunya dengan intens.
"Bawa hape, gak?" Tanya Zafran.
"Bawa. Buat apa?" Darren balik tanya.
"Buat konfirmasi ke orang tua kalian. Nanyain kalian udah izin mereka belum?" Seru Zafran yang hafal watak dan tingkah laku sahabat-sahabatnya itu.
Darren yang awalnya berniat menyerahkan ponselnya kembali mengantonginya.
"Gak jadi deh." Jawab Darren.
"Tuuh kan. Kalian sengaja bolos kan? Pasti lagi ada pelajaran Fisika sama Matematika? Iya kan?" Tebaka Zafran.
Zafira, Zafir dan Julian hanya tertawa lebar melihat ketiga sahabatnya yang ketakutan diinterogasi Zafran.
"Ayoo kasihkan ponsel salah satu dari kalian?" Ucap Zafran.
"Enggak." Darren masih dengan prinsipnya.
"Fira, bantuin kita dong." Mohon Wanda kepada Zafira.
__ADS_1
Zafira menatap Zafran tanpa kata seakan menyampaikan pesan melalui telepati.
"Turuti saja permintaan Zafran jika kalian ingin selamat." Ucap Zafira membela Zafran.
"Huuh.. kapan sih kamu belain kita, Fira?" Protes Malik yang sedari tadi masih terdiam.
"Kalo kalian benar." Jawab Zafira enteng.
"Mereka bertiga kompak mulu." Wanda menimpali.
"Kalian mau pinjami kita atau taruhan aku anggap kalian kalah. Jadi liburan semester berikutnya kalian bertiga traktir kita tanpa jeda. Selama liburan..."
"Ogaah.." Jawab Malik.
"Udah deh Ren. Kasi aja hape kamu." Oceh Malik yang memilih menyerah.
Darrenpun mau tak mau menyerahkan gawainya kepadanya Zafran.
Hanya dalam hitungan detik, panggilan Zafran sudah tersambung dengan seseorang.
"Wa'alaikum salam, Mami. Ini Zafran." Sapa Zafran.
"Lhooo.. kenapa hape Darren ada di kamu?" Kaget Yuna karena yang memanggilnya Zafran bukan anaknya.
"Darren main ke pondok Zafran, Mi." Sahut Zafran.
"Astaghfirullah." Terdengar suara Yuna begitu kaget dengan keberadaan anaknya.
"Sama siapa saja dia, Fran?" Sambung Yuna.
"Ya sama Malik dan Wanda. Sama siapa lagi?" Jawab Zafran santai.
"Anak itu yaa..." Geram Yuna.
"Tapi Mami ndak usah khawatir. Mereka dianter Uncle Iyan, kok. Sampaikan ke Bunda dan Mama Via, ya. Karena mereka mungkin akan pulang sore." Pungkas Zafran.
"Iya nanti mami sampaikan. Darren mana, Fran?"
"Hallo... Iya Mi." Sapa Darren begitu benda pipih miliknya sudah kembali ke tangannya.
Sesaat kemudian yang terdengar hanya permintaan maaf dari Darren kepada Maminya.
"Gimana kata Mami?" Tanya Zafir kepo.
"Mami marahlah, tapi mami muji-muji Zafran terus. Sebel." Omel Darren.
Disambung suara tawa yang lain.
"Sampai rumah giliran kalian berdua nanti yang diomelin Bunda dan Mama Via." Ledek Darren tak mau kalah jika hanya dirinya yang kena omel.
Malik dan Wanda memandang ke arah Darren tak percaya.
"Tadi Mami yang menyampaikan, atas permintaan Zafran." Ucap Darren tak mau disalahkan.
Kini Zafran menjadi sasaran empuk Malik dan Wanda. Keduanya menatap tajam ke arahnya.
"Wait. Apa kalian mau tidak diizinin main sama kita. Gara-gara kalian bolos sekolah?" Tegas Zafran.
"Yang salah kalian, aku cuma tidak ingin ada salah paham dengan orang tua kalian. Lebih baik mereka tahu sekarang daripada terlambat." Sambungnya.
"Zafran betul tuh. Tapi kalo kalian ikhlas gak bareng kita. Terus orang tua kita ribut gara-gara tingkah kita kan yang rugi kita juga." Sahut Zafir.
Malik, Wanda dan Darren mulai paham maksud sahabatnya itu.
"Aku gak nyangka ternyata kamu sudah memikirkan dampaknya." Ucap Malik.
"Lain kali izin dululah, pasti orang tua kalian mengizinkan." Saran Zafira.
"Iyaa.. nyesel deh kalo udah kayak gini." Ucap Wanda.
__ADS_1
"Ya udah gak pa_pa. Yang penting kalian menyadari kesalahn kalian. Udah makan dulu sana! Mau pesan apa?" Kata Julian meenghibur komplotan Triple.
"Uncle mau kemana?" Teriak Zafira panik melihat Julian berdiri dari duduknya.
"Mau ke kantor, ngizinin kalian." Jawab Julian.
"Huuu.. ditinggal bentar aja panik kayak gitu." Ledek Zafran.
Julian yang mendengar hanya tersenyum kecil sambil terus melangkah menuju ruang guru.
"Nda.. gimana udah ada belum?" Tanya Zafira ke Wanda begitu punggung Julian sudah tak terlihat.
"Apaan sih kalian berdua. Udah main rahasia-rahasiaan segala." Sahut Malik kepo.
"Urusan cewek." Sahut Wanda.
"Urusan kita juga dong." Sambung Darren.
"Apaan sih, Nda?" Zafir ikutan kepo.
"Kamuu sih pakai ngomong di depan mereka!" Kesal Wanda dengan senyum masam ke arah Zafira.
"Biarkan mereka tahu. Siapa tahu mereka bisa bantu." Jawab Zafira enteng.
"Huu.. bantu apa? Yang ada ngeledek." Auto Malik dan Darren terbahak-bahak mendengar ucapan Wanda.
"Aku tahu kayaknya Zafira ngebahas siapa?" Ucap Darren.
"Kamu tahu?" Kaget Wanda.
Darren mengangguk.
"Apaan sih?" Malik Menatap Darren dan Wanda bingung seakan dirinya orang yang paling tidak tahu apa-apa.
"Kalian berdua ya.. beneran gak peka banget." Cerca Zafira.
"Serius apaan sih?" Tanya ulang Malik.
"Wanda lagi naksir Hisyam, kapten tim kamu." Jawab Darren singkat, padat dan jelas.
"Ooh... Hisyam. Beneran?" Malik kaget.
Pluuk.
Pluuk.
Pluuk.
Pluuk.
Pluuk.
Malik langsung di timpuk sendok rame-rame oleh sahabatnya.
"Awwwuuuh..." Teriaknya.
Pengunjung kantin auto menoleh ke arah mereka.
"Iyyaaa.. iyyaa.. nanti aku comblangin." Janji Malik dengan mengecilkan volume suaranya.
💗💗💗💗💗
To be continue
Duuh maap yaa masih low up..
Tapi masih kasi like, komen da votenya yaa..
Di tunggu..
__ADS_1
Mampir ke "Pil Kuat Bang Rizal" di tungguin yaa...