TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Menentukan Hari Kelahiran


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit, mau tak mau Aqeela harus cuti paksa seketika itu juga. Pak Handoko dan Pak Jamal dengan terpaksa harus mengikhlaskannya.


"Qee, Des. kalian segeralah pilih tanggal cesar untuk anak kalian." Ucap Dokter Suzan sesaat sebelum memberikan izin Aqeela kembali ke rumah.


"Haruskah dipercepat, Dok?" Tanya Aqeela menawar. Mengingat usia kandungannya baru 30 minggu.


"Second opinion aja, melihat kondisi Aqeela seminggu lagi. Jika kondisi Ibu stabil, cesar bisa kita lakukan sesuai prediksi awal. Namun jika Aqeela masih lemah kita harus observasi ulang." Dokter Suzan menjelaskan secara gamblang.


Desta dan Aqeela hanya saling pandang. Mendengar ucapan dokter suzan.


Kini di tangan Aqeela ada kalender meja. Tatapannya tak lepas dari angka-angka di kertas tersebut.


Wanita itu duduk terdiam diatas meja yang dipakainya menyusun materi persiapan mengajarnya.


Sebuah tangan memeluknya dari belakang.


"Beb, gak usah diliatin angkanya. Kamu fokus sehat aja. Yakinlah, anak kita lahir seperti rencana awal kita." Bisik Desta tanpa melepas pelukannya.


Diciuminya kedua pipi istrinya dengan lembut. Desta mencoba menenangkan istrinya dengan caranya.


"Beb, kita harus ikhtiar. Kamu nggak usah mikirin Wisnu lagi. Sebentar lagi dia gak akan berani gangguin kamu." Bisik Desta.


Namun Aqeela masih bergeming, menatap kalender mejanya. Tangannya mengelus perut buncitnya.


Desta mengikuti aktivitas Aqeela mengelus perut berisi nyawa manusia lain. Calon anaknya.


"Dek, kalian bantu Umma ya. Kalo lahir yang tenang ya. Sekarang kalian baik-baik dulu di dalam." Bisik Desta di depan perut Aqeela.


Diciuminya perut gede itu. Tangan lelaki itu merasakan gerakan-gerakan dari dalam rahim istrinya. Membuat kedua bibirnya tertarik ke kiri dan kanan membentuk bulan sabit.


"Mereka bergerak dan merespon, Beb. Mereka sangat lincah." Desta mendongak menatap wajah Aqeela.


Aqeela tersenyum memandang Desta. Dengan manja ia melingkarkan tangannya ke leher suaminya.


"Bae naiklah sedikit!" Titah Aqeela.


Desta menurut ia mengangkat pantatnya dan berdiri bertumpu di kedua lututnya.


Aqeela mengelus dan memberi kecupan di pipi Desta.


Aqeela menempelkan hidungnya ke hidung suaminya.


"Makasi ya Bae. Selalu support aku." Bisiknya.


"Beb, yang ada di rahim kamu anak aku. Mana mungkin aku membiarkan ibu dan anakku sedih." Satu kecupan mendarat manis di bibir Aqeela.


"Berbaring dan selonjorlah dulu. Nyamankan tubuh kamu." Desta menuntun Aqeela ke ranjang.


Aqeela hanya nurut saja. Iapun duduk selonjoran di ranjang.


"Bae, di sini saja!" Pinta Aqeela melihat suaminya hendak berdiri.


"Sebentar, aku mau ganti baju. Gerah." Ucap Desta sambil tersenyum ke arah Aqeela.


Aqeela hanya mengangguk.

__ADS_1


"Miss You, Beb." Kiss bye Desta sambil memberi kecupan jauh.


******


Di tempat lain.


Lebih tepatnya di kantor Wisnu.


"Pak, ada yang mau saya sampaikan?" Seorang wanita berpakaian menantang uji iman seorang pria duduk di depan atasannya.


Wisnu bukannya menjawab pertanyaan wanita di depannya, matanya malah menatap wajah dan bagian dada yang hampir tereskpos keluar.


Beberapa kali Wisnu menelan salivanya melihat tubuh yang sengaja dipertontonkan secara publik itu.


Jangan salahkan Wisnu yang langsung tertantang salahkan juga si pemilik tubuh yang mengeksposnya dengan sengaja.


"Pak.. Pak Wisnu.." Panggil wanita itu melihat Wisnu yang menatapnya tanpa berkedip.


Ada senyum smirk di dalamnya.


"Eh.. i.iya. Mei." Jawab Wisnu gugup.


"Kita bicara di situ saja!" Tunjuk Wisnu ke sofa, area yang lebih santai.


"Ada apa? Sampaikan dengan jelas." Ucap Wisnu setelah keduanya duduk berhadapan.


Deg.


Jantung Wisnu seakan berhenti memompa aliran darah.


Matanya kembali disuguhi paha mulus milik Mei. Wanita berkulit bersih itu sepertinya sengaja memakai pakaian minim bahan.


"Mei, pindah sebelahku!" Titah Wisnu tanpa basa basi.


Tanpa membantah wanita itupun beralih ke sebelah Wisnu.


"Katakan!" Ujar Wisnu seakan tak sabar.


"Pak, kemarin. Ada seseorang yang membeli saham perusahaan kita 30 persen." Ucap Mei khawatir.


"Terus masalahnya dimana?" Tanya Wisnu sambil menggeser pantatnya mendekat ke Mei.


"Yang di beli itu saham atas nama Bapak." Kata Mei panik khawatir Wisnu marah atau melalukan hal-hal diluar nalarnya.


Wisnu terdiam sejenak.


"Sudahlah kamu tidak perlu memikirkan itu. Biar nanti di urus kuasa hukumku." Wisnu melingkarkan tangannya ke pinggang Mei.


"Mei, pakaian kamu sudah membuat juniorku menegang. Kamu harus bertanggungjawab untuk itu!" Bisik Wisnu kepada Mei sambil mengecup leher belakang Mei.


Mei merespon ulah Wisnu dengan mendesah. Membuat nafsu Wisnu semakin berkobar.


Tangannya perlahan membuka blazer cream milik Mei. Dengan lincah ia mengelus bagian dada yang terlihat menyembul indah itu.


Walaupun masih tertutup kemeja putih tapi kedua bukit kembar Mei seakan meminta untuk dinikmati.

__ADS_1


Mei kembali mendesah, seketika tubuhnya ikut menegang saat tangan Wisnu meremas pucuk bukit kembarnya.


"Sebentar." Wisnu berjalan ke arah pintu.


Klik.


Suara pintu dikunci Wisnu.


"Biar aman." Seringainya dengan tenang walaupun sebenarnya ia sudah tak sabar menerkam tubuh sekretaris yang sudah lebih dari dua minggu tak disentuhnya itu.


Wisnu kembali ke sofa, dan mencium seluruh area wajah sampai dada Mei dengan penuh nafsu.


Mei hanya mengerang keenakan dengan perlakuan atasannya itu.


Wisnu melepas jas, kemeja dan celana panjangnya. Tersisa celana dalam dan kaos dalamnya.


Dipindahkannya tubuh Mei ke pangkuannya. Wisnu membenamkan wajahnya ke ceruk leher Mei. Dihisap dan diberinya banyak tanda merah di situ.


Mei kembali merasakan tubuhnya memanas dengan perlakuan Wisnu.


perlahan Wisnu melepas kemeja putih milik Mei dan dilemparkannya ke sembarang arah.


Mata Wisnu semakin liar menatap tubuh Mei yang belum sepenuhnya polos. Bahkan juniornya sudah mendesak keluar dari sarangnya.


Dengan sekali tarik rok Mei sudah melorot jatuh ke lantai. Wisnu semakin gencar bermain di area inti Mei yang sudah pasrah dan menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati sang penguasa gold corporation itu.


Mei merasakan tubuhnya semakin keenakan dan tanpa sadar ia mendesah dan mengerang bergantian membuat Wisnu semakin bersemangat menggeluti tubuh mungil Mei.


Wisnu merebahkan tubuh Mei ke sofa, masih tersisa kain segitiga penutup area surga Mei. Wisnu menyingkirkan kain penutup itu dengan kasar membuat Mei sedikit bergidik dengan perlakuan Wisnu tapi ia masih menikmati kejutan tersebut.


Wisnu membuka lebar kaki Mei dan membenamkan kepalanya ke area inti tersebut. Mei kembali menggelinjang liar sambil meneriakkan nama Wisnu. Namun tentu saja tidak ada yang mendengar karena ruangan itu sudah di desain kedap udara.


Wisnu melepas penutup tubuhnya yang masih tersisa. Dan kembali ia menindih tubuh Mei yang sudah tidak sabar menanti kelanjutan penyerangan Wisnu.


Dengan sekali dorong, Junior Wisnu sudah melesat ke dalam dengan mudahnya karena pelumasnya sudah ready.


Keduanya menikmati setiap hentakan, gesekan dan gerakan lincah pemicu enaknya surga dunia.


Dengan napas terengah-engah dan erangan lepas tanpa batas kedua mengkahiri aktifitas terindah hari ini.


"Thankyou honey. You looks beautiful. I love it." Bisik Wisnu masih memeluk Mei yang masih memulihkan tenaganya yang terkuras.


*****


**Upss sory yaa man teman.. Up nya lamaa pake banget.


Padahal udah ada di draft ceritanya.


Maaf kan daku yang terlalu repot menjelang akhir tahun.


(Lebay loe, Thor)


(Biarin... sesekali lebay gpp ya..)


Miss U all

__ADS_1


😘😘😘


pliss vote and like yang bnyak yaa**..


__ADS_2