TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Iseng jilid 2


__ADS_3

"Kok senyum-senyum sendiri?" Tanya Desta begitu para bawahannya pulang.


"Iya, inget sama Izzah yang pulang dengan wajah manyun." Kekeh Aqeela.


"Abis kamu apain dia?" Kepo suaminya.


"Bentar..." Jeda Aqeela.


"Rid.. Farid..." Panggil Aqeela karena tidak menemukan siapapun di dekatnya. Jadilah ia teriak-teriak.


"Ngapain panggil si Farid?" Ucap Desta bingung.


"Udah diem aja. Duduk sini deh Buya sayang." Kata Aqeela manja sambil menepuk sofa kosong di sampingnya.


"Iya Qee..." Jawab Farid begitu sampai di ruang tengah.


"Duduk!" Titah Aqeela.


"Ada apaan sih? Katanya minta tolong benerin wastafel tapi dari tadi dipanggil-panggil terus. Kapan selesenya coba?" Omel Farid dengan sedikit jengkel.


"Udah nurut aja. Ini lebih penting dari wastafel." Sahut Aqeela dengan senyum smirknya.


Desta menatap istrinya dengan menahan geli. Ia sadar kalo istrinya itu sedang merencanakan sesuatu kepada Farid. Tapi sengaja ia tidak nyeplos dihadapan teman sekamarnya sewaktu nyantri dulu.


"Apaaan?" Tanya Farid begitu sudah duduk tenang.


"Gimana Izza tadi? Cucok enggak?" Ucap Aqeela langsung ke pokok bahasan.


"Cantik." Satu kata pujian terlontar dari mulut Farid.


"Buya, kayaknya kita mau mantu lagi nee.." Ucap Aqeela mendengar jawaban Farid.


Desta yang langsung paham maksud istrinya itu tersenyum ke arah Farid.


"Mau di khitbah kapan?" Goda Desta.


"Yang bener, Mas? Mau langsung di khitbah anaknya?" Antusias Farid.


"Ya tergantung kamunya. Kalo kamu serius sekarangpun bisa." Tantang Desta.


"Wah, Mas Desta ini bikin aku grogi saja. Masa mengkhitbah anaknya orang kayak beli permen aja." Farid tampak tersipu malu.


"Eh, beneran loo ini. Katanya kalo niat baik harus disegerakan. Kamu kan yang lebih pinter dari aku, Rid." Ledek Desta.


"Mas Desta ini. Udah ah, mending aku lanjutin aja betulin wastafelnya. Aku ta'aruf aja dulu, Mas. Sapa tau dianya tidak berkenan ato aku bukan sosok yang sesuai kriterianya." Farid tidak ingin membumbungkan tinggi angannya. Takut kalo jatuh sakit.


Desta dan Aqeela tertawa bersamaan mendengar pengakuan Farid.


"Aku bantuin buat ta'arufan." Pekik Desta begitu Farid ngeluyur ke dapur.

__ADS_1


"Umma ini kok bisanya, mak comblangin mereka berdua." Tanya Desta sambil membetulkan letak kaki Aqeela yang bergeser dari sofa.


"Habis tadi tuh mereka pada jahilin Izza ya udah sekalian aja aku komporin biar panas sekalian." Jawab Aqeela sambil merebahkan dirinya ke sofa panjang.


"Kalo jodoh ya syukur enggak juga berarti jodoh mereka masih dalam kandungan. Hehehe..." Sambung Aqeela yang hanya dibalas gelengan kepala oleh suaminya.


"Kebiasan kumat iseng bin jahilnya." Komen Desta sambil mengecup pucuk kepala Aqeela yang tertutup hijab.


Begitulah setelah pulang dari rumah sakit, untuk mengusir rasa bosannya Aqeela duduk selonjoran di sofa panjang ruang tengah sambil mengawasi keempat anaknya. Bahkan terkadang Thifa juga ikut main di situ.


Mereka masih dalam rangka libur semester. Makanya pada ndekem di rumah.


Orang tua mereka enggak ikut libur soalnya. Jadilah anak-anak ini ngumpul jadi satu. Markasnya berpindah antara rumah Desta dan Doni.


Sedangkan Julian sibuk dengan urusan kantor dan sekolahnya meskipun sedang libur semester.


Maklumlah si ganteng ini aktifitas sekolah. Jadi, gak usah heran kalo tiba-tiba harus datang ke sekolah.


💗💗💗💗💗


Aqeela baru saja masuk kamar dua menit yang lalu. Saat Mitha masuk mencari Thifa.


Tapi dasar emak-emak bukannya langsung nyari anaknya malah nyasar ke kamar Aqeela.


"Qee..." Panggil Mitha sambil buka pintu.


Tadi Mitha udah izin sama Desta, makanya langsung nyerobot masuk aja ke kamar.


"Gak repot tuh gendong dua kayak gitu?" Tanya Mitha langsung duduk di tepi ranjang Aqeela.


"Terus? Harus gimana gitu?" Tanya Balik Aqeela.


"Ya minta tolong ke siapa kek. Desta di luar, Bu Darmi sama Bu Erna kemana? Orang tua sam mertua kamu juga tumben belum nongol? Biasanya mereka berempat paling heboh." Mitha memindahkan salah satu bayi Aqeela ke gendongannya


"Aku nyuruh mereka istirahat, Kak. Kasiyan seminggu full jagain aku di rumah sakit. Untung mereka tidak tahu kasus Wisnu. Kalo tahu, udah di cincang kali tuh anak sama Daddy dan Ayah." Jawab Aqeela yang hanya di balas senyuman lebar wanita itu.


"Qee, Thifa kalo main ke sini kok betah banget ya? Aku jadi penasaran. Emangnya mereka mainan apaan sih?" Tanya Mitha sambil menatap ke Ibu enam anak itu.


Kali ini ganti Aqeela yang tertawa lebar. Menatap balik ke arah Mitha yang tampak serius.


"Bukan main apa? Lebih tepatnya dengan siapa? Anak Kak Mitha itu betah di sini karena temannya banyak. Kalo di rumah kan dia sendirian." Jawab Aqeela.


"Mama Intan juga..." Mitha menjeda kalimatnya, karena si twin yang ia gendong menggeliat.


"Kak siniin deh adek bayinya. Dia udah waktunya ASI." Pinta Aqeela.


Mitha menyerahkan bayi yang di gendongnya ke pelukan Aqeela. Sedangkan bayi yang sebelumnya di gendong Aqeela sudah ditidurkan di ranjang.


Mita menatap si bayi yang melahap ASI Ummanya dengan rakus.

__ADS_1


"Nee anak kehausan banget." Celoteh Mitha.


"Namanya siapa?" Tanya Mitha sambil membelai kepala bayi Aqeela yang sedang menyusu.


"Belum ada. He he he." Jawab Aqeela sambil nyengir.


"Kok belum? Terus tante panggil kalian siapa twins?" Mitha bergantian membelai si twins gemas.


"Panggi bebi twins juga gak pa_pa, Tan." Jawb Aqeela dengan suara perut sehingga terdengar seperti suara anak kecil.


"Yaa.. padahal Umma dan Buya kalian tuh cepet banget kasih nama kakak-kakak kalian. Eh, giliran kalian lahir malah belum dikasih nama. Kasihan kalee kamu, Nak." Celoteh Mitha sambil terkekeh.


Aqeela hanya tersenyum lebar mendengarnya.


"Mama Intan kenapa Kak tadi?" Ulang Aqeela mengingatkan Mitha.


"Mama Intan juga betah kalo di sini? Memangnya rumah kamu ini ada apanya sih?" Mitha terlihat kepo.


"Enggak ada apa-apanya, Kak. Mungkin mama Intan kesepian di rumah. Makanya main ke sini. Gak pengen apa kasih adik buat Thifa?" Tanya Aqeela menyelidik.


"Capek, Qee. Kerjaan aku gak kenal waktu." Ucap Mitha sedih.


"Makanya Kak Mitha bikin praktek aja di rumah. Kita bikin klinik di Pesantren."


"Aku belum siap berhijab."


"Lhoo yang nyuruh Kakak berhijab siapa?"


"Emangnya bole gitu, praktedk di dalam pesantren tapi dokternya gak pake hijab."


"Lha memangnya ada larangan yang tidak berhijab dilarang masuk?" Goda Aqeela sambil tersenyum misterius.


"Ya memang gak ada peraturan tertulis. Tapi setidaknya kan aku harus memantaskan diri." Mitha masih belum sadar kalo di isengin temannya.


"Hmm.. terus kalo cowok berarti gak bole masuk dong ke pesantren?" Tanya Aqeela terlihat serius padahal dalam hati ia ngakak berat.


Mitha terdiam sejenak, sepertinya wanita itu mencerna kalimat yang dilontarkan Aqeela barusan.


"Aqeela....!" Pekik Mitha begitu sadar dirinya jadi korban keisengan istri teman sekelasnya dulu.


Suasana gaduh dari dalam kamar terdengar begitu seru dari luar.


"Ada apa ini?"


💗💗💗💗💗💗💗💗


Tuh yang kepo, siapa?


Genks like vote and komen yaa...

__ADS_1


Teman-teman mampir dong ke princess of mojopahit


__ADS_2