
"Kekasih halal itu yang model gimana sih?" Ledek Zafira pura-pura bego.
Menyembunyikan pipinya yang memerah.
"Yang bisa dibawa kemana-mana." Jawab Julian asal.
"Lha kayak cewek panggilan gitu?" Protes Zafira.
"Fira, lama-lama kamu bikin es-mo-si jiwa aja." Julian semakin gerah mendengar ledekan Zafira.
"Siapa suruh ngegombal sama ABG." Elak Zafira.
"Udah terserah deh, mau kamu masih ABG kek, masih dibawah umur kek atau apapun. Bulan depan kamu aku sahkan!" Putus Julian begitu saja, tanpa menatap lawan bicaranya.
"Loo....Lo...? Kok jadi serius gini?" Zafira menatap Julian dengan serius.
"Padahal Zafira tuuh yaa, punya mimpi di lamar pakai bunga pake cincin pake dinner yang romantis gitu. Ternyata aku dilamarnya pake paksaan."
"Opo yo wis nasibku..." Zafira menirukan sebait lagu balungan kere milik Denny Caknan.
Julian hanya meringis mendengar protesan Zafira. Ngerasa salah gitu maksudnya.
Ia sendiri juga tidak menyangka hari ini harus memaksa Zafira jadi kekasih halalnya. Semua sungguh diluar kuasanya.
Apalagi saat mendapati kenyataan gadis ini bisa gercep mendahuluinya.
"Udah sampai." Seru Julian begitu kendaraan Julian masuk carport.
"Besok JAM TUJUH, kamu harus sudah siap!" Titahnya sengaja menandaskan waktu, karena kebiasaan cewek ini pas weekend enak-enakan di kamar sampai Umma atau Buyanya bangunin.
"Maksa lagi..." Zafira mendendangkan lirik kawin lagi milik SiBad yang digubah oleh Zafira jadi maksa lagi.
"Kamu maksa maksa..." Lanjut mendendangkan lagu maksa maksa milik Irenne Ghea si pelantun dangdut bule.
"Tarik Sis... " Julian malah ikut ngomporin Zafira.
"Auk aah.. Zafira mau bobok. Biar pangeran satu ini gak jutek mulu." Zafira mempercepat langkahnya ke kamar.
"Yaelah dia yang mulai dia juga yang marah-marah. Lagi PMS kali yaa tuh ana." Gerutu Julian.
Pria itupun langsung masuk kamar.
💗💗💗💗💗💗💗
Masih pukul 06.45 Zafira sudah cantik dan duduk anteng di meja makan. Menunggu Bu Darmi dan Bu Erna menyiapkan sarapan.
"Tumben Ning? Sabtu-sabtu jam segini udah cantik aja." Goda Bu Darmi.
"Iya Bu, mau diajak pergi." Sahut Zafira yang sudah ngeces melihat Bu Darmi sudah menata beberapa menu makanan di mejanya.
"Pergi sama siapa, Ning?"
"Bu Darmi Zafira makan duluan, ya?" Pertanyaan Bu Darmi terabaikan karena fokus Zafira benar-benar pada menu di meja.
Bu Darmi hanya geleng-geleng sedangkan Bu Erna hanya terkekeh melihat tingkah Zafira.
"Sudah iya in saja itu anak. Daripada ntar dia bikin acara yang lebih aneh. Pusing ntar kita." Bisik Bu Erna kepada Bu Darmi.
"Ini Ning piringnya. Gak nungguin Umma atau Buya gitu?" Tanya Bu Darmi iseng.
"Mereka masih ngisi kajian di masjid kelamaan, keburu cacing-cacing di perut Zafira kelaparan."
"Yaa kalo itu sih memang Ning Fira aja yang udah ngeces."
__ADS_1
Zafira ngakak aja mendengar ucapan Bu Darmi.
Tanpa menunggu lama, Zafira mengisi piringnya dengan nasi dan lauk yang ada di meja.
"Eits.. tunggu.. Aku juga mau makan." Julian tiba-tiba muncul dan duduk di sebelah Zafira.
"Mau sarapan aja minta bareng." Bisik Zafira.
"Iya nemenin calon kekasih halal."
"Kekasih bo'ongan kalee.." Sangkal Zafira.
"No.. kemarin udah sepakat sebulan lagi sah." Paksa Julian.
"Mas Julian mau makan juga?" Potong Bu Darmi mengakhiri debat bisikan keduanya.
"Iya Bu." Jawab Julian sambil meraih piring yang sudah disiapkan ARTnya itu.
Julian melakukan aktifitas yang sama dengan Zafira mengisi piring.
Keduanya sarapan dalam diam. Tapi yaa memang setiap hari mereka kalau sarapan tanpa ada suara.
"Curaang.." Pekik Zafir.
Zafira dan Julian hanya menoleh lalu fokus lagi ke piring.
"Makan berdua doang." Sahut Zafran
"Yuuk.. kita serbu sarapan enak dari Bu Darmi dan Bu Erna!" Lanjut Al.
Bukan bertiga tapi berlima, saudara-saudara Zafira lainnya akhirnya gabung sarapan bersama mereka berdua.
"Kak coba liat muka Uncle dan Kak Fira!" Bisik Al pada Zafir.
"Kalian lagi berantem?" Tanya Zafir.
"Engga!" Jawab Zafira dan Julian kompak.
Zafir menahan tawanya sejenak. Menatap lagi ke arah dua makluk teraneh menurutnya.
"Al, kamu bener muka mereka lucu. Udah gak usah dipikirin. Ntar juga baikan lagi sendiri. Yang penting sekarang kita makan!" Seru Zafir.
Zafira bernapas lega karena Zafir gak tanya macam-macam.
💗💗💗💗💗
Sampai kantor.
Zafira yang awalnya berjalan di belakang Julian, dipaksa berjalan di sampingnya.
"Pagi Pak!" Sapa Pia begitu Julian datang, namun wajahnya begitu terkejut menatap Zafira yang baik-baik saja di sebelah Julian.
"Pagi Mbak Pia?" Sahut Zafira sambil tersenyum.
"Kenapa Pi? Kok kamu kaget gitu? Kemarin sudah kenal Zafira kan?" Sambung Julian.
"I.. Iyyyaa.. Pak." Pia duduk kembali.
Sekilas Zafira melirik pakaian yang dikenakan Pia dan membandingkan dengan yang dipakai Julian.
"Sama-sama casual."
Tapi pakaian yang dikenakan Pia menurut Zafira terlalu seksi sebagai seorang sekretaris.
__ADS_1
Mengenakan atasan putih dengan lengan yang turun sampai ke dada, memperlihatkan bahu mulusnya dengan jelas, belum lagi kedua bukit dibaliknya yang menyembul separuh.
Benar-benar bikin setiap mata betah menatapnya berlama-lama.
( Kacau nih Zafira)
Gadis itu beralih menatap Julian, pakaian yang dikenakan lelaki itu terkesan casual pake banget.
Mengenakan kaos dan celana jeans sobek-sobek dipadukan dengan out fit cardigan abu-abu.
Jika diperhatikan penampilannya tidak layak disebut CEO, dan siapa yang nyanhka kalo cowok itu lulusan pesantren dah hafal hampir separuh juz al-qur'an.
"Ya Alloh aku kok jadi kepo sama mereka berdua sih?" Solot Zafira dalam hati.
Langkahnya terhenti sampai di depan pintu ruangan Julian. Lelaki itu membuka pintu dengan akses key card automaticnya.
"Duduk dan bersantailah! Aku tidak akan lama." Titah Julian.
Zafira hanya menyimak dan memperhatikan setiap ucapan dan gerak gerik Julian.
Zafira duduk dan memainkan ponselnya di sofa sesuai titah Julian.
Sedangkan Julian sudah sibuk dengan kertas dan pesawat telpon di mejanya.
"Fir, kalo mau minum bilang saja nanti biar dibawakan OB ke sini." Ucap Julian ditengah kesibukannya, bahkan pandangannya masih fokus ke kertas.
"Heemmm.." Jawab Zafira dengan enggan. Kini ia malah rebahan di sofa yang lumayan panjag sehingga cukup untuk menampung tubuhnya.
Tok tok tok.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" Titah Julian sambil memencet sato tombol.
Entah tombol apa Zafira tak tahu. Hanya saja setelah itu ada suara pintu terbuka.
Zafira masih tidak peduli.
"Permisi, Pak!" Sahut sebuah suara milik wanita.
Mau tak mau Zafira ikut melirik ke arah pintu mendengar suara wanita yang masuk. Pia sudah tersenyum dengan manis siap masuk menemui Julian.
"Iya, Pia?" Lirik Julian tanpa mengalihkan fokusnya.
"Ini dokumen dari bagian keuangan dan marketing." Pia berjalan dan bersuara dengan sangat manja, membuat Zafira sampai risih mendengarnya.
Tapi karena masih merasa aman ia abaikan saja. Ia masih pura-pura bermain dengan gawainya.
"Taruh di situ saja." Tunjuk Julian.
"Pak.." Jerit Pia sembari menggebrak meja dengan berkas yang ia bawa.
💗💗💗💗💗
Waahh.. itu Pia kenapa?
Like
Komen
Vote
__ADS_1