
"Thifa," panggil Zafir lirih sepertinya ia tahu kondisi Thifa sedang terancam karena interogasinya.
"Iya, Kak," sahut Thifa tanpa mengangkat kepalanya.
Thifa khawatir ia ceramahi lebih dalam tentang hubungannya dengan Satriya.
"Jangan terlalu percaya dengan Satriya. Terlihat baik di depan belum tentu baik di belakang. Saran Kakak, selidiki dulu kehidupan Satriya," tutur Zafir bijak.
Thifa menghembuskan napas dalam, "Baru juga dibatin udah nyampe di telinga aja," gerutu Thifa dalam hati.
Namun, ia tak punya pilihan selain mendengarkan.
"Kakak ngomong begini, bukan berarti Kakak gak suka hubungan kalian berdua. Tapi, Kakak gak mau terjadi hal buruk sama Thifa," lanjut Zafir.
"Bukan cuma Kakak yang khawatir, ayah dan bunda Thifa juga memiliki kekhawatiran yang sama," jelas Zafir.
Dalam diamnya, Thifa membenarkan nasehat Zafir. Ada banyak poin yang bisa ia ambil di sini.
Berakhir sudah edisi menggerutu dalam hati Thifa.
"Terima kasih, kak," jawab Thifa.
"Oke. Jaga diri baik-baik, ya!" kata Zafir mengingatkan Thifa.
"Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Cita-cita kamu juga harus melebihi bunda," ucap Zafir.
"Cita-cita Thifa cuma pengen jadi ibu rumah tangga, doang Kak," sela Thifa cepat wajahnya terangkat.
"Thifa gak mau kayak bunda yang sibuk di rumah sakit sama pasiennya," celoteh Thifa sambil cemberut mengingat bagaimana kesibukan Mitha.
Seketika ia melupakan kecemasannya diomeli Zafir soal Satriya.
"Justru jadi ibu rumah tangga itu lebih susah dan harus cerdas. Karena sosok ibu itu madrasah pertama bagi anaknya." Senyum Zafir mengembang tatkala Thifa sudah mulai terbawa suasana santai yang ia ciptakan.
"Kalo bunda bekerja, kan uangnya buat Thifa juga," goda Zafir.
"Apa uang dari ayah kurang, ya Kak? Sampai bunda harus bekerja, gitu?" seru Thifa sambil memikirkan bundanya.
Zafir terkekeh mendengarnya.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak," jawab Zafir.
"Kok jawabannya gantung, gitu?" kepo Thifa.
"Lha, mana Kakak tahu? Kan, ayah dan bunda gak pernah cerita ke kakak?" sahut Zafir.
"Iya juga, ya?" kata Thifa membenarkan ucapan Zafir.
"Karena kadang orang bekerja itu bukan sekedar mencari uang, tetapi juga kepuasan batin," ucap Zafir.
"Makan pecel, yuk! Warung depan itu pecelnya enak, loh!" ajak Zafir sambil menunjuk warung Bu Yayuk yang ada di seberang jalan.
Thifa mengangguk, mengiyakan ajakan Zafir. Batin Thifa, "Kapan lagi makan gratis sama Kak Zafir. Dia mah, orangnya pelit. Kalo ngeluarin duit pasti perhitungan dulu di awal." celoteh Thifa di dalam hati.
Thifa mana berani mengomeli Zafir secara langsung, ia lebih suka menahan diri. menggumam dalam hati. Padahal itu gak baik loh, Thifa.
By the way.
__ADS_1
Ralat Thifa, Zafir bukan pelit. Dia mah, hemat. Anak kuliahan yang belum bekerja mana punya banyak duit.
Ya, meskipun anak Sultan, Zafir sedikit berbeda dengan kedua saudara kembarnya.
Zafran, di usianya yang masih belia sudah mendapat beban perusahaan dari Papi Carlos. Auto duit bisa ia kantongi.
Namun, sejalan dengan tanggung jawab beratnya kepada Renata.
Sedangkan Zafira, meskipun baru menikah dengan pria kaya pujaan hatinya si Uncle Iyan. Tetap saja ia memiliki banyak tabungan dari hasil mengajar di pesantren.
Nah, Zafir, ia masih sering mengandalkan uang jajan dari Desta. Meskipun ia juga ada kegiatan membantu Umma di pesantren tetap saja hasilnya tidak sebanding dengan yang dimiliki Zafran dan Zafira.
Tabungan sengaja disimpan untuk kebutuhan mendadaknya kelak atau untuk modal usaha.
Sampai motor saja masih pakai punya Zafran lalu mobil juga punya Buya. Meskipun terlihat kuno, tetapi Zafir menyukainya.
Apalagi mesinnya bandel. Buya masih rajin membawanya ke bengkel untuk service rutin.
Jadi, jangan bilang Zafir pelit lagi, ya Thifa.
"Nanti malam Satriya ngapel?" tanya Zafir saat perjalanan pulang.
"Enggak sepertinya, Kak. Katanya sibuk bayak urusan di rumah," jawab Thifa.
"Ooh, begitu," kata Zafir datar.
Entah apa yang ada di otaknya saat ini.
***
"Duh, rumah ini ternyata jadi base campnya para jomlo sejati," seru Aqeela begitu masuk rumah dan mendapati Zafir, Devan dan Malik sedang berkumpul.
Gegas Malik menyalami ibu dan ayah Zafir yang baru datang.
"Assalamualaikum, Umma, Buya," salam Malik
"Waalaikumsalam," balas Aqeela dan Desta.
"Malam, Umma, Buya," salam Devan menyalami Aqeela dan Desta seperti Malik.
"Malem, Van," balas Aqeela dan Desta.
"Kalian masih betah ngejomlo, aja," ledek Aqeela yang hanya disenyumi Malik dan Devan.
"Salam dari Mama, Umma," sahut Aqeela.
"Alhamdulillah," jawan Malik.
"Mama tadi ingin ikut, tapi aku larang. Kata Zafir Umma ke gak di rumah," kata Malik.
"Ya, sayang banget. Salam balik ya ke mama kamu. Kalo Umma udah gak repot main ke rumah kalian," jawab Aqeela kecewa.
"Ditunggu, ya Umma," seru Malik.
"Insya Allah, udah sana ghibah berjamah lagi sono!" kata Aqeela sembari menarik tangan Desta mengajaknya ke atas.
"Fir," panggil Devan kembali ke posisinya semula.
__ADS_1
"Apa?" sahut Zafir.
"Emak, Bapak elo gaul banget, sih? Coba itu emak bapak gue?" celoteh Devan.
"Terima aja nasib elo," ledek Zafir sambil cekikikan diiringi Malik.
"Kalian itu bukannya prihatin malah ngetawain," gerutu Devan.
"Udah kak, terima aja! Toh, Kakak gak pernah kekurangan apapun. itu juga patut disyukuri karena gak semua anak seberuntung Kakak. nih, contohnya!" Tunjuk Zafir kepada Malik.
"Apaan sih?" Malik mengalihkan tangan Zafir.
"Masih lebih beruntung aku. Coba Kakak tengok si Hadi dan kawan-kawan. Bagaimana kehidupan dan nasib mereka?" jawab Malik mengingatkan tentang Hadi yang pernah menjadi anak jalanan.
"Tuh, kan Kak. Kalo Ustadz udah dawuh, dengerin," olok Zafir membenarkan ucapan Malik.
Malik terkekeh mendengar olokan Zafir.
"Elo kalo ngomong jangan pake bahasa anak pondokan enggak ngerti aku," sahut Malik sok polos.
"Gak ngurus," balas Zafir dengan logat khas Suroboyoan.
"Jadi keluar gak, nih?" seru Zafir sambil melirik arloji di tangan kirinya.
"Jadi, dong. Ke tempat biasa?" tanya Malik.
"Carilah lokasi lain, bosen gue?" ucap Devan.
"Mo ke tempat Alif?" goda Zafir memancing kedua sahabatnya.
"Elo yakin mau ke sana?" Tatap Devan tidak percaya.
"Aku mah, hayuk aja! Tinggal cus. Bayar, masuk dah. Enggak dimananya?" balas Zafir.
"Di sana banyak cewek seksi, kan? Sapa tadi yang nyari cewek seksi? Di sana tuh, tempatnya. Bebas pula kalian mo ngapain?" kompor Zafir.
"Itu kamu kali yang pengen?" ledek Malik.
"Gak usah sok mengalihkan perhatian," lanjut Malik.
"Hahaaaa," tawa Devan pecah mendengar Malik dan Zafir berdebat.
"Gue mau ke sana dengan catatan elo minum apapun yang gue minum? Gimana?" tantang Devan.
"Minum apaan? Paling juga air putih?" ledek Zafir.
"Aku gak yakin, kakak mau minuman beralkohol. Emang besok gak ke pure apa?" ucap Zafir mengingatkan Devan tentang rutinitas ibadah minggunya ke pure.
"Ya, ketauan, deh." Devan nyengir menatap Zafir.
"Kita ke cafe yang viral itu aja, gimana? Kepo ama view-nya. Sapa tau dapt gebetan bisa aku ajak ke sana?" saran Devan yang diangguki Malik dan Zafir. Namun, dengan beragam ledekan yang terus mereka lancarkan selama perjalanan.
****
Bersambung, gaess ...
Dawuh itu dari bahasa Jawa artinya ucapan.
__ADS_1
Ucapan yang disampaikan dari orang yang lebih mulia derajatnya dalam segi agama, misalkan Ustad, Kyai dan Ulama.