TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Masih Ingat


__ADS_3

"Siapa dia, Fir?" tanya Malik menatap Zafir yang sibuk mengemudi.


"Pacarnya Thifa," jawab Zafir datar.


"Terus?" sahut Devan.


"Aku penasaran saja. Sudah beberapa kali kupergoki jalan sama cewek lain," jawab Zafir.


"Aku sendiri juga kepo Ama cafe yang tadi," sambung Malik.


"Bener aku ngerasa ada yang gak beres," kata Devan.


Zafir terdiam mendengar perdebatan kedua temannya. Ia fokus mengemudi karena jalanan semakin macet


"Kok tumben, ya?" ucap Devan sembari menengok kanan kiri mencoba mencari tahu apa yang terjadi.


Obrolan mereka tentang Satriya dan cafe seketika beralih ke jalanan.


"Coba nyalakan SS," titah Devan.


Tangan Malik dengan lincah menyalakan saluran radio SS, yang terkenal dengan berita seputar jalanan baik dari Surabaya dan sekitarnya.


Suara penyiar terdengar dengan lancar mengucapkan salam pada seorang penelpon.


Si penelpon menginfokan adanya kecelakaan di jalan yang sedang mereka lewati. Bahkan si penelpon juga menginfokan kemacetan yang terjadi sangat panjang, walaupun sudah ada tim medis dan pihak kepolisian datang. Namun, tetap saja kemacetan sisa-sisa kecelakaan belum bisa terurai.


"Pantesan, truknya terguling kayak gitu!" Tunjuk Zafir saat mereka melintas area kecelakaan.


Terlihat masih ada sebuah truk besar terguling sedang dievakuasi dengan alat berat.


Sedangkan di depan truk tampak sebuah avanza dan tiga sepeda motor tergeletak begitu saja.


Pecahan kaca dan police line menjadikan lalu lintas padat merayap.


Kondisinya sama persis seperti yang diceritakan si penelpon melalui SS.


"Wih, ngeri," gumam Malik.


"Makanya tobat, mumpung belum kayak gitu!" Tunjuk Zafir pada sesosok tubuh yang dimasukkan ke dalam kantong orange.


"Sumpah loe, ya!" omel Malik menyenggol bahu sahabatnya sembari bergidik ngeri.


"Jadi inget mati," sahut Devan.


Zafir juga tampak menghembuskan napas besar melihat sisa-sisa kecelakaan yang menyeramkan.


"Kita pulang aja, ya!" ajak Zafir yang mulai lemas menyaksikan bekas kecelakaan tersebut.


"Fir, kamu gak pa-pa, kan?" tanya Devan khawatir. ia seakan merasakan ada yang berubah dalam posisi mengemudi Zafir.


"Elo minggir, deh! Biar gue gantiin!" titah Devan.


Tanpa banyak bicara, pemuda itu segera menepi di lokasi yang ia rasa aman.


"Temenin Zafir!" bisik Devan pada Malik.


Begitu Zafir masuk di jok belakang, Malik segera menyusul.

__ADS_1


Benar saja, tubuh Zafir tampak lemas dan limbung di jok belakang.


Kecelakaan tersebut mengingatkannya pada kondisi Fely saat mengalami kekerasan oleh orang tuanya.


Zafir memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan tangan kanannya. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Malik yang ada di sampingnya hanya bisa memantau tanpa berani mengeluarkan kata apapun.


***


"Fir," panggil Malik selesai mata kuliah berakhir. Hari ini ia sengaja menunggu Zafir di depan kelas karena ada yang ingin ia sampaikan.


"Tumben? Ada apa?" tanya Zafir berdiri di sebelah Malik.


"Aku duluan, ya Fir!" pamit teman sekelas Zafir.


"Bah, aku duluan ya!" pamit Fara tanpa adat santun sama sekali.


"Jangan genit-genit, ntar elo kecantol terus digantung dia nyahok Lo," seru Helen teman dekat Fara.


Fara terkekeh mendengar ucapan temannya sedangkan Zafir hanya tersenyum kecil tanpa ada perasaan tersinggung.


"Kita langsung cabut!" ajak Malik tidak sabar.


"Ada apa sih?" tanya Zafir penasaran.


"Udah kamu ngikut aja!" kata Malik seakan tidak mau dibantah. Kali ini kekuasaa. benar-bebar ditangannya.


Zafir pun dengan pasrah mengikuti langkah Malik ke parkiran, padahal biasanya ia salat Zuhur dulu baru pulang atau makan di kantin.


Hari ini Zafir berangkat dengan mobil Malik. Tentunya dengan dijemput setengah memaksa. Ia pun pasrah saat Malik memintanya masuk.


Dalam perjalanan, Zafir hanya terdiam enggak berbicara apapun. Malik pun seolah tidak mempermasalahkan sahabatnya yang sedang puasa bicara.


Ternyata Malik membawa mereka ke sebuah bangunan yang hanya terlihat sangat tua. Namun, masih terlihat asri.


Tampak di halaman depan berbagai jenis pohon rindang menghiasi, menambah kesan teduh.


Zafir hanya bertanya dalam hati tentang pemilik rumah kuno tersebut karena untuk bertanya langsung pada Malik ia masih enggan.


"Keluarlah. Ada yang menunggu kita di dalam," ucap Malik.


Zafir pun keluar, menuruti semua kemauan Malik.


"Siapa yang menungguku di tempat seperti ini? gumam Zafir dalam hati.


Tanpa banyak memperhatikan sekeliling, Zafir masuk ke dalam rumah tersebut.


Malik yang ada di depan Zafir membuka pintu.


"Surprise," teriak beberapa orang yang ada di dalam.


"Kalian!" pekik Zafir kesal.


Zafir menatap Darren, Wanda, Devan dan gengnya juga ada Hadi duduk melingkari meja kayu berukuran raksasa. Ukuran yang baru Zafir lihat hari ini.


"Duduklah!" kata Devan dengan nada perintah.

__ADS_1


Zafir dengan dengan menghembuskan napas panjang, menandakan ia kesal dengan sahabat-sahabatnya.


"Rumah siapa ini?" tanya Zafir setelah tenang.


"Rumah gue," jawab Devan dengan tenang.


"Bukannya rumah kakak di komplek elite?" tanya balik Zafir menatap Devan keheranan.


"Ini rumah masa kecil gue. Kalau tidak percaya, tengok di sebelah kanan pagar kamu pasti menemukan pure kecil untuk kami berdoa," jawab Devan memperjelas kepemilikan rumah tersebut.


Zafir terdiam menikmati kesalahannya. Ia merasa kurang teliti saat masuk ke rumah kuno ini. Ia bahkan tidak melihat pure yang disebutkan Devan.


Zafir beralih ke Devan mengangguk pelan, menandakan ia mengerti, hanya sampai di situ. Selebihnya ia akan cari tahu sendiri.


"Apa mau kalian sampai memaksaku seperti ini?" tanya Zafir ke intinya.


Ia seakan yakin, penculikan tanpa paksa padanya hari ini adalah hasil persekongkolan mereka. Sahabat-sahabat yang ia miliki sejak balita.


"Hmmmm," Daren tampak ragu mengatakannya.


"Katakan saja!" titah Zafir tidak sabar karena di dalam otaknya sudah tersusun banyak rencana untuk hari ini. Namun, harus ia gagalkan karena Malik yang menjemputnya di rumah, memaksanya semobil.


"Kita berangkat ke Bali nanti sore!" kata Darren menatap Zafir.


"Aiisj," pekik Zafir kaget.


"Kalian, ngajak ke Bali terus dengan kondisi aku yang kayak gini?" teriak Zafir menolak.


"Enggak-enggak, Umma gak bakal ngizinin," bantah Zafir.


"Kata siapa? Besok weekend. Kita tahu, kok. Elo gak ada acara apapun di pesantren kalo weekend," sahut Malik.


"Nih, koper berisi semua baju dan keperluan elo!" kata Darren menyeret sebuah koper besar warna navy.


"Kok bisa, ada di tangan kamu?" tanya Zafir keheranan, kali ini ia benar-benar seperti orang bego yang tidak tahu apa-apa.


"Nurut kamu apa?" tanya balik Darren.


"Wah," pekik Zafir kesal.


Zafir sadar jika kopernya sudah di tangan mereka bisa dipastikan kedua orang tuanya tahu.


"Keterlaluan, ternyata mereka bersekongkol. Apa rencana mereka?" gumam Zafir dalam hati.


"Mending elo ibadah dulu! Abis itu akan siang sebelum cus ke Juanda. Pesawat kita jam 3 sore," kata Devan menunjukkan kamar mandi dan ruangan yang bisa digunakan Zafir salat.


"Kalian terlalu," ucap Zafir menuju kamar mandi.


❤️❤️❤️❤️


Next again.


Maaf, ya beberapa hari ini lagi dikebut sama sebelah.


Mampir deh di *** ****. Masih dengan nama aku.


Love buat kalian.

__ADS_1


__ADS_2