
Thifa..." panggil Zafir menatap sendu ke gadis itu.
"Apa Thifa selama ini dekat dengan cowok?" tanya Zafir hati-hati.
Thifa terdiam menatap Zafir gemetar. Ada gurat ketakutan di matanya.
Berkali-kali gadis itu mengalihkan pandangannya.
"Thifa, bilang aja ke Kakak," ucap Zafir lembut.
"Thifa gak perlu takut. Kalo Thifa ada kesulitan sampaikan ke Kakak. Insya Allah nanti Kakak bantu," sambung pemuda dihadapan Thifa dengan serius.
Thifa memberanikan diri menatap Zafir. Lelaki yang menurut Thifa lebih cocok menjadi kakaknya daripada pasangannya.
"Kak, apa kakak tidak marah kalo Thifa jujur?" ucap gadis itu masih takut-takut.
Zafir menggeleng lirih.
"Memang Thifa pernah lihat Kakak marah?"
"Enggak." Thifa menggeleng.
"Kalo gitu ceritakan ada apa?" ucap Zafir.
"Hmmm... iya Kak, Thifa lagi deket sama cowok. Kakak kelas Thifa. Dia kelas dua belas."
"Kenalin sama Kakak!" titah Zafir.
Thifa mendongak menatap Zafir tidak percaya.
"Kakak becanda kan?" tanya Thifa.
"Serius. Ajak dia ketemu Kakak! Kalo memang dia serius sama Thifa, minimal dia bisa bikin Kakak percaya. Tapi jangan salahin kakak kalo menolak jika dia tidak baik buat Thifa," ucap Zafir tegas.
seketika wajah Thifa sedikit berbinar.
Seolah ada kekuatan yang ia peroleh dari Zafir.
"Tapi, kakak beneran gak pa-pa? Kan waktu itu...." Thifa terdiam.
"Waktu itu kenapa?" Jantung Zagir dag dig dug gak karuan mendengar ucapan Thifa yang menggantung.
"Kak Zafir bukannya di suruh ayah dan bunda buat nikahin aku ya?"
Deg.
Gelegar petir seolah terdengar di telinganya dengan jelas.
"Nih anak pinter banget sih bikin jantungku keluar dari tempatnya. Dramanya sukses. Seolah tidak tahu apa-apa nyatanya dia udah tahu," batin Zafir.
"Kamu udah tahu?"
Thifa mengangguk.
"Makanya, Thifa gak mau datang ke rumah Buni, pas meninggal. Thifa takut ketemu Kak Zafir," ucap Thifa lirih sambil tertunduk.
Zafir mengacak rambutnya yang tidak gatal.
"Aissh.. nih anak beneran kok!"
"Memang Thifa mau nikah sama Kakak?" tanya Zafir lirih.
"Maaf ya Kak. Thifa gak mau,"
"Kenapa?"
"Karena Thifa gak cinta sama Kak Zafir. Thifa menganggap hubungan kita seperti kakak adik saja."
Zafir tersenyum mendengarnya.
Dadanya kembali plong dan lega. Walaupun sempat sedikit terkoyak.
"Tapi Thifa juga takut,"
"Takut kenapa lagi?"
"ituu.. , takut bunda sama ayah marah kalo Thifa gak mau menikah sama kakak,"
__ADS_1
Zafir memegang pelipisnya yang mendadak pusing.
"Enggak akan. Kakak pastiin om Doni dan Tante Mitha gak akan marah," janji Zafir.
"Beneran Kak?" sorah Thifa kegirangan.
"Iya kakak janji, asal ketemuin dulu kakak sama cowok nyebelin itu!" tukas Zafir.
"Kok nyebelin?"
"Iya nyebelin. Karena udah berani ngambil Thifa dari Kakak," jawab Zafir dengan pura-pura cemberut.
"Ternyata Kakak lucu deh, kalo marah." Kelakar Thifa.
Zafir menanggapi ucapan Thifa dengan tersenyum datar.
"Makan dulu, gih!" titah Zafir karena Thifa masih mendiamkan pesanannya yang tersaji di meja.
Gadis itu menuruti permintaan Zafir, menikmati makanan yang ia pesan.
"Kak..." panggil Thifa setelah menyelesaikan makannya.
"Kenapa?" Zafir yang asyik berselancar di dunia maya, seketika meletakkan gawainya.
Pemuda itu fokus kepada Thifa.
"Kak... aku sebenarnya...."
"Kenapa lagi, Thifa?" Zafir semakin tidak sabar mendengar ucapan Thifa yang terhenti beberapa detik tanpa melanjutkan.
"Itu Kak... Thifa sebetulnya takut... kalo..."
"Takut apa?" Zafir semakin menatap serius ke arah Thifa.
"Tapi Kakak janji yaa..., gak marah sama Thifa. Gak benci Thifa. Dan gak ngolok-olok Thifa," cetus Thifa sembari mengangkat kelingkingnya.
"Apaan ini?" Zafir benar-benar kudet.
(Author sebel nih ama Zafir)
"Gini loo Kakak!" Thifa mengangkat tangan kanan Zafir ke atas meja dengan paksa.
Kemudian Thifa menautkan kelingkingnya dengan kelingking Zafir.
"Janji!" ucap Thifa.
"Bales kakak!" titah Thifa dengan suara manja tapi sebel karena Zafir mendiamkan aksinya.
"Ayolah Kak bales! Udah pegel nih jari Thifa!" ulang Thifa karena Zafir masih terdiam.
"Lha Kakak bales gimana?" tanya Zafir yang sontak membuat Thifa semakin sebal.
"Ya bales, janji atau ngomong apa gitu kek!" omel Thifa tanpa melepas tautannya.
"Kak Zafir nyebelin. Gak romantis. Untung aku gak cinta dia. Kalo cinta pasti aku sakit hati terus," gerutu Thifa dalam hati.
"Iya.. iya.. Kakak janji. Kakak akan selalu dalam mode baik hati," jawab Zafir akhirnya.
Thifa segera melepas tautannya dengan lega.
"Nah sekarang ceritain lagi apa yang bikin kamu cemas!" tifah Zafir dengan lembut, khawatir gadis di hadapannya ngambek.
Susah deh urusannya. Dan bakal panjang ntar. Dan Zafir paling males disuruh ribet. Kalau sampai Thifa ngambek.
"Selain itu Thifa juga khawatir, kalo nanti ternyata Kakak hanya jadiin Thifa sebagai alat balas dendam,"
"Maksud kamu?" pekik Zafir lantang, saking kagetnya.
Pemuda itu benar-benar terkejut dengan ucapan Thifa. Dia benar-benar tidak paham dengan kata balas dendam.
Memangnya ada masalah apa? Zafir jadi ikut mikir.
"Kak, aku baru tahu ternyata orang tua kita dullu musuhan." Thifa menarik napas panjang.
Sedangkan Zafir hanya bisa melongo mendengarnya. Karena Umma dan Buya tidak bercerita tentang masa lalunya.
"Buya dan Ayah dulu anggota genk terus mereka sering tawuran. Dendam-dendaman gitu." Zafir masih menatap Thifa dalam diam.
__ADS_1
"Terus puncaknya Umma di culik sama Bundaku. Hik... hik... hik..." Tangis lirih Thifa terdengar oleh Zafir.
Membuat perasaan pemuda itu mendadak terbawa suasana.
"Thifa... udah ah. Itu kan masa lalu mereka. Toh, sekarang mereka udah baikan." Zafir menenangkan Thifa.
Pemuda itu berinisiatif duduk di samping Thifa.
"Mau kakak peluk?" Zafir merentangkan kedua tangannya lebar.
Untung tidak menganggu pengunjung lain.
Tanpa komando dua kali, gadis itu langsung nyungsep di dada Zafir.
Zafir mengelus rambut Thifa dengan lembut.
Beberapa pengunjung sempat terlihat menatap keduanya dengan wajah aneh, namun hanya sebentar setelahnya mereka sudah kembali ke posisinya semula.
Tak mau ambil pusing dengan aksi keduanya.
"Thifa. Apa Thifa pernah dengar cerita. bagaimana ayah Thifa menyelamatkan Umma?" tanya Zafir dengan lirih.
Thifa menggeleng.
"Berarti Thifa hanya denger ceritanya cuma separuh saja," ucap Zafir.
"Thifa coba dengerin, Kakak. Masa lalu Umma, Buya, Om Doni dan Tante Mitha biar jadi kenangan mereka."
"Sekarang mereka udah jadi orang tua kita, maafin mereka yang dulu."
"Dan itu gak akan merubah apapun. Thifa yeyap adeknya Kakak. Sama kayak Al, Ayra daan Ara."
Thifa menghentikan tangisnya.
"Kak, apa kakak gak dendam sama Ayah dan Bunda? Karena udah nyakitin Umma dan Buya?" heran Thifa menatap Zafir gemetar.
"Enggak. Karena Kakak tidak tahu. Dan mereka sudah baikan. Kakak yakin Umma dan Buya juga sudah maafin ayah dan Bunda Thifa."
"Apa Thifa tahu kalau dulu Ayah Thifa sekolah di SMA yang sama dengan Umma?"
Thifa menggeleng lagi.
"Padahal kan usia Ayah kamu dan Buya sepantaran. Apa coba ini artinya?" tanya Zafir.
Thifa menggeleng, sepertinya gadis itu mulai bingung.
"Itu artinya, ayah Thifa jagain Umma." senyum Zafir menghipnotis Thifa.
Zafir melepas pelukannya, pemuda itu menyeka air mata Thifa.
"Sebentar, kakak haus." Zafir meneguk air mineral yang ada di meja.
Zafir kemudian menceritakan kisah Umma dan Buya dengan Om Doni dan Tante Mitha agar Thifa tidak salah paham.
Pemuda itu bercerita dengan cara menyusun kepingan puzle diawali dari milik Thifa hingga yang ia alami bersama Umma beberapa tahun lalu saat di mall.
Di saat Umma masih hamil dedek Al. Waktu Umma menyerang Om Wisnu.
🌹🌹🌹
Bentar lagi Umma dan Buya happy anniversary nih.
Aku mau bikin give away buat kalian.
Caranya :
Share dan bikin testimoni cerita Triple Z atau Mendadak Ustadzah di sosmed kalian. Boleh di wall pribadi atau di grup Fb. Lalu tag aku ya....
fb : ursula maria
ig : @maria_suzan
aku ambil 3 orang untuk dapat pulsa masing-masing Rp 25.000
jangan lupa, kirim screen shootnya ke massanger atau DM aku kalo udah kirim.
waktu share mulai hari ini sampai tanggal 15 maret.
__ADS_1
Aku ambil yang paling sering posting.
yuuk ikutan.. ..