TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Keinginan Devan


__ADS_3

Istirahat pertama, Zafira memilih ke perpustakaan. Karena ada tugas dari Bu Ririn, guru sejarahnya.


Coba gak ada tugas males banget ke perpus. Selain meminjam untuk dirinya. Auto ia juga meminjamkan Zafran dan Zafir.


Kedua saudara kembarnya itu dengan enak dan entengnya mengatakann, "Fira sayang, kita berdua titip yaa. Buku apa aja deh yang menurut Fira bagus."


Sebagai saudara, Zafira mengiyakan saja permintaan keduanya. Walaupun sebel juga karena pasti si Zafran itu menemui Renata. Dan zafir, entahlah? mungkin main bola.


Zafir sekarang mulai diajak club bola sekolahnya gabung. Mereka menyadari potensi apik Zafir di dalam persepakbolaan.


Saat sedang asyik memilih buku.


"Fira..!" Sebuah suara memanggilnya.


"Kak Devan?" sahutnya kaget.


"Lagi apa?" tanya Devan.


"Beli paku dan palu," goda Zafira.


"Yang namanya ke perpus itu ya pinjam bukulah, Kak!" jawab ulang Zafira menyadari Devan bingung.


Devan terkekeh sejenak.


"Ikut aku yuk! sebentar saja. Kita duduk di sana!" Ajak Devan mengajak Zafira duduk di kursi.


Zafira mengekori langkah Devan dan duduk di sebelah cowok itu.


"Ada apa?" tanya Zafira dengan was was dan deg deg an.


Devan terlihat menarik napas panjang, seolah mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan uneg-unegnya.


"Kak..!" panggil Zafira.


"Kakak gugup banget?" Zafira udah merasa tidak enak banget.


"Fira..." panggil ulang Devan.


"Hmmm..." Zafira hanya menatap datar kakak kelasnya itu.


"Fira, seumpama Kakak ikut agama Fira. Apa Fira bersedia jadi istrinya Kak Devan?" suara Devan terdengar parau dan gugup.


Tangannya berkeringat dingin, peluh menetes dari dahi Devan padahal kondisi perpus sangat dingin dengan ruangan berACnya.


Zafira terlihat mengerutkan dahinya mendengar permintaan Devan. Bahkan lebih tepatnya sebuah lamaran.


Hatinya yang merasa sakit itu rasanya ingin meledak mendengar pernyataan Devan. Bahkan mulutnya ingin sekali tertawa sampai puas meledek kakak kelasnya itu.


Tapi semuanya ia tahan, karena ada kesungguhan di mata jernih Devan. Lelaki yang pernah terjebak oleh berbagai alat bantu sex demi melampiaskan kekesalannya dan beralih mencapai kepuasannya melalui jalan yang salah.


"Kak..." Zafira mulai bersuara lirih dan lembut. Tak tega rasanya gadis itu menyakiti Devan.


Apalagi setelah tahu penyebab di balik kerusakan moral dan aqidahnya. Tapi Zafira juga berhak menjaga komitmen hatinya.

__ADS_1


Ia juga berhak memutuskan sesuai hatinya bukan sesuai keadaan yang ada.


"Kak... , Zafira minta maaf banget. Bukannya Zafira sombong atau sok apalah. Tapi bagi Zafira dan keluarga. Tidak patut rasanya membuat seseorang mengikuti iman kita karena manusia," tutur Zafira.


"Umma selalu berpesan kepada kita, anak-anaknya bahwa meskipun kita berbeda iman tapi kita harus tetap bertoleransi kepada mereka," Zafira menjeda kalimatnya menatap ke arah Devan, gadis itu berusaha menelisik ketegaran cowok di hadapannya itu.


"Kak Devan, Zafira sangat menentang keinginan Kak Devan. Pantang bagi kami membawa Kak Devan mengikuti agama kami karena Zafira. Karena jika Zafira ketahuan jeleknya bisa jadi Kakak juga akan membenci agama Fira. Itu akan lebih membuat Zafira berdosa," Zafira menjelaskan dengan gamblang.


"Kalo Kakak masuk islam bukan karena Zafira bagaimana?" Devan masih belum puas dengan jawaban Zafira.


"Silahkan, tapi Kakak jangan mengharap Zafira menjadi istri Kakak. Karena hidup, mati, jodoh dan rizki itu adalah rahasia Allah," tutup Zafira.


"Kakak kuatkan iman kakak, Insya Allah nanti Sang Hyang Widi mempertemukan jodoh kakak. Tapi jika Kakak ingin sharing tentang islam, Zafira siap menjadi tempat bertanya," jelas Zafira dengan senyumnya yang mengembang.


"Ada yang mau Kakak tanyakan lagi?" tanya Zafira.


"Fira, apakah setelah ini kita masih bisa berteman?" nyali Devan menciut setalah mendengar penjelasan Zafira.


"Kita masih bisa berteman kok Kak." jawab Zafira lembut.


"Zafira balik ke kelas dulu ya?" pamit Zafira.


"Kita keluar bareng!" ajak Devan.


"Okaylah, tapi Fira mau minjam ini dulu!" Zafira menuju ke meja peminjaman untuk di catat bukunya.


Devan dan Zafira keluar dari perpus dengan langkah santai tapi dengan perasaan yang berbeda.


Lebih baik mengungkapkan isi hatinya meski hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan daripada dipendam sendiri malah bikin sakit dan sesak.


Meski begitu Devan membutuhkan waktu untuk bisa menjaga sikapnya dihadapan Zafira. Sedikit banyak ia membenarkan semua ucapan Zafira.


Perbedaan iman keduanya memang bisa jadi penghalang, namun memaksa mengikuti iman orang lain juga tidak baik. Apalagi hanya demi seorang wanita.


Devan menghembuskan napas berat, Zafira sampai bisa mendengarkannya.


"Kak Devan yang masih memikirkan yang tadi?" tanya Zafira menghentikan langkahnya.


"Sedikit," jawab Devan jujur.


"Kak, next time mainlah ke rumah Zafira pas sore," ajak Zafira.


"Ngapain?" mata Devan berbinar seketika.


"Nanti Zafira tunjukkan, bagaimana kehidupan Zafira dan keluarga? Insya Allah nanti kakak akan mengerti semuanya!" Zafira melanjutkan langkahnya menuju kelas.


Dari jauh terlihat Malik dan Alif sedang menatao ke arah mereka berdua dengab wajah tidak menyenangkan.


"Kak Dev, kayaknya mereka berdua marah ke Kakak deh. Karena pergi berdua sama Zafira doang?" lirih Zafira merasa ngeri dengan wajah sangar kedua temannya itu.


"Baguuss... kita cari keliling tidak ketemu. Ternyata sama Devan jelek ini?" omel.Malik.


"Kamu kenapa sih?" ucap Zafira menyuruh Devan segera masuk ke kelasnya.

__ADS_1


Alif yang menyadari segera menarik tangan Devan supaya stay di tempat mereka berdiri.


"Darimana?" ulang Malik.


"Perpus. Kenapa sih?" Zafira menatap penuh selidik kepada Malik dan Alif.


"Kok sama Devan jelek ini?" Alif menatap tajam ke arah Devan.


Zafira menarik napas pelan, sebelum menghadapi kedua sahabatnya. Gadis itu sedang mencari kalimat yang pas untuk menjelaskan semuanya tanpa merusak privasy Devan.


"Kita ketemu gak sengaja. Kak Devan mencari literasi untuk tugas Bahasa Indonesia. Aku mencari buku untuk tugas sejarah," jawab Zafira tegas.


"Niih kalo gak percaya!" Zafira menyerahkan tuga buku yang dibawanya.


"Terus kok Kak Devan gak bawa apa-apa?" Alif masih menatap curiga ke arah Devan.


"Aku tidak menemukan buku yang pas," alibi Devan.


Devan menatap Zafira penuh terima kasih karena menyelamatkannya dari amukan Alif dan Malik.


"Fira, lain kali perginya sama aku!" ucap Malik posesif.


"Nah kamu siapa aku?" tanya Zafira polos.


"Enggak.. harus sama aku!" Alif tidak mau lagi.


"Lha kamu juga? kenapa harus sama kamu?" Zafira sengaja berlagak polos.


Devan yang ada di sebelah Zafira tak bisa menahan tawanya. Auto ledakan dan ledekan seketika ia lontarkan pada mereka berdua.


"Syukurin eloo..!" oloknya.


"Kalian gak ada jelas, mending Zafira balik ke kelas. Daripada ngobrol dengan kalian pusing!" Zafira meninggalkan ketiganya dengan santai tanpa ada beban di hati.


"Elo sih, Lif!"


"Bukannya elo yang duluin!"


"Kalian berdua silahkan adu jotos di lapangan, gue mau balik ke kelas! papay..!" Devan meninggalkan keduanya dengan ledakan kerasnya.


"Emang enak di tolak Zafira?" gumamnya dalam hati.


💗💗💗💗


Udah ah, part pasca Zafira gagal menikahnya.


Yang pasti Zafira terus melangkah ke depan, menghadapi kenyataan yang masih misteri.


Tapi buat yang kepo bagaimana kelanjutan Zafira buka di KBM yaa..



__ADS_1


__ADS_2