
Sebenarnya malam ini Zafir ingin menyegarkan otaknya setelah menangkap basah Thifa dan teman cowoknya.
Menenangkan hatinya yang gundah gulana. Dan kebetulan ada Fely yang hendak ia antar pulang.
Dengan niatan mengantar Fely, Zafir keluar rumah.
Ternyata kos-an Fely sudah tutup gerbangnya. Entah setan jahil apa yang mengusiknya sampai membelokkan mobilnya ke sebuah hotel bintang empat.
Awalnya sih hanya sekedar iseng, untuk menjahili temannya itu. Tapi melihat gurat ketakutan dari Fely, Zafir membawanya berkelliling Surabaya tanpa tujuan yang jelas.
Sampai Umma menelpon dan memintanya membawa Fely balik ke rumah.
Sebenarnya Zafir masih enggan pulang. Karena bisa dipastikan besok pagi pasti akan ada klarifikasi.
Zafir udah malas saja. Bahkan ia mengemudi dengan asal-asalan.
"Fir! gue masih ingin hidup, belum ngerasain nikmatnya surga dunia. Belum kawin pula!" jerit Fely karena kendaraan Zafir yang kadang melambat kadang cepat.
Namun Zafir seakan tidak peduli, ucapan Fely benar-benar diacuhkan. Membuat gadis itu sedikit kesal.
Zafir malah menghentikan kendaraannya di tepi sebuah taman yang masih ramai pengunjung.
"Elo jangan kemana-mana di sini aja! Gue pengen nenangin diri!" ucap Zafir menyamankan tubuhnya bersandar di jok mobilnya sambil memjamkan matanya.
Fely menatap temannya itu dengan tatapan keheranan.
"Jadi, elo lagi galau!" pungkas Fely dalam hati.
Tanpa sadar gadis itu mengikuti cara Zafir menyandar, dan ikut terpejam di samping temannya.
Walaupun tadi ia sudah merasa segar saat terbangun di rumah Zafir. Namun sekarang rasa kantuk menyerangnya kembali. Mungkin tertular virusnya Zafir.
💗💗💗
Entah sudah berapa menit keduanya terpejam, sampai dering gawai milik Zafir membangunkan keduanya.
"Kalian dimana?" cerca suara wanita di seberang.
"Di taman, Umma."
"Astaghfirulloh, segera pulang!"
"Sebentar lagi yaa Umma. Zafir masih ngantuk berat," jawab Zafir memejamkan matanya kembali.
Dengkuran halus terdengar lirih di telinga Fely, yang sengaja tidak membuka mata.
💗💗💗
Suara berisik dari luar membangunkan Fely yang masih ingin memejamkan mata. Apalagi sekarang hari Minggu, malas rasanya bangun pagi-pagi.
Tiba-tiba ia merasa kasur yang ia tiduri menjadi lebih empuk. Bantal, guling dan selimut lalu hawa dingin yang menyejukkan.
Fely membuka matanya, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Bukan kamarnya.
Pakaian yang ia kenakan juga bukan miliknya.
Fely bangkit dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
"Semalam aku benar-benar ketiduran di dalam mobil Zafir. Terus...." Fely berusaha mengingat apa yang terjadi semalam setelah ia mendengar percakapan Zafir dan ibunya.
"Tubuhku tiba-tiba udah diguncang Zafir menyuruhku masuk dan ganti baju," ingatan Fely mulai kembali.
"Berarti aku sekarang ada di rumah Zafir." Gadis itu langsung berjingkat ke pintu, penasaran dengan suara gaduh di luar padahal masih pukul empat pagi.
"Lhoo Zafira?" panggil Fely.
__ADS_1
"Hei sudah bangun?" tanya balik Zafira.
"Pasti karena mendengar suara gaduh kita ya?" lanjut Zafira seakan sadar diri.
Fely hanya tersenyum kecil menatap saudara kembar temannya itu.
"Pada mau kemana?" tanya Fely yang juga melirik sekilas ke arah Zafran dan Renata, pasangan yang membuatnya segan.
Zafran yang ia tahu sebagai saudara kembar Zafir terlihat lebih friendly. Sedangkan Renata, yang ia tahu sebagai istri Zafran hanya tersenyum sekilas ke arahnya. Karena merrka belum seberapa akrab.
"Mereka mau kemana, Fir?" Ulang Fely begitu Julian suami Zafira pamit ke masjid pada urutan terakhir.
"Mau ke masjid jamaah subuh." jawab Zafira.
"Ooohh... terus kamu gak ikut?" tanya Fely penasaran.
"Aku lagi datanag bulan," Fely hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Duduk sini yuk, Fel!" ajak Zafira mendahului duduk di kursi depan kamarnya yang dipakai Fely tidur.
"Aku bole cuci muka dulu?" izin Fely.
"Bole..." jawab Zafira sambil tertawa kecil menyadari kepolosoan Fely.
Fely bergegas masuk ke kamar mandi hang ada di dalam kamar yang ia tempati.
Setelah cuci muka, Fely kembali ke tempat dimana Zafira menunggunya.
"Kamu udah lama kenal Zafir?" tanya Zafira begitu Fely duduk.
"Kalo kenal sih udah lama, tapi gak pernah dekat," jawab Fely.
"Zafir tuh, disegani teman-teman sekelas," lanjut Fely menerawang jauh ke kampus.
"Kok ketawa? Memangnya ada yang salah?" tanya Fely menatap Zafira.
"Enggak. Gak ada yang salah. Kalian kan memang baru mengenal Zafir, jadi gak tahu aja kelakuan reseknya," jawab Zafira memaksa senyumnya.
"Fira kamu kapan menikah?" tanya Fely yang kepo dari kemarin.
"Sekitar tiga bulan yang lalu."
"Oooh... kalo Zafran?"
"Kalo dia mah, udah tiga tahun yang lalu!"
"Maksdunya? Mereka menikah ketika masih sekolah?" Fely melotot sempurna.
"Iya," jawab Zafira singkat.
"Aku tinggal turun ya, mau bikin sarapan." Zafira beranjak dari kursinya.
"Aku bantuin!" kata Fely.
Gadis itu membuntuti Zafira sampai dapur.
Sepi.
Fely keheranaan, padahal setahunya keluarga Zafir memiliki 2 asisten rumah tangga.
"ART, kalian kemana?" tanya Feli sembari menatap setiap detail dapur.
"Ke masjid juga, tapi biasanya kalo minggu gini pulangnya agak siangan. Ndengerin Buya ceramah dulu," jawab Zafira dengan tenang.
Fely yang mendengar ucapan Zafira mundur beberapa langkah. Ia memang belum sepenuhnya tahu tentang keluarga Zafir.
__ADS_1
Tapi saat Zafira mengatakan tentang Buya, Fely sedikit berasumsi siapa keluarga Zafir.
"Mereka pasti bukan keluarga biasa?" batin Fely.
Benar saja, sampai Zafira dan Fely selesai memasak dan menata meja. Seluruh anggoga keluarga Zafir belum ada yang datang.
"Sekarang kita mandi, dulu!" ajak Zafira yang diangguki Fely karena ia merasa gerah juga.
"Kamu pake bajuku aja deh! Sini!" Zafira menarik tangan Fely menuju lemari pakaiannya di kamar yang ditempati Zafira.
Fely menatap koleksi pakaian Zafira. Semua model bajunya tertutup.
Tapi pandangan Fely tertuju pada satu gaun. Warnanya kuning.
Fely meraih hanger gaun tersebut.
"Wah, pas banget buat kamu!" sorak Zafira.
"Kamu terlihat cantik," puji istri Julian itu.
Fely sedikit tersipu dengan pujian Zafira. Namun dalam hati ia merasa rendah diri. Mengingat siapa dirinya.
"Aku tunggu lima belas menit lagi di ruang makan, ya!" bisik Zafira membuyarkan lamunannya yang belum sempurna.
Fely menoleh, "Oke."
Lima belas menit kemudian.
Fely sudah siap dengan gaun pinjamannya dari Zafira.
"Fel...! Ayo...! Kayaknya yang lain udah pada datang," ajak Zafira.
Fely menerima ajakan Zafira keluar dengan menunduk.
"Fir, jerseyku kemarin kemana ya?" tanya Fely mengalihkan perhatiannya.
"Udah jersey kamu, biarin aja. Nanti biar Bu Darmi yang beresin!" tutur Zafira.
Di ruang makan, semua kursi sudah terisi. Zafira duduk di sebelah Julian yang sudah menunggunya dengan tersenyum.
Sedangkan Fely duduk di sebelah Zafir. Seperti titah teman kampusnya itu.
"Fir, ntar tolong rumput belakang cabutin ya! Fran, kamu bantu Mang Udin bersihin halaman depan!" titah Buya setelah menyelesaikan sarapannya.
Memang Buya mau kemana?" tanya Zafir keheranan.
"Jemput Ara sama Ayra," jawab Desta.
"Nanti biar Zafir aja yang jemput Ara sama Ayra." pungkas Zafir.
"Tapi tetep selesaikan nyabuti rumputnya!" titah Buya.
"Huuu... bilang aja tuh Buya memang sengaja kasi Zafir kerjaan! Terus kalian Buya pacaran ama Umma. Kalian bener-bener gak mau kalah sama anak dan mantu!"
💗💗💗💗
Bagaimana reaksi anak-anak Aqeela dan Desta yaa? denger ocehan Zafir?
Dan aku juga masih ingin dengar tanggapan kalian.
Gaess.. mampir sini yaa...
udah aku up di NT
__ADS_1