TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Setelah Kepergian Buni


__ADS_3

Ayah masih ditemani Daddy mengurai rasa dukanya. Setelah pemakaman ibu.


"Rief..." panggil Daddy.


"Masih ada aku. Kita nikmatin masa tua kita menemani anak,menantu dan cucu-cucu kita." hibur Daddy.


"Wi, aku gak nyangka. Shakira cepet banget ninggalin aku." suara ayah terdengar parau.


"Ikhlasin Shakira, supaya jalannya terang," ucap Tuan Wijaya.


"Lihat anak cucu kita. Mereka semua kehilangan Buninya!" sambung Daddy, hatinya sama sedihnya dengan Ayah.


Namun porsinya berbeda. Ayah seakan kehilangan separuh nyawanya. Sedangkan Daddy ia kehilaangan sosok besan sabar.


🌹🌹🌹


Di ruang tamu, Zafira menemui teman-temannya sekelas yang takziyah mengucapkan rasa belasungkawa atas berpulangnya sang nenek.


Sedangkan Julian dan Zafran masih sibuk menemui tamu dari rekan-rekan bisnisnya.


Suami Zafira tidak terlalu pusing dengan tamu istrinya karena semuanya cewek.


"Fir, itu yang di pojok Kakak kamu ya?" tunjuk salah satu teman kampus Zafira ke arah Zafir yang masih terlihat sedih.


Zafira sedikit menyunggingkan senyumnya menatap Zafir.


"Bukan. Dia sodara kembar aku." jawab Zafira.


"Oowhhh..."


"Ganteng,"


"Udah punya pacar belum?"


"Atau... jangan jangan udah nikah?"


Belum juga Zafira menjawab, Malik dan Devan muncul bersama Fely.


Fely gadis itu langsung memeluk Zafira mengucapkan rasa bela sungkawanya.


"Udahan Fel, tuh Zafir butuh kita!" seru Malik menyudahi pelukan keduanya.


Fely juga menyempatkan diri menyapa Renata yang sedang menjaga Ara dan Ayra karena Aqeela sedang menemui ibu-ibu jamaahnya bersama Mommy.


Sedangkan Al, pemuda itu sudah dikabari tetapi tidak diizinkan pulang karena masih dalam rangka ujian.


Malik, Devan dan Fely duduk mendekati Zafir.


"Fir...!" panggil Malik.


Zafir hanya mendongak sebentar menatap ketiga temannya.


"Fir...!" ulang Malik.


Zafir kali ini mendongak lebih lama namun kembali menunduk.


"Fir, kamu bole sedih. Tapi jangan terlalu larut gak baik!" ucap Malik.


"Lik..." Zafir memeluk tubuh sahabatnya itu, seketika tangis yang sedari dini hari tadi ia tahan keluar juga.


Suaranya begitu pilu. Malik mengelus punggung sahabatnya dengan perlahan.


"Tugas kamu sekarang hanya mendoakan buni," bisik Malik.


Pemuda itu melonggarkan pelukannya. Menyeka air matanya.


"Maafin aku ya, kalian ke sini ternyata cuman buat nonton orang nangis," ucap Zafir.


"Makasi ya Fel, udah mau datang." Zafir menatap Fely dengan wajah sendu.


Pemuda itu memang tidak memiliki banyak teman seperti Zafira atau Zafran.


Teman terdekat sejak dulu hanya Darren, namun entah kemana pemuda itu sekarang. Setelah pemakaman Buni, cowok itu belum terlihat lagi.

__ADS_1


Sedangkan Malik, Devan dan Alif mereka lebih dekat dengan Zafir setelah Zafran menikah dengan Renata dan sibuk dengan istri bulenya.


Fely hanya mengangguk mendengar ucapan Zafir.


"Teman-teman sekelas nitip salam dan ikut berduka cita," ucap Fely.


"Terima kasih," sahut Zafir tanpa menatap Fely.


"Fir!" sebuah suara mengagetkannya.


Ternyata Darren datang bersama Wanda dan ibu mereka.


Yuna dan Via sudah bergabung dengan Aqeela dan Ocha yang datang lebih dulu.


"Mana mama-mama kalian?" tanya Zafir menarik napas panjang dengan kehadiran Darren.


"Sama Umma. Biarin mereka sama Umma. Gak usah kita ganggu!"


Zafir hanya mengangguk, ia juga paham Ummanya butuh teman untuk menghibur dan mensupportnya.


Pemuda itu berharap dengan kehadiran sahabat-sahabatnya, Umma bisa sedikit terhibur.


Menjelang maghrib, Seluruh genk Umma dan Buya datang. Bukan hanya untuk takziya tapi juga menghadiri pengajian.


Wawan bersama Nabila yang tengah mengandung anak kedua.


Ronald masih awet dengan Hasna tanpa momongan.


Vian datang bersama Dinda berdua. Sedangkan Rere di rumah, tidak diizinkan ikut oleh sang nenek yang kesepian.


Jangan lupakan Doni dan Mita yang ikut sibuk sejak pagi.


Kehadiran sahabat-sahabat Umma dan Buya membawa suasana sedikit berbeda.


Tingkah kocak yang mereka lakonkan cukup membuat Aqeela tertawa.


Bahkan sampai selesai pengajian, para mantan gengster tersebut masih melontarkan gurauan tanpa mengingat usia.


🌹🌹🌹


Untuk mengenang Buni, keluarga mengadakan pengajian hingga tujuh harinya.


Selepas tujuh hari wafatnya Buni. Ayah sudah mulai menata hidupnya kembali.


Ayah berusaha tegar menghadapi kenyataan. Sebagai anak semata wayang, Aqeela berusaha menyempatkan diri sekedar bertanya keadaan orang tua laki-lakinya itu.


Untuk mengisi hari tuanya ayah lebih sering mengjabiskan waktunya di masjid.


Apalagi tidak ada lagi wanita cantik yang selalu menunggunya pulang dengan senyum yang beliau rindukan.


Jumat pagi.


Ayah bersiap ke masjid sebelum ibadah sholat jumat dimulai.


Bahkan sejak pukul sepuluh, lelaki tua itu sudah berada di masjid. Mulai menyapu, mengepel, sampai menyiapkan mimbar imam.


Setelah siap semua, ayah duduk di dekat mimbar memperbanyak dzikir. Mengingat kembali dosa-dosa yang ia perbuat di masa lalu.


Sembari menunggu jamaah berdatangan.


🌹🌹🌹


Sedangkan Aqeela, untuk mengusir rasa rindunya setiap hari ia sempatkan mengunjungi makam.


Mendoakan ibu.


Mommy dan Daddy secara bergantian menghibur anak, menantu dan cucunya. Khusis Daddy ditambah menghibur Ayah.


Zafir, pemuda itu sama seperti Umma kehilangan. Namun ia terlihat lebih tegar di luar. Tapi setiap malam di dalam doanya saat ia selipkan nama Buni, luruh juga pertahanannya.


🌹🌹🌹🌹


"Fir...!" panggil Malik begitu melihat Zafir duduk sendiri di kantin menikmati bakso Cak Gundul.

__ADS_1


Zafir hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan menikmati baksonya.


"Fely mana?" tanya Malik.


"Gak tau? emang aku apanya sampai harus tau kemana tuh anak pergi!"


"Yaa kali aja udah tersemat, calon suami gitu!" ledek Malik.


"Gak semudah itu, Jo. Paijo!" balas Zafir.


"Hadeeh, nama gue Malik. Bukan Paijo." protes Malik.


"Nama Paijo lebih tenar, daripada Malik." Zafir meraih sebuah kerupuk yang ada di toples.


"Tenar darimana?"


"Itu judul lagu aja pake Paijo, bukan Malik atau Zafir," goda Zafir dengan cengiran kemenangan.


"Auk aah...!" Malik sudah terlihat jengah dengan ucapan sahabatnya itu.


"Fir, bayarin siomay dong!" Malik memandang Zafir malas.


"Mau balas malak aku nih!"


"Wkwkkkk... enggak. Tapi serius aku laper, gak bawa duit cash!"


"Balikin tiga kali lipat!" Zafir menyodorkan lembaran uang warna biru kepada Malik.


"Buka jasa rentenir, nih!" ledek Malik.


Pemuda itu tahu Zafir hanya bercanda.


Sengaja ia sedikit maksa agar suasana hati Zafir yang masih terlihat muram bisa lebih berwarna.


Malik masih melihat ada kesedihan setelah kehilangan Buni. Namun bukan itu saja. Malik hanya menyangka ada yang sahabatnya itu pikirkan.


"Kenapa sih?" tatap Malik.


Zafir hanya mengangkat bahunya sekali.


"Ada yang gak beres kan?" ulang Malik lagi.


Pemuda bermata bening yang masih mengenakan peci putihnya itu menatap Malik.


"Mulut kamu bisa diem, tapi mata kamu gak bisa boong," ucap Malik.


Pemuda itu menangkap ada kesedihan lain selain kehilangan sang Buni.


Zafir menatap Malik dengan napas panjang berulang sebelum akhirnya buka suara.


"Kemarin Om Doni sama Tante Mita menemui aku...."


"Jangan bilang kalau..."


"Iya..."


🌹🌹🌹


Ngobrolin apa coba Om Doni sama Tante Mita?


to be continue


kalian silahkan add fbku : ursula maria


atau


ig ku : @maria_suzan


untuk dapat info terupdate apapun


masih aku tungguin, like, komen dan vote kalian


makasii yaa...

__ADS_1


__ADS_2