
Desta dan Aqeela ditemani Genknya membersamai Hadi dan teman-temannya sekitar dua puluh anak.
Berkumpul di polsek setempat.
Mereka berharap bisa membebaskan anjal (anak-anak jalanan) tersebut.
Karena itu Aqeela dan Desta bekerjasama dengan polisi setempat, menjebak si boss preman yang biasa dipanggil Bang Iko.
Bang Iko bukanlah preman sembarangan, beberapa wilayah pasar, stasiun dan terminal ia kuasai semena-mena.
Anak buahnya ada dimana-mana. Mata-matanya tak kasatmata. Bahkan dinding saja bisa bercerita kepadanya.
Bang Iko mengenal dunia preman sejak kecil. Kehidupannya yang kosong tanpa tujuan membuatnya nyaman berperilaku semena-mena.
Tak sedikit masyarakat yang dibikin resah.
Anak jalananpun ia kumpulkan demi pendapatan, yang hasilnya akan ia pakai foya-foya. Mabuk, judi dan bermain perempuan.
Anak-anak yang belum mengerti apapun tentang kehidupan akhirnya harus menjadi sosok yang keras seperti yang diajarkan Iko.
Sebut saja Hadi dan genknya. Mereka bukan dari keluarga berada.
Awalnya mereka hanya ingin menambah uang jajan dengan berjualan koran di traffict light sepulang sekolah.
Namun dengan tipu muslihatnya, Bang Iko berhasil membujuk Hadi dan genknya mulai mengamen, menjambret dan memalak.
Bahkan Bang Iko mengajarkan trik jambret terbaiknya kepada Hadi kecil dan kawan-kawannya.
Kejahatan Hadi dan genknya bisa terjadi dimana saja. Tak peduli waktu. Asal mereka bisa mendapat uang demi setoran kepada Bang Iko.
Imbalannya anak-anak jalanan ini hanya diberi makan malam. Itupun dengan syarat uang setoran sesuai target.
Beruntung Hadi bertemu Si Triple. Walaupun usia mereka lebih muda dari Hadi and Genk, mereka bisa saling menghormati.
Hadi dan genknya perlahan mulai menaruh simpatik kepada kembar tiga itu. Sejak ketiganya berhasil ditaklukkan dengan mudah di halaman belakang.
Polisi sudah beberapa kali berusaha melakukan penggerebekan tapi selalu gagal.
Kali ini berkat kerjasama dari Hadi dan kawan-kawannya dan Genk Desta, Polisi berhasil menangkap Bang Iko.
"Bagaimana Pak dengan anak-anak ini?" Tanya Desta cemas kepada penyidik di hadapannya tapi pandangannya terus menatap para anak jalanan korban Bang Iko.
Bahkan pikiran lelaki itu masih mengingat kejadian enam jam yang lalu. Saat ia dan beberapa polisi yang menyamar menjadi preman menguntit Hadi dan genknya.
Desta sengaja meminta Hadi mematuhi perintah Bang Iko untuk menjebak bos preman tersebut.
Rencana ini hanya diketahui oleh Hadi dan genknya. Supaya tidak bocor kepada anjal lain yang suka ember.
"Hadi, Rio dan Gio besok kalian bertiga tetap lakukan semua perintah Iko seperti biasanya. Buya, Om Wawan, Om Ronald, Om.Doni dan Om Vian akan mengawasi kalian." Titah Desta saat berdiskusi dengan Wawan, Ronald, Doni dan Vian.
Bagaimanapun ia tak mungkin melakukan penggerebekan sendiri tanpa bantuan gengnya.
"Nanti Buya bergerak jika kalian berkumpul di markas. Tapi ingat rencana ini tidak bole bocor." Desta kembali mengingatkan Hadi dan gengnya.
"I.. iyyaaa.. Om."
__ADS_1
"Panggil Buya, Hadi." Ralat Desta.
"Iyaa.. Buya." Ulang Hadi dengan lidah yang kaku dan keluh.
Wawan, Ronald, Doni dan Vian yang melihat aksi pemaksaan versi Desta itu dengan tersenyum mengejek.
"Maksa banget!" Celetuk Vian sambil menonjok lengan Desta.
"Biarin.. " Balas Desta.
"Om.. lucu kayak anak kecil." Seru Gio dengan tampang tanpa dosa ala anak kecil.
"Biar kita awet muda." Komen Wawan asal.
"Jalan-jalan ke semambung, gak nyambung." Sahut Doni.
"Naik-naik ke puncak semeru, kurang seru." Ronald tak mau kalah.
"Om bole aku catat gak pantunnya tadi? Karena tadi aku ada tugas bikin pantun gak bisa." Celetuk Rio dengan tatapan memohon.
Membuat kedua pria yang saling lempar pantun tadi terbengong.
"Bole, catet saja. Tapi kalo salah jangan salahin Om ya!" Ucap Doni.
Aqeela yang baru gabung ikut menertawakan Doni dan Ronald.
"Udah minum dulu. Nanti Umma ajari bikin pantun. Yang di omongin Om Doni dan Om Ronald itu namanya karmina. Sedangkan pantun yang kalian maksud itu pantun yang empat baris." Jelas Aqeela.
"Terima kasih Tante."
"Umma...bukan Tante." Ralat Aqeela.
"Suka-suka.." Balas Desta.
"Eh, tapi kalian bertiga, ingat ya.. Taktik ini gak bole bocor. Kalo sampe bocor Buya dan teman-temannya udah gak bisa nolong lagi!" Aqeela mengingatkan tiga bocah yang dikelilingi mantan gengster juga.
"Iya.. kita janji gak tutup mulut." Kata Rio sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"Bagus..." Komen Wawan.
"Anak pintar." Sahut Vian.
💗💗💗💗
Dan esok siangnya, setelah pulang sekolah. Para gengster senior sudah siap di posisi masing-masing.
Aqeela mengintai di sebuah resto cepat saji dekat perempatan, bersama keempat anaknya. Sekalian makan siang.
Desta siaga di sebuah warung kopi pinggir jalan.
Vian siap di halte bis, dekat Hadi CS menjakankan aksinya.
Wawan menyiapkan penggerebekan di markas Bang Iko.
Ronald bersama beberapa Polisi berdiri diatas jembatan penyebrangan yang menghubungkan antara markas dan jalanan tempat Hadi Cs dan anjal lainnya beraksi.
__ADS_1
Sambil mengamati para anjal mereka berpura-pura seperti pejalan kaki biasa. Bahkan Desta meminta Hadi seolah menjambret dompetnya.
Sengaja Bapak empat anak itu duduk di bangku dekat kosong sendiri dan dompet ia selipkan di saku celana belakang dengan posisi terlihat jelas.
Memudahkan Hadi dan genknya yang mengamen menarik dompet Buya.
Bukan hanya Desta seorang Polisi juga rela jadi korban pura-pura Hadi Dan genknya.
Pak Polisi itu, dijambret ponsel keluaran terbarunya.
Tak main-main. Semua tim berusaha melakukan yang terbaik.
Bahkan si Triple sudah dibreafing sebelumnya oleh kedua orang tuanya.
Menjelang maghrib, para anjal kembali ke markas secara bertahap. Kali ini Hadi dan genknya memilih menyerahkan setoran secara sendiri-sendiri.
Hadi yang pertama, Ia rela dibentak dan dipukul Bang Iko karena setorannya kurang.
Sedangkan diluar, Rio dan Gio berusaha menggiring teman-temannya untuk bertahan di lokasi tapi sedikit minggir.
Bang Iko tidak sendiri, ia dibantu dua orang temab preman lainnya. Keduanya sama-sama sangar dan kejam.
Tepat saat Bang Iko membentak sambil melayangkan bogem ke tubuh Hadi, Wawan, Ronald dan Desta masuk.
"Bagus... Berani yaa sama anak kecil!" Seru Desta.
"Siapa kamu?" Bentak Iko.
"Eh, anak kecil kembalikan dompetku. Kamu kan tadi yang jambret aku." Bentak Desta tanpa mempedulikan Iko.
"Hei, siapa kalian?" Ulang Iko dengan suara lebih keras karena merasa diacuhkan.
"Gak perlu kamu tahu siapa aku. Aku cuma mau dompetku kembali." Hardik Desta tak kalah sengit.
Tanpa menunggu lama, Desta langsung menarik baju Hadi.
Iko yang ingin melawan langsung di cekal Wawan. Begitupun rekannya, Ronald dengan sigap langsung menahan kedua rekan Iko.
Dan keduanya terlibat pertempuran 2 lawan 3. Seru. Serasa kembali ke masa SMA.
Melihat Ronald kewalahan, Desta segera melepas Hadi dan memberi kode agar minggir.
Hadipun bergabung dengan anjal lainnya.
Setelah dirasa aman, Desta bergabung dengan Wawan dan Ronald.
Agak kewalahan juga. Karena tak selang lama muncul tiga orang lagi dari luar gedung.
Belum selese dengan lima preman, muncul lagi sekitar sepuluh orang lagi. Desta dan genk sempat terhenyak. Namun ketiganya sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk.
Lima belas lawan tiga. Keren. Buya dan genknya sampai ngos-ngosan.
Belum rampung pertempuran keroyokan tersebut, muncul sepuluh preman lagi. Genap dua puluh lima orang mengepung genknya Buya.
Tepat setelah dua puluh lima orang terkumpul, Vian dan Doni muncul bersama polisi dengan gerak cepat seluruh preman tertangkap dengan mudah.
__ADS_1
💗💗💗💗
Kasih Vote ya man teman..