
Aqeela masih sibuk belajar untuk UASnya minggu depan.
Desta barusan pulang kerja dan masih menyelesaikan ritualnya di kamar mandi.
Sedangkan ketiga kembarnya dan Julian sudah stay di masjid. Mereka sedang asyik berlatih bela diri bersama Kak Ussi dan Kak Ryu.
"Bae, aku siapkan makan malam dulu ya. Bentar lagi udah surup." Aqeela menutup bukunya, dan bersiap turun ke bawah.
"Tunggu Beb." Cegah Desta.
"Kenapa?" Aqeela menghadap suaminya dengan cemas.
"Apa kamu masih sensi dengan bau masakan?" Sambungnya mengingat akhir-akhir ini indra pembau suaminya mulai normal.
"Aku udah gak pa_pa. Tapi, malam ini ayo ikut aku dinner sama klien." Ajak Desta.
"Anak-anak?"
"Sementara titipkan Ayah dan Ibu lagi." Jawab Desta sambil nyengir.
"Hmm.. aku kabari ibu dulu ya!"
"Okay."
Aqeela sudah berbalik, Desta kembali mencegahnya.
"Kiss me, Beb. I want it." Bisiknya.
Tanpa mengulang dua kali, Aqeela menyentuhkan bibirnya ke bibir Desta.
Sepuluh menit bersentuhan tanpa jeda, hingga keduanya harus melepas dengan ikhkas karena pasokan oksigen keduanya yang semakin menipis.
"Aku tinggal sebentar." Pamit Aqeela.
Cup.
Satu kecupan di kening Aqeela, mengiringi perjalanan Aqeela ke rumah Ibu di seberang jalan.
💗💗💗💗💗
Baru juga Aqeela keluar sekitar lima menit. Di pagar terdengar bunyi gembok di pukul-pukul pada besinya.
Desta mau tak mau turun. Karena di rumah hanya tinggal dirinya seorang. Bu Erna menjaga si triple di masjid.
Saat membuka pintu rumah, terlihat seorang pemuda berkulit putih berdiri di luar pagar.
"Nicholas.." Panggil Desta sedikit terkejut.
"Kak..." Jawab Nicholas.
"Masuk.. " Ajak Desta sambil membuka pagarnya.
Nicholas membuntuti Desta masuk ke rumahnya.
"Ayoo duduk." Titah Desta.
Nicholas kembali duduk, sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tempatnya duduk.
"Kak Aqeela, mana Kak?" Tanya Nicholas.
"Ada aku masih nyari Aqeela." Ucap Desta sambil bibir manyun.
"Hmm.. masih posesif aja."
"Aqeela masih di rumah orang tuanya."
"Wah, jomblo dong." Ledek Nicholas.
"Seneng banget sih kalo liat orang jomblo. Bentar aku ambilin minum sebelum istri aku datang. Kalo keduluan dia datang aku yang kena semprot nanti." Desta beranjak meninggalkan Nicholas menuju dapur.
"Wuuiih.. penghuni suami-suami takut istri dong Kak."
"Bukan SSTI, tapi aku gak mau diomeli karena dianggak tidak menghormati tamu."
"Kalo gitu angkat tangannya taruh di dahi. Kan sudah hormat."
"Bocah sableng."
"Nee...minum dulu." Desta menyodorkan gelas berisi sirup jeruk di hadapan Nicholas.
"Makasi, Kak." Nicholas menyeruput minuman yang disuguhkan Desta.
"Assalamu'alaikum..." Suara salam Aqeela sebelum masuk rumah.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Desta.
"Kak.." Sapa Nicholas.
"Hai Nich..." Balas Aqeela sambil duduk di sebelah Desta.
__ADS_1
"Sudah lama?" Tanya Aqeela.
"Baru lima belas menit yang lalu."
"Oowwhh..."
"Kata Kak Desta, Kakak ke rumah orang tua. Kok, sudah pulang?" Nicholas terlihat bingung.
"Iya habis dari rumah ibu, itu rumahnya di depan."
"What? Rumah orang tua kakak di depan?"
Aqeela mengangguk pelan.
"Berarti Kak Desta ngeprank aku nee.."
"Ha haa ha... " Desa terpingkal-pingkal melihat Nicholas manyun dan cemberut.
"Hadeeehh.. Udah ah, Bae."
"Kamu kok bisa sampe sini?" Tanya Aqeela.
"Ini Kak..." Nicholas menyerahkan sebuah kertas tebal berplastik berwarna merah maroon.
Aqeela menerima kertas tersebut. Dan membacanya.
"Menikah? Benaran kamu mau merried, Nich?" Tanya Aqeela tidak percaya.
"I... iyyaaa.. Kak itu beneran kok." Jawab Nicholas tergagap.
"Emang siapa yang nyuruh buru-buru nikah?" Desta ikutan kepo.
"Orang tua aku sih, Kak?"
"Ceritanya gini..."
Nicholas mengingat kejadian pada waktu malam inagurasi di hotel.
Saat Nicholas menggenggam tangan Elizabeth, dan ketahuan Papanya.
"Mana orang tua kamu, Nak?" Tanya Papa Nicholas.
"Di...di sana...Om!" Tunjuk Elizabeth.
"Antar Om, ke sana!" Titah Papa Nicholas.
Awalnya orang tua Elizabeth kaget melihat anaknya bersama Nicholas dan Papanya.
"Abraham."
"Merry."
Orang Tua Elizabeth memperkenalkan dirinya.
"Samuel."
"Ini anak saya Nicholas."
Papa Nicholas memperkenalkan diri.
"Hallo Pak Samuel. Nicholas sering main ke rumah kami." Abraham menjelaskan perkenalannya dengan Nicholas.
"Maaf Pak Abraham, saya baru tahu kedekatan mereka."
Percakapan Orang tua Nicholas dan Elizabeth berlanjut sampai akhirnya mereka memutuskan menikahkan kedua anak mereka.
"Yaa begitu deh, Kak. Akhirmya kami dinikahkan lebih cepat." Gumam Nicholas.
"Kakak ikut bersyukur kalau kalian menikah. Tapi pesan Kakak menikah itu harus saling menjaga, menghargai, jangan ada rahasia diantara kalian. Karena pada prinsipnya menikah itu menyatukan dua keluarga. Bukan tentang kalian berdua saja nantinya." Desta menasehati Nicholas dengan baik.
"Terima kasih ya Kak." Kata Nicholas dengan senyum kecilnya.
"Oh, ya si kembar kemana?" Tanya Nicholas penasaran karena rumah mereka sepi.
"Ada lagi di masjid. Si Yuda juga ada di sana." Jawab Desta.
"Ngapain Kak Yuda di masjid?" Nicholas keheranan.
"Kalo pengen tahu, ayo kita ke sana!" Ajak Desta.
"Bole, Kak?"
"Bole saja."
Aqeela dan Desta mengajak Nicholas ke masjid.
Sampai di masjid, Nicholas malah dibuat kembali terkejut.
Banyak anak kecil latihan karate.
__ADS_1
Di depan serambi, Terlihat Yuda sedang membimbing seorang anak.
"Kak Yud, ngapain di sini?" Tanya Nicholas sambil duduk di samping Yuda. Diikuti Aqeela dan Desta.
" Kerjaannya Kakak kamu sejak dulu, kan kayak gini?" Jawab Yuda.
"Maksudnya?"
"Anak-anak kecil yang latihan bela diri di sini itu, bukan anak-anak sembarangan. Untuk ikut latihan karate di sini, ada syarat dan ketentuannya. Mereka harus bisa menghafal kitab dari agamanya."
"What?"
"Berarti anak kecil tadi itu, habis menghafalkan al-kitab gitu?"
Yuda hanya mengangguk pelan.
"Pantesan Kakak deket banget sama Kak Aqeela dan Kak Desta. Karena ini toh." Nicholas hanya manggut-manggut tanda mengerti.
"Terus kamu sendiri ngapain ke sini? Eliza mana?" Yuda celingukan mencari pasangan Nicholas.
"El, dipingit. Oh ya ini, buat Kak Yuda." Nicholas menyerahkan sebuah kertas sepertinyang ia berikan kepada Aqeela dan Desta.
Yuda menerimanya.
"Uwiik.. aku dilangkahi sama anak kecil." Oceh Yuda.
"Makanya segera cari pasangan." Goda Nicholas.
"Jodoh aku kayaknya masih di dalam kandungan." Balas Yuda.
"Gak jelas. Bilang saja, gak laku." Ledek Desta.
"Sekarang tuh, lagi trend Om-Om nikah sama anak muda." Elak Yuda.
"Byuuh kasiyan tuh rudal di simpan melulu. Gak bisa beraksi." Ledek Desta.
"Kalian bener-bener deh, gak.bisa apa bikin aku happy sebentar saja." Ucap Yuda dengan nada sedikit sedih.
"Bo'ong... emang dasar kamunya aja yang belum siap berkomitmen." Tutur Aqeela.
"Ini juga .. kok kamu tau apa yang aku pikirkan sih Qee..!" Balas Yuda.
"Ya taulah... apa sih yang gak aku tahu."
"Emang Kakak dukun gitu?"
"Bukan, tapi ghostbooster." Jawab Yuda
"Haa haa ha.." Tawa keras Yuda, Desta, Aqeela dan Nicholas bercampur jadi satu. Untung latihan karatenya sudah selesai.
"Pemberkatannya di gereja mana?" Tanya Yuda.
"Gereja Ngagel, Kak."
"Aku akan datang di upacara pemberkatan kalian. Sapa tau ketemu jodoh aku yang masih dalam kandungan. Hee hee he.."
"Aamiiin.." Ketiganya mengamini do'a Yuda.
"Tapi kami datang di resepsinya saja ya.." Kata Desta.
"Iyyaa.. Kakak ganteng." Balas Nicholas dengan lebay.
Membuat Aqeela tertawa sejenak.
"Kak Nicholass..." Sapa ketiga kembar Aqeela dengan teriak-teriak.
"Mana Kak El?" Tanya Zafira.
"Di rumah."
"Ya... kok gak ikut siih."
"Kapan-kapan Kak El diajak ke sini sama Kak Nich." Ucap Desta menenangkan kekecewaan ketiga kembarnya.
"Beneran ya Kak Nich.."
"Iya..."
💗💗💗💗💗
Nicholas mau nikah sama Elizabeth 👰🏻🤵🏻
Selamat Yaa....
Gaes.. like
komen
dan kasi vote yaa buat aku
__ADS_1