
Julian memaksa Zafira masuk ke sebuah ruangan. Zafira terlihat pasrah. Mengingat kesalahannya kemarin.
Walaupun sebetulnya Julian tidak benar-benar marah, tapi Zafira yakin Uncle itu memiliki rasa jengkel juga kepada dirinya dan Zafir. Dalang dari tragedi sopir komplotan triple kemarin.
Julian memasukkan anak kunci lalu memutar knop pintu.
"Uncle ruang apa ini?" Tanya Zafira.
"Baca tuuh ada tulisannya gede banget." Tunjuk Julian ke Zafira.
"Ruang OSIS." Gumam Zafira dalam hati.
"Ingat! Jangan panggil Uncle." Julian mengingatkan kembali pesannya kepada Zafira sewaktu masih di dalam mobil.
"Iya.. nanti aku panggil Pak De." Goda Zafira sambi meringis menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Julian melotot sedikit tegas ke arah Zafira.
"Iya.. nanti Zafira panggilnya Kakanda deh." Suara lempeng Zafira terdengar masih penuh ledekan.
Julian kembali melotot ke arah Zafira, sebagai peringatan untuk tidak meledek atau menggodanya.
"Iya.. iya.. iyaa.. sayang." Pekik Zafira.
"Sayang? Sayangnya siapa?" Seseorang masuk begitu saja tanpa salam, membuat Zafira sedikit kaget dan menegang.
"Yan?" Sapa orang tersebut.
"Hmm.. apa Reng?" Sahut Julian.
"Siapa yang teriak sayang-sayang tadi?" Gareng, orang yang masuk tanpa salam itu bola matanya menatap sekeliling ruangan seakan mencari suara seseorang yang tadi berteriak.
"Lhoo.. ada cewek cantik. Hai adik kecil!" Sapa Gareng pada Zafira begitu mendapati sosok gadis duduk tak jauh dari Julian.
"Gak usah sok kenal sok dekat. Dia bukan untuk didekati." Ucap Julian keras.
Zafira hanya tersenyum membalas salam perkenalan dari Gareng dan peringatan keras Julian kepada temannya itu.
"Yan, pacar baru tuh?" Tanya Gareng.
"Hmm..." Jawab Julian sambil membuka berkas yang terbendel rapi di dalam bantex.
"Kok kamu mau sih pacaran sama cowok kayak Julian gini, Dek?" Tanya Gareng menoleh ke arah Zafira.
Sedangkan Zafira hanya tersenyum sambil menutup mulutnya.
"Kamu pilih hidung, kepala, kaki atau perut?" Julian sudah siap dengan kepalan tangannya di depan mata Gareng.
"Enggak.. enggak jadi deh Yan. Maaf ya adek kecil." Gareng menggeser kursinya sedikit menjauh dari Julian dan Zafira.
"Assalam..." Andhini yang baru masuk bersama Semar langsung menghentikan langkahnya begitu menyaksikan Julian bersama seorang gadis cantik masih imut lagi.
"Yan.., elo gak pedofili kan?" Bisik Andhini tiba-tiba.
"Jaga tuh mulut. Aku masih normal." Omel Julian tanpa melepas pandangannya dari bantex.
"Hai adik cantik kenalik aku Andhini." Andhini mengulurkan tangannya kepada Zafira.
"Zafira." Jawab Zafira singkat.
Andhini langsung duduk di samping Zafira.
"Ooh.. jadi nama kamu Zafira. Aku Budi." Sahut Gareng dari seberang Zafira.
Julian menatap Gareng tidak suka begitu ada celetukan dari temannya itu.
Gareng hanya myengir sambil mengankat kedua jari tangannya.
"Piss.." Julian membaca Gerakan bibir Gareng tanpa perlu menjawab.
Julian kembali memeriksa isi bantek tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Zafira hanya tersenyum sambil menutup mulutnya. Terlihat lucu aja menyaksikan unclenya lagi sewor begitu.
"Udah lama kenal Julian?" Tanya Andhini basa basi.
"Udah." Jawab Zafira singkat.
"Sama Hani lebih dulu mana?" Selidik Andhini, ia ingin tahu sejauh mana hubungan antara Julian, Hani dan Zafira.
"Lebih dulu aku kayaknya, Kak." Jawab Zafira tenang.
Andhini menutup mulutnya yang menganga lebar.
"Kamu kenal Hani juga?"
Zafira mengangguk. Auto otak Andhini langsung berpikir yang aneh-aneh.
"Julian edan." Batinnya.
"Kurang cantik apa Hani. Sekarang bawa yang lebih fresh." Sambung umpatan hati Andhini.
"Yan..!" Sapa Semar sembari memberi high five kepada Julian.
"Kok datang ama cewek jadi-jadian ini? Cowoknya nyangkut dimana lagi?" Ledek Julian melihat Semar yang datang bersama Andhini.
"Toko bangunan." Jawab Semar santai.
"Bawa sapa lagi, Loe?" Tegur Semar.
"Tanya aja sendiri." Jawab Julian tanpa menatap Semar.
"Ogah, ntar kaki dan tangan elo gatal tanpa bisa ditahan. Mending gue mati bawa rasa penasaran gue buat menghantui elo daripada mati konyol karena rasa kepo gue."
"Peribahasa apaan tuh, Kak?" Sahut Zafira.
"Peribahasa khusus buat Julian." Balas Semar menatap sekilas wajah Zafira, cowok itu tahu Julian melirik ke arahnya menatap tajam kedua matanya.
"Haus..." Bisik Zafira pelan.
Julian mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya dan menyerahkan ke Zafira.
"Maksudnya buat apa ini?" Tanya Zafira belum paham maksud pemberian Julian.
"Kamu beli minum di kantin. Kantin buka gak, Reng?" Tanya Julian ke Gareng yang asyik dengan ponselnya setelah Julian melarangnya mendekati Zafira.
"Buka tapi hanya kiosnya Bu Lina saja." Jawab Gareng tanpa melepas ponselnya.
Julian kemudia memberi petunjuk Zafira arah menuju kantin. Zafira menyimak sambil mengingat-ingat.
Setelah pamitan, Zafira keluar dari ruangan menyebalkan itu.
Zafira tampak begitu lega dan menghirup oksigen dalam-dalam.
"Uuh.. segarnya." Zafira mengangkat kedua tangannya tinggi ke atas lalu diturunkannya lagi.
Perlahan Zafira menyusuri jalan menuju kantin sesuai petunjuk Julian.
Di dalam ruangan OSIS.
"Yan, gila Loo.." Umpat Andhini.
"Mau Elo kemanain si Hani?" Sambungnya.
"Hani di kiri dan Zafira di kanan." Jawab Julian asal.
"Gak salah Denger nee gue?" Sahut Gareng.
"Telinga elo pada masih normal." Balas Julian tanpa ada rasa berdosa sedikitpun.
"Bisa adil Lo?" Kepo Semar
"Bisa. Kenapa enggak." Julian masih saja menjawab.
__ADS_1
"Emang Hani dan Zafira saling kenal, Yan?" Selidik Andhini.
"Mereka kenal dan akrab." Jawab Julian.
"Busyet dah. Bener-bener serius poligami Lo?" Gareng yang sedari tadi sibuk dengan gawainya langsung menghentikan gamenya.
"Ya Alloh, semoga mereka berdua gak mau dipoligami. Terus pada ninggalin Iyan. Setelah itu pasangkan hamba dengan salah satu dari mereka berdua." Gareng mengangkat kedua tangannya memperagakan gerakan orang berdo'a.
"Aamiiin.." Sahutnya sambil mengusap wajahnya.
"Yang satu buat hamba Ya Alloh. Aamiiin." Sahut Semar.
"Allohumma Ya Alloh.. jangan kabulkan do'a mereka berdua." Ledek Julian.
Braak
Terdengar suara pintu di buka dengan kasar dari luar. Mengagetkan seluruh penghuni ruangan tersebut.
Satu tubuh terlempar dengan kasar.
Mengalihkan perhatian keempat remaja tersebut.
"Bagooong..!" Sahut keempatnya.
"Kalian mengenal dia?" Zafira muncul dari luar dengan wajah yang tak bisa ditebak.
"Kamu gak pa_pa?" Julian langsung menghambur ke arah Zafira memeriksa kondisi keponakannya itu.
Tanpa sadar Julian memeluk Zafira dengan lega.
"Lepas..!" Titah Zafira sambil memukul dada Julian.
"Awwuh.. sakit Fira." Auto Julian melepas pelukannya.
"Makanya jangan curi-curi kesempatan." Cicit Zafira.
Julian hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum ambigu.
"Gong elu apaain cewek gue?" Pekik Julian mendekati Bagong yang sedang dibantu berdiri oleh Gareng.
Bagong terlihat nyengir menahan sakitnya. Perlahan ia mulai duduk dibantu Gareng.
Sedangkan Semar dan Andini terlihat bergidik miris dengan kondisi Bagong yang memprihatinkan.
"Cantik-cantik sadis juga." Bisik Andini kepada Semar.
"Selera Julian memang aneh. Untung Elo gak naksir cowok gak jelas itu." Balas Semar.
"Aaawwwhhh..."
💗💗💗💗💗💗
Antara tertawa, sedih dan kepo.
Itu Bagong kenapa yaa bisa di hajar sama Zafira?
Terus siapa yang teriak?
"Rencana Julian kali ini apa lagi?
Next yaa...
Salam jahil dari triple
😘😘😘
Terus klik like 👍🏻
komen 📋
vote 💯💯💯
__ADS_1
share ke sosmed kalian