TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Usaha Malik dan Devan


__ADS_3

Selamat Membaca.


Zafir melongok ke luar jendela, ruangan yang ia gunakan salat.


Jendela kayu berukuran lumayan besar yang menghadap langsung ke halaman.


Zafir mengedarkan pandangannya, dari tempatnya berdiri ia bisa melihat sebuah pure kecil di salah satu sudut rumah tersebut.


Ia benar-benar merasa kecolongan karena tidak mengamati sekitar dengan baik sehingga tidak sadar jika dijahili teman-temannya.


"Udah, Fir?" tanya Malik yang seperti akan mempergunakan ruangan tersebut.


"Udah," jawab Zafir sambil keluar ruangan.


****


Tiga hari sebelumnya. Devan dan Malik mengunjungi rumah Aqeela tanpa sepengetahuan Zafir.


"Kalian, tumben ke sini nyari Umma?" tanya Aqeela keheranan melihat kedua sahabat anaknya bertamu khusus menemuinya.


"Iya, nih Umma. ada perlu sama Umma," jawab Devan.


"Uwik, serasa jadi orang penting aja, Umma," jawab Aqeela sembari tertawa kecil.


"Ge-eR aja, nih Umma," ledek Malik.


Aqeela tertawa mendengar ucapan Malik.


"Umma, kita mau nyulik Zafir. Boleh, ya?" tanya Malik dengan memohon.


"Nyulik kok izin Umma?" olok Aqeela sambil terkekeh.


"Lah, kan dia masih tanggung jawab Umma sama Buya," jawab Devan.


Aqeela kembali tertawa lebar.


"Mau kalian itu apa, sih?" tanya Aqeela meminta penjelasan.


"Kita berencana mau ngajak Zafir jalan-jalan biar gak kepikiran Fely terus," jelas Devan.


"Kemana?" tanya Umma.


"Bali," sahut Malik.


Aqeela terdiam. Berpikir menyetujui atau tidak permintaan sahabat putranya tersebut.


"Gak lama, kok Umma. paling cuma tiga hari," ucap Devan meyakinkan Aqeela.


"Okelah. Kalian atur sendiri," jawab Aqeela mengiyakan sahabat-sahabat Zafir.


"Tapi Umma dan Buya harus janji. Rencana ini gak bole bocor ke Zafir," seru Malik mengingatkan Aqeela dan Desta.


"Iya, Umma sama Buya janji gak akan bocorin semuanya. Urusan Buya nanti Umma yang ngomong," sahut Aqeela.


"Iyesss, Umma memang selalu yang terbaik," ucap Malik.


"Modus," balas Aqeela yang disambut tawa keduanya.


"Kami bole masuk ke kamar Zafir?" tanya Malik setelah tawanya reda karena memang ia ingin memberi kejutan pada sahabatnya itu.

__ADS_1


Aqeela mempersilahkan keduanya untuk mempersiapkan apapun yang Zafir butuhkan.


Begitulah cara Malik dan Devan, meminta izin dan mengajak kedua orang tua Zafir sekongkol.


****


Kini mereka sudah berada di bandara Juanda menuju Bali.


"Kalian itu, ya!" seru Zafir kesal.


"Kita kenapa?" seru Malik.


"Nyebelin, ngeselin, tapi selalu bisa bikin aku terharu," seru Zafir menatap tiket yang dibawa Malik.


Malik tidak mengizinkan Zafir membawa sendiri tiketnya, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Semacam, tiket dirobek, Zafir kabur dan lain-lain.


Intinya dia antisipasi saja agar rencananya berhasil dan sukses.


"Kita selalu yang terbaik," sahut Devan memluk bahu Zafir sambil tertawa lirih.


"Asiyaap," seru Zafir.


Panggilan dari operator bandara mengatakan pesawat yang mereka tumpangi sudah siap.


Seluruh penumpang yang hendak ke Bali, segera beranjak dari kursi tunggu menuju landasan.


***


Tiga hari di Bali membuat pikiran Zafir sedikit tenang. Meskipun bayang-bayang Fely terkadang masih datang.


Melupakan itu memang mudah dan butuh proses.


Berkat bantuan mereka, ia bisa ke Bali dadakan. Menikmati indahnya kute, Nusa dua, tanah kota, pantai Pandawa, dan tempat wisata lain yang membuatnya terhibur.


Kasus Fely membuat dirinya sibuk belum lagi perkara Thifa dan Satriya.


Zafir benar-benar menenangkan diri semau dia. tanpa ada yang boleh mengganggu. Bahkan ponselnya selama tiga hari disita Malik.


Sahabatnya itu dengan sengaja mematikan daya ponselnya sejak pesawat landing sampai pesawat kembali tiba di Surabaya.


Selama di Bali, saat menghubungi kedua orang tuanya ia menggunakan ponsel Malik.


Aqeela dan Desta sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Zafir tentang kelakuan sahabat anak-anaknya.


Namun, ia juga bersyukur karena sahabat anaknya memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap musibah yang menimpa Zafir.


"Bagaimana Bali?" tanya Uncle Iyan yang kebetulan berkunjung ke rumah Aqeela bersama Zafira saat Zafir baru sampai dari Bali.


"Masih tetap kayak dulu. Dia belum pindah ke Pulau Jawa, kok," jawab Zafir dengan kocak.


"Sumpah lo, ya. Pengen Uncle pites," sahut Julian gemas.


Dia tanya serius, malah dijawab asal.


Kocak sih, jawabannya. Andai benar Bali bisa dipindah ke Surabaya. Bagaimana dengan pantai dan turisnya.


Dalam hati suami Zafira itu hanya bisa terkekeh mendengarnya.


"Aku istirahat, dulu ya!" pamit Zafir.

__ADS_1


"Kalau mau makan, minum atau apa saja silahkan melayani diri sendiri. Kami tidak dalam mode melayani tamu," ledek Zafir seraya berlari ke kamar sebelum Julian semakin kesal.


Suara tawanya terdengar begitu lepas saat berlari, Zafira dan Julian sampai melongo karena tidak biasanya Zafie bisa selepas itu.


Setahu mereka selama ini Zafir adalah tiipe cowok kaku, dingin dan sulit ditebak maunya. Jaidi melihat ulah Zafir hari ini mereka sedikit surpraise.


"Dia kesambet dimana, ya Mas?" tanya Zafira.


"Sembarangan ngomongin sodara sendiir kesambet," omel Aqeela yang sedari tadii memperhatikan putra putrinya.


"Siapa yang kesambet, Umma?" tanya Desta yang baru ikut bergabung.


"Anak buya yang barusan datang, tuh. Masa pulang dari Bali omongannya sudah kayak pelawak saja," celoteh Zafira


Desta terkekeh mendengar laporan putrinya.


"Udah biarin saja. Mungkin hatinya lagi senang. daripada sedih terus kayak kemarin. Kita juga,/kan yang susah," jawab Desta.


"Iya, bener juga, sih," sahut Julian.


"kalian makan dulu, sana!" peirntah Aqeela pada suami, anak dan menantunya agar tidak terus berdebat tentang Zafir.


"Buyaaa," panggil Ara yang baru pulang dari masjid. Di sebelahnya ada Aira yang masuk dengan napas ngos-ngos-an.


Dari pakaina yang mereka kenakan, terlihat jelas jika keduanya baru saja selesai berlatih bela diri.


"kalian habis ngapain?" seru Desta yang menoleh begitu namanya dipanggil Ara.


"Main salto," jawab Ara langsung duduk di meja makan.


"Ra, cuci tangan dulu!" kata Ayra mengingatkan saudaranya.


"Eh, iya. betul yang dikatakan Ayra. Ara sudah cuci tangan belum?" tanya Desta lembut.


Ara mengggeleng pelan sambil cemberut, ia seperti enggan menuju wastafel. Namun, karena sudah aturan di rumah tersebut jika masuk rumah harus cuci tangan dan kaki maka mau tak mau Ara harus menurutinya.


"Kalian habis ngapain?" tanya Aqeela setelah kedua putri kembarnya kembali dari kamar mandi.


"Gak ngapa-ngapain," jawab Ayra.


"Boong, Umma," sahut Ara.


"Lalu?" tanya Aqeela menatap keduanya bergantian.


"Ayra abis tanding," seru Ara dengan nada kesal.


"Loh, kan itu biasa, Sayang," sahut Aqeela.


"Harusnya setelah Ayra gilirannya Ara. Eh, pas gilirannya Ara jamnya habis. Kan, kesel banget, Umma," keluh Ara


Aqeela dan yang lain hampir saja tertawa keras dengan kejujuran dan kepolosan Ara. Namun, buru-buru mereka tahan karena kembar satu ini sedkit sensitif jika harus berbeda.


"Coba bayangkan, kalo Ara tadi benar-benar tanding. Kira-kira kalian pulangnya bagaimana? Tambah sore dan malam, dong? Kalo yang lain dicari orang tuanya, bagaimana?" nssehat Buya.


Ara terdiam membenarkan ucapan Desta.


"Gimana kalo tandingnya sama Kakak Fira, saja?" tantang Zafira.


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2