TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Toxic


__ADS_3

Zafir, Malik dan Devan masuk ke cafe dengan langkah tegap dan elegan ciri khas masing-masing.


Zafir masih dengan wajah menunduknya. Malik dengan wajah senyum pesona dan Devan dengan langkah angkuh dan super cueknya.


Masuknya ketiga pria itu menjadikan pusat perhatian kaum hawa yang berada di dalam maupun luar cafe.


Bahkan yang datang bersama pasangannya masih sempat mencuri pandang dengan liciknya.


"Kalian mau apa?" tanya Zafir begitu mereka mendapat tempat duduk yang lumayan strategis.


Tanpa menunggu komando, mereka segera menatap buku menu yang sudah tersedia di meja.


Zafir melambai memanggil seorang waitress cafe. Mereka segera memesan menu yang mereka inginkan setelah mbak waitress datang.


"Interiornya lumayan, ya," puji Malik sembari mengedarkan pandangannya.


Namun, lekas-lekas Zafir kembalikan pandangan Malik karena tatapan para cewek masih mengarah kepada mereka.


Ada rasa tidak nyaman terselip di hati Zafir.


"Ngadep sini aja, Lik!" kata Zafir.


"Itu namanya mereka normal. Masih bisa membedakan mana cowok ganteng dan enggak," sanggah Malik kembali menatap kagum pada interior cafe.


"Cuekin aja, Fir. Anggap aja mereka gak ada," sahut Devan melihat sahabatnya resah.


Zafir menarik napas panjang, mendengar penuturan keduanya. Baru kali ini juga ia tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Entah apa yang salah dengan dirinya.


ditundukannya pandangan demi menjaga penglihatan.


"Abah!" panggil seseorang tiba-tiba.


Zafir yang merasa terpanggil mengangkat kepalanya, menatap si empunya suara. Begitupun Malik dan Devan karena merasa asing dengan pemilik suara tersebut.


"Aldi," sahut Zafir begitu mengenali yang memanggilnya adalah Aldi. Yang katanya anak kelas sebelah di kampus.


"Ternyata Aba juga suka nongkrong, ya. Eh, itu pecinya gak dipake?" ucap Aldi menatap heran ke arah Zafir.


Kedatangan Aldi kembali membuat mereka pusat perhatian, apalagi panggilan 'Abah' yang mencuat menjadikan mereka bertanya-tanya, siapa Abah?


"Emang ada yang salah kalau kita makan atau minum di sini?" sahut Malik yang tidak menyukai kehadiran Aldi.


"Kirain gitu, Abah kan di kampus sangat fanatik. Eh, ternyata ...," Aldi tidak melanjutkan kalimatnya karena pesanan Zafir, Malik dan Devan datang.


"Mbak saya mau dong ...," kata Aldi menahan Mbak waitress yang sudah selesai menata pesanan ketiga sahabat tersebut.


Aldi menyebutkan pesanannya.


"Di meja 24, ya Mbak," kata Aldi.


"Bah, kalau butuh teman cewek. Aku ada, tuh!" kata Aldi menunjuk dua cewek yang ada di mejanya.


"Anjir, kita ke sini mau makan bukan cari cewek," balas Devan dengan geram menyaksikan tingkah Aldi.


"Hahaha, kali aja si Abah kesepian, gitu," ledek Aldi seraya meninggalkan meja Zafir.


"Anjing, kucing, Marmut," umpat Devan mengeluarkan segala macam nama binatang melihat tingkah Aldi.


"Elo nemu orang kayak gitu di mana sih, Fir?" lanjut Devan meletakkan sendoknya.


Nafsu makannya mendadak menghilang karena ulah Aldi.


"Bener-bener toxic. Tau gini mending ke cafenya Om Vian," tandas Malik.


"Gue gak nemu di mana-mana. Lah wong dia yang nyamperin aku dari kemarin di kampus," tutur Zafir.


"Terus kalian cerita apa aja?" selidik Devan.


"Enggak ada. Gue gak cerita apa-apa," jawab Zafir.

__ADS_1


"Kok sampai manggil elo, Abah?" sahut Malik.


"Denger dari teman sekelas gue, kali," balas Zafir malas.


"Udah abisin makanannya. Cuekin aja omongan cowok gak jelas tadi," lanjut Zafir membalikkan omongan Devan.


"Wah, kita kena getahnya nih, Lik. Omongan kita sekarang dibalik kayak tahu goreng," balas Devan sambil terkekeh.


"Dimakan anget-anget Lima ratusan," sahut Zafir menirukan nada tukang tahu bulat yang digoreng dadakan.


"Pantes loe," ledek Malik.


Ketiganya terkekeh melupakan ucapan toxic Aldi yang membuat suasana sempat tidak menyenangkan.


"Malam, bole aku gabung di sini?" tiba-tiba seorang cewek datang ke meja mereka.


"Sepertinya obrolan kalian seru," lanjut cewek tersebut sambil duduk di kursi kosong di samping Zafir.


"Lah siapa juga yang ngizinin elo duduk di sini," tolak Zafir tanpa menatap cewek seksi yang duduk di sampingnya.


"Gak ada, kan, tadi aku cuma bilang mau gabung," lanjut si cewek.


"Mbak, di Sono tuh masih banyak meja kosong. Di sini sudah penuh sesak. Lagian himbauan pemerintah harus jaga jarak," sahut Devan yang juga merasa terganggu


"Aku maunya sama kalian, aja. Sendirian itu gak enak," sahut si Mbaknya.


"Lah, salah situ juga kenapa datang sendiri," jawab Devan dengan nada kasar.


"Mbak ada yang bisa kami bantu?" tanya Zafir menoleh ke arah si Mbak seksi.


"Temenin aku aja," jawab si Mbak.


"Ooh, semalam berapa Mbak?" ucap Zafir langsung ke intinya.


"Wah, keren kamu memang cowok tulen," sahut si Mbak.


"Oh, nomer rekeningnya berapa? Tapi setelah saya kirim duitnya, tolong bantu saya beberes rumah, ya. Kebetulan ART di rumah saya sedang pulang kampung. Jadi, nemenin sayanya sambil nyapu, ngepel, nyuci, dan beres-beres rumah," balas Zafir datar dan tenang.


Muka si Mbak seketika berubah menjadi sewot tidak karuan. Tanpa diminta ia langsung meninggalkan meja Zafir.


"Wkwkwkkk," tawa Malik dan Devan lirih melihat si cewek seksi tersebut ngibrit meninggalkan mereka.


"Canggih. Keren banget pengusirannya. Halus tapi menyakitkan buat mereka," ucap Devan.


"Kalian liat, kemana perginya cewek tadi? Aku curiga aja sama dia," kata Zafir.


Auto Devan dan Malik mulai pasang mata. Melirik sana sini, mencari keberadaan si cewek seksi tadi.


"Anjir, dia kok ada di meja si kampret," runtuk Devan melihat si Mbak tadi duduk di meja Aldi.


"Bener-bener toxic," sambung Malik geram.


"Makanya cepet abisin, kayaknya nih, cafe gak beres, deh," bisik Zafir.


Segera mereka bertiga menyelesaikan makan dan membayar tagihan agar bisa segera meninggalkan cafe tersebut.


"Yuk, pulang!" ajak Devan.


"Yakin," ledek Malik yang tahu kakak kelasnya itu pasti masih ingin berkelana ke tempat lain.


"Hahaha, elo tau aja yang gue mau," sahut Devan.


"Mending kita duduk-duduk aja di trotoar Tunjungan daripada ke tempat kayak gini," ajak Zafir.


"Let's go, cabut!" sahut keduanya bersiap meninggalkan cafe.


Bugh.


Sebuah lengan pria berjaket hitam tanpa sengaja menabrak lengan Devan.

__ADS_1


"Duh, maaf ya, kak. Tidak sengaja," kata si penabrak pada Devan.


"It's oke," sahut Devan


Zafir yang kebetulan di belakang Devan, menatap wajah penabrak tersebut tajam.


"Satriya?" ucap Zafir ragu.


Pemuda yang dipanggil Satriya itupun beralih ke Zafir.


"Loh, Kak Zafir," panggil Satriya.


"Maaf ya, kak tadi gak sengaja," kata Satriya.


"Gak pa-pa. Kita balik dulu, ya Sat," pamit Zafir menatap Satriya curiga.


"Oke, Kak," sahut Satriya.


****


Di parkiran.


"Kalian perhatikan pemuda yang nabrak Kak Devan tadi?" kata Zafir sembari menekan tombol kunci otomatis mobil Malik.


"Kenapa dengan dia? sahut keduanya penasaran.


Bersambung ya, gaes ...


🤭🤭🤭🤭


Besok kita lanjutkan kepo2nya.


Biar gak kepo sama yang mereka obrolin, nih aku kasi oleh-oleh Tunjungan.


Jalan Tunjungan Sebelum PSBB dan PPKM


dipake area Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan.




Nah, pas PSBB dan PPKM di tutup.


kayak gini, nih.



Tunjungan sekarang


Area hotel mojopahit, hotel bersejarahnya Surabaya. Hotel yang dulu namanya hotel orange.



Menjadi pusat wisata, bernama Tunjungan Romansa



Satu aja yang gengs.


Sisanya kita ke Surabaya.


Sumber gambar dari google.


Aku belom bisa jalan-jalan ke sono.


Mengsedih.


Gak pa-pa, Gak pa-pa. Pokoknya tap love kalian. lalu komen, ya.

__ADS_1


__ADS_2