
"Kakak jangan nangis. Apapun yang terjadi, Aku tetep adik kakak kok." Hibur Julian.
"Aku gak akan lama kok, Kak." Sambungnya.
"Tapi perasaan Kakak, bener-bener gak enak Yan." Aqeela melepas pelukannya beralih duduk di salah satu kursi kerja adiknya.
Kamar Juliannya itu kini sudah merangkap jadi ruang kerja. Karena ia seringkali membawa kerjaan pulang, jika jam kuliahnya mepet.
Julian mengikuti Kakaknya duduk di seberang.
"Kak. Kakak doa'akan saja supaya niat Iyan diijabah Allah. Tanpa ada halangan apapun." Ucap Julian penuh pengharapan.
Aqeela mengangguk pelan, "Pasti."
"Apa mereka sudah berangkat, Kak?" Sambung Iyan sembari melongok jendelanya yang langsung berhadapan dengan halaman depan.
"Sudah."
"Kalo gitu Iyan keluar. Kakak jadi ikut?"
Aqeela kembali mengangguk pelan.
"Tapi antar si twins sekolah dulu ya?"
"Siap, Kakakku tapi calon mertuaku." Goda Julian.
Aqeela hanya terkekeh sambil meninggalkan cowok iseng yang masih duduk anteng di kursinya.
💗💗💗💗💗
Ba'da Isya'.
Aqeela dan Desta mengumpulkan semua anaknya di ruang tengah. Bahkan Bu Erna dan Bu Darmi juga diajak nimbrung.
"Kalian tahu kenapa Buya kumpulkan di sini?" Tanya Buya dengan penuh wibawa.
"Belum semua Buya. Uncle belum ada?" Seru si Ara dengan polosnya.
Desta menarik napas panjangnya.
"Salah satunya karena berhubungan dengan Uncle Iyan kalian." Ucap Desta berat.
Semuanya terdiam fokus dengan Desta.
"Zafira mungkin bisa bantu, Buya? Menjelaskan semuanya?" Desta beralih ke Zafira yang menunduk dan terdiam.
Gadis auto reflek mendongak begitu namanya disebuy Buya.
Tatapan penasaran anggota keluarganyapun beralih ke Zafira.
"Tentang apa, Buya?" Tanya Zafira.
"Tentang Uncle Iyan."
"Buya sama Umma saja yang cerita. Karena Zafira pun ingin tahu ceritanya dari sumber terpercayanya." Tolak Zafira karena tatapan saudaranya sudah menatapnya penuh selidik.
"Okay...karena Zafira tidak mau membantu,.biar Buya dan Umma yang cerita." Lanjut Buya sembari mengenggam erat tangan Umma.
Karena wanita itu sudah mulai berkaca-kaca.
"Uncle Julian, Umma bawa dari rumah sakit saat berusia lima tahun. Bersamaan dengan Umma yang dirawat setelah operasi luka di punggungnya."
Sampai sini, Bu Erna dan Bu Darmi seolah sudah tahu arah pembicaraan majikannya tapi keduanya masih bertahan untuk menyimak.
Sedangkan Aqeela sudah berurai air mata. Zafira mempertahankan posisinya menunduk. Gadis ini tak ingin wajah sedihnya terlihat oleh orang tua dan saudara-saudaranya.
"Umma dan Buya menjadikan Julian kecil sebagai adik. Dan sejak itu Uncle tinggal bersama kami. Walaupun surat adopsi milik Buni dan AyahKung."
"Jadi, Uncle bukan anaknya Buni dong?" Seru Zafran seketika.
"Iya.." Jawab Desta.
"Tapi sampai sekarang Uncle Iyan tetap jadi adik Umma dan Buya. Apa diantar kalian ada yang keberatan jika, Uncle Iyan tetap menjadi Uncle Kalian? Meskipun kalian tahu dia bukan adik kandung kami."
__ADS_1
"Buat Zafir Uncle Iyan tetep unclenya kita. Bagaimanapun keadaannya."
"Zafran juga kok Buya."
"Al juga."
"Ara juga."
"Ayra juga."
Umma terlihat lebih tenang mendengar ucapan kelima anaknya
"Terima kasih ya... kalian memang anak-anak Umma dan Buya yang hebat" Ucap Aqeela.
"Tapi tunggu deh, kenapa Zafira gak ditanyain?" Zafran menatap kepo ke arah Zafira.
"Karena dia sudah tahu." Jawab Desta.
"Hei.. jangan-jangan. Kamu waktu itu...!"
"Waktu itu aku sudah tahu!" Potong Zafira cepat sebelum Zafir berkata yang aneh-aneh kepada Buya dan Umma.
"Udah kalian gak udah debat. Masih ada yang ingin Buya sampaikan." Seru Dest.
"Ha..." Serempak keenam anak mereka menatap fokus lagi ke Desta.
Kecuali Zafita yang sudah mulai tidak fokus. Pikiranya sudah membayangkan tentang Julian.
Gadis itu tahu, alasan Julian tidak ada. Dan apa rencananya. Tapi ia memilih untuk tetap diam.
"Mulai hari ini Uncle pindah ke rumah peninggalan orang tuanya. Tapi hanya sementara. Seminggu lagi Uncle bertamu le sini."
"Kok bertamu?" Tatap Zafran keheranan. Auranya sudah menunjukkan rasa penasaran yang luar biasa.
"Karena tujuannya ke sini, untuk Zafira."
"Maksud Buya?" Zafir menatap tak percaya ke arah sang Buya.
Deg...
"Firaa! Beneran itu?" Suara Kencang Zafran benar-benar memekkan telinga.
"Zafran jaga suara kamu!" Aqeela mengingatkan.
"Iya, maaf Umma." Jawab Zafran mengecilkan kembali volume suaranya.
"Iya.. semua yang dikatakan Buya benar. Awalnya Zafira mengira Uncle cuma iseng. Ternyata beneran." Jawab Zafira lirih.
"Wah, bentar lagi nikah dong?" Ledek Al.
"Enggak tunggu lulus." Bantah Zafira.
"Kelamaan, Kak. Umma sama Buya aja nikah muda. Masa Kakak kalah sama mereka?" Goda Aira yang sudah tahu sejarah pernikahan orang tuanya.
"Kalian itu bener-bener bikin aku kesel tau gak sih!" Celoteh Zafira.
"Idiih pengen bilang iya saja, pake malu-malu. Udah kita juga gak pa_pa kok," Ledek Zafran
Zafira semakin kesal aja tuh. Bibirny sampai maju. Mulutnya ia kunci rapat.
"Udah, gak usah ganggu Zafira!" Lerai Umma.
Semua terdiam karena mantra ajaib Umma.
💗💗💗💗💗
Julian sudah siap di depan gerbang SMA triple. Hari ini ia sudah janji menjemput Zafira untuk kembali ke butik dan toko perhiasan tempat Julian memesan cincin untuk Zafira.
Begitu Julian mendapati Zafira berjalan mendekat ke arah kendaraannya.
Julian melambai, berharap gadis itu mempercepat langkahnya.
Tapi harapannya pupus, Zafira malah berhenti diajak ngobrol seorang temannya. Cowok pula. Membuat dada lelaki itu sesak.
__ADS_1
Tapi ia tahan, Julian sadar Zafira masih SMA pergaulannya masih ingin bebas. Temannya bermacam-macam. Finally ia hanya menunggu gadis itu menyelesaikan perbincangannya.
"Ngobrol apa saja dia tadi?" Tanya Julian ketus begitu Zafira masuk ke mobilnya.
"Nggak ada cuma tugas saja." Jawab Zafira seraya mengenakan sabuk pengamannya.
"Beneran?"
"Iya beneran, hanya saja dia ngajak ngerjakan di rumahnya."
"Gak boleh!" Larang Julian seketika.
Zafira tertawa lebar mendengar Julian melarangnya.
"Yang lagi jeles, takut amat sih aku dibawa kabur orang." Ledek Zafira.
"Kenapa gak satu kelompok sama Zafir dan Zafran aja sih?" Seru Julian kesal.
"Ya protes saja sono sama gurunya. Lha wong yang ngacak juga gurunya. Andaikan diizinkan mending aku kerjakan sendiri. Males banget kerkel karena ujung-ujungnya aku juga yang ngerjakan!"
"Curhat, dek?" Balas Julalian meledek Zafira.
"Bukan, gali sumur!" Omel Zafira.
"Hahahah..." Tawa lepas Julian mengisi keheningan mobilnya dengan cepat.
"Ya ini yang paling uncle rindukan selama mengemudi sendiri semingguan ini." Lirih Julian.
"Curhat, Bang?" Balas Zafira sambil menatap Julian jahil.
"Bukan, pasang terop."
"Jauh banget pasang terop. Gak ada kondangan."
"Hajatan kita. Kelamaan nunggu hajatan orang lain..Mending bikin hajatan sendiri." Balas Julian.
"Hmm iya selamaletan weton." Ledek Zafira.
"Yang keren dikit napa sih!" Balas Julian.
"Ada. Selamatan turun tanahnya Uncle. Hahaha.." Ledek Zafira sambil terus tertawa lebar.
"Iya siapin andang, jeneng, tetel sam kurungan ayam ingat ukuran XXL." Balas Julian.
"Kira-kira jenang sama tetelnya kena sawan gak ya?"
"Pasti sawan orang ganteng."
"Ge er."
Keduanya terus bercanda tanpa lelah. Bahkan masuk mallpun sampai jadi pusat perhatian.
Setelah cincin mereka dapat.Keduanya menuju butik.
Dari butik Julian segera mengantar Zafira pulang.
"Besok dandan yang cantik ya!" Pinta Julian sebelum menekan tombol pintu otomatisnya.
"Uncle juga segera pulang. Kasiyan Umma tiap hari keluar masuk kamar Uncle terus." Balas Zafira sebelum keluar mobil.
Julian hanya tersenyum kecil.
Setelah saling balas lambain tangan, Zafira masuk ke rumah.
💗💗💗💗
Like
komen
Vote
Up dini hari.
__ADS_1