
Setelah kepergian Edo dan Doni.
Desta dan Julian malah ngakak barengan.
"Kak, kakak tadi sengaja kan? mengusir mereka berdua?" Selidik Julian.
"Anak pintar!" Desta merangkul adiknya.
"Memangnya ada apa?" Tanya Julian penasaran bin kepo tingkat dewa.
"Yan, janji jangan sampai kakak kamu tahu soal Wisnu." Ucap Desta sambil menatap lekat Julian.
"Bosan aku dengernya. Kakak udah mewanti-wanti aku berkali-kali. Aman-aman, Kak."
Desta menoyor Julian lemah.
"Uuhh...gerakannya lemah banget." Ledek Julian.
"Mau yang kuat. Bisa. Tapi jangan salahkan Kakak kalo kamu langsung masuk UGD." Seru Julian.
"Iya deh. Yang mantan jagoan. Tapi sayang masih lebih kuat srikandinya." Julian tak henti-hentinya meledek Desta.
Desta memilih tak menanggapi ucapan Julian.
"Yan, hubungan kamu sama Hani udah sampai mana?"
"Udah sampai pesantren." Jawab Julian.
"Bukan itu dodol." Desta menoyor lagi bahu Julian.
"Terus hubungan yang kayak gimana maksud kakak?"
"Hubungan antara laki-laki dan perempuan tentunya."
Julian menatap kakaknya bingung harus menjawab apa.
"Aku dan Ning Hani gak ada apa-apa Kak."
"Yang bener aja."
"Kalian tiap hari bareng dan deket banget kan?"
"Kak, Ning Hani itu gak mungkin bole deket dengan cowok sembarangan. Lagian orang tuanya pasti sudah mempersiapkan jodoh untuknya. Yang sesuai standart mereka."
"Kamu yakin tidak ada rasa apapun dengan dia?"
"Yakinlah, Kak. Setiap dekat dengan Ning Hani aku biasa-biasa saja. Dia sudah ku anggap Kakak."
Desta menarik napas panjang mendengarnya. Entah itu lega atau kesal.
"Lusa Farid mau mengkhitbah Izza." Celetuk Desta tiba-tiba.
"Alhamdulillah. Akhirnya tumbang satu jones di pesantren." Ucap Julian.
"Yan, jaga kakak kamu ya. Jika suatu saat aku jauh."
"Kakak mau kemana?"
"Gak kemana-mana. Tapi entahlah..." Tiba-tiba ingatan Desta melanglang ke sebuah pesan yang ia baca beberapa hari lalu.
📱 Perusaahaan cabang Jerman sedang mengalami kemunduran. Jika Bapak berkenan kami tunggu kedatangannya untuk menyelesaiakan permasalahan di sini.
Satu pesan dari Jeff orang kepercayaannya di Jerman.
"Kak.. Kakak baik-baik saja kan?" Tanya Julian.
"Kakak kemungkinan akan ke Jerman, perusahaaan yang di sana lagi ada masalah." Ucap Desta lirih.
"Kakak mau berangkat sendiri?" Tanya Julian menatap tidak percaya ke arah kakaknya.
"Belum tahu. Kakak belum cerita ke istri kakak." Desta menerawang jauh ke depan seakan meneropong masa depannya.
__ADS_1
"Kakak nitip triple. Mereka sudah semakin dewasa."
"Kak, bawalah Kak Aqeela ke Jerman bersama Al, dan si twins. Cepet selesaikan urusan yang di sana. Lalu balik ke sini. Urusan triple nanti Iyan yang bantu jagain mereka." Saran Julian kepada Desta.
"Nanti sampai rumah kita bicarakan dengan kakakmu."
"Kapan Kakak berangkat?"
"Minggu-minggu ini." Jawab Desta.
"Tapi Kakakmu sekarang lagi sibuk membantu mempersiapkan acaranya Farid." Sambung Desta menunduk mengingat kesibukan yang tadi Aqeela sampaikan di telepon.
"Kakak tumben sih gak semangat gitu. Biasanya juga kalian bisa membicarakannya dengan tenang."
"Rasanya kali ini beda banget, Yan. Bisa saja kita akan lama di sana."
"Kak... Ikhitar dan Pasrah." Julian kembali menguatkan.
"Kak Doni sudah tahu?" Sambung Julian.
Desta menggeleng.
💗💗💗💗💗💗
Sampai di rumah, Desta belum bisa menyampaikan uneg-unegnya kepada Aqeela karena keribetan acara Farid.
Hingga menjelang tengah malam. Sebelum kedua memejam mata di peraduan.
"Beb, apa kamu bersedia ikut kemanapun aku berada dalam keadaan apapun?" Tanya Desta lirih.
Aqeela yang sedang terlentang seketika memiringkan tubuhnya menghadap Desta.
"Pasti. Aku akan iku kemanapun Kakak pergi. Ada apa Bae?" Tanya Aqeela penasaran.
Desta memiringkan tubuhnya menghadap Aqeela dan menatap lekat istri tercintanya itu.
"Kita ke Jerman! Perusahaan yang di sana sedang ada masalah." Desta mengulurkan tangannya memeluk Aqeela lalu membenamkan kepalanya ke dada Aqeela.
"Al dan si twins kita aja. Triple biar tetap di sini."
"Berapa lama?"
"Entahlah, yang pasti lebih dari dua bulan." Aqeela menghela napas panjang.
"Aku ikut kemanapun Buya ajak."
Desta mengeratkan pelukannya ke Aqeela.
"Nggak lebih dari ini ya.. Bae."
"Kenapa?" Desta menatapa wajah Aqeela.
"Aku lagi datang bulan. Barusan habis sholay isya' tadi."
Desta tampak kecewa, tapi ia hanya pasrah. Karena setiap wanita usia subur masih mempunyai siklus bulanan secara rutin.
Namun kecewa bukan berarti mengurangi cinta dan romantis. Mereka tetap saling mengeratkan pelukan.
💗💗💗💗💗💗
Aqeela terlihat lelah setelah acara Farid sore tadi.
Ia tiduran di atas sofa ruang keluarga.
Baby twins sedang ditidurkan Bu Darmi dan Bu Erna. Desta dan Julian nampak sibuk berbincang di ruang tamu.
Sedangkan Al sudah terlelap sejak dalam perjalan pulang di mobil.
Keluarga Farid sudah berpamitan setengah jam yang lalu.
"Kak, besok berangkat jam berapa?" Tanya Julian dengan nada sendu.
__ADS_1
"Sore, pesawatnya sekitar jam empatan." Jawab Desta sambil menepu bahu Julian seakan memberi kekuatan pada adiknya itu.
"Besok aku jemput si triple." Putus Julian.
"Ndak usah."
"Tapi Kak. Mereka pasti nanyain Buya sama Ummanya?"
"Yan, kakak usahakan secepatnya kembali. Kalo memang harus lebih lama. Kakak yakin kamu lebih jago meredam emosi mereka bertiga."
Julian hanya mengehembuskan napas panjang, menatap kakaknya seakan tak tahu apa yang ada di otak Bapak setengah lusin anak itu.
"Kakak yakin?" Julian seakan berusaha menentang keputusan sang kakak yang akan berangkat ke Jerman tanpa pamit triple.
"Toh, biasanya mereka juga sudah kakak tinggal ke luar negeri."
"Tapi kan itu cuma sebentar. Tidak selama yang kakak perkirakan." Sangkal Julian.
"Kak...!"
"Nanti kalau kamu sambang mereka bertiga, VC kakak."
"Kalo perkara itu sih gampang. Tapi pikirkan perasaan mereka bertiga, Kak." Julian berhenti sejenak.
"Atau biar Iyan jemput sekarang?"
"Ngawur...!" Pekik Desta.
"Ini sudah malam, Yan. Mending kamu istirahat saja."
"Kalian ini kenapa?" Tiba-tiba Aqeela muncul diantara mereka berdua.
"Gak pa-pa kok Beb." Jawab Desta.
"Gak pa-pq tapi suaranya terdengar sampai dalam." Cerocos Aqeela.
"Aku mau jemput triple tapi gak diizinin Kak Desta." Sahut Julian.
"Oh.. soal itu. Besok biar kakak yang ngabari mereka. Kakak nitip mereka bertiga ya. Sama ini..." Aqeela mengeluarkan dompet dari tasnya.
"Ini pakai untuk memenuhi kebutuhanmu dan Triple." Aqeela memberikan credit card unlimitted dan dua buah kartu debit kepada Julian.
"Bawa ini."
"Aku udah ada Kak." Bantah Julian.
"Itu milik kamu Yan. Sedangkan ini milik si triple. Mereka belum kakak izinkan bawa kartu beginia. Kasi mereka uang cash sesuai kebutuhan mereka." Pesan Aqeela.
Julian membolak balik kartu milik Aqeela.
"Kapan saja ini bisa mereka pakai?"
"Kapan saja." Jawab Aqeela.
"Kakak titip mereka bertiga, ya. Semoga urusan kakak kamu cepat selesai dan kita bisa segera pulang." Pesan Aqeela.
"Aamiin.. Do'aku selalu menyertai kalian."
"Makasii Yan."
💗💗💗💗💗💗💗💗
Man teman maap yaa.. Upnya telat-telat lake banget lagi sibuk akhir tahun.
Say,
happy reading
Untuk semua dukungannya, thankyu so much
Tunggu triple di next episode yaa..
__ADS_1