
Langkah Julian terhenti di depan pintu rumah Gus Burhan.
"Ning, kok ke rumah Gus Burhan?" Julian sedikit gentar jika harus masuk ke dalem.
"*Aku ada salah apa ya? Kok Gus Burhan menyuruhku ke rumahnya."
Jantung Julian sudah berdetak tak berirama. Semakin masuk semakin kencang*.
...Keringat dingin mulai berjatuhan tanpa bisa ia kendalikan. Bahkan tangannya sudah basah....
Berbagai prasangka berkecamuk di pikirannya.
Perasaannya benar-benar tidak baik-baik saja. Ingin lari saja, begitu pikirnya.
Tapi lari takkan menyelesaikan masalah.
Berbagai macam rangkaian do'a ia ucapkan dalam hati. Saat ini, ia banyak berharap kepada Allah swt.
"*Ya Alloh, semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya.
"Bismillahi walajna wa bismillahi khorojna wa alallahi tawakkalna." Gumamnya dalam hati saat Hani mulai membuka pintu.
"Assalamu'alaikum.." Hani dan Julian mengucapkan salam bersamaan begitu masuk ke dalam rumah Gus Burhan*.
"Duduk dulu Yan, aku panggilkan Aba dulu." Hani mempersilahkan Julian duduk dengan ramah.
Julian mengangguk pelan. Sambil duduk di karpet yang terpasang di ruang tamu Gus Burhan. Setelah Hani masuk ke dalam memanngil nama ayahnya.
Tak perlu menunggu lama, Hani sudah kembali ke ruang tamu ditemani Gus Burhan.
"Yan, ikut kami ke dalam!" Perintah Gus Burhan, tanpa basa basi.
Julian semakin dag dig dug dibuatnya.
Tanpa menunggu peringah dua kali, Julian mengekori Gus Burhan dan Hani.
"Duduk, Yan!" Perintah Gus Burhan selanjutnya tanpa mengatakan apapun.
Julian kembali dibuat salah tingkah, karena dihadapannya kini ada Kyai Sepuh dan Bu Nyai, Ning Saroh ibunya Hani juga Gus Karim dan Gus Malik juga putra putri mereka.
"Yan, duduk!" Ulang Gus Burhan, melihat Julian masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Sini duduk di sebelah Rafi!" Perintah Gus Burhan sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Rafi putra keempatnya.
Karena putra kedua dan ketiganya sedang mondok di Jawa Tengah.
Dengan menghela napas panjang, Julian duduk di sebelah Rafi. Ia berusaha sebisa mungkin menahan debaran jantungnya agar tidak terdengar para Kyai di depannya.
Hani mengangsur sebuah piring ke Julian. Julian menerima dengan ragu.
"Makanlah! Mulai hari ini kamu harus makan di sini!" Gus Burhan kembali mengeluarkan perintah tanpa berani Julian membantah. Apalagi di posisi makan begini.
Tanpa banyak bicara, Julian segera mengisi piringnya dengan menu yang ada di meja.
Menu yang tidak jauh berbeda dengan para santri. Karena juru masaknya sama. Dan Kyai sepuh tidak ingin dibedakan menunya. Beliau juga ingin makan menu yang sama dengan santrinya.
Julian segera menyelesaiakan makannnya. Ia benar-benar salting dan bingung menghadapi para pemilik pesantren tersebut.
__ADS_1
Meskipun di Surabaya, Aqeela juga mengasuh pesantren tapi aura di sini jelas berbeda dengan milik kakak angkatnya itu.
Setelah menyelesaikan makannya, Julian merapikan piring kotor.
"Yan, biarkan nanti Mbak Wiwik yang akan membersihkan!" Cegah Gus Malik.
Mbak Wiwik, yang ditugasi membersihkan piring kotor bekas makan kediaman Kyai tampak terkejut dengan kehadiran Julian di ruang makan tersebut.
Namun tidak ditampakkan dengan jelas. Hanya sekilas menatap Julian lalu kembali melanjutkan tugasnya.
"Yan, mulai hari ini kamu harus makan bersama kami. Kami juga minta tolong ajari Rafi dan Ais pelajaran sekolahnya. Kami sudah repot dengan pondok. Hani juga sekarang sibuk bulan depan mau berangkat mondok lagi." Gus Burhan menjekaskan detail keinginannya.
Julian sekilas menatap Hani, saat nama gadis itu disebut sang ayah. Sekilas itu juga, ia melihat ada kesedihan di mata gadis itu.
"Ada apa dengan Ning Hani?" Pertanyaan Julian dalam hati.
Setelah itu ia beralih ke arah Rafi dan Ais. Cucu si pemilik Pesantren.
Rafi putra dari Gus Burhan.
Ais adalah putri kedua Gus Karim. Putri pertamanya Syifa saat ini sedang mondok di Malang. Usianya terpaut satu tahun lebih muda darinya.
"Baik, Gus. Untuk jamnya pripun." Tanya Julian dengan sopan.
"Sore saja. Setelah ashar Sekitar jam empat. Usahakan sebelum maghrib selesai." Kata Gus Burhan tegas.
"Baik Gus. Mulai hari ini atau besok?" Julian kembali menegaskan.
Tak ada keberanian darinya untuk menolak perintah Gus Burhan.
"Rafi, Ais kalian ingin belajar di temani Mas Iyan mulai kapan?" Tanya Gus Burhan meminta pendapat kedua anak kecil tersebut.
"Nanti sore Abah." Jawab Rafi.
"Nanti Ami." Jawab Ais.
Gus Burhan tersenyum mendengar jawaban keduanya.
"Yan, sesuai permintaan mereka. Nanti sore ya!" Kata Gus Burhan menatap Julian kembali.
"Inijih, Gus." Jawab Julian dengan sopan.
"Sekarang kalian kembalilah ke sekolah. Sebentar lagi jam istirahat selesai!" Perintah Gus Burhan.
Julian dan Hani segera pamit.
"Ning, ada apa? Kenapa tiba-tiba Gus Burhan menyuruh Ning Hani mondok lagi?" Julian memberanikan diri bertanya kepada gadis itu.
Saat keduanya mulai meninggalkan area dalem.
Hani sedikit terkejut dengan keberanian Julian. Sesaat ia menatap pemuda di hadapannya namun segera ia alihkan pandangannya.
"Apa kamu bisa aku percaya?" Tanya Hani tanpa menghentikan langkahnya.
"Insya Allah, saya akan keep." Jawab Julian masih dengan porsi sopan.
Hani menampakkan senyumnya.
__ADS_1
Cantik. Hanya itu komentar Julian saat tak sengaja pandangan mereka bertemu.
"Istirahat kedua setelah sholat duhur aku tunggu di perpus." Kata Hani sambil melangkah menuju kelasnya.
Karena memang kelas Madrasah Aliyah di desain lebih dekat dengan kawasan Pesantren putra.
Sedangkan Madrasah Tsanawiyah di desain lebih dekat dengan pesntren putri.
Dan untuk ke rumah Kyai, harus melewati area pesantren putra.
Julian menlanjutkan langkahnya sambil terus mengingat pesan Hani, istirahat kedua setelah sholat duhur di perpus.
Saat masuk ke dalam kelas, teman-teman sudah mulai kasak kusuk. Mungkin mengibah dirinya atau Hani.
"Darimana aja?" Tanya Iwan teman sebangkunya.
"Makan." Jawab Julian singkat.
"Makan kok sama Ning Hani?" Kepo si Iwan.
"Jangan-jangan...." Ilyas menambahkan.
"Kalian dijodohkan." Potong Zain
"Hei, status gaes.. Kita ini santri. Dia pemilik pesantren. Gak level." Bantah Julian.
Sengaja Julian tidak mengatakan tentang keberadaan Al-Muslim di Surabaya. Khawatir teman-temannya minder tak mau dekat dengannya.
"Fans kamu gak terima tuh. Liat Ning Hani jalan sama kamu tadi." Zain melaporkan kegiatan para fans Julian.
"Biarin saja. Toh, nanti akan hilang dengan sendirinya." Kata Julian santai.
"Kamu gak tertarik gitu dengan salah satu dari mereka?" Ilyas kembali kepo.
Beruntung bel masuk berbunyi, sehingga sesaat mereka terdiam. Karena kebisingan suara bel yang kencang.
Sengaja memang dibunyikan kencang, supaya anak pondok segera kembali ke kelasnya.
Bagi anak pondok istirahat adalah jam luar biasa. Mereka bisa mager ( malas gerak ) dan pewe ( Posisi Wenak ) seenaknya. Walau hanya sebentar. Begitu bel berbunyi mereka kembali ke sekolah masing-masing.
"Kamu gak tertarik dengan mereka?" Ulang Ilyas.
Keberuntungan masih berpihak kepada Julian, Bu Asih masuk dengan santai. Sehingga Julian tidak perlu menjawab pertanyaan Ilyas.
💗💗💗💗💗
Ada apa dengan perfect girl ya?
Para fans Julian, kecewa berat pastinya.
Perfect boy feat perfect girl, kok bisa?
Next yaa...
man teman bole dong aku di kasi votenya...
Tengkyu so much ya..
__ADS_1
kiss from si triple...