TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Iseng feat Jahil


__ADS_3

"Duduk, De.." Ajak Doni.


Dea menuruti Doni ia duduk di sebuah kursi yang disediakan kantin.


"Mau makan atau minum apa?" Tanya Doni lagi.


Dea mengedarkan pandangannya mencari menu yang disediakan kantin perusahaan Desta.


"Kantinnya lumayan bersih dan mewah juga." Ucap Dea dalam hati.


"Don, Mochachino latte aja yang dingin ya." Pinta Dea.


"Okay, tunggu yaa..." Doni segera memesankan permintaan Dea.


"Nee..." Doni kembali sambil membawa dua gelas mochachino latte.


"Makasi ya, Don." Kata Dea.


"Hmm.."


Doni dan Dea menyeruput minumannya.


"De, jangan kaget ya... " Doni mengawali pembicarannya.


"Pasti kagetlah, Don." Dea terlihat sedikit santai meskipun dulu mereka tidak merasa saling kenal.


"Semua sudah berubah sejak peristiwa mengerikan dulu." Ucap Doni perlahan sambil membayangkan masa lalunya.


"Desta dan Aqeela banyak membantu aku. Mereka sudah ku anggap seperti saudara. Dua tahun lebih aku tinggal dengan mereka. Bahkan sekarangpun aku asisten pribadi lelaku itu." Ucap Doni.


"Maafkan aku ya De, waktu itu aku memanfaatkan kalian." Ucap Doni dengan menyesal.


"Sudahlah, Don. Aku juga ingin melupakan semuanya. Kita sudah sama-sama dewasa. Aku juga sudah memulai semua dari awal."


"Kamu masih mengharapkan Desta?" Tanya Doni karena merasa perlu mengklarifikasi semuanya.


Dea tertunduk. Seperti menahan sesuatu.


"Mereka sudah menikah kira-kira sebulan setelah kejadian itu." Urai Doni.


"Yang bener saja, Don?" Dea terperanjat mendengarnya.


"Mereka berjuang dengan cara mereka sendiri. Bahkan sampai saat ini aku tidak paham dengan cara mereka."


"Sekolah mereka?" Dea masih tidak percaya. Karena dia ingat waktu itu baik Desta maupun Aqeela tidak menunjukkan kegiatan yang mencolok tentang hubungan mereka.


"Mereka tetap sekolah. Toh, hanya menikah. Mereka hanya menghalalkan hubungan mereka. Selayaknya orang pacaran pada umumnya. Setelah Desta mampu membeli sebuah rumah mereka tinggal bersama." Doni bercerita panjang.


"Aku sudah tidak mengharapkan Desta. Aku sudah mengikhlaskannya." Ucap Dea sambil menunduk.


"Aku harap itu benar." Seru Doni.


Walaupun ia tahu ada air mata di sudut mata Dea.


"Terima kasih sudah berusaha melupakan Desta. Semoga kamu, mendapatkan pasangan yang lebih baik." Do'a Doni sebelum beranjak.


"Mita bagaimana?" Tanya Dea sebelum sempat Doni berdiri dari duduknya.


"Kami menikah dua tahun lalu. Saat ini kami menunggu kehadiran buah hati kami." Jawab Doni sambil tersenyum.


"Sampaikan salam dan maafku ke Mita." Ucap Dea.


"Insya Allah. Datang aja ke RS Ibu. Dia praktek di sana?" Ucap Doni.


"Kalian hebat. Aku tidak menyangka." Ucap Dea.


"Sudahlah, De. Kamu terus semangat ya.. Hubunganku dengan Mita bisa langgeng juga berkat Desta dan Aqeela." Jelas Doni.


Dea kembali tersenyum masam.


Hatinya terkadang masih mengingat Desta, tapi melihatnya sudah bahagia ia ikut bahagia.


💗💗💗💗💗💗💗💗


Di tempat lain. Tepatnya di rumah Bunni.


Si Triple sedang bermain dijaga Bu Erna. Bunni sedang menyiapkan makan siang untuk ketiga cucu kesayangannya itu.


Mereka bertiga sudah mulai gelisah. Bosan dengan semua permainan yang mereka lakukan.


Akhirnya.

__ADS_1


"Bu Erna..." Panggil Zafir.


"Iya, Mas." Sahut Bu Erna


"Bu Erna bisa main ular tangga?"


"Bisa."


"Bisa main petak umpet?" Tanya Zafran


"Bisa."


"Bisa main engkle?" Tanya Zafira


"Bisa."


"Bisa main bekel?" Tanya Zafira lagi.


"Bisa."


"Bisa main kelerang?" Tanya Zafir


"Tidak bisa mas."


"Kalo main PS?" Tanya Zafran


"Tidak bisa juga."


"Kalo main betengan, bisa?" Tanya Zafir.


"Bisa."


"Petel lele?"


"Bisa."


"Bu Erna kok bisa semua, ya?" Zafir mulai berpikir.


"Bu Erna kan sudah tua jadi bisa semua." Sahut Zafran.


"Bunni juga sudah tua, berarti Bunni juga bisa dong?" Seru Zafira.


"Tanya aja ke Bunni." Sahut Zafran.


"Nanti saja. Bu Erna kita main yuuk.." Ajak Zafran.


"Main apa?" Tanya Bu Erna.


"Main petak umpet." Ajak Zafran dengan memaksa.


Zafir dan Zafira mengekor dari belakang. Sedangkan Zafran menarik tangan Bu Erna dengan paksa.


Sampai di halaman belakang, ketiganya langsung menodong Bu Erna untuk jaga. Sedangkan mereka bertiga bersembunyi.


"Bu Erna, hitung sampai sepuluh ya.."


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh." Bu Erna membuka mata.


Dia mencoba mengedarkan pandangannya mencari tiga bocah yang bersembunyi.


Bu Erna mencoba mencari di balik pohon. Di kolong meja, di balik rerimbunan bunga bahkan sampai masuk ke dalam rumah.


"Mas... Zafiirrr... Mas Zafran... Mbak Zafiraa... keluar..." Panggil Bu Erna panik.


"Nyonya, nyonya Bunni melihat si triple?" Tanya Bu Erna cemas.


"Loo, bukannya tadi main sama Bu Erna ya? Saya malah tidak tahu." Jawab Ibu.


"Waduuh mereka kemana ya Bu?" Tanya Bu Erna.


"Coba Bu Erna cari lagi." Ibu juga terlihat cemas.


"Saya taruh ini dulu, setelah ini saya bantu mencarinya." Jawab Ibu.


"Terima kasih Nyonya.." Bu Erna meninggalkan ibu dan mencari si triple ke ruang tamu.


"Mas Zafiir... Mas Zafran.. Mbak Zafira..." Teriak Bu Erna sampai tenggorokannya kering.


Namun Si triple tidak muncul juga. Hampir ia lelah mencari ketiganya. Bu Erna beristirahat sejenak di sofa ruang tamu.


Ibu meletakkan sayuran yang sudah matang ke atas meja.

__ADS_1


"Kok kakiku seperti menatap sesuatu ya di bawah meja." Ibu sudah berpikir yang aneh-aneh saya.


Rasa panik akan suatu bahaya menyerangnya. Jantungnya sudah berdegub dengan kencang. Pikirannya sudah tidak karu-karuan.


Dengan keberanian dan tekad bulat, Ibu berjongkok dan melongok ke kolong meja makan yang memang tertutup.


"Sssttt.." Sebuah jari telunjuk menutup bibir ibu, mengisyaratkan supaya beliau terdiam.


"Ya Allah.. kalian..." pekik Ibu, begitu tahu siapa pelakunya.


"Kalian keterlaluan. Keluar. Lihat Bu Erna sampai kebingungan mencari kalian." Suara Ibu hampir seperti orang berteriak, membuat ketiganya ketakutan.


Selama ini mereka hampir tidak pernah melihat orang marah apalagi berteriak.


Bahkan Umma saat marah tidak mereka takuti.


Tapi ketika melihat Bunni bersuara sedikit kencang mereka sedikit ketakutan.


Bunni yang menyadari cucunya ketakutan, segera meminta maaf.


"Kalian keluarlah, Maafin Bunni ya. Bunni tadi kaget melihat kalian bersembunyi di sini."


"Sekarang selesaikan permainan petak umpet kalian dengan Bu Erna." Ucap Bunni dengan lembut.


"Iya Bunni." Sahut ketiganya dengan pelan. Karena merasa bersalah juga.


"Ayoo, kita ke Bu Erna." Ajak Zafir.


Zafran dan Zafira mengekor dari belakang. Bunni menatap ketiga cucunya dengan khawatir.


"Fir.., Bu Erna tidur." Ucap Zafran.


"Ssttt..." Zafira berbisik kepada ketiganya.


"Satu.. Dua.. Tiga.."


"Bu Erna.. " Panggil ketiganya sambil menggoyang tubuh Bu Erna yang terpejam di sofa karena kelelahan mencari mereka bertiga.


"Kaliaaan.." Seru Bu Erna kaget sambil menatap ketiga balita didepannya itu.


"Bu Erna jaga lagi. Karena gak bisa nemukan kita." Ledek Zafir merasa menang.


Hilang sudah rasa takut mereka karena Bunni. Bunni yang melihatpun kembali berbenah.


"Enggak, Bu Erna capek. Main yang lain saja." Bantah Bu Erna.


"Ayoolah Bu.." Rayu Zafir.


"Enggak." Rengek Zafira.


"Bu Erna yang cantik dan baik hati. Ayoo kita main lagi." Zafran melontarkan jurus gombalannya.


Melihat ketiganya yang terus merayu, Bu Erna berpikir sejenak.


"Baiklah, Bu Erna mau main lagi tapi kalian pijitin Bu Erna dulu sampai capeknya hilang." Bu Erna mengajukan syarat.


Ketiganya saling berpandangan. Mengirim sinyal telepati alami.


"Baiklah kita mau.." Ucap Zafir.


"Anak solih solihah." Bu Erna langsung tengkurap. Si triple mulai memijit Bu Erna dengan kaki masing-masing.


Zafir di kaki.


Zafran di Tangan.


Dan Zafira di punggung.


Bunni yang melihat tersenyum, melihat kelakuan pengasuh cucunya yang tak kalah iseng dengan anak dan menantunya.


💗💗💗💗💗💗💗


Dek, Aunty juga mau dipijitin...


Like


Komen


Vote


Rate

__ADS_1


Maksii yaa.. semua udah dukung aku 😘😘😘


Salam dari si triple


__ADS_2