TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Drama Alena dan Felix(2)


__ADS_3

Reksa dan Zafir seperti tanpa komando berlari ke arah dimana ambulance berhenti.


Ambulance berhenti tepat di gerbang depan rumah Alena.


Kedua pria beda usia itu tanpa permisi nyelonong masuk begitu saja.


Di depan ada petugas kesehatan dan kepolisian yang berjaga, tetapi mereka seolah menghiraukan kehadiran Zafir dan Reksa.


Keduanya masuk membuntututi petugas yang juga masuk ke dalam rumah orang tua Fely itu.


Sampai di ruang tamu, keadaan sepi. Zafir dan Reksa masih penuh tanda tanya. Jantung kedua berdetak lebih kencang lagi.


Seolah mereka terjebak di tengah--tengah labirin tanpa jalan keluar.


"Dia ada di kamar!" seru seorang petugas.


"Dia siapa?" batin Zafir.


Petugas tersebut segera menuju kamar yang dimaksud.


Pintu sudah terbuka lebar, sehingga petugas bisa masuk dengab mudah.


Dari luar Reksa dan Zafir menyaksikan seorang petugas mengangkat tubuh seseorang yang tergeletak di lantai.


Kondisi lantai di penuhi aliran warna merah, bau anyir.


Seketika tubuh Zafir gemetar apalagi melihat genangan darah di lantai.


"Om... itu seperti Papinya Fely!" bisik Zafir kepada Reksa suaranya hampir tidak terdengar.


"Benar dia Felix!"


"Ada apa ya, Om?" tanya Zafir.


"Kita tanya petugas!"


"Jangan sekarang, Om. Mereka masih bertugas. Ntar aja kalo Om Felix udah dibawa ambulance," cegah Zafir.


Petugas kesehatan tersebut segera menggotong tubuh Felix dengan tandu. Di lantai tampaknya sudah ada sketsa posisi Felix.


Saat melintas dihadapan Zafir dan Reksa, keduanya sempat menyaksikan tubuh gagah itu bersimbah darah. Cairan warna merah segar mengalir di beberapa bagian tubuhnya.


Zafir auto menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Banyak dugaan melintas di kepalanya.


"Om... sepertinya Om Felix kena tusuk benda tajam," bisik Zafir.


"Entahlah?" jawab Reksa tidak mau berspekulasi


Setelah Felix dibawa ambulance Zafir dan Reksa mendekati petugas di sana.


"Pak, apa yang terjadi?" tanya Zafir.


"Sepertinya sebelum kami datang, mereka berdua terlibat pertengkaran hebat. Kemudian Ibu Alena menusuk Pak Felix dengan brutalnya. Setelah korban tertusuk Bu Alena membersihkan dirinya lalu bermaksud melarikan diri." Petugas itu menghentikan ceritanya menatap Felix dan Zafir bergantian.


"Saat kami datang posisi Bu Alena sedang mengemasi beberapa barangnya, begitu melihat kedatangan kami beliau melarikan diri lewat pintu belakang." Petugas tersebut kembali menghentikan ceritanya.


"Kira-kira motifnya apa ya? Kok Tante Alena sampai segitu tega dan kejamnya?" gumam Zafir.


"Kemungkinan karena harta," jawab Petugas tersebut.


"Kemasi barang bukti dan pasang police line segera!" perintah atasan mereka.


Zafir dan Reksa, segera keluar dari rumah Alena, mereka tidak ingin menjadi pengganggu petugas yang bekerja.


"Zafir kok jadi merinding gini ya, Om?" bisik Zafir sembari mengelus kulit tangannya.


Namun, Reksa mengabaikan ucapan pemuda itu. Ia malah mendekati petugas lain yang berjaga di luar

__ADS_1


"Apa Felix masih hidup?" tanya Reksa.


Petugas yang dtanyai itu menoleh kaget.


"Masih bernapas, tapi kondisinya parah. Ia banyak kehilangan darah," jawab petugas tersebut.


Zafir yang mendengar hanya bisa berharap, Papi sambung Fely itu selamat. Sehingga bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Om, balik lagi ke warkop!" ajak Zafir.


"Yuk! Kelamaan di sini serem juga," ucap Reksa.


"Om... bentar!" Zafir menatap ke lahan yang ditumbuhi rumput.


Reksa menghentikan langkahnya mengamati apa yang akan dilakukan Zafir.


"Ini...!" Zafir menemukan sebuah aksesoris jilbab dari perak.


"Ini milik Fely, Om!" Zafir menyerahkan aksesoris hijab milik putri Reksa itu.


"Kamu yakin?" Reksa menerima dan mengamati aksesoris yang menurutnya tidak murah itu.


"Yakin karena saya yang membelikan bersamaan kerudung peach kemarin," ucap Zafir.


"Kok bisa di situ?" kepo Reksa.


Zafir hanya mengangkat bahunya lalu menurunkannya kembali.


"Bentar Om... itu ada sandal." Zafir menyusuri lahan penuh rumput itu.


Zafir memeriksa sandal wanita berhak 3 centi itu dengan seksama. Di bagian telapak kakinya terdapat bekas darah yang sudah mengering.


Karena khawatir barang tersebut bisa jadi bukti kejahatan, Zafir memanggil salah satu petugas yang di sana. Apalagi lokasi penemuannya masih di sekitar TKP.


Petugas tersebut segera mendatangi Zafir.


"Iya, Mas?" tanya petugas tersebut.


Petugas tersebut menatap Zafir sebentar lalu mengamati barang temuan pemuda itu.


"Tunggu, Mas. Saya ambil plastik dulu!" pamit petugas tersebut.


Tak lama kemudia petugas tersebut kembali bersama rekannya. Mereka memotret lalu memasukkan sandal Felybke sebuah plastik putih.


"Terima kasih atas bantuannya Mas," ucap petugas tersebut.


"Sama-sama," balas Zafir sembari meninggalkan petugas tersebut.


"Kita ke warkop lagi, pusing." Reksa menarik tangan Zafir agar mengikutinya.


Pria itu yakin, calon suami almarhumah putrinya itu pasti akan mencari barang-barang lainnya.


"Udah biar di urus Polisi napa?" Reksa ngedumel di jalan selama kembali ke warkop.


"Om ternyata cerewet juga ya!" komen Zafir begitu mereka kembali ke warkop.


"Mas itu tadi korban pembunuhan ya? Ato bunug diri?" tanya seorang pengunjung.


"Belum tahu Mas, kan kita tidak bole masuk," ucap Zafir.


"Oowh... Padahal mereka berdua itu suami iatri yang supel dan ramah." bisik salah satu pengunjung.


"Si Omnya juga sering nongkrong di sini sama Bapak-Bapak kompleks kalo pas gabut di rumah," timpal si pemilik warkop.


Zafir dan Reksa hanya menyimak saja pembicaraan pengunjung lainnya.


"Fir, next time Om bole dong main ke rumah kamu?" tanya Reksa.

__ADS_1


"Bolelah, rumah Zafir terbuka 24 jam untuk Om Reksa," goda pemuda itu.


"Memangnya rumah kamu mini market buka 24 jam?" balas Reksa.


"Rumah Zafir bisa jadi apa saja," jawab Zafir dengan nada bercanda.


"Berarti bisa dong jadi rumah sakit?" Reksa kembali menggoda Zafir.


"Bisa, apalagi buat nyembuhin luka hati sangat bisa," konyol Zafir.


Obrolan mereka terhentu setelah Reksa memdapat panggilan dari Yudhis pengacaranya.


"Kita balik!" ajak Reksa.


Zafir patuh saja mengikuti langkah orang tua di depannya itu.


🌷🌷🌷🌷


Mereka berpisah dengan kendaraan masing-masing.


Zafir dengan motor sport buyanya dan Reksa mengendarai jazznya.


Zafir membelah jalanan wilayah Surabaya Selatan menuju area Surabaya Timur dimana rumahnya berdiri kokoh.


Saat melintas di Jalan Darmo, melalui spion motornya Zafir menyaksikan pemandangan cantik. Seorang pemuda yang ia kenal sedang membonceng wanita berusia 30an tapi kali ini dandanannya lebih terkesan natural.


"Satria?" gumamnya dalam hati.


"Bonceng cewek mana lagi dia?" Zafir masih bermonolog dalam hatinya.


Setelah tragedi Fely, Zafir memang sengaja tidak ingin bertemu dengan Satria dan Thifa terlebih dahulu. Ia fokus dengan hatinya.


Bahkan perkembangan hubungan keduanya saja Zafir tidak banyak ikut campur.


Yang terjadi kini ia dihadapkan kembali pada Satria bersama seorang wanita.


Begitu lampu menyala hijau pemuda sengaja membiarkan motor Satria mendahuluinya.


Zafir membuntuti perlahan di belakang. Pemuda itu hanya ingin tahu kemana tujuan kekasih Thifa itu.


Karena ia masih memiliki feeling kuat, Satria bukan anak baik.


🌷🌷🌷


Aku tutup mata deh.


Maap yaa.. puasa-puasa disuguhin drama seperti ini?


Bagaimana puasa kalian?


Semoga masih lancar.


follow ig aku : @maria_suzan


atau


ke fb aku : ursula maria


untuk tahu karya-karya aku yang lain


dukungan kalian, adalah support buat aku.


terus kasi jempol, komen dan vote yaa..


aku gak nolak loo di kasi bunga, pisau, kopi atau hati


uhuiii...

__ADS_1


lope-lope sekebon stawberry buat kalian


Met Buka Puasa, ya... buat kalian yang puasa


__ADS_2