
Teman-teman, maaf yaa...
kalo pada kecewa. karena janjiku belum bisa terpenuhi. Tapi, bismillah.
Yuk, kita mulai meski gak setiap hari.
Melanjutkan kisah Zafir.
Happy reading
💙💙💙💙
Zafir menatap langit-langit kamarnya yang serasa jauh. Sejauh langit di angkasa yang tidak terjangkau.
Otaknya melayang jauh tanpa arah.
Empat puluh hari sudah Fely meninggalkan dirinya dan dunia yang penuh sandiwara.
(Aish, kayak lagunya Teh Nicky Astria aja).
Namun, ingatannya tentang Fely masih belum bisa ia hilangkan.
Terkadang perasaan bersalah masih muncul dan menyalahkan hatinya.
Terkadang perasaan ikhlas muncul dan menggerakkan hati dan bibirnya untuk mengirim doa.
Zafir memiringkan tubuhnya, mencoba mencari posisi ternyaman dalam tidurnya. Tidak berhasil. Hatinya masih galau, gundah gulana.
Dengan beban berat tubuh dan hati, karena lelah. Lelah hayati dan lelah otak. Ingin tubuh beristirahat apa daya mata tidak mau kompromi.
Melawan lelah tubuh, Zafir bangkit menuju kamar mandi.
Ngapain?
Ambil air wudhu dan diucapkannya kalimat Dzikir di setiap guyuran air yang membasahi bagian tubuh yang ia bersihkan.
Keluar kamar mandi, Zafir menggelar sajadah menghadap kiblat. Ditunaikannya dua rakaat salat sunnah.
Ditengadahkan kedua tangannya memohon petunjuk dan pencerahan kepada Ilahi. Tuhan yang selama ini ia agungkan.
Sebait doa tak lupa ia tujukan kepada Fely. Disebutnya juga nama Umma, Buya dan saudara-saudaranya dalam doa.
Ada kepedihan setiap menyebut nama Fely. Namun, segera mungkin ia meminta ketenangan untuk Fely.
Kepergian Fely bukan untuk ditangisi, tetapi tetap saja ia manusia biasa yang tidak bisa berpura-pura baik-baik saja.
Hanya saja ia yakin ada isyarat lain dibalik musibah tersebut. Dirinya dan Fely mungkin belum berjodoh. Allah lebih sayang Fely saat ini.
Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. Yang buruk menurut manusia belum tentu buruk bagi Allah. Begitupun sebaliknya Yang baik menurut manusia belum tentu baik bagi Allah.
Tak ada yang tak mungkin bagi Allah, semua hal mustahil bagi manusia perkara mudah bagiNya.
Termasuk urusan hati. Zafir yang masih merasa kehilangan Fely, berusaha bangkit dan menyimpan nama Fely baik-baik di dalam lubuk hatinya.
__ADS_1
Puas mencurahkan isi hatinya pada Yang Maha Kuasa, Zafir mencoba memejamkan kembali kedua matanya.
Bayangan Fely seolah-olah menghampirinya dengan senyum mengembang. Gadis itu seakan mengatakan aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menjadikan aku bagian hidupmu.
Jangan terus menyalahkan diri sendiri. Masa depan kamu masih panjang.
Fely melambaikan tangannya dengan lembut sebelum berbalik menjauh dari Zafir.
Ingin rasanya Zafir berteriak memanggil gadis itu, tetapi lidah dan bibirnya terasa keluh. Tidak sanggup berkata apapun.
Saat tersadar, Zafir sudah mendengar suara adzan subuh.
"Masya Allah, aku bermimpi Fely. Dia sepertinya sudah mendapatkan tempat yang baik di sana," ucapnya lirih.
Kembali Zafir mengangkat kedua tangannya memanjatkan doa sebelum beranjak dari ranjang melanjutkan aktifitas di hari baru.
***
"Sarapan, Fir!" ajak Umma melihat putra sulungnya turun dari lantai atas.
Di meja makan sudah ada Ara, Aira dan Buya sedangkan Umma masih sibuk menata makanan yang ditemani Bu Darmi.
"Iya, Umma," jawab Zafir tanpa semangat.
"Makan, sedih itu juga butuh tenaga," goda Buya.
"Ih, Buya. Bisa aja." Tak urung senyum Zafir mengembang.
Desta tidak salah, semua yang dilakukan dan dirasakan manusia membutuhkan tenaga. Mereka membutuhkan asupan gizi agar bisa tetap bertahan baik dalam suasana suka maupun duka.
"Makan, dulu!" potong Aqeela memisahkan anak dan ayah yang saling menggoda.
Karena saat ini hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk mensupport Zafir setelah kehilangan Fely.
"Zafir, berangkat dulu, Ya!" pamit Zafir mencium punggung tangan Desta.
"Zafir berangkat, Umma." Zafir beralih pada Aqeela. ia juga melakukan ritual salim seperti yang ia lakukan pada Desta.
"Hati-hati," balas Aqeela sembari mencium kedua pipi Zafir.
"Kakak duluan, ya Dek." Zafir mengulurkan tangan kanannya kepada Ara dan Ayra bergantian.
"Dadaaaah, kakak Zafir," sahut Ara dan Ayra bersamaan.
Zafir meraih kunci otomatis yang tergantung di rak kunci dan melesat menuju mobil sport milik Buya yang sudah berpindah tangan padanya.
****
"Fir!" sapa Boy dengan iba begitu tiba di kelas.
Masih terlihat kedukaan di wajah Zafir, seisi kelas sangat paham dengan rasa kehilangan yang dialami temannya itu.
"Bah, senyum dong!" goda Rani teman terdekat Fely.
__ADS_1
Zafir membalas godaan teman-temannya dengan senyum.
"Bah, dedek Lia siap menggantikan posisi Fely, loh," seru Lia teman sekelas Zafir lainnya.
Kembali Zafir tersenyum lebar mendengar ucapan teman-teman yang berusaha menghiburnya.
"Sama Neneng aj, Bah. Lihat nih, Neneng lebih mirip Fely, kan," tutur wanita bernama Neneng yang duduk di ujung seberang.
"Kalo si Abah sama kamu yang ada dia nyesel," komen Irfan yang disambung tawa seisi kelas.
Bukan rahasia umum, siapa Neneng? Gadis cantik bertubuh mungil itu, dikenal tukang porot oleh teman-temannya.
Hampir setiap Minggu, ia berganti-ganti pasangan. Mulai pemuda berstyle tampan hingga Kakek-kakek tajir bergantian ia gandeng.
"Huuh, kalian kapan gak bisa lihat teman bahagia sekali saja," oceh Neneng dengan cemberut.
"Nah, kalo elo ama si Abah, si brondong, si Om atau si Eyang kamu taruh mana?" tegur Boy dengan suara cempreng.
"Lah, mereka tetap ada dalam hatiku," jawab Neneng dengan enteng.
Auto Zafir membuka sedikit bibirnya.
"Eh, tuh si Abah tersenyum. Kalo bukan karena Neneng, siapa coba yang bisa gantiin Fely," ucap Neneng nyerocos tanpa henti seperti kereta api.
Zafir kembali menampakkan seringai hangat bibir dengan gigi putihnya sambil duduk di kursi kebanggaannya.
Kursi paling depan dan paling dekat dosen agar bisa lebih fokus. Karena sepeninggal Fely ia butuh sesuatu untuk mengalihkan dunianya.
Bukan bermaksud melupakan, tetapi ia butuh pengalihan agar bisa lepas dari bayang-bayang Fely.
Di kelas ini ia memiliki banyak kenangan bersama almarhumah sebab itu ia butuh fokus.
Ia berusaha tegar dan menerima lawakan dari teman sekelasnya sebagai hiburan. Sebagai pengobat hatinya yang saat ini rapuh.
"Siang semua!" sapa seorang dosen cantik berpakaian sederhana, tetapi terlihat anggun di mata mahasiswanya.
"Siang, Bu," jawab. serempak seisi kelas.
"Sesuai janji saya, hari ini kita mulai presentasi masing-maaing kelompok. Penampilan akan saya acak," ucap tegas wanita tersebut sambil duduk di kursi kebesaran dosen.
Terlihat wajah-wajah tegang diantara mereka, mendengar penuturan sang dosen. Ada rasa cemas, jika kelompok mereka dipanggil untuk presentasi yang pertama.
Zafir menatap hasil kerjanya. Di sana masih tertulis nama Fely. Untuk menghapusnya tidak mungkin. Karena memang karya tulis itu hasil kerja keras mereka berdua.
"Silahkan kelompok 12," seru Bu Dosen tanpa melihat nama yang tertera di kertasnya.
Auto semua mata menatap iba ke arah Zafir.
****
Aku masih butuh dukungan untuk menyelesaikan kisah Zafir.
oh, ya sambil baca triple Z, baca juga cerita Dea dan Devan dalam Keceplosan Berujung Menikah
__ADS_1