
Zafir sudah bersiap mengantar Fely pulang. Namun tiba-tiba ia seperti melihat sebuah motor berhenti di depan rumah Doni.
Zafir yang penasaran, keluar menuju rumah di sebelahnya.
Kebetulan pagar rumah Doni tidak terkunci, jadi Zafir bisa masuk dengan mudahnya.
Pemuda itu menangkap bayangan ada dua anak manusia sedang duduk di ruang tamu.
Tanpa mencurigai apapun, Zafir masuk ltwrus melangkah ke rumah Doni.
Wajahnya tiba-tiba memerah menyaksikan pemandangan di depannya.
Tanpa risih, tamu cowok yang sedang duduk di sofa tersebut menyentuh wajah Thifa dengan lembutnya.
Jantung Zafir berdetak kencang, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal sempurna siap melayang bogeman kepada siapapun yang membuatnya bad mood tiba-tba.
Zafir masih mematung di teras rumah Doni, pemuda itu berusaha meredam semuanya.
Dari balik jendela netranya kembali menangkap dua manusia beda gender semakin dekat satu sama lain.
Zafir hampir saja mengumpat dengan keras ketika teman cowok itu mendekatkan keningnya ke kening Thifa.
Mereka beradu pandangan sangat lama. Krena tak tahan menahan gejolak hatinya yang memanas, Zafir mengirim pesan kepada seseorang.
Setelah pesannya dibalas, pemuda itu melangkah meninggalkan rumah seseorang yang selalu mengisi hari-harinya.
Zafir terus menjauh berharap Thifa bisa musnah dari semua ingatan dan hatinya.
Bertahun-tahun, Zafir menyimpan sayangnya dalam diam. Menunggu saat usia Thifa dewasa dan mengajaknya menikah.
Ternyata Thifa memiliki pilihan dan jalannya sendiri. Teman cowok yang tadi bersama Thifa sebagai bukti bagaimana pergaulan Thifa saat ini.
Zafir samar-samar mendengar suara ribut dari ruang tamu Doni. Pemuda itu mengenali pemilik suara tersebut sebagai Om Doni dan Tante Mita, orang tua Thifa.
Zafir memprcepat langkahnya. Tak ingin mendengarkan keributan dari rumah Doni.
Begitu sampai rumah, wajah Zafir masih memerah dan tegang. Tanpa menyapa siapapun Zafir masuk ke kamarnya.
"Fira, Zafir kenapa?" tanya Fely ngeri melihat Zafir masuk dengan wajah sadis.
"Entahlah. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya marah," jawab Zafira enteng.
Fely menatap saudara kembar temannya itu dengan tidak percaya. Padahal barusan baik-baik saja.
"Tunggulah beberapa saat, jika ia sudah membaik pasti keluar dan mengantarmu pulang," jawab Zafira membesarkan hati Fely.
Ia tahu jika Fely sangat cemas.
"Mas... Mas Iyan!" Panggil Zafira pada suamnya.
Julian menoleh tanpa suara.
"Coba tengok Zafir. Kasiyan Fely menunggu anak itu kelamaan." Julian baru saja hendak berdiri menemui Zafir di kamarnya.
Zafir sudah nongol di hadapan mereka.
"Fel! Ayo aku antar pulang!" ajak Zafir dengan suara datar.
Fely menatap teman kampusnya itu dengan wajah bingung. Sebentar ketus, sebentar baik, sebentar marah sekarang tanpa ekpresi.
__ADS_1
"Haduuh, punya teman gak jelas kepribadiannya," gerutu Fely dalam hati.
Setelah pamit kepada keluarga Zafir. Fely masuk ke dalam mobil Zafir. Karena temannya itu sudah mengatakan bahwa akan diantar menggunakan mobil.
"Dimana rumah elo?" tanya Zafir sambil mengemudikan kendaraannya.
"Kos-an gue deket kampus," jawab Fely.
Zafir hanya mengerutkan dahinya, mendengar jawaban Fely.
Zafir melajukan mobil sesuai alamat yang disebutkan Zafir.
Kendaraan Zafir berhenti di depan rumah yang disebutkan Fely tadi.
"Fel, elo yakin mau masuk?" tanya Zafir.
"Ya, masuklah! terus kalo gak masuk gue tidur mana?" jawab Fely.
"Sekarang jam berapa?" tanya Zafir.
"Jam sepuluh," jawab Fely seakan tanpa dosa.
"Liat yang bener!" Zafir menunjukkan jam digital gawainya.
"Jam sebelas?" Fely terlihat terkejut.
"Waduh, udah di gembok gerbang kos-an gue , Fir?" Fely tampak tertegun.
Wajahnya ditekuk, tetesan air dari netranya turun.
"Kok nangis?" tanya Zafir menatap gadis di sampingnya sebentar, tetapi segera ia alihkan ke jalanan.
"Ya udah ikut aku!" Zafir menerobos malam dengan kendaraan bajanya, menuju suatu tempat.
Fely hanya terdiam, ia benar-benar pasrah pada Zafir.
"Ayo turun, Fel!" ajak Zafir setelah kendaraannya berhenti.
Fely menatap gedung di depannya lalu membaca papan nama besar di depannya.
"Hotel O. Kok ke sini?" tanya Fely menatap Zafir panik.
Pikiran buruk memenuhi otaknya.
"Apa ada yang salah dengan tempat ini?" tanya Zafir balik.
"Elo, gak bermaksud...."
"Suudzon mulu!" Zafir menoyor kepala Fely pelan.
"Pilihan ada di tangan elo, mau tidur di sini atau balik ke rumah gue!" tawar Zafir.
Fely terdiam. Tawaran dari Zafir adalah sebuah pilihan sulit. Satu sisi ia sungkan dengan kebaikan hati keluarga teman kampusnya ini. Namun jika ia menerima tawaran menginap di hotel, ia seperti terlihat gadis murahan.
Sampai lima menit tak ada jawaban dari Fely. Zafir udah gak sabar aja.
"Fel, elo mau kita bermalam di mobil kayak gini!" Zafir kembali mencairkan suasana hati Fely.
"Kalo itu memang lebih baik," jawab Fely asal.
__ADS_1
"Habis itu kita digerebek satpol PP bareng dan muncul berita di koran dan media virtual lainnya. Mau?" Tatap Zafir dengan pandangan tegas.
Fely sampai bergidik tak ada keberanian membalas tatapan temannya itu.
Salah satu hal yang membuat dirinya dan teman-teman segan berdekatan dengan Zafir adalah karena tatapan tajamnya. Selain itu adanya peci putih yang selalu menutup kepalanya setiap azan dhuhur berkumandang.
Banyak dari mereka menganggap Zafir adalah sosok teman yang fanatik berlebihan dalam urusan agama.
Teman dengan pergaulan terbatas saat bersama lawan jenis.
Kenyataannya setelah setengah hari bersama Zafir, Fely merasa banyak pemikiran temannya yang tidak benar.
Zafir dimatanya kini adalah sosok cowok bertanggungjawab, tidak membatasi pergaulannya, asyik diajak ngobrol tetapi tetap saja pandangan tajamnya bikin ngeri.
Fely menarik napas panjang mendengar ucapan Zafir.
Zafir sepertinya menangkap ketidaknyamanan Fely di hotel tersebut. Dengan inisiatifnya sendiri Zafir meninggalkan parkiran hotel tersbut.
"Lhoo kita mau kemana lagi?" tegur Fely begitu kendaraan Zafir menjauhi hotel.
"Ke Tretes," jawab Zafir dengan nada jutek.
Fely menatap Zafir gemetar.
"Fir, elo gak guyonan kan?" suara Fely terdengar parau dan jelas menyiratkan ketakutan.
"Gue serius. Di sana lebih banyak pilihannya daripada di sini!" jawab Zafir serius, walau sebenarnya ia hanya ingin menggertak Fely.
"Apa Fely gak tau ini jalan ke arah mana?" batin Zafir sedikit khawatir juga gadis di sebelahnya tiba-tiba merengek atau apalah.
Suasana di mobil tetlihat mencengangkan, tidak ada percakapan hangat atau candaan ala teman.
Masing-masing hanyut dengan pemikirannya. Sampai sebuah panggilan masuk ke gawai Zafir.
Pemuda itu menekan tombol hijau di head unit mobilnya. Langsung terdengar suara salam seorang wanita.
"Ada apa Umma?" tanya Zafir setelah saling berbalas salam.
"Kamu udah nganter Fely pulang belm?" tanya balik Umma.
"Nganter tapi gerbang kos-annya udah di gembok," jawab Zafir.
"Terus kalian ini dimana?"
"Nyari hotel....."
"Bawa balik Fely! Segera!" titah Umma menutup panggikannya.
💗💗💗💗
"Ih... Umma kok nyebelin yaa!" gerutu pemuda yang masih sibuk mengemudi, tanpa menoleh ke sampingnya.
Karena gadis di sampingnya tampak begitu lega.
💗💗💗💗
Lanjut lagi besok yaa...
Masih butuh like, komen dan share dari kalian..
__ADS_1