TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Di Sekolah


__ADS_3

Aqeela sudah berada di dalam ruangan kepala sekolah. Di sebelahnya sudah ada Yuna, Oca dan Via. Mereka duduk melingkar di sofa ruangan tersebut.


Grup rempong sebelumnya sepakat berangkat dan menghadap bersama.


Dan mereka juga sepakat, apapun yang terjadi Aqeela yang jadi jubir mereka.


Sehari sebelumnya di rumah.


"Zafir, Zafran, Zafira...." Panggil Aqeela kepada ketiga anaknya.


Digendongannya ada Baby Al yang merengek bermain di luar.


"Bu Darmi, minta tolong awasi Al di teras ya!" Pinta Aqeela kepada Bu Darmi.


"Iya, Mbak." Bu Darmi segera keluar menuju teras.


Sedangkan dihadapan Aqeela sudah ada si triple dan Bu Erna.


"Ada apa Umma?" Tanya Zafir.


"Umma, mau tanya. Waktu hari senin itu kenapa kalian pulang lebih cepat?" Tanya Aqeela sambil menatap ketiga anaknya.


Si triple saling memandang.


Mereka kembali mengingat. Apa yang mereka lakukan hari itu.


"Bu Erna, bener gak mereka pulang cepat?" Tanya Aqeela ke Bu Erna.


"Iya, Mbak. Mereka pulang jalan kaki berenam." Jawab Bu Erna.


"Bareng Darren, Malik dan Wanda." Aqeela menegaskan.


Bu Erna mengangguk pelan.


"Kenapa kalian pulang lebih awal?" Ulang Aqeela ke anak-anaknya.


"Ya karena disuruh Bu Dian pulang." Jawab Zafran cepat menutupi gugupnya.


"Iya tahu. Tapi kenapa Bu Dian nyuruh pulang cepat. Padahal di sekolah tidak ada acara apa-apa?" Tanya Aqeela lagi.


"Karena bajunya teman-teman basah." Sahut Zafira.


"Kok bisa basah? Terus baju kalian kenapa tidak ikut basah?" Aqeela kembali keheranan.


"Ya karena kami gak langung masuk kelas." Jawab Zafran.


"Memangnya kalian kemana saja?"


"Kantin." Jawab Zafran


"Kamar mandi." Jawab Zafira


"Koperasi." Jawab Zafir.


"Sebelumnya?"


"Di kelas, naburin hand sanitizer di bangkunya teman-teman." Zafir keceplosan.


Mendengar kalimat Zafir, Aqeela sudah ambil ancang-ancang bersiap memukul ketiganya.


Namun ia kembali tersadar.


"Astaghfirullohal 'adhim.." Gumamnya dalam hati.


Segera ia kendalikan emosinya.


"Masya Alloh, Nak. Kenapa kalian lakukan itu?" Tanya Aqeela.


Ketiganya terdiam.


"Coba cerita ke Umma. Kenapa kalian ngasih hand sanitizier ke bangku teman-teman?" Ulang Aqeela.


Zafira, Zafir dan Zafran saling pandang satu dengan lainnya.

__ADS_1


"Karena bosan, Umma." Celetuk Zafran.


Aqeela kembali menghembuskan napas beratnya.


"Terus kalian maunya apa?"


"Bikin acara Umma." Jawab Zafira.


"Biar belajarnya seru..." Sahut Zafir.


"Harusnya mereka aku sekolahkan ke sekolah alam.Tapi sayangnya jauh.." Gumam Aqeela dalam hati.


"Ya.. resiko sekarang seperti ini." Lanjutnya.


"Zafir, Zafran, Zafira.. coba dengarkan Umma."


Ketiganya menoleh ke arah ummanya.


"Kalian bertiga ingin jadi anak solih solihah bukan?"


Ketiganya mengangguk.


"Masih ingat pesan Umma dan Buya, untuk menjadi anak solih solihah harus seperti apa?"


"Patuh Orang Tua." Jawab Zafira.


"Hormat Guru." Sahut Zafir.


"Amar ma'ruf nahi munkar." Sambung Zafran.


Aqeela masih berusaha menatap ketiganya dengan sabar, walaupun di dadanya sudah nyesek.


"Menurut kalian, apa yang kalian lakukan kemarin sudah hormat kepada guru?"


Ketiganya saling berpandangan lagi. Seakan mereka akan menjawab dengan jawaban yang sama.


"Belum..." Dengan lancar ketiganya menjawab.


Aqeela menggeleng.


"Iya Umma." Jawab Zafir.


"Kalo hanya bertiga tidak seru." Sahut Zafran.


"Kalo rame-rame kan seru." Sambung Zafira.


"Astaghfirulloh..." Gumam Aqeela dalam hati.


"Apa Ibu dan Ayah dulu kayak gini yaa perasaannya." Aqeela masih bergumam dalam hati.


"Besok, kalian harus minta maaf sama Bu Dian dan teman-teman." Perintah Aqeela.


"Iya Umma."


"Ayah, Ibu maafin Aqeela dulu ya.. Kalian pasti saat itu gemes dan panik seperti aku sekarang."


Di ruangan Kepala Sekolah.


Sudah ada Bu Dian dan Pak Sandi selaku kepala sekolah.


"Pak, atas nama anak-anak kami. Kami mohon maaf atas perilaku anak-anak." Aqeela mewakili yang lain menyampaikan permintaan maaf dan penyesalannya.


"Kami sebetulnya sangat marah dengan perbuatan anak-anak kalian. Tapi melihat prestasi mereka berenam kami tidak sampai hati." Ucap Pak Sandi.


"Lalu, kebijakan dari sekolah bagaimana?" Tanya Aqeela.


"Apa kalian tidak keberatan jika anak-anak kalian kami hukum?" Pak Sandi seolah menegaskan bahwa perbuatan triple dan genknya sudah keterlaluan.


"Anak kami mau di hukum apa, Pak?" Celetuk Via cemas.


"Membersihkan kelas mungkin. Membantu di perpus atau bisa jadi yang lain." Kata Pak Sandi.


"Pak, ini hanya masukan dari kami. Jika menghukum anak-anak kami. Kasi hukuman yang bisa mendidik mereka."

__ADS_1


"Contohnya?"


"Suruh saja mereka mimpin hafalan surat pendek, asmaul husna atau hadist atau bantu guru nata buku atau apa saja yang penting melibatkan mereka."


"Karena menurut kami, kalo hanya sekedar menyuruh mereka lari, menyapu atau mengerjakan kegiatan fisik tidak akan menyadarkan mereka." Sambung Aqeela.


Yuna, Oca dan. Via mengiyakan saja permintaan Aqeela.


"Baiklah, Bu. Akan kami pertimbangkan." Kata Pak Sandi.


"Terima kasih, Pak sudah mengundang kami." Ucap Yuna.


"Sama-sama, Bu." Jawab Pak Sandi.


"Terima kasih sudah meluangakan waktunya." Sahut Bu Dian.


"Sama-sama, Bu." Jawab Via.


"Maafkan anak-anak kami ya, Bu." Kata Oca.


Setelah berpamitan keempatnya segera keluar ruangan Kepala Sekolah.


"Nyai...kayaknya anak-anak butuh refreshing deh." Oceh Yuna begitu mereka duduk di kursi halaman sekolah.


"Sejuknya..." Cerocos Oca menikmati angin di bawah pohon yang mereka gunakan berlindung dari teriknya sinar matahari yang menyengat tanpa mempedulikan ocehan Yuna.


"Anginnya.. bikin mata merem." Kata Aqeela menambahkan sambil memejamkan kedua matanya menikmati angin yang meniup wajah keempat wanita tersebut.


"Terus anak-anak mau kita bawa kemana, Sri?" Tanya Via sambil menoleh ke arah Yuna.


"Kemana saja yang penting menyenangkan mereka." Sahut Yuna.


"Anak-anak baru juga akan di hukum gurunya. Lha kita malah bawa mereka jalan-jalan." Gumam Aqeela masih dengan memejamkan matanya.


"Terus?" Ketiga kompak menatap si Nyai dengan serius.


"Tunggu sampai mereka bisaa menyelesaikan rewardnya. Setelah itu kita bawa mereka kemanapun kita mau." Kata Aqeela sambil membuka mata.


"Lhaa kalo kita maunya ke Aussie, apa kamu diizinin?" Gurau Yuna.


"Jangankan Aussie, ke Arab aja aku diizinin. Tapi kejauhen aja ke Aussie... kalian ke Malang aja belum tentu pernah. Ke Pacet. Ke Lamongan. Ke Pasuruan. Gak usah jauh-jauh. Kasiyan bodyguard kita..." Kata Aqeela sambil nunjuk Ranti dan Eli.


"Itu mah, body guardnya kamu, Kopassus, Paspam, Banser yang ready." Potong Oca cepat.


Seketika Aqeela hanya terkekeh. Yah, sejak diganggu Wisnu beberapa tahun lalu di mall Aqeela masih di kuntit sama bodyguard cantiknya.


Desta masih belum rela, istrinya jalan sendirian. Meskipun ia sadar, kemampuan bela diri Aqeela sangat baik.


Tetap saja ia khawatir. Baginya seandainya terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan ada pasukan yang membantu Aqeela.


Tau sendirilah, Geng rempong kan ahli ngabisin duit suami. Bukan ahli ngabisin lawan. Hi.. Hi.. Hi..


"Tapi pendapat Nyai bagus loo, Sri." Via mendukung Aqeela.


"Sebaiknya biarkan anak-anak memenuhi tanggungjawabnya. Setelah itu baru deh kita cus.. cus.. kemanapun kita mau." Lanjut Via.


💗💗💗💗💗💗💗


Gaes.. Munaroh bisa bijak juga ya ternyata.


🤭🤭


Kemajuan pesat nee buat Munaroh.


Lanjutin Vote kalian ya...


Eits.. maap banget ya..


upnya gak jelas jamnya.


Tau kan musim daring kayak gini..


Pada sibuk BJJ, Daring, BDR dll...

__ADS_1


Keep spirit yaa buat kalin..


__ADS_2