TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Renata dan Zafira


__ADS_3

"Ren...pulang sama siapa?" Tanya Zafran sebelum masuk ke kelasnya karena jam istirahat selesai.


"Aku minta jemput sopir." Jawab Renata kalem.


"Aku anter aja!" Jawab Zafran cepat.


"Kamu lagi ada jam kan?" Ucap Renata.


"Gak pa_pa nanti bisa balik lagi. Yuuk!" Zafran melangkah mendahului Renata.


"Fraan.. masuk! Mau Kemana?" Zafira menarik paksa Zafran untuk masuk.


"Bentar aku antar Renata pulang!" Bisik Zafran.


"Ohh.. gak nungguin kita, Ren?"


"Kelamaan dodol. Jamuran ntar dia!" Omel Zafran.


Zafira dan Renata hanya terkekeh mendengar jawaban Zafran


"Ya udah deh, hati-hati salam ke mama dan papi ya!" Ucap Zafira sembari cipika cipiki ke Renata.


"Papay Zafira!" Renata mengekori langkah Zafran yang ternyata menuju guru piket untuk izin.


Entah alasan apa yang dipakai Zafran sampai guru itu percaya dan mengizinkannya.


"Masuk!" Zafran membuka pintu penumpang samping kemudi.


Renata hanya tersenyum menatap Zafran.


"Gracia!" Ucap Renata.


"De nada," Balas Zafran.


Kata yang pernah diajarkan Renata ketika keduanya melakukan video call.


Pemuda itu segera memutar ke jok kemudi setelah Renata duduk dengan aman.


"Zafran, lo siento..." Zafran yang mengerti sedikit bahasa Spanyol hanya terdiam.


"Ups.." Renata menutup mulutnya.


"Sory, aku masih terbiasa pake bahasa sana. Zafran maaf yaa kalo merepotkan?" Suara Renata sedikit lirih.


Zafran hanya menoleh sekilas, senyumnya mengembang.


Pemuda yakin saat ini Renata tengah melawan kecanggungan menghadapinya dan teman-teman lainnya.


Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Waktu, pola pikir dan lingkungan yang berbeda bisa saja mengubah seseorang.


"Aku gak merasa di repotkan. Harusnya kamu kabari aku dong kalo mau balik." Balas Zafran masih fokus mengemudi.


"Gak surprise dong, namanya!" Kelakar Renata.


Zafran tertawa lebar mendengarnya.


"Rumah masih di alamat yang lama kan?" Tanya Zafran yang sangat hafal dengan rumah Renata meskipun sekarang sudah banyak perubahan.


"Masih."


Zafran membelokkan kemudinya ke area perumahan rumah Renata. Meskipun rumah tersebut tak berpenghuni tapi masih terawat karena Mama Hanin menyewa penjaga untuk merawat rumahnya.


Aqeela juga sesekali ke sana hanya sekedar menengok itupun atas permintaan Hanin. Terkadang Zafran atau Buya menemaninya.


Rumah Renata masih mempertahankan cat yang lama. Zafran memasukkan kendaraannya ke halaman rumah.


"Gracia." Ucap Renata sebelum melepas sabuk pengamannya.


"Rena.. No Gracia again. Kita temui Mama sekarang!"


Renata menarik napas panjang. Selama perjalanan bersama Zafran. Tak bisa dipungkiri pesona cowok di sebelahnya.

__ADS_1


Senyum, karakter dan bodynya bikin siapapun tak ingin jauh darinya. Dua belas tahun terpisah dan kembali kita sama-sama dewasa bukanlah tidak mungkin, jika ia tertarik dengannya.


Mengulang beberapa aktivitas saat kecil bersama Zafran.


Gadis itu masih mengingat saat Zafran melindunginya dari keisengan Malik. Membawakan bekal untuknya.


Dan kenangan terindahnya kecupan dan pelukan Zafran di Bandara.


Renata menarik napas panjang mengingatnya.


"Nona, mau sampai kapan Anda di dalam. Pangeran Anda sudah menunggu dari tadi?" Ucapan Zafran membuyarkan memorinya.


Renata melepas sabuknya dan keluar dari kendaraan Zafran dengan wajah menunduk. Menikmati irama jantungnya yang berdentum keras bagai drum.


Zafran mengikuti langkah Renata dari belakang.


"Assalamu'alaikum.." Ucap Zafran dan Renata bersamaan begitu mencapai pintu.


"Masuk, Fran!" Ajak Renata sembari membuka pintu.


"Duduklah!" Titah gadis itu lagi.


Seorang wanita berusia empat puluhan keluar dari dalam rumah.


"Mama...!" Panggil Zafran.


"Zafran?" Mama Hanin yang baru keluar sedikit terhenyak ada anak lelaki teman kecil putrinya di sana.


"Kok ada di sini?" Heran Hanin.


"Nganter Renata pulang, Ma." Zafran mencium tangan Mama Hanin dengan takdzim.


"Udah gede aja anak Mama." Puji Hanin.


"Mama paling bisa deh!" Ucap Zafran sedikit salting.


"Ma, kok gak ngabari kalo sudah pulang ke Indonesia?" Protes Zafran.


"Kan udah Renata bilang. Rena yang gak izinin Umma kasi tahu kalian." Renata keluar membawa segelas jus jeruk dingin untuk Zafran.


"Diminum, Fran." Sambung Renata sambil duduk di samping Mama Hanin.


"Ma, besok Zafran yang aja deh yang nganter Rena pulang. Tp berangkatnya bareng sama Papi yaa.." Pinta Zafran dengan penuh harap.


"Tanya aja anaknya, mau gak?" Mama Hanin menyenggol bahu Renata.


"Ada Zafira, kan?" Tanya Renata menatap Zafran.


"Ada.Insya Allah aman." Jawab Zafran.


"Boleh ya, Ma." Renata menatap ke arah Mama Hanin.


"Terserah kamu!" Jawab Hanin yang memang pada dasarnya tidak pernah melarang anaknya berteman dengan siapapun.


"Iya deh, asal ada Zafira."


"Sesuai permintaan Tuan Putri."


Renata kembali tersenyum menatap Zafran.


"Udah ah, Saya kembali dulu ke sekolah ya Ma!" Pamit Zafran.


Pemuda itu ingin segera kembali untuk menormalkan jantungnya yang terus memacu dengan cepat.


Surpraise dari Renata, benar-benar membuatnya tak bisa tenang. Apalagi saat di kantin tadi pandangan para siswa yang menatap Renata dengan tatapan hendak mengaum dan memangsanya.


💗💗💗💗


Zafira masih menunggu Zafir dan Zafran yang masih membicarakan sesuatu dengan Malik. Sedangkan Darren dan Wanda masih di kelas belum keluar.


Ekor matanya menatap seorang pemuda masuk menyelinap dari luar gerbang menuju parkiran.

__ADS_1


Zafira yang curiga terus mengawasi pemuda berambut cepak dan bertubuh tegap itu.


"Body dan wajahnya sih lumayan, tapi kok masuknya pake nyelinap gitu ya?" Gumam Zafira dalam hati.


Tanpa melepas pengawasannnya, Zafira melirik ke arah dua saudaranya yang masih sibuk mengotak atik kendaraan Malik.


"Aissh.. menyebalkan dua orang itu. Gak tau apa aku disini kebingungan." Pengawasan Zafira terhenti saat gadis itu menangkap mata si pemuda menyerahkan bungkusan kepada salah satu seniornya.


"Kak Devan?" Kedua alisnya saling bertaut.


"Untuk apa teman Kak Devan itu masuk sembunyi-sembunyi kayak gitu?" Zafira masih saja kepo dengan banyak dugaan.


Beruntung posisinya di dalam mobil, beberapa gambar berhasil ia abadikan secara ilegal.


Bahkan wajah pucat pemuda tadi ia zoom.


"Siapa yaa? Kok kayak pernah tahu?" Zafira menyimpan kembali gawainya.


Setelah pemuda itu keluar gerbang dengan tenang. Zafira keluar dari mobil.


"Fir, Fran..." Panggilnya.


"Aku ke kamar mandi dulu ya!" Pamitnya.


"Fira perlu pengawalan?" Goda Malik.


Zafira hanya tersenyum masam menatap sambil menjulurkan lidahnya.


Malik hanya tertawa lebar.


Plaaak.


"Waaddduuuh.." Teriaknya.


"Gak usah godain Zafira atau motor aku biarin tercecer kayak gini!" Maki Zafir kesal karena menservice motor Malik gratis.


"Astaga.... " Seru Malik.


"Gak usah protes!" Ucap Zafir.


"Atau sekalian kita preteli bannya?" Ancam Zafran.


"Kalian sadis kalo sudah urusan Zafira!" Ujar Malik mengalah.


"Tuuh tau!" Sahut Zafir sambil terus merakit beberapa spare part motor Malik.


Di tempat lain.


Zafira berusaha mencari lokasi dan keberadaan Devan.


Pandangannya terarah pada sebuah gudang di pojok sekolah. Dari jauh terlihat gemboknya terkunci rapat.


Anehnya semakin mendekat semakin terdengar suara tawa dan candaan.


Zafira mencari tempat teraman untuk sembunyi.


Dan pandangannya mengarah pada sekelompok pemuda pimpinan Devan.


Sang pemimpin tampak membuka bungkusan, Zafira menutup mulutnya menyaksikan benda-benda yang dikeluarkan Devan


*****


Huwaaa.. Zafira mergoki apaa yaa?


Keep buat besok yaa..


Tapi kalo nanti kelar lgsg di up deh


Salam dari Zafira


😘

__ADS_1


Pesannya like, komen , vote dan share


__ADS_2