
"Yan...." Panggil Ayah dan Daddy.
Julian menoleh ke arah Ayah dan Daddy. Dan duduk di depan keduanya.
"Iya, Ayah.. Daddy?" Tanya Julian.
"Kami sudah dengar cerita kamu dari Desta. Rencana kamu ke depannya bagaimana?" Tanya Daddy.
Julian hanya menghembuskan napas panjang. Sebetulnya ia juga bingung harus menjawab apa.
Di dalam hatinya, ia tak ingin mengingat masa lalunya.
Saat bersama keluarga Aqeela dan Desta, ia sudah merasa memiliki kehidupan yang baru.
Dia sudah nyaman dengan keadaannya yang sekarang. Bahkan sampai saat ini, ia belum menghadap Edo di kantornya. Sesuai permintaan pengacaranya itu.
Julian masih nyaman dengan dunianya di rumah Desta. Ia tak ingin menjadi Julian yang lain.
"Yan.." Panggil ayah dengan lembut.
Julian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi tunggu rumah sakit.
"Saat ini kamu sudah dewasa. Kamu sudah punya kewajiban menata masa depan kamu. Kami berdua selalu mendukung semua keputusan kamu."Ucap Ayah bijak.
"Kamu bole memiliki harta keluarga kamu. Itu hak kamu. Tapi kamu juga masih menjadi bagian keluarga kami. Harta itu milik kamu. kelolalah sesuai permintaan almarhum papa kamu." Sambung Daddy.
"Tapi kamu tetap adiknya Aqeela dan Desta." Sahut Ayah.
"Masih bolehkah aku jadi anak kalian?" Tanya Julian ragu.
"Yan, sampai kapanpun kamu tetap anak kami. Adiknya Aqeela dan Desta. Tak ada yang bisa merubah semuanya."
"Ibu dan Mommy gimana?" Julian masih menatap kedua ayah angkatnya itu.
"Mereka berdua juga sama seperti kami. Justru kedu wanita itu yang cemas memikirkan kamu." Jawab Ayah.
Julian menyimak pernyataan ayah dengan haru. Tak disangka ternyata keluarga angkatnya luar biasa.
Dengan cepat dipeluknya kedua pria itu.
"Makasi ya...Ayah, Daddy sudah nerima aku apa adanya."
💗💗💗💗💗
"Assalamu'alaikum..." Salam Julian sebelum masuk rumah.
"Wa'alaikum salam..." Sahut suara perempuan.
Satu milik Aqeela, Julian sudah hapal dengan nada salam kakaknya itu. Tapi, satu lagi itu suara siapa?
Julian yang masih berdiri di depan pintu jadi kepo.
Segera ia masuk.
"Lhoo...Ning Hani?" Seru Julian kaget.
"Yan.." Sapa Hani yang sudah duduk manis di samping Aqeela.
Penampilannya masih sederhana, tapi ia terlihat lebih dewasa dari terakhir Julian bertemu di rumah Gus Burhan. Ayah Hani.
"Ning Hani kok bisa di sini?" Tanya Julian kaget.
"Iya kakak yang nyuruh ke sini." Jawab Aqeela.
"Bukannya Ning Hani sudah kuliah?" Tany Julian lagi.
__ADS_1
"Iya, aku keterima di Unair. Fakultas Kedokteran." Jawab Hani.
"Wah, selamat ya Ning. Akhirnya cita-cita Ning Hani bisa tercapai." Ucap Julian dengan senyum mereka.
Sesaat ia terlupa dengan kegalauannya tentang warisan sang papa.
"Ada yang kepo nih, kayaknya." Sindir Aqeela.
"Ish.., kakak bisa saja. Ning aku ganti baju dulu ya.." Pamit Julian sambil masuk ke kamarnya tanpa menunggu jawaban Hani.
"Semoga dengan kehadiran kamu, Julian bisa sedikit mengakhiri kegalauannya Han."
"Lha apa hubungannya aku sama galaunya Julian, Mbak?" Hani penasaran pemikiran Aqeela tentang dirinya dan Julian.
"Udah gak usah pura-pura. Kalian sempet deket kan waktu di nyantri?" Goda Aqeela.
"Ya Alloh Mbak, itu karena Julian peka sama kegalauanku."
"Sekarang giliran kamu dong yang peka sama galaunya Iyan."
"Mbak, aku perempuan. Mana berani aku nyolek duluan."
Aqeela terkekeh mendengar komentar Hani.
"Khadijah aja yang ngelamar Rasulullah duluan. Memangnya kenapa kalo kita yang ngeduluin?" Tanya Aqeela sambil memegang perutnya. Ia merasakan sedikit sakit di bagian perutnya setelah mentertawakan Hani.
"Kak, kenapa?" Tanya Hani cemas.
"Kayaknya dek bayinya gak mau diajak ngeledek ini." Gumam Aqeela.
"Kualat tuh Kak. Udah tahu hamil masih saja suka godain orang."
"Yang digodain cantik dan solihah pula. Ya jelas dedek bayinya marah.." Julian yang baru keluar dari kamar langsung membela Hani.
"Baru juga ketemu udah main bela. Gitu yaa.. terus Kakak dilupakan." Aqeela pura-pura marah.
Hani yang ada di sebelah Aqeela hanya tertawa lebar.
"Aish...udah pintar gombal adik kakak sekarang, ya." Ucap Aqeela.
"Gombal itu modalnya cowok buat ngerayu cewek." Ledek Julian.
"Tapi awas ya... kalo kamu gombalin banyak cewek di luaran sana, langsung kakak nikahin sekarang juga."
"Uwiik.. Kakakku ini sadis juga."
"Iya.. sadis. Yan, temenin Hani bentar ya.. Kakak mau lihat anak-anak." Kata Aqeela sambil bersiap berdiri.
"Iya Ratu." Jawab Julian.
Aqeela berlalu sambil terkekeh mendengar ocehan Julian.
"Yan.. kamu suka banget gangguin Mbak Aqeela." Kata Hani.
"Kalo gak gangguin rasanya aneh, Ning." Jawab Julian dengan sesantai mungkin.
Hani hanya tersenyum. Sesaat kemudian keduanya terdiam hening.
"Ning Hani tinggal dimana?" Tanya Julian.
"Ngekos, Yan. Deket kampus."
"Owwh..."
Suasana kembali hening, keduanya seakan kehabisan bahan pembicaraan.
__ADS_1
"Kok diem-dieman?" Aqeela datang sambil membawa nampan dengan satu gelas es sirup.
"Wah, seger tuh Kak. Tapi sayangnya cuma satu. Aku bikin dulu ya." Julian ngeluyur begitu saja tanpa menunggu respon.
Aqeela hanya menggelang melihat tingkah adiknya.
"Julian sudah terlihat dewasa, Mbak. Daripada saat di pondok dulu. Dua tahun lalu dia masih terlihat lugu." Seru Hani.
"Ya.. begitulah."
"Pasti ghibahin aku yaa?" Julian kembali ke ruang tamu membawa satu mug es sirup.
"Yan, kalo mau minum es kira-kira." Ucap Aqeela.
"Gak pa_pa Kak. Haus banget."
"Uncle..." Sebuah suara manja mendekatinya.
"Zafira.. sini!" Suruh Julian sambil menunjuk sofa di sampingnya.
Tanpa ragu, Zafira duduk di sebelah Julian.
"Lhoo ini kan, temannya Umma. Memangnya Uncle kenal juga?" Kepo si Zafira.
"Kenal. Kenapa?" Wajah Zafira menyiratkan aura kecemasana mendengar jawaban Julian.
"Kakak Hani berteman dengan Uncle Iyan sewaktu di pondok Zafira." Jawab Aqeela.
"Yuuk, kita masuk. Ada yang mau kakak Hani sampaikan untuk Uncle." Ajak Umma.
"Zafira mau disini saja. Umma tau enggak sih?"
"Enggak." Sela Aqeela.
"Makanya tungguin, Zafira belum selese ngomong." Oceh Zafira.
"Di hapenya Uncle Iyan sering keluar gambar cewek-cewek cantik. Tapi yang paling sering muncul tuh namanya Ai. Terus sekarang ada kakak Hani. Memangya Uncle Iyan, pacaran?" Mata Zafira melotot ke arah Julian.
Julian geli juga mendengar ocehan Zafirw, namun ia tahan.
"Fir, Ai itu teman Uncle. Kakak Hani juga teman Uncle. Nggak ada pacar." Jawab Julian.
"Beneran ya.. janji enggak ada pacar." Zafira menatap Julian.
Julian mengangguk sambil memangku gadis yang mulai terlihat dewasa itu.
"Uncle janji!" Julian mengangkat jari kelingkingnya.
Zafira menautkan kelingkingnya sebagai tanda janji diantara keduanya.
"Aku sayang uncle." Bisik Zafira sambil mencium pipi Julian lalu berlari ke belakang menghampiri saudara-saudaranya yang lain.
Hani yang menyaksikan kedekatan keduanya menjadi sedikit terkejut dan bisa merasakan aura aneh pada Zafira.
💗💗💗💗💗
Lhaadalah..
😘😘😘
Tengkyu dukungannya ya gaess..
maap semalam lupa gak di up ðŸ¤
aku tunggu jempol, komen dan votenya.
__ADS_1
kesederhanaan Hani.