TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Perpisahan


__ADS_3

Sabtu pagi di hotel Pop Star.


Pemandangan yang unik dan menakjubkan. Aneka rangkaian balon dan pita warna warni menghiasi gate masuk.


Begitu masuk ke dalam ballroom, para tamu akan di buat terpukau dengan dekorasi ruangan yang childish dan mewah.


Kursi-kursi terpasang dengan rapi.


Dari kursi tamu sudah terlihat aneka trplophy dan souvenir berjejer dengan rapi.


Begitupun panggung kecil di depan.


Background alam semesta memenuhi panggung. Pada tirai hitam di belakang panggung tertulis :


Pelepasan dan Pentas Seni


Akhirussanah KB - TK Safina


Di sekitara tulisan bertengger aneka hiasan bintang, bulan, planet, awan, pelangi dan matahari menempel di tirai hitam.


Sedangkan di bawah panggung rumput sintetis dan beberapa tanam dibentuk setengah lingkaran dengan air mancur kecil di tenghanya.


Sebuah miniatur rumah dan manekin sepasang anak laki-laki dan perempuan saling berjabat tangan terpasang di atas rumput sintetis tersebut.


Benar-benar memanjakan mata para anak-anak. Dan yakin deh, belum sampai semenit diajak duduk orang tuanya, mereka langsung menyerbu depan panggung.


Penasaran dengan dekorasinya. Apalagi air mancurnya. Mana ada anak-anak yang tahan.


Aqeela dan Desta menemani ketiga kembarnya dengan bahagia.


Mereka mengenakan kostum serba putih. Karena di awal acara mereka akan dinyatakan lulus dari Kelompok Bermain dan akan melanjutkan ke jenjang TK.


Ketiga terlihat ganteng dan cantik.


Di saat bersamaan, Mama Hanin dan Papi Carlos juga hadir.


Setelah ritual cipika cipiki Hanin dan Aqeela juga high five Desta dan Carlos kedua pasangan tersebut mengisi daftar hadir bergantian.


Hari ini digelar acara pelepasan dan pentas seni Sekolah si kembar.


Aqeela bersyukur karena suaminya hari ini bisa diajak kompromi tidak mual-mual dan lemas.


Bisa jadi karena efek vitamin dari dokter Susan kemarin.


Hanin memilih duduk di sebelah Aqeela disamping Aqeela Desta dan Carlos juga tampak terlibat perbincangan seru antar lelaki.


Sedangkan anak-anak dibawa Ustadzahnya untuk prepare acara.


💗💗💗💗


Bagi anak seusia Triple menunggu adalah hal yang paling membosankan.


Mereka akan mengalihkan perhatian pada apapun.


Di dalam bilik ruang ganti yang. Sambil menunggu giliran, Ustadzah Rika mengumpulkan muridnya dengan duduk melingkar.


Di panggung masih diisi sambutan-sambutan.


"Ust.. kenapa kita di suruh diem, sih?" Protes Zafran dengan kesal.


Mulutnya udah ia monyongkan sejak tadi, karena saking capeknya menunggu. Padahal ia sangat antusias saat di rumah.


"Iya, itu Kakak yang di sana ribut." Sambung Malik tak kalah kesalnya dengan Zafran.

__ADS_1


"Kakak-kakak itu kan lagi di rias. Sedangkan kita kan sudah siap." Jawab Ustadzah Rika.


"Terus kita menunggu sampai kapan." Zafira ikutan protes.


"Sabar sebentar lagi ya..." Kata Ustadzah Rika menenangkan.


"Kita bole jalan-jalan?" Tanya Ilham.


"Tunggu di sini saja. Nanti Ustadzah bingung mencari kalian." Ustadzah Rika masih menahan murid-muridnya.


"Ust.. Ustadzah Rika, lima menit lagi. Giliran kalian." Seru Ustadzah Titin yang kebagian seksi acara.


"Yuuk kita berdiri, siap-siap di dekat panggung. Lima menit lagi kita naik pentas." Seru Ustadzah Rika.


"Horreeeee..." Teriak anak-anak berusia empat tahunan itu.


Ustadzah Rika dibantu Ustadzah Nia membariskan murid-muridnya.


Sedangkan di sisi lain, Ustadzah Lila dan Ustadzah Eni melakukan hal yang sama.


"Kalian sudah siap?" Tanya Ustadzah Titin.


Ustadzah Rika dan Lila saling mengangkat jempolnya.


Barisan Ustdzah Rika dan Ustdzah Lila sudah berjejer di depan pintu ruang ganti.


"Pengukuhan lulusan siswa siswi kelompok Bermain Safina." Suara pembawa acara tampak menggema.


Satu per satu nama anak-anak Kelompok Bermain disebut oleh pembawa acara.


Diiringi sholawat Ya Asyiqol Mustofa, setiap anak yang di sebut maju menerima tanda kelulusan berupa sertifikat dan medali.


Pas giliran Zafir.


Pemuda cilik itu dengan percaya diri naik ke atas panggung. Di dalam bayangannya saat ini ia seperti Muhammad Al-Fatih yang selalu ia banggakan.


Muhammad Al-Fatih, salah satu panglima perang zaman Turki Ustamani yang berhasil menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun.


Di atas panggung.


"Ustadzah, aku mau yang warna biru ... ndak mau warna kuning." Rengek Zafir.


Ustadzah Ratih yang ada di atas panggung auto bingung.


"Zafir, yang ini untuk Kakak TK B, sayang." Bujuk Ustadzah Ratih, ia berharap Zafir bisa dibujuk dengan cepat mengingat durasi waktu dan acara lain yang masih menunggu.


"Tapi, aku suka yang itu Ustadzah..." Zafir masih kekeh dengan keinginannya.


Ustadzah Rika yang merasa ada yang tidak beres dengan Zafir, meminta Ustadzah Nia menggantikan posisinya sejenak.


Dan ia segera menyusul Zafir di panggung.


"Ust..." Panggil Ustadzah Rika sedikit gemetar.


Karena muridnya mengacaukan acara khidmat ini.


Ustadzah Ratih meminta Ustadzah Rika untuk tenang dengan mengkode dengan tangan di turunkan ke bawah.


Ustadzah Rika menarik napas perlahan. Tetapi tetap siaga.


"Okay, Zafir bole pinjam map yang ini. Tapi nanti dikembalikan ya Sayang." Ustadzah Ratih masih membujuk Zafir.


"Iya nanti Zafir kembalikan." Akhirnya Ustadzah Rika dan Ustadzah Ratih bernapas lega Zafir bisa di bujuk.

__ADS_1


Setekah tragedi Zafir, Ustadzah Rika kembali ke posisinya.


Athaillah Zafran Wijaya


Kali ini giliran Zafran, pemuda cilik pengagum Salahudin Al-Ayyubi itupun berjalan perlahan menuju ke pentas.


Seorang panglima perang pemimpin penahanan perang Salib di Mesir.


Dia juga pendiri daulah Ayyubiyyah di Mesir dan mampu mempeluas kekuasaan sampai Yaman, Irak , Mekkah Hijaz dan Diyar Bakr.


Ustdzah Ratih dan Ustadzah Rika sudah siaga, kalo tragedi Zafir terulang .


Ternyata Zafran bersedia menerima map dan medalinya tanpa protes.


Setelah salim dengan Ustadzah Ratih, Zafran berbalik ke arah penonton.


"Umma.... medalinya buat Umma." Teriak Zafran spontan dari panggung.


Aqeela dan Desta yang ada di barisan ketiga kursi penonton hanya bisa menggeleng dan tersenyum.


Agar anaknya itu merasa tidak diabaikan, wanita muda itu memberi kode jempol dari tempatnya.


Setelah tahu kode dari Ummanya, Zafran langsung turun menemui teman-temannya yang di bawah.


Athiyah Zafirah Wijaya


Begitu namanya disebut, gadis cilik itu tak pernah melepas senyumnya. Meskipuan ia tak tahu acara apa yang ia jalani, Zafirah tetap tersenyum sesuai yang diinstruksikan Ustadzah Rika.


Pengagum Khadijah itu, terlihat sangat lincah dan lembut dari cara berjalannya. Namun siapa sangka gadia cilik itu seorang pesilat cilik tangguh.


Ustadzah Ratih dan Ustadzah Rika juga sudah siaga, khawatir tragedi terulang lagi.


Lagi-lagi, lolos. Zafira baik-baik saja.


Gadis cilik itu tidak menunjukkan reaksi seperti saudaranya.


Tapi...


"Ustadzah Ratih... Peluk Zafira dong." Pinta gadis itu tanpa sungkan.


Ustadzah Ratih yang tegang sedikit mengembangkan senyumnya.


Wanita berusia lebih dari setengah abad itupun, merentangkan kedua tangannya memeluk Zafira.


Gadis cilik unik, yang membuat siapapun akaj menyukainya sejak pertama bertemu.


Dari kursi penonton Desta dan Aqeela saling tepuk jidat menyaksikan tingkah anak-anaknya.


"Beb, semoga yang ini tidak seperti kakaknya." Bisik Desta.


"Semoga, saja. Tapi ingat anak-anak kita itu cerminan kita. Kita berdua aja suka usil, bagaimana mereka jadi pendiem?" Balas Aqeela.


Desta hanya tersenyum kecil sambil mencubit hidung istrinya itu.


💗💗💗💗💗


Byuuh.. kalo aku jadi Ustadzah Ratih terus ketemu murid kayak mereka bertiga mungkin tak ajak mainan kejar-kejaran dulu biar habis tenaganya.


🤭🤭🤭🤭


Udahan ah, kasih like, komen dan votenya yaa teman-teman ...


makasii..

__ADS_1


__ADS_2