TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Keponya Aqeela


__ADS_3

"Aqeela....!" Pekik Mitha begitu sadar dirinya jadi korban keisengan istri teman sekelasnya dulu.


Suasana gaduh dari dalam kamar terdengar begitu seru dari luar.


Ceklek.


Terdengar suara pintu dibuka seseorang dari luar.


"Ada apa ini?"


Spontan Aqeela dan Mita menoleh ka sumber suara dengan tertawa cekikikan.


"Kalian ngobrolin apa? Seru banget?"


"Eh, kamu Don!" Ujar Aqeela begitu tahu yang membuka pintu Doni.


Tanpa permisi, ia langsung menyeret kursi dan duduk di sebelah Mitha.


"Kamu diapain sama cewek gak jelas ini?" Berondong Doni ke Mitha.


"Enak aja bilang gak jelas. Udah terbukti aku cewek tulen masih aja bilang gak jelas." Ucap Aqeela mendengar pernyataan Doni.


Doni langsung ngakak mendengarnya.


"Bisa aja kalo nyahut omongan."


"Hadeeww.. biasa aja kalee." Usil Aqeela.


"Abis kamu apain Yayang aku?" Tanya Doni dengan rasa kepo. Karena saking riuhnya suara mereka berdua.


"Tanya tuh si Mitha." Ucap Aqeela membuat Mitha jadi semakin cemberut.


"Mulut dikondisikan, Buk.. Biasa ajak kalee."


"Kamu tau gak Yang. Tadi itu aku di suruh Aqeela buka klinik di Pesantren. Tapi kan aku belum siap pake jilbab. Eh, dia bilang sapa suruh aku pake jilbab. Kan aku nyuruh buka klinik bukan pake jilbab." Terang Mitha.


"Lha.. salahnya Aqeela dimana?" Doni menyimak penjelasan Mitha.


"Terus, kan gak enak karena yang masuk pesantren semua berjilbab. Eh, aku malah diketawain."


Doni yang menyimak ikut terkekeh mendengar penjelasan istrinya yang masih belum ngeh sama keisengan Aqeela.


"Lha iyalah. Kan tidak semua yang berjilbab masuk ke pesantren. Masa aku di suruh pake jilbab?" Doni masih terkekeh dengan pemikiran Mitha.


"Maksud aku yang perempuan."


"Emang kamu tadi bilang ada kata perempuannya?"


"Enggak."


"Ya jangan salahin Aqeela, kalo dia ngetawain kamu."


"Yang kamu kok bela dia sih?" Sungut Mitha.


"Lagian juga kalo ngomong sama dia tuh, jangan langsung di komenin. Dicerna dulu. Maksud dia apaaan?" Nasehat Doni.


"Kayak gak pernah kenal nee anak aja."


Aqeela hanya tertawa ngakak mendengar Ucapan Doni.


"Don, bujuk tuh istri tersayang kamu biar bikin klinik aendiri di pesantren." Bujuk Aqeela.


Doni menoleh ke arah Mitha yang hanya di beri gelengan kepala.


"Bunda...." Sebuah suara mungil membuyarkan obrolan mereka.

__ADS_1


"Thifa kok tahu kalo Bunda di sini?" Tanya Mitha.


"Iya tadi Buya bilang kalo Bunda sama Ayah di kamar Umma. Jadi Thifa ke sini." Ucap Thifa berjalan ke arah Mitha.


"Udah selese mainnya?" Tanya Doni.


"Belum ayah. Kak Zafir masih ada tamu. Makanya Thifa ke sini."


"Tamu? Siapa Thifa?" Aqeela keheranan karena jarang-jarang Zafir kedatangan teman-temannya yang ada mereka temannya Zafran yang kebetulan juga kenal sama Zafir.


Satu-satunya teman paling dekat Zafir hanya si Darren.


"Thifa gak kenal Umma. Tapi kata Kak Zafir itu temannya. Orangnya udah gede, ada tiga."


"Terus Kakak Zafran , Kakak Zafira dan Al kemana?" Sambung Aqeela.


"Hm.. mereka main sama kakak yang lebih dewasa yang datang sama uncle iyan."


"Waduh.. sapa lagi dia?" Batin Aqeela.


"Nih Iyan udah ngasal bawa cewek pulang aja." Omel Aqeela lirih namun bisa di dengar Doni dan Mitha.


Keduanya hampir tertawa lebar mendengar gerutuan Aqeela.


"Cepet tua loe.. Anak mbarep udah siap merried." Ledek Doni.


"Alhamdulillah, kalo Iyan mau nikah. Tapi emangnya siapa yang berani Iyan jemput tanpa sepengetahuanku?" Aqeela mikir.


💗💗💗💗💗


Lamat-lamat Aqeela mendengar suara perempuan di halaman belakang. Sedangkan di ruang tamunya juga terdengar keramaian dari suara orang berbicara.


Aqeela memilih mencari sumber suara dari perempuan yang ada di halaman belakang rumahnya daripada keramaian yang ada di ruang tamunya.


Perlahan Aqeela menuju halaman belakang. Dari pintu penghubung antara ruang tengah dan halaman belakang, Aqeela melihat sosok wanita berhijab merah dengan motif bunga-bunga sedang asyik bercanda dengan Keempat anaknya ditemani Julian.


"Hem.. Hem.." Dari balik pintu Aqeela berdehem.


Julian dan wanita itu menoleh.


"Kak...."


"Mbak..."


Sapa keduanya tanpa merasa berdosa.


"Kok sudah jalan-jalan?" Wanita itu mendekat ke Aqeela lalu memeluknya.


"Kata Julian, Mbak Aqeela masih tidur. Jadi ya aku main sama anak-anak." Ucap wanita itu, yang tak lain Hani.


Aqeela masih terdiam tapi tatapannya beralih ke Julian seakan meminta penjelasan. Julian hanya tersenyum ke arah kakaknya.


"Hmm.. maaf ya Kak. Kata Kak Desta tadi kakak istirahat jadi yaa mending aku ajak Ning Hani menemui anak-anak." Julian menjekaskan.


Aqeela masih terdiam. Ia terus memindai tatapan Julian dan Hani bergantian.


"Sejak kapan?" Tanya Aqeela menggantung.


"Apanya Kak yang sejak kapan?" Julian yang menjawab ikut bingung.


"Sejak kapan Hani ada di sini. Dan sejak kapan kalian sering pergi berdua?" Tanya Aqeela tanpa melepas tatapannya.


"Ning Hani baru lima belas menit yang lalu datang." Jawab Julian.


"Sejak kapan kalian sering pergi berdua?" Selidik Aqeela.

__ADS_1


"Kita gak pernah pergi berdua, Kak. Baru hari ini, aku jemput Ning Hani." Elak Julian.


"Masuk Yan. Itu yang di ruang tamu ada Edo kan?" Tegas Aqeela.


"Iya, Kak." Jawab Julian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Temuin tamu kamu!" Usir Aqeela.


"Lhoo Om Edo ke sini kan janji ketemu sama Kak Desta bukan aku. Lagian sapa suruh ke sini gak ngomong dulu." Omel Julian lirih tapi tetap saja Aqeela masih bisa mendengar.


"Apa ada yang kalian sembunyikan dari aku?" Selidik Aqeela curiga.


"Enggak ada. Paling-paling Om Edo konsultasi sama Kak Desta soal perusahaan." Bantah Julian.


"Kok kamu gak dilibatkan?" Aqeela masih saja curiga.


"Curigaan melulu sih?" Omel Julian.


Hani yang mendengarkan percakapan keduanya hanya tersenyum kecil.


"Gak malu sama Hani." Ledek Aqeela.


"Biarin." Gumam Julian keras sambil meninggalkan halaman belakang.


"Mbak.. maaf ya. Aku gak langsung nyamperin ke kamar." Ucap Hani dengan nada menyesal sambil memeluk Aqeela. Begitu Julian sudah menjauh.


"Gak pa_pa, kok. Lagian aku penasaran aja sama omongannya Thifa tadi. Kata Thifa uncle Iyan sama teman perempuannya." Bisik Aqeela.


Hani tersenyum sambil melepas pelukannya, tak ada niatan menjawab pertanyaan kakak Julian itu.


"Selamat ya Mbak.. akhirnya Zafira ada temannya." Hani masih tersenyum bahagia menatap Aqeela.


"Iya.. anak itu paling antusias sama adiknya." Balas Aqeela.


"Umma.. adek mana?" Tanya Zafira begitu melihat Aqeela hanya sendirian tanpa membawa baby twins.


"Di kamar lagi bobok." Jawab Aqeela.


"Ya.. gak bisa maen dong." Ucap Zafira kecewa.


"Udah main dulu sama Zafir, Zafran dan Al dulu."


"Bosen ah, paling mainannya dari tadi cuma bongkar mobil-mobilan sama robotnya si Al. Thifa juga udah pulang. Gak temannya, gak enak banget sih Umma." Curhat Zafira menyampaikan rasa gundah gulananya sambil menatap Aqeela.


"Terus kamu maunya berteman sama siapa?" Tanya Aqeela.


"Sama anak ceweklah. Mereka bertiga asyik sendiri. Gak sadar apa Zafira di cuekin." Zafira masih cemberut sambil mengeluarkan uneg-unegnya.


Aqeela dan Hani sampai terkekeh mendengarnya.


"Ya udah main sama Kakak Hani aja, yuuk!" Hani akhirnya mengalah mengajak Zafira bermain.


"Benaran?" Girang Zafira.


"Iya.. kakak Hani juga sendirian. Tadi Uncle Julian ke ruang tamu nemuin temannya." Balas Hani.


"Okay.. yuuk! Kita main di ruang tengah saja. Di sini banyak cowoknya." Zafira langsung menarik tangan Hani ke dalam.


💗💗💗💗💗


Genks.. yang silahkan masuk GC aku kuy..


ato follow ig : @maria_suzan


di tungguin ya..

__ADS_1


tetap kasi like, komen dan vote kalian ya..


__ADS_2