TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Merindu


__ADS_3

Zafir membuntuti motor Satria perlahan di belakang. Pemuda itu hanya ingin tahu kemana tujuan kekasih Thifa itu.


Kendaraan Satriya masuk ke sebuah hotel.


"Ngapain mereka ke situ?" ucap Zafir dalam hati.


Walaupun begitu, Zafir masih membuntuti. Pemuda itu turun masih dengan masker dan menutup kepalanya dengan hoodie. Tak lupa kacamata hitam.


Zafir masuk dan duduk di kursi lobby.


Dari balik kacamatanya Zafir mengawasi gerak gerik Satria. Setelah kekasih Fely itu mendapatkan kunci kamar dari reseptionis. Satria menggandenga tangan wanita yang bersamanya masuk lift.


Zafir berpura-pura ikut masuk namun ia berdiri di pojok, sembari memainkan gawainya.


Ting.


Pintu lift berhenti di lantai tiga. Satria dan pasangannya keluar. Zafir mengikuti. Namun ia sengaja menuju arah lain agar tidak dicurigai Satria.


Setelah merasa aman dengan posisinya, Zafir mengintai dimana Satria menginap.


Sayup-sayup Zafir mendengar percakapan kedua manusia beda genre itu.


"Tan..." suara Satria.


"Ntar Tante yang nurut ya sama aku!" Sambung Satria.


"Iya..., lakuin sesuka kamu!" suara wanita yang dipanggil Tante itu.


Setelah itu hanya terdengar bunyi klik. Perkiraan Zafir keduanya masuk.


"Sebenarnya apa profesi cowok itu?" Zafir berpikir dengan dugaannya.


"Sudahlah, puyeng mikirin Satria. Serah dialah tapi awas saja kalo sampe bikin Thifa sedih," pungkas Zafir sembari memencet tombol lift.


Cowok badung itu kembali ke parkiran, meninggalkan Satria yang patut dipertanyakan kegiatannya.


🌷🌷🌷


Menjelang sore, ketika Zafir bersiap ke masjid untuk menyaksikan latihan karate adik-adik binaan Kak Ryu dan Kak Usi.


Sebuah notif pesan masuk ke gawai Zafir.


Ternyata pengirimnya Yudhis pengacara Reksa.


📱


Felix, kondisinya koma. Ia saat ini berada di RS Sejahtera. Tubuhnya terkena luka tusuk di satu bagian dadanya dan dua bagian perutnya.


Tapi kata dokter masih ada harapan untuk bangun.


Sedangkan Alena, kondisi mentalnya saat ini sangat terpuruk. Ia bertingkah seperti orang depresi.


Berkali-kali ia memanggil nama Fely dari balik jeruji besi. Sejauh ini Polisi masih belum menanyai banyak hal kepada Alena.


Fokus Polisi menyembuhkan mentalnya dulu.


Kemungkinan besar kamu akan mendapat panggilan sebagi saksi dari kepolisian.


📱


Zafir membalas pesan Yudhis

__ADS_1


📱


Demi tegaknya kebenaran dan keadilan saya siap, Om.


📱


📱


Kayak kalimatnya detektif Conan aja. 😜😀


📱


📱


Yang penting Om bahagia.


📱


📱


Anjir...


📱


Zafir hanya tersenyum membaca balasan dari Yudhis tanpa ada maksud menjawab.


Pemuda kembali niatnya semula, ke masjid.


Tiba di masjid, latihan sudah di mulai sekitar lima belas menit yang lalu.


Namun, karena niatnya hanya menyaksikan ya udah ia duduk anteng di teras masjid.


Di saat Zafir dan kedua saudara kembarnya Balita, mereka berdua memang masih belia dan gesit. Setelah lima belas tahun berlalu tentunya sudah tak lagi sama.


Ryu dan Ussi bahkan sudah memiliki keluarga masing-masing.


Ryu yang berusia 33 tahun baru menikan setahun yang lalu. Istrinya sekarang sedang mengandung buah hati pertama mereka.


Sedangkan Ussi yang sekarang berusia 34 di usia pernikahannya di tahun kedua, masih harus bersabar menunggu kedatangan seorang anak.


"Fir, gak ada niatan bantuin gitu?" sindir Ryu menatap Zafir yang masih duduk-duduk dengan wajah innocennya.


"Makasi deh, Kak. Enakan juga gini!" balasnya.


"Bantuin sini, napa?" titah Ryu sedikit keras kepada putra pemilik Perguruan itu tanpa takut.


Dengan enggan pemuda itu turun dari tangga mendekati Ryu.


"Bantuin apa?"


"Betulkan posisi mereka!" ucap Ryu.


Zafir hanya menurut, melakukan perintah gurunya.


Pria berwajah oriental itu, paling suka dengan sikap cuek Zafir. Tidak pernah menolak perintah guru. Meski dia anak yang empunya lahan.


Perintah guru adalah sebuah titah dan sabda. ( Udah kayak Nabi, aja)


"Minum, Kak!" Zafir menyodorkan sebotol air mineral kepada Kak Ryu dan yang lain. Putra pemilik masjid itu juga membuka toples berisi cemilan yang ia bawa dari rumah.


"Terima kasih!" ucapnya.

__ADS_1


"Gimana perkembangan kasus pacar kamu?" tanya Ryu sembari duduk di samping Zafir.


Ryu paham sekali, remaja yang sudah beranjak dewasa itu sangat kehilangan gadis berwajah oriental seperti dirinya itu.


(Sok tahu, nih)


Apalagi menjelang akhir hidupnya, ia berjuang demi hubungan mereka berdua. Ryu yakin Zafir pasti menyesal karena mengantarkan gadis itu kepada kematian.


Zafir menghembuskan napas dalam-dalam sebelum menjawan pertanyaan Ryu.


"Maminya sudah tertangkap tapi kondisi mentalnya tidak stabi. Papi tirinya masuk ICU karena ditusuk Sang Mami," urai Zafir.


"Kok jadi begitu? Memangnya apa yang terjadi?" kepo Ryu.


"Belum tahu," pungkas Zafir, dalam hati ia berharap kasus Fely segera usai.


"Sabar, semua pasti ada hikmahnya." Ryu kemudian meninggalkan Zafir untuk bergabung dengan Ussi dan yang lain.


Mereka membahas pertandingan berikutnya.


Di teras hanya ada Zafir menatap jauh ke langit cerah di warnai cahaya jingga menandakan sang pemilik siang bersiap ke peraduannya. Karena sang dewi malam sudah siaga menggantikannya.


Beberapa hari ini, Zafir memang sengaja izin dari kampus dengan tujuan menenangkan diri dari kasus yang melibatkan dirinya.


Pemuda itu sebetulnya ingin fokus kembali ke kampus. Namun, bagaimana ia bisa fokus jika seluruh teman-teman sekampusnya menjadi wartawan dadakan atas kasus Fely.


Mendadak ia seakan menjadi bintang dan nara sumber di balik kematian Fely. Seolah Zafir tahu semua bagaimana peristiwanaas itu terjadi.


Jika diizinkan berteriak, Zafir ingin mengumpat, memaki bahkan menjerit sekuat tenaga agar mereka berhenti kepo dan ia bisa belajar dengan tenang.


Namun, kenyataannya ia tidak bisa melakukannya. Sikap cuek dan tidak peduli terhadap sekitar seolah lenyap tanpa jejak.


Tak ada lagi Zafir yang cuek dan dingin seperti dulu. Karena para netizen tidak peduli dengan karakter lama teman dekat Fely itu.


Yang ada dalam otak mereka adalah memburu berita dan mencari info kebenaran kemisteriusan Fely.


"Kamu gak ada aja, aku masih harus berhubungan dengan kamu. Mungkin ini adalah hikmah bahwa aku memang dikirim Tuhan untuk keajaiban sebuah iman," gumam Zafir dalam hati.


"Allah mengirimku untuk menuntunmu sebelum Dia memanggilmu. Karena aaking sayangnya Dia padamu." Zafir menengadah menatap.langit seolah ada Fely di sana sedang menyapanya.


"Kamu udah bahagia di sana, bukan. Kamu tunggu aku baik-baik ya! Karena suatu saat alu juga akan berpulang ke sana. Namun, belum tahu kapan, " ucap Zafir lirih.


"Tau enggak, kamu curang. Karena berani mendahului kami. Padahal kami yang di sini begitu merindui kamu." Senyum Zafir mengembang tidak sempurna saat menyebut rindu.


Benarkah ia begitu merindukan sosok itu. Belum genap empat puluh hari tapi rasanya begitu kentara kehilangannya.


Sebuah tepukan dibahu menyadarkannya.


"Udah mau maghrib, kok cucu Ayah melamun?" Ayah Kung dan Kakek Ridwan Papanya Om Doni datang.


"Begitulah semua yang hidup pasti mati," ucap AyahKung dengan tegar.


Lelaki tua itu paham bagamana rasanya kehilangan. Istri tercintanya juga dipilih Tuhan menghadapNya terebih dahulu.


"Bangkit, jalan kamu masih panjang. Raih cita-cita kamu. Ibadah itu jalannya banyakkan?" tanya AyahKung seolah mengajak cucunya itu bertukar pikiran bukan menjudge.


Zafit mengangguk pelan.


"Iya, Yah. Zafir akan belajar lebih giat. Untuk jadi anak yang membanggakan bagi keluarga!" AyahKung mengusap lembur kepala cucu kesayangannya itu dengan lembut sebelum menabih bedug maghrib.


***

__ADS_1


__ADS_2