TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Bolos


__ADS_3

"Kenapa tuh anak?" Seru Tio yang baru masuk dan nimbrung.


"Patah hati, kalee." Sahut Uci.


"Mana ada cowok nolak cewek terus patah hati." Ledek Tio.


"Yang harusnya patah hati ya si Ai. Tapi Ai fine-fine aja tuh. Tadi ia ketawa-ketawa ama Marsha." Lanjut pemuda berhidung mancung itu.


"Dieemm!" Teriak Julian dari ruang tengah.


"Bisa marah lo, Yan." Uci jadi gentar dengar suara keras Julian.


Pemuda kalem yang tak pernah bersuara demgan nada tinggi.


"Bisa, tunggu bentar lagi taring gue keluar." Kata Julian tanpa ekspresi. Namun nada suaranya sudah kembali.normal


"Loe kenapa sih?" Tio menjajari Julian.


"Gak pa_pa cuma pusing doang." Kata Julian.


Auto Tio menyentuh dahi Julian.


"Dingin, gak panas?" Komen Tio.


Julian menarik napas panjang. Lalu membuangnya perlahan.


"Loe bisa gak ninggalin gue sendirin." Pinta Julian.


Tanpa menjawab, Tio langsung keluar diikuti Uci.


"Om..." Julian mendial sebuah nomer di ponselnya


"Kenapa Yan?" Suara diseberang terdengar panik.


"Om bisa jemput Iyan sekarang. Antar Iyan ke makam Mama dan Papa." Pinta Julian mengiba.


Bukan karena apa-apa. Selama sebelas tahun ia tak pernah tahu dimana makam orang tuanya.


Pernah ia bertanya pada Yanuar tapi bukanlah jawaban yang ia terim melainkan sebuah pukulan.


Julian kembali menarik napas panjang.


Rasa rindunya kepada kedua orang tuanya semakin membuncah, tatkala melihat kedekatan keempat keponakannya dengan Aqeela dan Desta.


Bukan hanya sekali tapi selalu. Ia begitu merindukan mama dan papanya.


"Om.." Panggil Julian lagi.


"Om.. Edo, pliss.. hari ini saja. Biarkan aku bolos." Pinta Julian.


"Om Edo gak usah bawa mobil. Naik taksi aja ke sekolah Julian." Nada suara Julian kian mengiba.


Membuat Edo di line seberang semakin sesak dan tak sanggup menolak.


💗💗💗💗💗


Pemakaman Umum Keputih.


Edo akhirnya meluluskan permintaan Julian membawanya ke makam kedua orang tuanya.


Dengan sedikit berbohong Julian akhirnya bisa keluar sekolah. Dengan catatan selesai urusan kembali ke sekolah.


Julian dan Edo mengiyakan saja. Tapi entah, nanti Julian mau balik atau tidak ke sekolah.


"Assalamu'alaika ya Ummi wa Abi.." Salam Iyan di depan makam orang tuanya.

__ADS_1


"Ma.. Pa.. Maafin Iyan. Baru bisa nengok mama dan papa sekarang. Iyan kangen sama mama dan papa."


Julian jongkok di hadapan pusara kedua orang tuanya.


Matanya begitu sayu menatap dua nisan bertuliskan nama kedua orang tuanya.


Tak ada air mata. Karena Julian masih ingat ajaran Ustadz di pesantren untuk tidak menangis di makam.


"Papa sama mama tau tidak. Setelah Iyan di buang ke panti. Iyan ketemu kakak cantik dan baik hati. namanya Aqeela. Kakak Aqeela dan suaminyalah yang merawat Julian sampai sekarang."


"Iyan, berhutang banyak sama mereka. Mereka pengganti mama dan papa."


Julian kemudian membacakan surat Yasin dan tahlil untuk kedua orang tuanya.


Edo mengikuti setiap lantunan bacaan ayat suci dan tahlik yang dibaca Julian.


Speechless.


Julian yang masih remaja mampu mengaji dengan baik. Puji Edo dalam hati.


"Mas Atmaja Bu Reina, kalian sangat beruntung anak kalian tumbuh bersama orang yang tepat."


"Semoga dosa-dosa kalian diampuni oleh Allah dengan ditaqdirkannya Julian menjadi anak yatim piatu yang soleh." Edo tak mampu menahan harunya.


"Om, kita ke rumah Papa." Ajak Julian.


"Serius kamu, Yan?" Tanya Edo hampir tak percaya.


"Dua rius malahan. Yuuk, mumpung aku belum berubah pikiran loo!"


Tanpa menunggu lama Edo mengemudikan terios hitam itu menuju kediaman lama Julian.


💗💗💗💗💗


Julian masih berdiri mematung di depan halaman rumahnya, begitu keluar dari mobil.


Sepertinya para penghuni sebelumnya tidak begitu menyukai tanaman.


"Ayo Yan kita masuk!" Ajak Edo.


Satpam yang membukakan pintu sejak tadi menatap Julian kepo.


"Siapa pemuda ini?" Gumamnya.


Edo berjalan menuju pintu utama. Julian mengekor dari belakang.


Setelah beberapa kali memencet bel, seseorang membuka pintu dari dalam.


"Bi.. I.rraa..." Sapa Julian begitu si pembuka pintu menampakkam wajahnya.


Wanita yang disapa Julian itu terdiam, menatap pemuda ganteng dihadapannya itu.


"Bi.. Bi.. Ira sudah lupa sama aku?" Julian terlihat sedikit kesal saat wanita lima puluh tahun itu tak lago mengenalinya.


"Pak Edo, siapa dia?" Bi Ira beralih menatap Edo.


Edo menoleh ke arah Julian. Edo hanya mengangguk lirih kepada Bi Ira.


"Jangan..jangan.. kamu Den Julian?" Pekik Bi Ira tanpa melihat anggukan Edo.


"Den..Aden sudah besar. Bibi sampai pangling. Aden jadi ganteng." Bi Ira terus mengelus dan memutar tubuh Julian berkali.


Sekedar memastikan bahwa pemuda dihadapannya itu benar-benar majikan ciliknya yang menghilang sebelas tahun yang lalu. Sampai Julian merasa pusing.


"Bi Ira.. udahan muter-muter badanku. Aku pusing nee." Gerutu Julian.

__ADS_1


"Hee hee maaf Den." Bi Ira menghentikan aktifitasnya.


"Bi..." Julian langsung memeluk tubuh renta itu dengan bermacam rasa.


"Den.. "


"Bi, Iyan kangen sama Bibi." Ucap Julian tanpa melepas pelukan wanita yang sudah mengasuhnya saat masih tinggal di rumah ini dulu.


Rumah yang dipenuhi kenangan indah saat bersama kedua orang tuanya. Dan rumah yang dipenuhi kenangan kelam saat bersama Yanuar.


"Ayoo kita masuk dulu!" Tuntun Bi Ira kepada Julian.


Julian menurut saja permintaan wanita tersebut.


"Den, maafin Bibi yaa. Waktu itu tidak bisa menolong Aden dari Pak Yanuar." Bi Ira terlihat menyesal.


"Aku gak pa_pa kok, Bi. Keluarga baruku sangat baik." Ucap Julian.


Bi Ira menatap tidak percaya ke arah pemuda itu.


"Nanti kapan-kapan aku ajak mereka ke sini. Aku kenalkan mereka ke Bibi." Kata Julian.


"Yan, kamu tau. Om bisa melacak keberadaan kamu berkat Bi Ira." Jelas Edo.


Julian kembali menatap wanita renta itu. Wajahnya yang dulu terlihat cantik sekarang sudah dipenuhi banyak keriput.


"Makasi ya Bi." Ucap Julian.


"Bi makasi yaa masih mau menjaga rumah kami."


"Papa dan Mamanya Aden itu orang baik. Saya selalu ingat pesan beliau untuk tetap di sini apapun yang terjadi. Karena itu saya bertahan dan berusaha menemukan Aden. Syukurlah Pak Edo banyak membantu." Bi Ira masih merendah.


"Aden mari saya kenalkan dengan asisten rumah tangga lainnya. Saya sudah tidak kuat bekerja sendiri jadi saya dibantu mereka." Bi Ira membawa Julian ke dapur.


"Oya Bi, Pak Maman kemana?" Tanya Julian menyebut nama seseorang lainnya yang masih ia ingat.


"Pak Maman sudah meninggal dua tahun yang lalu."


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un." Balas Julian


"Dimakamkan dimana Pak Maman Bi?" Lanjut Julian.


"Di desanya Den, di Nganjuk."


Julian hanya manggut-manggut mendengarnya.


Sekilas sosok humoris Pak Maman melintas di otaknya.


"Mira.. Tiwuk.. sini kalian!" Panggil Bi Ira dengan sedikit teriak.


Perempuam yang dipanggil namanya itu segera menemui Bi Ira.


Melihat pemuda ganteng bersama Bi Ira, membuat kedua wanita berusia dua puluha itu mendadak terkagum.


Mulutnya membentuk huruf O tanpa sadar.


Julian yang menyadarinya hanya tersenyum kecil. Sedangkan Bi Ira langsung memukul keduanya dengan keras.


"Jangan kurang ajar, dia ini pemilik rumah ini!"


💗💗💗💗💗


Wkwkwkk... itu ekspresi Mbak-mbak ART kayak apa yaa?


Gaess.. terima. kasih dukungannya

__ADS_1


aku gak akan pernah bosan untuk minta like l, komen dan vote ke kalian.


__ADS_2