
Zafira mematut-matutkan diri di depan cermin.
Berkali-kali ia merapikan hijab orangenya.
Merapikan gaunnya sampai make upnya.
Make up hasil karyanya sendiri yang belajar dari tutorial youtube.
Make up naturalis yang ia poleskan ke wajah benar-benar menyatu dengan kulitnya. Walaupun tanpa make up wajahnya sudah cerah alami. Tapi kali ini ia ingin sedikit berbeda.
Make up sempurna ini sudah berkali-kali ia abadikan di kameranya.
Namun sebaik apapun riasan jika hati cemas takkan bisa di tutupi oleh riasan apapun.
Begitulah kondisi hati Zafira saat ini, cemas.
Gaun yang ia kenakan adalah gaun yang dipesan khusus Julian untuknya. Seperti rencana Julian, mereka akan mengenakan baju couple hari ini.
Sebagi awal menjalani calon pasangan pengantin kelak.
"Fir, gimana perasaan kamu sekarang?" Tanya Zafran begitu masuk ke kamar Zafira tanpa permisi apalagi mengetuk pintu.
Bau harum aroma lavender tercium begitu kuat di hidungnya.
Zafran duduk begitu saja di ranjang saudarinya itu.
"Fira..! Jawab dong!" Tegur Zafran kembali.
"Aku gugup, Fran." Ucap Zafira membalik tububnya seratus delapan puluh derajat.
"Ambil napas Fira. Ini masih proses khitbah belum nikah. Udah gugup gitu. Apalagi kalo nantin pas akad nikah?" Cetus Zafran sekenanya.
"Bisa gak ? kalo kamu gak pake suara pas ngasih aba-abanya?" Sindir Zafira menatap lurus ke Zafran tapi saudaranya itu tahu Zafira tidak sedang menatapnya.
Zafran hanya tersenyum sambil membalas, "Bisa pake bahasa isyarat. Tapi catatannya kamu kudu ngadep aku. Fokus dan gak bole meleng."
"Apaan tuh? Gak jelas."
"Pake bahasa bibir!" Zafran memajukan bibirnya menunjukkan ekspresi orang yang sedang berciuman.
"Mesuum..!" Zafira akhirnya tersenyum tapi dengan memberi pukulan di sekujur tubuh saudaranya itu.
"Fir.. Firaa..! Stop! Sakit." Pekik Zafran tanpa membalas pukulan Zafira yang sebenarnya tidak sakit.
Zafran tahu, itu tadi hanyalah pelampiasan Zafira yang galau karena tidak tahu harus bagaimana dan berkata apa.
"Sini!" Akhirnya dengan satu tarikan tubuh Zafira sudah dalam pelukan eratnya.
"Percayalah! Kamu tetap yang tercantik buat Uncle." Bisik Zafran menenangkan Zafira.
"Aku takut, Fran. Aku belum siap jadi istri." Bisik Zafira.
"Tugas istri itu cuma satu, patuh sama suami. Apanya yang belum siap?" Zafran masih berbisik di telinga Zafira.
"Aku takut belum bisa jadi yang terbaik." Suara serak Zafira benar-benar membuat Zafran gemas.
"Di dunia ini tidak ada yang terbaik atau sempurna. Tak ada manusia yang tak punya cacat." Bisik Zafran lagi.
__ADS_1
"Pernah gak kamu tanya ke Uncle? Apa motivasinya menikahimu sekarang?" Zafran merenggangkan pelukannya.
"Untuk menghalalkan semua langkah kita saat berdua."
"Yang lain?" Pancing Zafran.
Zafira menggeleng.
"Apa kamu pernah menyampaikam kegalauan hati kamu?"
Zafira kembali menggeleng.
"Ada baiknya sampaikan. Satu hubungan itu dimulai dari keterbukaan. Aku yakin Uncle akan menerimanya. Apalagi dari gadis yang ia jaga sejak kecil."
"Tapi Fran..." Bantah Zafira.
"Gak ada tapi Zafira. Percayalah! Aku juga ingin kamu bahagia menjalani pernikahan kamu. Bukan malah jadi galau begini." Ucap Zafran bijak.
Zafira memejamkan matanya. Perlahan ia tarik napas dalam-dalam dari hidung dan dikeluarkan daei mulut.
"Senyum dong. Calon pengantin gak boleh sedih."
"Ayoo kita turun, sebentar lagi Uncle pasti datang. Tadi Uncle WA katanya udah sampai Kendangsari."
"Yuuk...!" Zafran mengulurkan tangannya.
Zafira dengan sedikit ragu meraih tangan kokoh saudaranya itu.
"Kami tetap ada bersama kamu." Zafran menggandeng Zafira keluar dari kamar menuju ruang tamu.
Di sana semua keluarga besarnya berkumpul.
"Zafiranya Umma yang suka iseng ini sekarang udah gede. Udah mau jadi pengantin." Bisik Umma sambil tersenyum.
"Duduk sini di sebelah Umma." Ajak Aqeela.
Dengan lembut wanita itu kembali memeluk putrinya.
"Kamu tahu?"
Zafira menoleh ke arah Umma.
"Umma dulu juga di khitbah Buya ketika seusia kamu. Hanya saja, waktu itu kita tidak kepikiran untuk menikah. Sampai Kyai Sepuh yang meminta kita untuk menyegerakan." Aqeela menjeda untuk memasok oksigen ke jantungnya.
"Lagi-lagi kita tidak menyegerakannya. Sampai Musibah menimpa Umma dan Buya. Umma diculik seseorang yang menginginkan Buya jadi kekasihnya."
"Beruntung kita selamat. Setelah kejadian itu Buya semakin posesif melindungi Umma. Dan akhirnya Buni, Oma, AyahKung dan Opa mempercepat proses pernikahan kita."
"Zafira tahu, bahkan setelah menikah kita masih tinggal terpisah. Buya sesekali ngapel ke rumah. Jalan berdua layaknya sepasang kekasih yang sedang pacaran."
"Tapi Umma hamil kalian setelah lulus. Jadi menikah itu bukan sekedar tentang selalu berdua. Tapi juga tentang komitmen."
"Dengan menjaga komitmen, Umma dan Buya bisa sampai sekarang." Aqeela mengelus rambut putrinya lembut.
Bersamaan Aqeela mengakhiri kalimatnya, suara mobil masuk ke halaman rumah mereka.
"Itu pasti Uncle." Ucap Aqeela sambil melirik Zafira yang tersenyum kecil.
__ADS_1
Aqeela paham, bagaimana perasaan Zafira saat ini. Antara sedih, bahagia dan galau. Sama seperti saat kekuarga Desta mengkhitbahnya.
Benar saja, tak lama kemudian Julian di dampingi Edo dan istrinya mengucapkan salam di depan pintu.
Wajah terkejut terlihat diantara kedua keluarga besar ternyata kedua calon pengantin mengenakan pakaian dengan warna senada.
Senyum simpul tercetak dari kedua belah pihak. Hanyut dalam pikirannya masing-masing.
Setelah masuk dan duduk bersama di ruang tamu.
Edo mewakili pihak Julian menyampaikan maksud dan tujuannya. Dan tanpa penolakan keluarga Zafira menerima pinangan Julian.
Melalui perantara Edo, Julian menyerahkan kotak kecil kepada Zafira.
"Cincin ini hanya sebagai tanda pengikat bahwa Zafira sudah saya khitbah." Ucap Julian tenang padahal jantungnya sudah koyak kena kejut jantung alami.
Dibantu Mira, istri Edo. Zafira memasang cincin pemberian Julian. Cincin yang ia pesan tempo hari.
Terlihat cantik dan pas di tangan Zafira.
Dengan do'a dari Ayah, acara khitbah Zafira dimohonkan untuk dipermudah dan dilancarkan oleh Allah SWT.
*****
"Uncle..." Panggil Zafira ketika selesai makan malam. Dan kini keduanya sedang duduk di teras belakang dengan santai.
Sedangkan yang lain asyik main di ruang tengah dan ruang tamu.
"Iya.. kenapa?" Julian menoleh ke arah Zafira.
"Bole Zafira tanya?"
"Bole?"
"Apa nanti kalo kita sudah menikah, Uncle akan nyuruh Zafira masak, nyuci, bersih-bersih...?
Julian tersenyum mendengar ucapan Zafira, lelaki itu seakan tahu arah pembicaraan calon istrinya itu.
"Zafira itu istrinya Uncle, bukan asisten rumah tangga. Di rumah uncle ada Bi Ira dan teman-temanny. Tidak perlu Zafira turun tangan." Julian menjeda kalimatnya menatap wajah cantik Zafira yang menunduk.
"Kan Uncle kemarin sudah menyampaikan kita menikah supaya ada yang menemani Uncle kemana-mana. Zafira mau kan?" Lanjut Julian tanpa melepas tatapannya.
Zafira masih menunduk. Bahkan semakin dalam.
"Tapi Zafira masih takut Uncle." Ucapnya lirih.
"Takut apa?" Julian menautkan kedua alisnya.
Zafira menoleh ke kanan dan ke kiri sekan tak ingin ucapannya di dengarkan orang lain.
"Fira takut apa?" Tanya ulang Julian.
Setelah di rasa aman, Zafira mendekatkan bibirnya ke telinga Julian. Dan berbisik.
"Zafira takut hamil,"
💗💗💗💗💗
__ADS_1
Bagaimana reaksi kalian gengs???
Like, komen dan vote yaa teman-teman