TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
CCTV Bernyawa


__ADS_3

"Gimana, Qee?" Tanya Pak Jamal.


"Entahlah." Jawab Aqeela asal dengan lunglai.


Ia meneguk air mineral dalam botol minumnya. Peraturan terbaru SMA Nusantara, mewajibkan semua siswa dan guru membawa botol minum dan lunch box sendiri. Setelah berhasil menjuarai sekolah Adiwiyata tahun lalu.


Bahkan kantin sekolah tidak meyediakan pembungkus makanan dari bahan sekali pakai. Sekolah benar-benar bebas sampah plastik.


Kemajuan yang bagus. Tapi ada kemunduran di sisi moral.


"Kok gitu?" Pak Jamal tidak puas dengan jawaban asal Aqeela.


"Terus saya harus bilang WOW gitu?" Ia meletakkan botol minumnya di meja.


"Sakarepmu, Nduk." Ucap Pak Jamal yang serasa putus asa.


"Ingat, Pak. Selanjutnya eksekusi dari Bapak. saya sudah melaksanakan tugas saya."


Pak Jamal menatap Aqeela dengan tersenyum kali ini wajahnya sedikit berbinar. Pak Jamal yakin, purna murid senior itu sukses.


"Kita lanjut misi berikutnya!" Ucap Aqeela.


"Siap..."


"Yang natural ya Kakek Jamal."


"Mulai, aku gak setua itu kaleee..."


"Menolak tua nee... padahal udah pantas tuh jadi kakek."


"Bocah gak tau diri."


"Bocah di liat dari sedotan. Udah punya buntut tiga masih dipanggil bocah."


"Wkwkwkkkk..." Tawa keras Pak Jamal.


"Udah ya Aki Jamal. Anak mantu angkat mau melanjutkan misi bapak mertua angkat."


"Nee bocah kalo gak iseng apa gak enak yaaa?" Sungut Pak Jamal.


"Dada.. Bapak Mertua angkat."


"Sakarepmu, Nduk."


Pak Jamal sengaja tidak membalas Aqeela. Daripada mendengarkan ledekan unfaedah Aqeela.


@@@@


Aqeela melangkah ke gedung B. Gedung yang termasuk area sepi karena aksesnya yang memutar. Membuat para guru dan siswa lain malas ke sana.


Mata dan telinga menjadi CCTV bernyawa yang siap mengawasi setiap sudut sepi gedung tersebut.


Sebuah suara erangan pelan terdengar. Ia masih mengandalkan insting indra pendengarnya.


Aqeela mencoba mencari asal sumber suara.


"Sepertinya suara itu dari belakang gudang." Batinnya.


"Hmm.. sepertinya itu mereka." Aqeela masih membatin.


Wanita itu berjalan mengendap-endap menuju tiga siswa yang sedang mengeroyok seorang siswa sampai tidak berdaya.


"Wah, rupanya SMA Nusantara sudah salah memilih siswa. masa anak kere diterima di SMA Nusantara. Pak Han dan guru-guru di sini rupanya sudah kekurangan siswa." Tegur Aqeela begitu di hadapan keempat anak tersebut.


"Siapa kamu?" Seseoarang langsung menanyainya.


"Harusnya aku dong yang tanya, Kalian siapa?" Balik Aqeela.


"Siapa sih orang tua kalian, yang nekat mendaftarkan anaknya di sini. Padahal dia kere. Tidak bisa kasih uang lebih." Aqeela masih menyindir mereka.


Ketiga siswa itu mulai geram. Jiwa mudanya mulai bergolak. Tak terima dikatakan kere.

__ADS_1


Tangan ketiganya mengepal. Giginya gemeretak.


"Hei, perempuan sinting. Kamu tau siapa orang tua kami?" pekik slah satu dari ketiga pembully itu.


Sementara siswa korban pembullyan ketiganya masih gemetaran, masih terasa terancam.


"Entahlah. Aku tak tahu dan tak mau tahu. Yang aku tahu kalian sudah menggangguku." balas Aqeela.


"Kalaupun aku tahu, mereka bisa apa?" Sambungnya.


"Meskipun aku katakan kalo uang jajan kalian kurang, apa mereka mampu memberi? Tidak, kan?"


"Jadi ya, sebaiknya pergilah dari sekolah ini. Carilah sekolah yang selevel dengan kalian. Yang siswanya hanya membawa uang jajan terbatas. Banyak kok. Aku bisa rekom kan. Gratis malah." Sindir Aqeela.


"Kamu akan mnenyesal, jika tahu siapa orang tua kami." hardik yang lain.


"Bukannya orang tua kalian ya, yang nantinya akan menyesal karena memiliki anak yang tidak bisa menerima keadaan orang tuanya." Balas Aqeela.


"Pikiran tuh, SPP di sini mahal. Kalo dikalikan setahun bisa dapat satu motor baru bahkan mobil baru. Daripada buat nyekolahin kalian kan lebih baik buat ngangsur sepeda motor atau mobil. Hasilnya nyata. Nah, ini udah sekolahin malah bikin nyesel orang tuanya. Ckckckck... Sungguh malang nasih mama papamu, dik. Ngenes kalee.. Bisa-bisa punya gangguan jiwa gara-gara mikirin anaknya yang kurang uang jajan."  Tausiyah sindiran yang nyesek.


"Ayoo, panggil orang tua kalian sekarang. Aku ingin tahu,  siapa yang nyesel mereka atau aku?" Tantang sang Dark Angel.


Ketiga pemuda itu terdiam.


"Kamu siapa sih?" Ulang salah satu dari mereka.


"Aku penjaga sini. Kalian sudah terlalu sering mengusikku. Jadi aku sudah bosan melihat kalian menganiaya di wilayahku. Carilah tempat lain." Ancam Aqeela dengan seringai tajam matanya.


Ketiga pemuda tersebut sampai bergidik ngeri. Tapi untuk melangkah kaki mereka terasa berat.


"Bagaimana tawaranku tadi?" Tanya Aqeela dengan senyum mautnya.


"Ta... ta.. tawaran yang mana?" Tanya mereka lagi.


"Tawaran pindah sekolah program gratis. Jadi kalian tidak perlu membebankan orang tua kalian dengan uang jajan. Uang bayar sekolah bisa untuk jajan kalian."


"Ti.. ti.. ti.daaa..kk."


"Nee.. Ini Nich. Uang kamu aku kembalikan.Besok aku tidak akan palak kamu lagi."TIba-tiba salah satu dari mereka mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dan memberikan kepada Nich.


"Maa..mmaaakkasiih yaa, Dil. makasih yaa  Zar, makasi Nan. Kak makasi ya Kak." Ucap Nich gugup ada senyum tulus di sana. Entah siapa nama lengkapnya.


Terlihat betapa uang itu begitu berharga untuk dirinya.


Entah apa nama lengkapnya.


"Ingat sekali lagi kamu menganggu di wilayahku. Bukan hanya kalian yang end. Tapi keluarga kalian juga." Ancam Aqeela.


Ketiga pemuda tersebut mengangguk. Entah karena takut atau bingung harus menjawab apa atas ancaman yang mereka terima.


"Kak, Kakak siapa?" Tanya Nich penuh harap.


"Tanyakan kepad Pak Jamal atau Pak Han. Mereka tahu siapa aku."


"Terus kita tanyanya siapa?"


"Tanyakan tentang Dark Angel. Mereka pasti sudah paham. Jika sudah tahu aku tunggu kalian di sini." Ucap Aqeela sambil melangkah meninggalkan mereka berempat.


Melihat Aqeela mulai menjauh, Nich membuntuti wanita tersebut.


"Kamu mau kemana?" Tanya Aqeela menghentikan langkahnya.


"Ngikuti Kakak."


"Untuk apa?"


"Penasaran."


"Kamu tidak takut?"


"Takut sedikit."

__ADS_1


Aqeela tersenyum mendengar jawaban Nich.


"Nama kamu siapa?"


"Nicholas, kelas 12 IPS 3."


"Gak tanya."


"Kakak kok lucu, sih?"


"What? baru kali ini ada cowok bilang aku lucu. Padahal yang lain bilang aku sadis. Oemji." Gelak Aqeela dalam hati.


" Kamu beneran ingin ikut aku?" Tanya Aqeela.


"Iya, Kak."


"Ke alam barzah mau?"


"Janganlah, Kak. Aku kan belum pernah merasakan pacara. Kok diajak ke alam barzah. Ngeri tau Kak." Nicholas mengurai senyumnya.


"Baiklah aku tunggu lusa."


"Dimana, Kak?"


Aqeela membisikkan sesuatu.


Hal ini sengaja ia lakukan, karena melihat ketiga pembully tad sedang menguping pembicaraannya dengan Nicholas. Aqeela memergokinya salah satu dari mereka saat melongok dari balik dinding ruangan terdekat.


"Bagaimana?"


"Okay, deh Kak." Sahut Nicholas.


Setelah mengucapkan terima kasih, Nicholas meninggalkan Aqeela sendirian.


"Kalian masih penasaran dengan aku?" Teriak Aqeela sambil mendekat ke arah gedung.


"Enggak.. ennngggg. nggak kok Kak."


"Tapi bo'ong kan." Sahut Aqeela.


"Beenneerraan kok Kak.."


"Iyyaa. beneran bo'ongnya."


Ketiganya langsung kabur, lari secepatnya dari hadapan Aqeela.


@@@@


Nasib dedek gimana ya? Di tinggal Umma ?


 Aunty kangen nee dek


Uncle ada yang kangen gak sama si dedek?


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2